
Happy reading♡
Setelah perdebatan kecil antara El dan Billie, kini mereka berdua tengah berada di dalam mobil milik Billie. Awalnya Billie ingin mengajak El untuk bertemu Rafael namun ditolak mentah mentah oleh El. Dengan alasan ia belum siap. Lagipun, El belum siap untuk berhadapan dengan Rafael.
"Seharusnya kau secepatnya menemui dia" ucap Billie.
"Mau siapapun yang salah, seharusnya kau tetap minta maaf".
"Sebenarnya aku tidak tahu kronologinya seperti apa, namun aku sudah bisa menduga jika diantara kaliam hanya terjadi kesalahpahaman saja" jelas Billie.
"Jadi menurut ku, lebih baik kau menemuinya saja El" ucap Billie.9
"El?" Panggil Billie.
"El Meinhard?" Panggil Billie lagi sebab El tidak menyahut.
"Baby El Meinhard?" Ucap Billie sembari menolehkan kepalanya.
"Astaga, anak ini ternyata tidur" ucap Billie.
"Bisa bisanya dia tertidur disaat aku sedang menasehatinya" gerutu Billie.
"Eh, ini kenapa?" Tanya Billie pada diri sendiri saat mobil yang ia bawa tiba tiba mati.
"Apa iya ada kerusakan?" Ucap Billie kemudian keluar untuk mengecek mesin mobilnya.
Keadaan jalanan sangatlah sepi. Udara malam pun sangat menusuk. Billie bergidik ngeri melihat ke sekitarnya. Sunyi, gelap, dan tidak ada orang lain selain dirinya dan El yang berada di dalam mobil.
Billie mulai membuka kap mobil. Ia mulai mengecrk satu per satu. Namun ia tidak menemukan kerusakan.
Dua puluh menit berlalu, mesin mobilnya belum juga kembali menyala. Billie sudah sangat kebingungan karena disini ia membaqa El yang kondisinya tidak stabil.
Tak lama dari itu, silau lampu mobil menerjang indera matanya. Billie pun menghentikan mobil itu.
"Loh? Lo?" Ucap Billie.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Mesin mobil gue tiba tiba mati. Udah gue cek juga gak ada yang rusak" jelas Billie.
"Tinggal naik mobil gue aja" tawarnya.
"Boleh gue nebeng?" Tanya Billie.
"Lu temen gue" ucapnya.
"Gue udah hubungin orang rumah, cuma belum ada yang dateng. Gimana kalo lo bawa aja sepupu gue. Kasian gue sama dia" ucap Billie.
"Masuk aja" ucapnya.
Billie pun dengan sigap kembali masuk ke arah pintu mobil yang ditempati El. Dengan perlahan, ia mulai mengangkat tubuh adiknya itu supaya dia tidak terbangun.
***
Setelah memperhatikan keadaan gadisnya yang dikatakan tidak baik baik saja, Rafael langsung berlalu begitu saja. Pergi tanpa pamit kepada pemilik acara di pesta.
Pikirannya saat ini sangat kacau. Antara marah dan merasa bersalah. Marah karena ia tidak bisa melindungi gadisnya, merasa bersalah tentu saja sebab ia tidak becus dalam menjaganya.
Rafael melajukan mobilnya. Tujuannya saat ini adalah apartement. Ia tidak memilih pulang ke rumah orang tuanya karena malas.
Dari jarak beberapa meter, ia melihat sebuah mobil terhenti. Ia memperhatikan mobil itu karena nampak tidak asing.
Ternyata benar, itu mobil milik Billie, sahabatnya.
Setelah berbincang bincang sebentar, Rafael pun kembali melajukan mobilnya. Namun fokusnya terbagi menjadi dua. Antara jalanan dan seseorang yang ada disampingnya.
Karena takut terjadi kecelakaan, Rafael memilih untuk menepikan mobilnya. Ia menghela nafas kasarnya. Tanpa sadar, ia memukul keras stir mobilnya.
Eunghh..
Rafael langsung menolehkan atensinya ke arah samping. Ia melihat jika El tertidur tak nyaman. Rafael pun menurunkan kursi yang di duduki oleh El supaya ia dapat tidur dengan nyaman. Tak lupa ia juga mengelus surai panjang milik El.
