L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 22 : Janji



Happy reading♡


Sesuai janjinya, Rafael sudah membawa El kembali ke rumahnya. Awalnya ia ingin sekedar mampir untuk bertemu dengan orang tua El, namun sayangnya mereka sedang tidak ada. Alhasil, Rafael pun kembali ke kediamannya.


Saat ia memasuki rumah milik orang tuanya, Galaksi langsung menyambutnya. Rafael tidak dibiarkan untuk beristirahat karena sejak kedatangannya, Galaksi memaksa dia untuk menemaninya bermain.


Sekarang waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, namun tidak ada tanda tanda Galaksi akan tidur. Orang dirumahnya pun sedang tidak ada. Orang tuanya pergi karena ada urusan sedangkan kakaknya, Eliza sedang ada jadwal di rumah sakit sampai pagi nanti.


"Galak, kita tidur ya, om benar benar lelah" ucap Rafael.


"Ih, om lemah" ejek Galaksi sembari memainkan mobil mobilannya.


"Om baru sampai rumah tadi loh, om benar benar lelah" ucap Rafael.


"Emangnya om abis dari mana?" Tanya Galaksi.


"Om habis pergi bareng kakak cantik" ucap Rafael.


"Wah? Kakak cantik?" Tanya Galaksi.


"Iya, om pergi bareng sama kakak cantik" ucap Rafael.


"Kok gak aja Galak sih" kesal Galaksi.


"Galak masih kecil, gak boleh ikut orang dewasa" ucap Rafael.


"Sombong, nanti juga Galak bakalan dewasa kok" ucap Galaksi.


"Tapi masih lama" ucap Rafael.


"Galak kangen kakak cantik, udah lama gak ketemu" ucap Galaksi.


"Galak beneran kangen?" Tanya Rafael.


"Iya om".


"Ya sudah, sekarang Galaksi ke kamar ya cuci kaki sama tangan terus gosok gigi. Galaksi kan udah besar. Besok om kasih Galaksi kejutan" ucap Rafael.


"Kejutan apa om?" Tanya Galaksi.


"Kan kejutan Galak, kalo dikasih tau sekarang namanya bukan lagi kejutan" ucap Rafael.


"Ya udah, Galak ke kamar dulu. Janji ya om, kejutannya besok" ucap Galaksi memberikan kelingkingnya pada Rafael. Rafael pun menjabat kelingking itu.


"Janji".


"Selamat malam om" ucap Galaksi, kemudian beranjak dari ruang tengah menuju ke kamarnya. Sedangkan Rafael merentangkan tubuhnya di karpet yang tadi ia duduki. Sungguh, badanya terasa sangat pegal pegal.


Beberapa menit kemudian, dia pun bangkit menuju kamarnya. Ia harus mandi dulu sebelum tidur. Rafael pun kemudian tertidur dengan lelap setelah selesai dengan acara mandinya.


***


El masih tidak menyangka jika kedua orang tuanya tidak akan menginterogasinya. Padahal dia kemarin pergi hampir berhari hari. Apa sepercaya itu mereka pada Rafael?


El memakan roti miliknya sembari memikirkan hal itu. Hal yang sangat tidak mungkin bahkan mustahil. Apa mereka sudah kenal dekat dengan Rafael?


"Sayang, kenapa melamun?" Tanya Clau.


"Tidak kok" ucap El.


"Tidak bagaimana, sedari tadi dad perhatikan kamu melamun terus" ucap Cliff.


"Enggak kok dad. Kalian tenang saja, El baik kok" ucap El.


"Kamu kerja hari ini?" Tanya Cliff.


"Iya dad, El udah ijin beberapa hari. Makanya El harus masuk sekarang" ucap El.


"Mom tidak menyangka kalau kau menjalin hubungan dekat dengan Rafael" ucap Clau.


"Hubungan dekat?" Tanya El.


"Apa yang dia katakan?" Tanya El.


"Dia meminta ijin pada daddy untuk mengajak kekasihnya jalan jalan" ucap Clau. El hanya mengangguk. Ternyata ucapan Rafael sesuai dengan fakta. Maksudnya, fakta dia mengatakan hal yang sama padanya.


"Jadi kau benar benar kekasih Rafael?" Tanya Clau.


