L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 26 : Chaos



Happy reading♡


Setelah melihat keberadaan El disana. Anita dengan sengaja berbicara dengan cukup keras. Padahal El sangat acuh dengan itu sedangkan Rafael, ia sudah ketar ketir ingin menjelaskan yang sebenarnya pada El. Namun tidak bisa karena lagi lagi ditahan Anita.


"Oh ya, aku ingin juga jas yang mahal ya untuk laki laki yang bersama ku" ucap Anita.


"Oh, tentu saja aku akan mempersiapkan" ucap Dea. El sendiri sebenarnya sudah muak dengan tingkah Anita. Ia ingin segera pergi dari sana namun tidak bisa karena masih ada sahabat sahabatnya. Tiba tiba dering ponsel milil Reva berbunyi. Reva mendesah kesal melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"El, aku harus pergi sekarang. Pekerjaan itu sudah menghantui ku" sesal Reva.


"Pergilah. Bagaimana pun kau harus bertanggung jawab dengan pekerjaan itu" ucap El.


"Beneran? Kamu gak marah?" Tanya Reva.


"Buat apa? Itu kan pekerjaan mu Reva" ucap El.


"Baiklah, aku pergi. Tolong sampaikan maaf ku pada Dea juga yah. Bye El" pamit Reva.


"Iya, hati hati" ucap El. Bertepatan dengan Reva yang pergi, Dea pun muncul. Ia terheran melihat hanya ada El disana.


"Loh El, Reva kemana?" Tanya Dea.


"Dia ada kerjaan De, dia juga pamit tadi dan meminta maaf" ucap El.


"Yah".


"Aku pun ingin pamit De, aku ada kerjaan sehabis ini" ucap El.


"Loh, bukannya kau libur dari rumah sakit?" Tanya Dea.


"Aku tidak hanya bekerja di rumah sakit itu" ucap El.


"Ayo lah El, kau terlahir dari keluarga konglomerat" ucap Dea.


"Maaf, untuk kali ini aku harus pergi De. Sepertinya kau pun sibuk dengan client mu. Kita bisa berkumpul lagi nanti" ucap El tersenyum.


"Ya sudah. Mau ku antar?" Tanya Dea.


"Tidak perlu, aku dijempur Arthur" ucap El membuat Rafael menatapnya tajam.


"Wah wah, ternyata sahabat ku sudah besar ya?" Tanya Dea menggoda El.


"Diamlah, aku pamit dulu De" ucap El kemudian pergi dari sana. Saat ia hendak menuju ke parkiran, tangannya lebih dulu ditarik Rafael. Otomatis tubuh El pun berputar sembilan puluh derajat.


"Kenapa?" Tanya El.


"Kau salah paham" ucap Rafael.


"Salah paham akan hal apa?" Tanya El.


"Tentang ucapan Anita tadi. Yang bertunangan bukan aku dan dia, tapi Edward dengan Alessa" jelas Rafael.


"Untuk apa kau menjelaskan itu tuan Levent?" Tanya El dengan wajah yang sangat dingin. Rafael kesal dengan sikap El saat ini.


"Aku hanya tidak ingin kau salah paham" ucap Rafael.


"Kita hanya rekan kerja di dunia bisnis dan aku hanya pekerja mu di rumah sakit. Jika pun memang kau memiliki hubungan dengan Anita, aku tidak masalah untuk itu dan aku juga tidak ada hak untuk melarang bukan?" Ucap El.


"Ingat, kita hanya rekan kerja saja" ucap El kemudian berjalan menuju ke mobil yang sudah menunggunya. Rafael tentu saja berjalan mengikuti El. Saat El hendak membuka pintu untuk masuk, lagi dan lagi Rafael menahannya.


"Apa lagi? Aku masih ada pekerjaan Rafael Levent" ucap El dengan nada naik satu oktaf.


"Kenapa kau marah?" Tanya Rafael.


"Cepat dear, kau sudah ditunggu" ucap Seseorang dari dalam mobil.


"Dear? Apa maksudnya El?" Tanya Rafael meminta penjelasan.


"Aku tidak memiliki waktu untuk menjelaskan. Aku harus pergi" ucap El kemudian masuk ke dalam mobil. Seketika, Arthur yang berada di kursi kemudi pun melajukan mobilnya.


