
Happy reading♡
El terbangun dari tidurnya. Ia melihat ke sekelilingnya. Ini dimana? Ia tidak ingat.
"Kau sudah bangun?" Tanya Rafael.
"Kau tidur dengan ku?" Tanya El mengabaikan pertanyaan Rafael.
"Iya, memangnya dimana lagi nona Meinhard" ucap Rafael bangun dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Kau tidak berbuat macam macam kan?" Tanya El panik.
"Memangnya, kau ingin aku berbuat apa?" Tanya Rafael.
"Jangan berani beraninya kau" ucap El menutup dadanya dengan selimut.
"Kau lupa, siapa semalam yang memeluk ku begitu erat?" Tanya Rafael.
"Tidak tahu, aku lupa" ucap El kemudian beranjak dari sana untuk menuju ke kamar mandi. Namun tidak jadi karena Rafael menariknya lagi. Sehingga ia tertidur diatas kaki Rafael.
"Kau ini" ucap El kesal.
"Kau cantik" ucap Rafael.
"Aku tahu, terimakasih" ucap El.
"Tapi sayang, masih sendiri".
Jlebbb.
Ucapan Rafael hanya sedikit, namun entah mengapa sangat sakit El mendengarnya.
"Kau pun masih sendiri, jangan so keras" ucap El.
"Tidak aku tidak sendiri" ucap Rafael.
"Mana ada, kau masih sendiri tuan Rafael yang terhormat" ucap El.
"Tidak, aku tidak sendirian. Aku masih bersama dengan kekasih ku" ucap Rafael.
"Siapa?" Tanya El.
"Ada. Dan sampai sekarang kami masih bersama. Hanya saja untuk beberapa waktu kami terpisah" jelas Rafael.
"Oh" ucap El kemudian melepaskan diri dari Rafael saat ia menemukan celah. Ia berlari menuju ke kamar mandi kemudian menguncinya.
El membasuh wajahnya beberapa kali. Perasaan macam apa ini? Kenapa ia seolah merasa sakit hati mendengar Rafael memiliki kekasih? Seharusnya ia bahagia bukan?
El menggelengkan kepalanya. Ia memilih mandi saja pagi ini. Namun sebelum mandi ia kembali keluar dan mencari pakaian yang bisa ia pakai. Beruntunglah di sebelah kamar mandi sudah tersedia baju untuknya. El mengambilnya dan segera mandi.
Tiga puluh menit berlalu, ritual mandi El selesai. Ia keluar dari kamar mandi mengenakan baju kemeja berlengan panjang berwarna hitam dan rok span berwarna putih selutut. Ia menyisir rambutnya kemudian memilih menggulungnya. Setelah selesai, ia pun keluar dari dalam kamar.
"Nona" ucap Griss saat El keluar dari dalam kamar.
"Ya".
"Tuan sudah menunggu anda untuk sarapan pagi" ucap Griss kemudian El mengangguk. Griss menunjukan letak dimana adanya Rafael. Ternyata, Rafael sudah duduk di bagian luar kapal lengkap dengan meja di depannya yang penuh dengan makanan.
"Morning" sapa Rafael.
"Morning" sapa El kemudian dia duduk di depan Rafael. Rasanya menjadi canggung setelah ucapan Rafael tadi. Namun El berusaha bersikap senormal mungkin.
"Kau ingin makan apa?" Tanya Rafael.
"Roti selai" ucap El. Rafael hendak mengambil roti namun El menahannya.
"Aku bisa sendiri. Terimakasih" ucap El. Rafael memperhatikan wajah El sekilas. Apa ada tindakannya yang salah sampai wanita di depannya ini menjadi berbeda? Atau hanya perasaannya saja?
El mengoleskan selai coklat pada rotinya kemudian melipatnya dan memakannya tanpa melihat ke arah Rafael. Ia mencoba asik sendiri dengan roti miliknya.
"Apa aku bisa meminta tas dan ponsel ku?" Tanya El.
"Griss akan memberikannya setelah makan pagi" ucap Rafael, El menganggukan kepalanya.
Acara makan pagi sangat berbeda. Keduanya memilih diam. El menghabiskan makan paginya diakhiri dengan segelas susu. Begitu juga Rafael. Setelah selesai makan pagi, mereka berdua keluar dari dalam yacht itu kemudian masuk ke dalam mobil. Sebelum masuk ke dalam mobil, Griss memberikan barang El.
