
Happy reading♡
Rafael meremas kertas yang ada di tanganya. Tadi saat ia akan mencari tahu kebenarannya, Griss lebih dulu memberikan satu map yang isinya membuat Rafael naik pitam.
"Wanita sialan" geram Rafael.
"Apa yang ingin anda lakukan tuan?" Tanya Griss.
"Aku sebenarnya ingin berbuat sesuatu, tapi aku masih menghargai kakaknya" jelas Rafael.
"Tuan, boleh saya memberi saran?" Tanya Griss.
"Apa?".
"Setelah pertemuan tidak sengaja antara tuan dan nona Meinhard. Tuan banyak berubah. Tidak lagi menjadi tuan yang dingin dan irit dalam berbicara. Jadi saya harap, tuan menjelaskan semuanya pada nona" ucap Griss.
"Aku akan menjelaskan semuanya, secepatnya. Siapkan makanan dan kirimkan kesini Griss. Dia belum makan" ucap Rafael. Griss mengangguk patuh kemudian pamit dari ruangan Rafael.
Jika dipikir, ucapan Griss benar adanya. Rafael sendiri baru menyadarinya.
***
Tak terasa, sekarang sudah sore. El melayani banyak pasien hari ini. Rata rata tentang gizi anak mereka. Dengan sabar dan telaten El menjelaskannya.
"Dok, setelah dokter bekerja disini, semakin banyak yang mengunjungi rumah sakit. Biasanya dalam seminggu hanya empat sampai lima orang saja yang konsultasi. Sekarang hampir setiap hari ada" jelas suster Lani.
"Mungkin memang mereka ingin berkonsultasi disini" ucap El.
"Tidak dok, jika mereka hanya ingin mungkin sudah dari dulu. Ibu yang tadi saja baru kali ini mengunjungi rumah sakit ini. Biasanya saya melihatnya mengunjungi rumah sakit di persimpangan" ucap suster Lani.
"Jadi maksud mu?" Tanya El.
"Iya, semenjak dokter bekerja disini semakin banyak yang datang berkonsultasi. Saya jadi tidak bisa bersantai seperti dulu" ucapnya, El hanya menggeleng.
"Aku akan ke ruangan ku. Ini sudah waktunya pulang bukan? Apa kau masih ada pekerjaan?" Tanya El.
"Masih dok, aku bekerja sampai nanti jam tujuh malam" ucapnya.
"Baiklah, aku duluan" ucap El.
"Dok, anda sakit?" Tanya suster Lani yang baru menyadari wajah El yang pucat.
"Tidak, mungkin hanya kecapean" ucap El. Kemudian ia pun pergi dari sana menuju ke ruangan pribadinya. Ia menekan angka di lift. Tak berapa lama lift pun terbuka. El keluar dari sana. Berjalan sembari membuka jas miliknya.
El membuka pintu ruang kerjanya langsung dibuat terkejut. Pasalnya banyak sekali makanan disana. Seingatnya ia tidak memesan makanan apapun.
"Aku tahu kau belum makan dari pagi" ucap Rafael.
"Jangan so tahu" ucap El judes.
"Aku tahu" ucap Rafael.
"Makanlah" titah Rafael.
"Aku tidak lapar" ucap El.
"Makanlah El, kau bisa sakit. Wajahmu sangat pucat" ucap Rafael.
"Aku malas berdebat. Lebih baik bereskan makanannya aku tidak mau memakannya" ucap El kemudian hendak berjalan menuju ke kursi kerjanya, namun tiba tiba rasa pening menjalar di kepalanya. Beruntung Rafael dengan sigap menahan tubuhnya.
"Sudah ku bilang kau akan sakit" ucap Rafael pelan.
"Kepala ku sakit" ucap El purau, sedetik kemudian ia pun pingsan. Rafael menghela nafasnya. Ia memangku tubuh El menuju ke parkiran. Biarlah nanti dokter sendiri yang datang ke apartement nya.
Di parkiran sudah ada Griss. Rafael memerintahkan Griss untuk mengambil makanan di ruangan El dan memberikannya pada bodyguard yang ada disana. Tak lupa menyuruhnya untuk menghubungi dokter juga.
Saat El sudah berada di dalam mobil, Rafael langsung melajukan mobilnya menuju ke apartement miliknya yang berada tidak jauh dari rumah sakit.