"Mom, kita bahas itu nanti, El sudah hampir telat" alibi El. Ia pun berdiri dari kursinya kemudian berpamitan pada kedua orang tuanya.


Hari ini, ia sangat tidak ingin mengendarai mobil sendiri. Ia masih sangat lelah karena perjalanan kemarin. Jadi Jonah, supir pribadi keluarganya mengantarkannya.


Satu jam berlalu, El sampai di lobby rumah sakit. Ia menyapa beberapa suster yang ditemuinya. Kemudian masuk ke dalam lift untuk menuju ke ruangannya.


Saat ia keluar dari dalam lift, notifikasi di ponselnya berbunyi. Itu pesan dari Billie. El hanya melihatnya saja dan tidan berniat membalasnya.


El membuka pintu ruang kerjanya kemudian masuk. Ia menyimpan tas miliknya kemudian duduk di kursi kerjanya. Ia mengecek beberapa map yang berisi data pasiennya.


Tidak ada jadwal hari ini? Astaga. El menepuk pelan dahinya. Ia sampai lupa melihat jadwalnya sendiri. Namun karena sudah terlanjur ia berada di rumah sakit. Pulang pun rasanya percuma. Kasihan juga supirnya.


El membuka laptop miliknya kemudian beralih mengerjakan pekerjaan yang tadi di email kan Billie. Tanganya dengan lincah mengetik beberapa data yang kurang tepat.


Seseorang sudah berada di dalam ruangannya sejak tiga puluh menit yang lalu, namun El tidak menyadarinya. Ia terlalu fokus pada pekerjaannya.


Orang itu, siapa lagi jika bukan Rafael.


Rafael tersenyum melihat mimik wajah El yang sangat serius. Sesekali Rafael terkekeh melihatnya. Ia pun berdiri dari duduknya kemudian berjalan ke arah kursi yang berada di depan El. Ia menariknya dengan pelan kemudian duduk. El masih belum menyadarinya.


"Sepertinya, anda sangat sibuk" ucap Rafael tiba tiba membuat El terkejut bukan main. Ia memegang dadanya tanda jika ia sangat terkejut.


"Kau bisa bukan mengetuk pintu dulu baru masuk" ucap El kesal.


"Sepertinya aku lupa" ucap Rafael.


"Jangan seperti itu lagi" peringat El.


"Iya. Maafkan aku" ucap Rafael.


"Ada apa?".


"Aku hanya ingin mengajak mu makan siang di luar. Tidak ada bantahan, aku tunggu nanti. Permisi" ucap Rafael. El hanya menggelengkan kepalanya.


Ia pun kembali fokus pada pekerjaannya. Ternyata cukup banyak berkas yang harus ia kerjakan. Beruntung ia dengan cepat menyelesaikannya dan langsung mengirimnya pada Billie.


Tidak terasa, waktu makan siang pun sudah tiba. Ia pun membenahi barang barangnya kemudian hendak keluar dari ruanganya. Lagi lagi ia dikejutkan dengan kehadiran Rafael yang berada di depan ruangannya. Tanpa aba aba, Rafael menarik tanganya untuk memasuki lift. Ia langsung menekan tombol menuju ke bassement.


"Kita makan dimana Raf?" Tanya El.


"Kita bahas itu nanti" ucap Rafael. El pun hanya menurut dan tidak banyak bertanya lagi. Mereka pun pergi dari parkiran.


El memperhatikan jalanan. Ini jalan menuju ke sekolah yang pernah ia lewati jika tidak salah. Ia pun menoleh pada Rafael hendak bertanya namun tidak jadi saat seorang anak masuk ke dalam mobilnya.


"Kakak cantik" ucap Galaksi.


"Hai" sapa El.


"Kangen banget sama kakak cantik" ucap Galaksi.


"Kakak juga kangen sama Galak".


"Om, ke tempat makan yang ada es krimnya" ucap Galaksi, Rafael pun mengangguk. Ia melajukan mobilnya menuju ke salah satu cafe yang biasa ia kunjungi dengan Rafael.


Tak berapa lama, mobil pun sampai di parkiran cafe. Ia keluar dari dalam mobil begitupun El dan Galaksi. El dan Rafael menggandeng tangan Galaksi. Layaknya mereka orang tua Galaksi. Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka, namun mereka hanya diam dan terlihat biasa saja.


...TBC...


...gak komen nih?...


...Aycha...