
Happy reading♡
Sudah satu minggu lebih, usaha Rafael untuk bertemu dengan dokter baru di rumah sakit milik keluarganya tidak membuahkan hasil. Pasalnya, jika Rafael berkunjung kesana pasti dokter itu sedang tidak masuk atau sedang ada jadwal periksa pasien terkadang juga operasi. Atau Rafael ada urusan mendadak dan mau tidak mau ia harus pergi membereskannya. Dan hari ini, semoga saja takdir mempertemukan mereka.
Rafael duduk di kursi kebesarannya. Sudah satu jam lebih ia menunggu kedatangan dokter itu namun belum juga datang. Rafael memutar kursinya sehingga menghadap ke jendela di belakangnya.
Tok...tok...tok
"Masuk" ucap Rafael.
"Maaf dok, saya telat satu jam" ucap seorang wanita.
"Hm" ucapnya.
"Maaf dok, ada apa anda memanggil saya?" Tanyanya.
"Menurutmu" ucap Rafael memutar kursinya. Seketika matanya membulat melihat manusia berjenis kelamin wanita di depannya. Namun dengan cepat ia merubah ekspresinya menjadi dingin.
Kaleum mode on - author
"Maaf, anda siapa? Yang memanggil saya tadi bukannya kepala rumah sakit ini?" Tanyanya.
"Jadi, kamu tidak tahu siapa aku?" Tanya Raf. Wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Aku adalah pengganti uncle Andrew disini" ucap Raf.
"Jadi? Anda yang menggantikan posisi dokter Andrew?" Tanyanya.
"Benar, nona Barbie El Meinhard" ucap Rafael.
"Maaf, saya tidak tahu jika anda menggantikan dokter Andrew. Sekali lagi saya minta maaf" ucap El.
Rafael sedari tadi tidak mengalihkan pandangannya dari wajah wanita di depannya. Begitu juga dengan El yang menatap ke arah Rafael. Namun arti tatapan mereka berdua berbeda. El hanya menatap pria di depannya ini dengan perasaan biasa saja sedangkan Rafael berbeda.
"Dimana ruanganmu?" Tanya Rafael.
"Tepat di sebelah ruangan anda" ucap El. Rafael kembali menatap El. Lama kelamaan El merasa risih dengan tatapan seorang pria di depannya. El akui, pria di depannya ini tampan. Bahkan mungkin sangat tampan. Namun jika ditatap begitu lama, El tidak suka. Ia menganggap tatapan pria di depannya ini seperti sedang menelanjanginya dengan tatapannya.
"Maaf, apa ada hal lain lagi? Saya masih ada pekerjaan" ucap El. Namun Rafael diam.
"Maaf, apa anda mendengar ucapan saya?" Tanya El kesal.
"Baiklah, tanpa mengurangi rasa hormat saya. Saya ijin keluar dari ruangan anda. Permisi" pamit El kemudian ia berdiri lalu melangkah menuju ke arah pintu.
Saat tangan lentiknya menarik gagang pintu, tiba tiba pintu tidak bisa dibuka. El mencoba nya lagi dan lagi namun masih gagal.
Tanpa ia sadari, Rafael sudah berdiri di belakangnya. Rafael mengarahkan kedua tangannya ke sebelah bahu El. Tepatnya mengukung El di depan pintu. El membalikan badannya seketika terkejut. Jarak wajahnya dengan wajah Rafael sangat dengat. Bahkan ia bisa mendengar deru nafas Rafael.
"Apa yang anda lakukan?" Tanya El. Rafael hanya diam namun wajahnya maju perlahan mendekat ke wajah El.
"Tolong jaga kesopanan anda. Anda memang pemilik rumah sakit ini tapi anda tidak bisa bertindak senonoh seperti ini" ucap El menahan dada Rafael.
"Tindakan senonoh seperti apa?" Tanya Rafael. El menahan dada Rafael yang terus saja maju. Tangannya merasa sedang memegang sebuah batu. Dada Rafael sangat keras pikir El.
"Seperti ini, jika anda tidak memundurkan wajah anda, saya akan teriak" ancam El.
"Silahkan nona, ruangan ini kedap suara" ucap Rafael.
"Kau" geram El kemudian mendorong Rafael dengan sekuat tenaganya. Namun hasilnya nihil.