Seorang Rafael Levent membawa tas wanita? Jika saja disini ada sahabat sahabatnya, sudah pasti akan jadi bahan olokan.
Rafael dengan perlahan memangku tubuh El untuk keluar dari dalam mobil. Ia tidak menggunakan lift karena terlalu banyak orang yang menggunakannya disana. Ia memilih masuk melalui lobby saja.
Saat di lobby, banyak pasang mata yang melihatnya. Mereka terheran melihat Rafael menggendong seorang wanita. Namun ia mengabaikannya.
Rafael menekan sandi apartementnya. Ia membuka pintu menggunakan kakinya kemudian masuk dan langsung menuju ke kamarnya.
Ia merebahkan El dengan pelan kemudian menyimpan tas wanita itu di nakas. Ia juga melepas hells milik El kemudian menarik selimut untuk menutupi setengah badan El. Tak berselang lama, dokter pun datang. Ia meminta ijin untuk memeriksa El.
"Jadi bagaimana?" Tanya Rafael.
"Dokter El sepertinya belum makan sejak pagi. Ia juga dehidrasi karena berjam jam tidak minum air putih. Sebaiknya setelah nanti beliau sadar, beliau harus makan dan meminum air putih yang banyak tuan. Dan ini, vitamin untuk dokter El. Beliau juga harus istirahat untuk memulihkan staminanya" ucap Dokter itu.
"Terimakasih. Griss akan mengantar anda dan membayar tagihannya" ucap Rafael. Dokter itu pun mengangguk dan pamit keluar diikuti Griss.
Sekarang tinggalah Rafael dan El di kamar itu. Rafael menatap khawatir pada El yang tengah terbaring lemah. Ia pun merebahkan tubuhnya di sebelah El.
"Maafkan aku" lirih Rafael kemudian mencium kening El. Setelahnya ia pun ikut tertidur disana sembari memeluk tubuh El.
***
El menggeliat dalam tidurnya. Rasa pening langsung menyerang kepalanya. Ia ingin bergerak namun sangat susah.
"Raf, lepas" ucap El pelan.
"Kenapa?" Tanya Rafael dengan suara serak.
"Haus" ucap El. Rafael pun bangun dan memberikan El minum.
"Cukup?" Tanya Rafael, El menganggukan kepalanya.
"Kau ingin makan apa?" Tanya Rafael.
"Aku ingin pulang. Bukan ingin makan" ucap El.
"Aku tidak mengijinkan mu pulang, kau sendiri dirumah. Kedua orang tua mu sedang berada di Indonesia" ucap Rafael.
"Aku sudah besar" ucap El.
"Tidak".
"Baiklah, aku akan pulang sendiri" ucap El kemudian bangun perlahan, namun karena rasa pening ia tidak bisa bangun dengan sempurna. Alhasil ia kembali tertidur.
"Sudah ku bilang bukan, kau harus makan" ucap El.
"Aku ingin pulang, aku tidak ingin terjadi salah paham dengan tunangan mu" ucap El menekankan kata terakhir.
"Kau yang salah paham. Anita bukan tunangan ku. Biar aku jelaskan saja" ucap Rafael.
"Kemarin sewaktu di butik, aku terpaksa mengantar Anita memilih baju karena permintaan Antonio, kakaknya. Dan yang bertunangan dengan Anita bukanlah aku, tapi teman ku ketika aku kuliah El dan juga aku tidak berangkat dengan Anita. Kita bertemu disana beserta sahabat ku yang lain. Kau mendapatkan foto itu saat Anita bertanya dan tiba tiba memegang tangan ku. Ini semua rencana liciknya El. Aku sama sekali tidak bertunangan dengannya. Lihatlah aku pun tidak memakai cincin di jari manis ku" jelas Rafael.
El termenung mendengar penjelasan Rafael. Apa iya bisa mempercayai ucapan Rafael? Bisa saja kan Rafael berbohong padanya.
"Aku tidak berbohong sayang" ucap Rafael.
...TBC....
...akhirnya terjawab sudah yekan, akwkwkw....
...buat yg udh vote komen makasih banget. tetep support aku ya dan untuk up 2 eps sehari kayaknya aku mash blm bisa deh, maapin ya....
...kalo ada typo maapin....
...Aycha...