
Happy reading♡
Saat ini, semua keluarga sedang berada di ruang makan. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam. Mereka menghabiskan waktu bersama dengan bercanda canda. Biasanya yang mereka bahas pasti tentang seputar perusahaan. Apalagi Meinhard Comp dan Levent Comp merupakan dua perusahaan terbesar kedua dan ketiga. Sedangkan di peringkat pertama ada Saphire Comp.
Sejak tadi, Rafael terus saja dibuat dongkol oleh tingakh Eric terhadap El. Jika boleh dikatakan jujur, ia sangat marah dan ingin sekali memberikan bogeman mentah pada Eric yang sudah berani berdekat dekatan dengan gadisnya. Catat, gadisnya.
"Maaf, El ijin kee toilet sebentar" ucap El kemudian hendak mendorong kursi rodanya sendiri.
"Biar mom antar ya" tawar Clau.
"Tidak usah mom, El bisa kok" ucap El.
"Beneran?" Tanya Clau memastikan.
"Iya mommy" ucap El meyakinkan.
Perlahan El melajukan kursi rodanya. Perlahan namun pasti ia sudah sampai di toilet. Kebetulan ia menggunakan toilet tamu yang ada di lantai satu.
Ia mencuci tangannya di wastafel kemudian menatap dirinya di pantulan cermin di depannya.
Sejak makan bersama tadi, Rafael tidak henti hentinya melihat ke arahnya. Tatapannya sangat tajam seolah ingin memangsanya. El merasa bahwa akan ada sesuatu yang akan membuatnya terancam. Namun ia belum tahu apa itu.
Perlahan, ia menarik nafasnya kemudian kembali melajukan kursi rodanya keluar dari toilet untuk menuju kembali ke ruang makan.
Saat di depan pintu toilet seoramg maid di mansionnya memberitahu jika semua orang sudah kembali ke ruang pertemuan. El hanya mengangguk dan kembali melajukan kursi rodanya menuju ke ruang pertemuan.
Saat sudah sampai, ia melihat semua keluarga sudah berkumpul namun tidak ada Eric.
"Mom, Eric kemana?" Tanya El saat ia sudah berada di dekat mommynya.
"Oh iya, tadi dia pulang katanya ada meeting penting" ucap Clau.
"Tumben dia gak pamit sama El" ucap El.
"Ya sudah, tidak apa apa. Mungkin dia memang terburu buru sayang" ucap Clau.
"Duduklah sayang" perintah Cliff. El pun duduk dengan dibantu oleh Claudia.
"Daddy sama mommy akan terbang ke indonesia" ucap Cliff menjeda.
"Kakek nenek mu akan pergi ke Dubai. Sedangkan keluarga yang lain akan pergi ke beberapa negara juga. Daddy harap kamu mau tinggal sementara di mansion Levent" ucap Cliff membuat El terkejut.
"Alasan daddy karena kamu sekarang seperti sekarang. Daddy harap kamu mau. Ini demi kebaikan kamu juga sayang" ucap Cliff.
"Mommy juga setuju. Mommy akam lebih tenang jika kamu tinggal disana" saran Clau.
Sedangkan El masih diam. Ia bingung harus bagaimana sekarang.
Sedangkan semua keluarga sedang menunggu keputusan El.
"Dad" panggil El.
"Iya, apa kau setuju?" Tanya Cliff.
"Apa aku boleh tinggal disini saja? Disini banyak maid dan juga bodyguard juga kan. Masih sama sama aman juga" ucap El.
"Tapi mommy tidak akan tenang sayang. Mommy mohon" ucap Clau.
"Tapi El tidak enak harus tinggal di mansion Levent" ucap El.
"Jangan tidak enakan kakak cantik. Galak seneng banget loh kalo kakak cantik mau tinggal di rumah Galak. Nanti Galak tiap hari bisa main sama kakak cantik" ucap Galak mendekat ke arah El.
El sendiri hanya tersenyum dan mengelus kepala Galak.
"Mau ya kakak cantik" ucap Galak.
"Galak mohon" ucap Galak memohon.
"Lihat El, apa kamu gak kasian sama anak aku?" Ucap Eliza.
Bagaikan buah simalakama.
