
Happy reading♡
Rafael memacu mobilnya dalam kecepatan tinggi. Ia tidak memperdulikan pengendara lain. Bahkan ia tidak memperdulikan El yang sedari tadi memperingatinya.
"Raf berhenti, aku mohon" ucap El. Namun tetap di gubris oleh Rafael.
"Raf, aku takut. Kurangi kecepatannya" ucap El.
"Aku mohon, aku sangat takut" ucap El. Rafael pun menghentikan mobilnya. Ia menoleh ke arah sampingnya. Ia melihat El yang sedang memejamkan matanya dan memegang erat seatbeltnya.
Rafael pun membuka seatbelt itu dan menarik El ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku" ucap Rafael.
"Kamu kenapa Raf? Apa gara gara tadi aku putar bola mata aku?" Tanya El.
"Iya, tapi aku tidak marah" ucap Rafael.
"Lalu kenapa tadi?" Tanya El.
"Aku hanya kesal dengan Clarry" ucap Rafael.
"Sudahlah, aku tidak apa apa. Lebih baik antar aku pulang" ucap El.
"Eh tapi, kursi roda ku tertinggal di mansion keluarga mu" ucap El lagi.
"Aku tidak akan mengantarkan mu pulang. Aku akan membawa mu ke suatu tempat dan untuk urusan kursi roda, itu tidak penting. Selagi ada aku, aku bisa menggendong mu" jelas Rafael.
"Memangnya kau akan membawa ku kemana?" Tanya El.
"Kau akan tahu nanti" ucap Rafael kemudian kembali melajukan mobilnya.
Tiga puluh menit berlalu, mobil yang ditumpangi keudanya sampai di depan rumah sakit Levent.
El mengernyit heran kenapa ia dibawa ke rumah sakit?
"Ikut saja, kau akan tahu nanti" ucap Rafael menjawab keheranan El.
"Kenapa kesini?" Tanya El.
"Sudah ku bilang, kau akan tahu nanti" ucap Rafael tersenyum. El hanya diam saja menuruti ucapan Rafael.
Saat keluar dari dalam mobil, keduanya menjadi pusat perhatian. Pasalnya pemimpin dari rumah sakit ini menggendong seorang dokter yang juga bekerja di rumah sakit ini.
"Aku malu" bisik El saat mereka mulai berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
"Tidak perlu malu, kau sudah harus mulai membiasakan diri" ucap Rafael.
"Lihatlah, mereka semua menatap ke arah kita" ucap El.
"Tidak apa apa, mereka punya mata" ucap Rafael yang langsung mendapat geplakan dari El.
"Sakit sayang" ucap Rafael.
Deg
Pipi El langsung bersemu merah. Rafael yang melihatnya langsung mengulum senyumnya. Ia pun keluar dari dalam lift dan langsung menuju ke ruangan khusus Ortopedi.
"Ortopedi? Maksudnya?" Tanya El.
"Aku ingin kau segera bisa berjalan normal. Dalam waktu yang singkat ini, alu ingin membantu mu untuk bisa berjalan normal lagi" ucap Rafael.
"Padahal tidak perlu. Toh aku sudah bisa berdiri. Ya walaupun aku belum bisa berjalan" ucap El.
"Maka dari itu aku ingin membantu mu" ucap Rafael kemudian mendudukan El di brankar.
"Memangnya dokter siapa yang akan memeriksa aku?" Tanya El.
"Kau akan tahu nanti" ucap Rafael.
El pun kembali diam. Ia merebahkan tubuhnya di brankar sedangkan Rafael sedang menerima telepon dari seseorang. Lambat laun, El merasa nyaman dengan rebahannya. Ia pun mulai memejamkan matanya. Selang beberapa menit ia pun tertidur.
***
Rafael berjalan keluar setelah menerima telepon dari Griss. Beruntung semua pekerjaannya bisa di handel oleh Griss jadi ia bisa menemani El, gadisnya.
"Baik. Langsung saja ke ruangan" ucap Rafael to the point. Sedangkan dokter yang ada di depannya hanya tersenyum.
Rafael berjalan menuju ke ruangan yang tadi ditempati oleh El diikuti oleh dokter tadi.