"Sekali lagi saya tekankan anda untuk memundurkan wajah anda" ucap El. Rafael pun tersenyum kemudian berkata.
"Aku akan melakukan apa yang kau inginkan" ucap Rafael, El menghela nafasnya lega.
"Tapi dengan syarat" jeda Rafael.
"Syarat? Maksud anda apa? Kenapa harus bersyarat?" Tanya El tidak terima.
"Terserah anda mau menerima syarat saya atau tidak, yang jelas anda tidak akan keluar dari ruangan ini" ucap Rafael.
"Baiklah, apa syaratnya" ucap El mengalah.
"Tidak sulit, hanya saja kau harus memindahkan semua barang yang ada di ruanganmu" ucap Rafael.
"Maksud anda?" Tanya El meminta penjelasan.
"Anda akan satu ruangan dengan saya disini, itu maksud saya" ucap Rafael.
"Maaf, tapi saya tidak berminat. Cepat buka pintunya saya masih ada pasien" ucap El geram.
"Ternyata anda orang yang keras kepala, terserah saya tidak akan membuka pintunya" ucap Rafael kemudian duduk di kursi kerjanya. El pun mengelus dadanya sembari berucap sabar. Sebenarnya ia berbohong jika masih ada pasien yang harus ia periksa. Iya, El terpaksa berbohong supaya bisa dikeluarkan dari ruangan ini, namun sepertinya tidak akan semudah yang ia bayangkan.
El memilih duduk di kursi panjang yang ada di ruangan Rafael. Ia sama sekali tidak berminat melihat ke arah Rafael. Rafael sendiri sejak tadi hanya diam memperhatikan El. Diam diam ia tersenyum melihat ekspresi wajah El yang sedang kesal dan menahan amarahnya.
El membuka ponselnya setelah duduk. Beruntunglah ia membawa ponselnya, biasanya ia lupa dan akan meninggalkannya di ruangannya.
Ada beberapa email yang masuk. Ia mulai mengecek satu per satu. Lagi lagi, pekerjaan di perusahaan kakeknya. Mau tidak mau El harus mengerjakannya. Ia juga mendapat email dari Billie, sepupunya. Bahwasannya besok El harus ijin tidak masuk ke rumah sakit. El pun hanya mengirimkan emoticon jempol pada Billie.
Kembali ia fokus pada pekerjaannya. Sebenarnya agak susah bekerja menggunakan ponsel. Namun ia juga tidak mungkin meminjam laptop si tuan pemaksa yang ada di hadapannya.
"Apa yang sedang kau kerjakan?" Tanya Rafael. Namun El hanya diam.
"Kau punya mulut gadis, aku bertanya" ucap Rafael.
"Kau bisa melihatnya, aku sedang bermain ponsel" ucap El ketus. Namun bukannnya tersinggung Rafael malah menunjukan smirknya.
Rafael hendak berdiri untuk mendekat duduk di sebelah El, namun tiba tiba pintu ruangannya diketuk seseorang. Rafael pun akhirnya menekan tombol yang ada di sebelah meja kerjanya, sehingga pintu itu otomatis terbuka. Rafael memberi perintah pada orang yang berada di luar untuk masuk.
"Kalian ngapain di ruangan ini hanya berdua saja?" Tanya Eliza heboh.
"Maaf dokter Liza, sebelumnya saya tidak pernah bertemu dengan atasan rumah sakit ini. Jadi sekarang saya menemuinya" ucap El tersenyum.
"Begitu. Tapi kamu gak di apa apain kan sama dia?" Tanya Eliza.
"Tidak dok, berutung dokter cepat datang jadi saya bisa keluar. Sepertinya ada hal penting yang ingin anda bicarakan dengannya" ucap El sopan.
"Iya kau benar, ada beberapa hal penting. Namun tidak terlalu penting sih" ucap Eliza. Sedangkan Rafael hanya diam memperhatikan interaksi kedua wanita yang ada di depannya. Ia seperti tidak dianggap saja.
...TBC...
...hai readers, ketemu di eps 8. makasih ya udh kasih vote, makasih banyak. kayaknya buat bbrp waktu aku gk bisa double up kyk biasanya. maaf bngt:) dan berharap, kalian suka sama ceritanya....
...VOTE KOMEN LAH YU!!!...
...Aycha...