
Happy reading♡
Rafael masih belum melepaskan pelukannya. Ia semakin erat memeluk El. Sedangkan El menangis sejadi jadinya.
Mungkin ini titik terlelahnya mencintai Rafael.
"Lepas" ucap El serak. Rafael pun melonggarkan pelukannya bukan melepaskannya. El sedikit berontak agar Rafael melepaskan pelukannya. Namun nihil.
"Apa kau tidak mengerti bahasa manusia?" Ucap El. Rafael pun akhirnya melepaskan pelukannya.
El terdiam cukup lama. Rafael hanya diam menunggu ucapan yang akan keluar dari mulut pacarnya ini.
"Let's break" ucap El membuat Rafael terkejut lalu tertawa keras.
"Jangan berbicara sembarangan. Aku tidak akan pernah mengiyakan kemauan mu itu" ucap Rafael.
"Aku mohon, jangan egosi kali ini. Aku butuh waktu untuk menenangkan pikiran ku" ucap El.
"Jika begitu mau mu, harusnya tidak perlu break. Kau hanya perlu menenangkan diri bukan? Aku akan memberikan mu waktu untuk itu" ucap Rafael.
El terdiam. Percuma saja berbicara dengan Rafael. Kerasnya batu saja kalah dengan keras kepalanya Rafael.
El menghapus air matanya. Ia pun berdiri.
"Aku pamit" ucapnya kemudian hendak berjalan dari sana namun Rafael menahannya lagi.
"Sudah malam, lebih baik kau tinggal disini saja" ucap Rafael.
"Tidak. Aku punya rumah, aku tidak butuh tumpangan rumah mu" ucap El.
"Jangan membuat ku marah El Meinhard. Aku tidak ingin menyakiti mu" ucap Rafael.
"Aku tidak akan membuat mu marah jika kau tidak egois dengan terus menahan ku disini" ucap El.
"Baiklah, aku akan mengantarkan mu pulang" tawar Rafael.
"Aku bisa pulang sendiri" ucap El, ia pun pergi sana meninggalkan Rafael. El keluar dari salam mansion Rafael. Di luar ada Griss yang sudah siap mengantarkannya, namun El tetap menolaknya. Ia menekan nomor seseorang di ponselnya untuk menjemputnya.
Sembari menunggu jemputan, El berjalan keluar dari halaman mansion Rafael. Jarak dari depan pintu mansion ke pintu garasi cukup jauh. Namun El tetap memaksakan diri untuk berjalan. Lebih baik ia kelelahan daripada harus terus berada di mansion itu.
Waktu menunjukan pukul dua siang. Sekitar satu jam lagi El harus segera kembali ke rumah sakit. Ia sudah berjanji akan membantu proses operasi pasiennya bersama dengan dokter Ruby.
Diam diam, Rafael menyuruh Griss untuk membuntuti El. Tetap saja ia khawatir dengan keadaan pacarnya itu. Apalagi tadi ia sudah menangis.
Suara deru mobil sudah terdengar oleh telinga El. Mobil itu pun berhenti di sebelahnya. El langsung masuk ke dalamnya.
Sedangkan dari kejauhan, Rafael memperhatikan mobil yang menjemput kekasihnya itu. Ia tidak mengenal mobil itu. Siapa dia?
"Cari tahu siapa yang menjemput kekasih ku" ucap Rafael pada Griss di telepon.
***
Billie terdiam ketika ia melihat keadaan adik sepupunya itu. Sebenarnya ia masih ada meeting, namun ketika ia menerima pesan dari El untuk menjemputnya, ia langsung meninggalkan pekerjaannya itu. Apalagi ia mendengar cerita daei Janshen tadi.
Lagi dan lagi, hubungan Rafael dan El harus seperti ini. Billie kira selama ia pergi ke Bangkok, semuanya aman aman saja. Ternyata ia salah, sepulangnya dari Bangkok ia banyak mendapat kejutan yang diberitahu oleh Janshen dan Alex.
"Kau yakin akan kembali ke rumah sakit?" Tanya Billie memastikan.
El hanya menganggukan kepalanya.
"Menurut ku, lebih baik kau pulang saja. Minta ijin pada pihak rumah sakit kau tidak bisa masuk" ucapnya.