"Siapa laki laki tadi?" Tanya Arthur.


"Bukan siapa siapa" ucap El. Arthur hanya mengangguk kemudian kembali fokus pada jalanan.


Sedangkan di parkiran, Rafael memukul mobilnya. Ia sungguh sangat kesal dan juga marah. Bisa bisanya ada yang memanggil El dengan sebutan Dear.


"Raf, kenapa kau meninggalkan ku?" Tanya Anita. Saat Rafael keluar dari dalam butik, Anita buru buru membayar tagihan bajunya kemudian berlari menyusul Rafael.


"Raf, kenapa kau diam saja? Apa kau lapar? Ya sudah kita ke restoran dulu" ucap Anita hendak menggandeng tangan Rafael. Namun dengan cepat Rafael mengehempaskan tangan Anita. Anita terkejut dengan perlakuan Rafael.


"Raf-"


"Cukup. Aku sudah muak dengan tingkah mu. Aku menerima permintaan ku karena aku menghargai kakak mu sebagai sahabat ku. Namun kau bertingkah seenaknya" ucap Rafael menahan amarahnya.


"Jangan lagi kau meminta ku untuk menuruti keiginan mu. Apalagi kau sering mengadu pada kakak mu itu. Aku sangat tidak suka dengan wanita seperti mu. Berhenti mengikuti dan mencampuri urusan ku. Lebih baik kau urus saja urusan mu" ucap Rafael tegas kemudian masuk ke dalam mobil. Ia melajukan mobil dalam kecepatan tinggi. Tujuannya saat ini kantor. Karena memang ia ada sedikit pekerjaan disana.


Rafael turun dari dalam mobil dengan raut wajah yang sangat menakutkan. Auranya pasti akan keluar jika ia sedang marah karena hal yang menyinggung perasaanya. Ia masuk ke dalam ruanganya. Disana sudah ada beberapa orang yang akan melaporkan tentang pekerjaan mereka.


"Selamat siang tuan" ucap Mereka semua.


"Maaf tuan, mereka akan menyampaikan hasil kerja mereka" ucap Griss.


"Lakukan" ucap Rafael dengan raut wajah yang sangat dingin.


"Begini tuan, mengenai perkembangan Resort. Alhamdulilah, resort berkembang pesat dan kami akan mengadakan beberapa penambahan bangunan lagi disana. Jika anda setuju kami akan mengadakan pertemuan lagi" ucap salah seorang dari mereka.


"Akan aku pikirkan" ucap Rafael.


"Saya ingin memberitahukan, tentang laporan dana yang masuk ke kantor cabang tuan. Mungkin anda sudah membaca dokumen yang saya berikan" ucap seorang yang ada disana.


"Kau yakin sudah menghitungnya dengan benar?" Tanya Griss.


"Tentu".


"Bagaimana bisa menurun?" Tanya Griss.


"Saya tidak tahu tuan".


"Bagaimana kau tidak tahu? Kau bagian kepala keuangan bukan?" Tanya Griss.


"Jangan bertele tele Griss. Lakukan saja, semua bukti sudah akurat. Tangkap saja dia" ucap Rafael tegas.


"Baik tuan" ucap Griss. Ia memanggil dua bodyguard untuk menyeret orang yang bertanggung jawab di bagian keuangan di perusahaan cabang miliknya. Tentu saja ia berontak, namun dengan cepat bodyguard dengan cepat menyeret dia.


"Kalian bisa kembali, kita akan bahas lagi nanti. Dan Griss, aku akan mengurus orang itu nanti" ucap Rafael. Mereka semua mengangguk kemudian pamit dari sana.


Rafael sudah menahan amarahnya. Namun tetap saja ia perlu pelampiasan. Ia melempar semua barang yang ada di mejanya untuk menyalurkan amarahnya.


"ARGHH, KAU HANYA MILIK KU. HANYA MILIK RAFAEL" teriak Rafael penuh amarah. Ia pun meninju tembok yang tidak bersalah. Darah langsung mengucur dari tangannya. Ia terduduk lemas mengingat kejadian tadi. Itu tidak boleh terjadi, apa yang dia mau harus dia miliki.


...TBC....


...makasih udh kasih vote komen. kl ada typo maapin...


...Aycha...