Di dalam mobil pun hanya ada kesunyian. Namun tiba tiba, dering ponsel El berbunyi.
"Iya, aku tahu. Secepatnya aku akan pulang. Kau tangani dulu semuanya. Aku percaya padamu, Kevin" ucap El. Tiba tiba Rafael meremas kertas berkas yang sedang dibacanya.
"Raf, kita akan pulang hari ini kan?" Tanya El namun Rafael hanya diam tak menjawabnya.
"Rafael, aku bertanya" ucap El.
"Aku masih ada pekerjaan. Kau kembali ke hotel saja dulu" ucap Rafael kemudian mobil berhenti di tepi jalan. Rafael turun menyisakan Griss dan El di dalam mobil.
"Rafael mau kemana?" Tanya El.
"Tuan akan naik mobil lain nona" ucap Griss. El hanya mengangguk saja. Ia malas berbicara lagi. Griss pun melajukan mobilnya untuk sampai ke tempat tujuan.
Namun sudah satu jam berlalu, El masih belum juga turun dari dalam mobil. Ia melihat ke sekitar jalanan. Ini masih di area perkotaan. Tapi Griss akan membawanya kemana?
"Kita sudah sampai nona" ucap Griss. El pun keluar dari salam mobil diikuti oleh Griss.
El menatap bangunan di depannya. Ini bukan hotel. Lebih tepatnya seperti mansion.
"Ini?" Tanya El.
"Ini mansion milik tuan Levent nona, tadi saya diperintahkan membawa anda kesini bukan ke hotel yang sebelumnya anda kunjungi" jelas Griss.
"Tapi kenapa Griss?" Tanya El.
"Saya hanya diperintahkan tuan Levent nona. Untuk alasannya saya tidak tahu" ucap Griss.
"Ya sudah".
"Anda bisa masuk nona, ini Maria, maid di mansion ini" ucap Griss memperkenalkan wanita paruh baya di sebelahnya.
"Iya" ucap El.
"Mari nyonya, silahkan masuk" ucap Maria.
"Panggil aku El, bukan nyonya" ucap El, Maria hanya mengangguk. El pun masuk ke dalam mansion diikuti oleh Maria. Sedangkan Griss kembali masuk mobil untuk menemui Rafael.
"Anda ingin langsung istirahat atau ingin makan nona?" Tanya Maria.
"Sepertinya aku ingin tidur Maria, aku sangat lelah rasanya" ucap El.
"Baiklah nona, mari saya antar anda ke kamar anda" ucap Maria. El pun mengangguk dan mengikuti Maria. Letak kamarnya ada di lantai dua.
Maria membuka pintu yang menjulang tinggi. El masuk ke dalamnya bersama Maria. El melihat sekelilingnya. Sepertinya ini kamar utama.
"Silahkan nona, ini kamar anda" ucap Maria.
"Ini kamar utama?" Tanya El.
"Iya nona, saya diperintahkan tuan Levent untuk membawa anda ke kamar ini" ucap Maria.
"Ya sudah, aku akan tidur. Terimakasih Maria" ucap El.
"Sama sama nona, jika ada yang diperlukan, anda bisa memanggil saya" ucap Maria
"Tentu".
"Saya keluar dulu, permisi" pamit Maria.
"Ya".
Kini tersisalah El dikamar besar itu. Kamar dengan nuansa hitam dan putih. El merasa aneh, apa iya semua laki laki sangat menyukai warna monokrom saja? Jika dilihat dan diingat, Rafael selalu menggunakan jas berwarna hitam saja. Jarang sekali ia menggunakan warna lain. Apa iya ia tidak suka warna lain selain hitam?
El merebahkan tubuhnya di kasur king size yang ada di kamar itu. Tanganya bergerak untuk merasakan kelembutan kasur itu. Tiba tiba, matanya mulai terpejam. Ia mulai terlelap menuju ke alam mimpi. Hingga beberapa menit berlalu, ia sudah tertidur.
...TBC...
...hai, part 17 nih. bener" gak kerasa ya. makasih buat 800++ like nya. makin tingkatin ya. ttp support aku okay)...
...makasih banget udah sempetin mau baca cerita aku. aku harap kalian gak bosen ya)...
...BACA CUMA VOTE GAK KOMEN? MASA IYA SETEGA ITU(...
...Aycha...