El merasa bingung sekarang. Disatu sisi ia tidak ingin membuat Galak kecewa namun disisi lain ia juga tidak mau tinggal satu rumah dengan Rafael. Apalagi sekarang Rafael memperlihatkan smirknya.
Bagaimanapun ia juga wanita normal. Apalagi dihadapkan dengan pria seperti Rafael ia bisa lemah begitu saja.
"Sayang, kenapa kamu melamun?" Tanya Clau.
"Eh, enggak mom" ucap El.
"Jadi gimana kakak cantik?" Tanya Galak.
"Iya kakak ikut ke mansion kamu" ucap El membuat Galak senang bukan kepayang. Pasalnya ia bisa setiap hari bersama dengan kakak cantiknya.
"Baguslah, daddy senang dengan pilihan mu. Kamu memang tidak pernah mengecewakan daddy" ucap Cliff.
"Tidak perlu berlebihan dad" ucap El.
"Jadi, biarkan maid membereskan baju baju mu untuk pindahan ya" ucap Clau.
"Hah? Baju baju?" Tanya El.
"Iya sayang. Kamu tinggal disana sekitar dua sampai tiga minggu" ucap Clau.
"Kenapa lama sekali?" Tanya El.
"Iya soalnya mom sama dad mau pergi cukup lama" ucap Clau.
"Padahal aku bisa sendiri dirumah ini" gumam El.
Sedangkan di sebrang sana. Rafael tak henti hentinya menujukan smirknya. Ia bahagia. Sangat!
Tuhan sedang berpihak padanya sepertinya. Ini akan lebih mudah. Ia tinggal menyusun rencananya saja sekarang supaya semua tepat pada sasarannya.
"Ya sudah sayang, sekarang kamu ikut kita ya" ucap Aura, El hanya menganggukan kepalanya. Galak dengan sigap kembali mendorong kursi roda El menuju ke mobil milik Rafael.
Namun pintarnya Galak. Ia menyuruh El untuk duduk di kursi penumpang bersamanya. Sedangkan Rafael hanya menghela nafasnya. Bersabar menghadapi sikap Galaksi. Sang keponakan tersayangnya sekaligus keponakan terjahilnya.
***
Empat puluh menit berlalu, mobil yang mereka ditumpangi sampai di pekarangan luas milik keluarha Levent. Seorang bodyguard membukakan pintu mobil untuk Rafael kemudian ia beranjak menuju ke kursi penumpang. Saat ia membuka pintu, terlihat Galak sudah tertidur di pangkuan El. El sendiri hanya menatap Rafael sejenak kemudian mengalihkan atensinya ke arah lain.
Perlahan Rafael mengambil alih Galak dan memberikannya pada bodyguard untuk mengantarkannya ke kamar Galaksi dengan diikuti oleh beberapa suster pengasuh Galak.
"Keluarlah, aku akan menggendong mu ke dalam" ucap Rafael.
"Tidak, aku bisa sendiri" ucap El menolak.
"Jangan jadi gadis pembangkang. Cepat atau aku akan masuk ke dalam mobil dan kau akan tahu akhirnya seperti apa" ancam Rafael.
"Maksudnya" tanya El meminta penjelasan.
"Berakhir dengan bibir mu yang bengkak" ucap Rafael. El pun mendelik kemudian bergeser perlahan untuk keluar dari dalam mobil dibantu Rafael.
Rafael dengan senang hati menerima uluran tangan itu. Dengan perlahan ia membantu El keluar dari dalam mobilnya.
Setelah El berada di luar. Rafael langsung saja menggendongnya ala bridal style.
El sempat memekik namun kembali berekpresi biasa saja.
Rafael berjalan menuju ke lantai tiga. Tempat dimana kamarnya berada. Beruntung kelurganya yang lain belum sampai jadi ia bisa membawa El ke kamarnya.
El sendiri hanya diam karena ia memang tidak tahu akan dibawa kemana.
Rafael membuka pintu kamarnya dengan kakinya. Kemudian ia membaringkan El di tempat tidurnya lalu kembali mengunci pintu dari dalam.
El sendiri sudah was was karena Rafael tiba tiba mengunci pintu dan berjalan ke arahnya.
"Welcome to Raphael's world" bisik Rafael tersenyum smirk.
Tbc.
Hayolo dibawa ngamar lagi😭
Spam komen lah woe!