Saat membuka pintu, Rafael langsung disuguhkan dengan wajah menggemaskan El ketika tertidur. Rafael sempat melirik ke arah dokter Vito, dokter ortopodi yang kemarin di telepon olehnya.
Jujur saja, ia tidak ingin pria lain melihat gadisnya dengan wajah seimut itu. Namun ia harus mengalah untuk sekarang. Ini demi El.
"Jaga pandangan mu. Dan cepat periksa keadaan kaki gadisku" ucap Rafael menekankan kata gadisku.
Dokter Vito pun mengangguk dan mulai memeriksa keadaan kaki El. Sebenarnya ia sudah tahu keadaan pasien nya ini. Namun demi keakuratan saja, ia kembali memeriksanya.
"Sesuai dugaan saya, kaki dokter El tidak terluka parah. Namun untuk mulai berjalan memang membutuhkan waktu" ucap Dokter Vito.
"Saya akan menuliskan resep obatnya dan sebaiknya anda membantu gadis anda berjalan" ucap Dokter Vito.
Rafael pun mengangguk kemudian menerima resep obat itu dan langsung memberikannya kepada salah satu bodyguardnya.
"Saya permisi" ucap Dokter Vito.
Rafael pun mengangguk kemudian menerima resep obat itu dan langsung memberikannya kepada salah satu bodyguardnya.
"Saya permisi" ucap Dokter Vito.
Sepeninggal dokter Vito dari ruangan tersebut, Rafael mendekat ke arah brankar. Sejak tadi senyumnya terukir.
"Bagaimana kamu bisa semenggemaskan ini?" Tanya Rafael.
"Berkali kali aku jatuh pada pesona mu" ucap Rafael.
"Dan sialnya, aku belum bisa memiliki mu" ucap Rafael kesal.
Memang sejak dulu, ia sangat menginginkan El menjadi miliknya. Namun waktunya belum saja tepat. Sehingga ia harus menunggu dan menunggu lagi.
Rafael pun naik ke atas brankar. Merebahkan tubuhnya dengan posisi miring. Ia juga membalikan posisi tidur El menjadi miring ke arahnya. Satu tangannya ia gunakan sebagai bantal untuk El dan satunya lagi ia gunakan untuk memeluk tubuh gadisnya.
"Aku akan selalu bersama mu" ucap Rafael pelan.
"Tunggulah beberapa waktu lagi dan setelahnya aku tidak akan pernah melepaskan mu" ucap Rafael kemudian mencium kening El cukup lama.
***
Matahari sudah tenggelam sejak tadi namun kedua manusia tersebut masih betah berada di alam mimpinya. Beruntung Rafael sempat mengunci pintu ruangan ini. Jika tidak, sudah dipastikan tidur keduanya akan terganggu.
Rafael perlahan membuka matanya. Ia pun melihat ke arah dadanya. Ia tersenyum saat melihat gadisnya tengah memeluk dirinya erat. Rafael pun kembali memeluk gadisnya.
Keduanya terlihat sangat nyaman dengan suasana tersebut. Terlebih El yang tidak mau melepaskan pelukannya. Rafael terus memandangi wajah damai El ketika tertidur. Sampai bunyi notifikasi membuat atensinya teralih. Ia mengambil ponsel milik El yang berada di nakas sebelah brankar.
Ia pun membaca notifikasi yang ada di bar. Pesan dari mamanya, Aura. Menyuruhnya untuk segera pulang.
"Bangun" ucap Rafael pelan sembari meengelus wajah El.
"Bangunlah nona Meinhard" ucap Rafael. Namun masih belum bangun juga. Rafael pun mendaratkan beberapa kecupan di wajah El sehingga membuatnya terganggu.
"Lima menit lagi, jangan ganggu" ucap El.
"Kita harus pulang" ucap Rafael.
"Aah, nanti dulu" ucap El yang semakin mengeratkan pelukannya di dada Rafael.
"Apa kau mendesah?" Tanya Rafael.
"Ish, enggak ih. Diem Afael" ucap El tanpa sadar membuat Rafael menengang.
Afael? Apa benar gadisnya memanggilnya Afael?
Pendengaran Rafael masih normal. Dan sudah dipastikan jika tadi gadisnya memanggilnya dengan sebutan Afael.
"Bangun atau aku akan membuat mu kehabisan nafas" ucap Rafael
tbc.
kl ad tipo maapin.