Tanpa disadari, Rafael menjatuhkan air matanya. Sungguh ia sangat bahagia bisa melihat gadisnya dengan jarak sedekat ini. Meskipun belum lama mereka tidak bertemu namun tetap saja, rasa rindu tak lagi bisa ditahannya.
Rafael mengusap sudut matanya kemudian ia kembali menjalankan mobilnya untuk menuju ke apartmentnya.
***
Gemerincik hujan turun membasahi bumi. Pagi yang cerah namun disertai hujan. Seorang gadis masih bergelung manja dengan selimut tebal miliknya. Namun karena silaunya cahaya yang masuk melalui celah jendela, membuatnya terusik dan mulai membuka matanya.
Ia mengerjabkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya. Perlahan ia bangun dari tidurnya. Melihat ke sekitarnya sampai membuat kerutan di dahinya.
Perlahan El bangun dari tidurnya. Ia melihat sekitarnya. Namun tidak menemukan siapapun. Ia kembali merebahkan tubuhnya. Menatap langit langit kamar yang ia tempati.
"Makanlah" ucap seorang laki laki.
El mengalihkan atensinya ke arah pembicara. Matanya membola melihat siapa lelaki itu.
"K-kau" ucap El.
"Hm" ucap Rafael.
"Bagaimana..?" Tanya El bingung.
"Makanlah, Billie akan segera menjemput mu" ucap Rafael datar.
"Kau Rafael?" Tanya El.
"Hm, kenapa?" Tanya Rafael.
"Hanya memastikan" ucap El.
"Makan" titah Rafael.
"Tidak. Aku tidak lapar" ucap El.
"Sejak kapan kau menjadi gadis pembangkang?" Tanya Rafael.
"Sejak kau pergi begitu saja" ucap El memancing Rafael.
"Oh ya".
"Hm" ucap El kemudian ia berusaha bangun tertatih.
Saat ia sudah berdiri tegap, ia pun hendak melangkahkan kakinya namun karena masih terluka, ia pun tidak bisa menahan rasa sakit dan berat tubuhnya sehingga ia pun hampir terjatuh. Beruntung Rafael dengan sigap menangkap tubuh El.
El terkejut saat ia jatuh di pelukan Rafael. Harum maskulin khas Rafael langsung masuk ke indra penciumannya. Sejenak El menutup matanya menikmati aroma tubuh yang selama ini ia rindukan.
Apa? Tidak tidak, aku tidak mungkin merindukannya! -ucap El dalam hatinya.
Rafael tersenyum saat El menutup wajahnya. Ia mengeratkan pelukannya dan menaikan tangannya untuk mengelus rambut panjang El. Tanpa sadar, El menyandarkan kepalanya di dada bidang Rafael.
"Do you miss me?" Tanya Rafael. El tersenyum kemudian melihat ke arah Rafael.
Ia berjinjit kemudian berbisik.
"Yeah, i miss u" bisik El.
****. Hanya bisikan seperti itu saja bisa membuat panas sampai ke ubun ubun. Ia menggeram dan meremas baju milik El. Sedangkan El hampir tertawa keras karena berhasil menggoda Rafael.
"Nakal ya" bisik Rafael.
"Sesekali saja tuan" ucap El. Rafael tak mampu lagi menahan hasratnya. Ia mencium leher putih milik El. Membuat beberapa kissmark yang samar samar.
El sendiri hanya mampu meremas kemeja belakang milik Rafael. Menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara suara aneh.
Ini gila. Ia yang awalnya sangat marah ketika Rafael menyentuhnya, namun kini ia sendiri menerima Rafael tanpa penolakan apapun.
Rafael mengangkat kepalanya dan melihat ke arah El. Mata mereka beradu. Terlihat sama sama memancarkan kerinduan satu sama lain. Namun ya, ego mengalahkan semuanya.
"Aku bisa hilang kendali" bisik Rafael.
"Aku tidak ingin menyakitimu"
"Kau gadisku, wanitaku, miliku"
"Kenapa kau mengklaim aku milikmu" tanya El.
"Kau akan tahu nanti".
"Kapan?" Tanya El.
"Secepatnya" ucap Rafael.
Tanpa aba aba ia pun menggendong El menuju ke kamar mandi membuat El terpekik kaget. El memukul bahu Rafael kesal.
Tbc.
Huuh, baikan ga sie?
semoga ngefeel sih. makasih dh baca.