"Aku sudah berjanji pada dokter Ruby" ucap El.
"Tidak bisa, pasien yang akan dioperasi adalah pasien ku" ucap El.
"Ya sudah. Kau sangat keras kepala. Terserah pada mu saja. Hubungi aku jika terjadi sesuatu. Aku masih ada meeting" ucap Billie, El hanya mengangguk dan keluar dari dalam mobil milik Billie. Kebetulan mereka sudah sampai di rumah sakit.
El berjalan masuk ke dalam rumah sakit setelah ia memakai masker. Sengaja ia memakai masker karena ia tidak ingin orang rumah sakit tahu jika sudut bibir nya membiru.
Beberapa suster memberi salam pada El. El hanya mengangguk dan masuk ke ruangan dokter Ruby. Kebetulan, ia memiliki waktu tiga puluh menit untuk bersiap siap sebelum operasi dilaksanakan.
El mengetuk pintu ruang kerja dokter Ruby, setelah diperintahkan masuk, ia pun masuk ke dalamnya.
"Bersyukur kau kesini dulu. Ada beberapa hal yang harus kita lakukan sebelum operasi dilaksanakan" ucap dokter Ruby.
"Ya, ada apa?" Tanya El.
"Tapi sebelumnya maaf, apa kau baik baik saja dokter El? Kenapa tiba tiba memakai masker?" Tanya dokter Ruby.
"Aku baik. Ada hal apa?" Tanya El.
"Kondisi pasien semakin menurun. Jika pun dilakukan operasi, kemungkinan untuk sembuh sangat kecil. Kanker di tubuh anak itu sudah menyebar" ucapnya.
"Tapi tidak ada salahnya bukan jika kita berusaha? Selama ini dia sudah melakukan kemoterapi, apa mungkin kanker itu menyebar cepat?" Tanya El.
"Seharusnya kemoterapi dapat mencegah sedikit dari penyebaran itu, namun sayangnya kankernya sudah menyebar sebelum ia melakukan kemoterapi" ucap dokter Ruby.
"Aku baru mengetahui hal itu. Dokter Lena tidak memberitahu ku sebelumnya" ucap El.
"Itu sebabnya ia tidak dipekerjakan lagi. Karena ia terlalu lalai" ucapnya.
"Apa keluarganya menyetujui hal itu?" Tanya El.
"Orang tua anak itu sudah pasrah apapun yang terjadi. Anak itu juga sudah tidak memiliki semangat hidup".
"Tidak ada salahnya kita berusaha dok. Kemoterapi sudah ia jalankan beberapa kali. Memang kemungkinan untuk sembuh total sangatlah minim, namun tugas kita menolongnya bukan? Kita lakukan saja kewajiban kita. Saya yakin dia mampu bertahan" ucap El penuh keyakinan.
"Ya, kau benar. Baiklah, kita ke ruang operasi sekarang. Sebentar lagi operasi dimulai" ajak dokter Ruby, El hanya menganggukan kepalanya.
Mereka berdua pun berjalan keluar dari ruang operasi. El langsung menuju ke tempat operasi sedangkan dokter Ruby pergi ke ruang tempat penyimpanan darah.
Diluar ruangan, El melihat sepasang pria dan wanita paruh baya.
"Dokter, tolong selamatkan cucu saya" ucapnya.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin bu. Doakan saja semoga semuanya berjalan lancar" ucap El.
"Kasihan anak itu, diwaktu operasinya pun kedua orang tuanya tidak datang" ucap seorang pria paruh baya.
"Mereka sudah tidak mengaharapkan anak ini. Tapi bagaimana pun dia tetap cucu ku, aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkannya" ucapnya.
"Baiklah. Saya pamit ke dalam dulu ya bu, pa. Doakan semoga operasinya berjalan lancar dan berhasil" ucap El. Kedua orang tua itu pun menganggukan kepalanya.
El masuk ke dalam ruang operasi. Ia melihat seorang anak laki laki tengah berbaring lemah.
Anak laki laki itu sangat tampan. Namun sayang wajah pucatnya membuat sedikit ketampanannya berkurang.
El pun menunggu dokter Ruby untuk melakukan operasi.
tbc.
vote komen ya. kalo ada typo maapin