
Happy reading♡
Setelah mendengarkan penjelasan Rafael, beberapa saat El terdiam. Ia bingung harus bagaimana sekarang. Jadi kemarin ia sudah berburuk sangka pada Rafael?
"Tenanglah, aku juga bersalah karena tidak menjelaskan secara detail kemarin. Aku kemarin benar benar sibuk karena pekerjaan ku. Setelah aku menyelesaikannya, aku langsung datang ke tempat tunangan teman ku" jelas Rafael namun El masih diam. Rafael tersenyum, sepertinya gadisnya cemburu.
"Apa kau cemburu?" Tanya Rafael namun El masih tetap diam. Rafael pun mendekat ke arah El. Ia merangkak diatas tubuh El. Senyum miring tercetak di wajahnya. Ternyata, gadisnya melamun.
Rafael menurunkan wajahnya secara perlahan. Senyum miring tercetak jelas. El masih belum sadar. Rafael menyatukan bibirnya ke bibir El. Saat itu, kesadaran langsung menghampirinya. Tangannya menahan dada Rafael. Namun terlambat, Rafael lebih dulu memagut bibirnya. Awalnya, Rafael melakukannya secara perlahan. Lama kelamaan, El terlena dengan ciuman itu. Ia pun tanpa sadar membalasnya. Tanganya naik ke belakang kepala Rafael. Rafael tersenyum di sela sela ciuman itu.
Semakin lama, ciuman itu semakin menuntut. El hampir kehabisan nafas karena ciuman itu. Ia sudah berusaha mendorong Rafael namun nihil. Kepalanya menjadi pusing. Ia hanya pasrah karena Rafael tidak juga melepaskan pagutan mereka.
Rafael sebenarnya sudah sadar jika El sudah kehabisan nafas. Namun ia sengaja tidak melepaskanya. Hitung hitung latihan pernafasan.
Akhirnya, Rafael melepaskan ciuman mereka, seketika El langsung saja menghirup udara sebanyak banyaknya. Tanganya meremas kemeja Rafael. Dadanya naik turun. Rafael menatap pemandangan indah itu.
"Raf" ucap El yang masih mengatur nafasnya.
"Kenapa sayang" ucap Rafael.
"Ken-" ucap El terputus karena lagi lagi Rafael menciumnya. Saat ini Rafael sudah lagi tidak melakukan ciuman pelan pelan. Ia langsung melakukannya secara brutal dan menuntut. El kewalahan karena ciuman itu.
Tangan Rafael tentu saja tidak tinggal diam. Tangannya sudah merayap ke dalam kemeja El. Saat tangan hangay dan besar itu meraba perutnya, tiba tiba ia merasakan sesuatu yang aneh.
Ciuman Rafael beralih ke leher Rafael. Membuat El mabuk kepayang karena ciuman itu. Ia meremas rambut Rafael tanpa sengaja. Saat tangan Rafael meraba dadanya yang masih terbalut kain, ia hampir mengeluarkan suara aneh.
Rafael tahu, ia sangat menginginkan wanita yang berada dibawahnya saat ini. Juniornya tidak pernah bereaksi sebelumnya. Namun saat ia bersentuhan dengan El, juniornya langsung bereaksi.
Rafael menghentikan kegiatannya. Ia menatap El yang sedang mengatur nafasnya. Bibir bengkak dan rambut yang acak acakan merupakan pemandangan yang indah untuk dilihatnya.
"Aku mencintaimu" ucap Rafael tanpa ragu.
"Aku mau kau menjadi kekasih ku" ucap Rafael.
"Dan aku tidak menerima penolakan. Mulai saat ini kau miliku El, milik Rafael Gani Levent" ucap Rafael.
"Kenapa aku?" Tanya El pelan.
"Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Aku tahu kau pun menyukai ku. Terbukti kau menangis saat mendapatkan foto yang dikirim orang suruhan Anita.
"Anita?" Tanya El.
"Iya sayang, yang mengirimkan foto itu adalah orang suruhan Anita. Ia sudah merencanakan itu semua" jelas Rafael.
"Kenapa kau tahu aku menangis?" Tanya El.
"Aku bisa melihatnya pagi tadi" ucap Rafael.
"Istirahatlah, aku akan mandi" titah Rafael.
"Ini sudah pukul tujuh malam, kau bisa masuk angin" ucap El.
"Ada yang harus aku tuntaskan" ucap Rafael kemudian mencium kening El. Ia berjalan menuju kamar mandi. Sementara, El masih diam dengan posisi sama. Ia menatap langit langit kamar milik Rafael. Sudah kali kedua Rafael menyatakan perasaannya, namun El masih belum bisa menjawabnya.
Ia bangun dan duduk. Pandangannya mengarah ke kaca besar yang ada di sebelah kiri. Rambut berantakan, bibir yang membengkak, dan kancing kemeja yang sudah terbuka.
"Apa yang aku lakukan?" Gumam El. Ini kali pertama ia melakukan hal seperti ini dengan seorang pria. Ia kembali menjatuhkan dirinya di kasur.
Rafael bisa bisanya membuat dirinya melayang dan terlena. Sampai sampai ia membalas ciuman Rafael.
"Bangunlah" ucap Rafael. Saat ini ia sudah selesai dengan urusannya. Ia memakai kaos hitam dan celana bahan.
El terpana melihat pria di depannya. Kenapa dia bisa setampan ini?.
"Kau tampan" ucap El membuat Rafael terkekeh. Lagi dan lagi ia mencium kening El.
"Kenapa kemeja mu belum dikancingkan?" Tqnya Rafael.
"Kenapa kau bisa membukanya, aku tidak sadar kau membukanya" ucap El kemudian bangun dan mengancingkan kemejanya. Gerakan itu tidak luput dari pandangan Rafael.
"Aku akan memasak" ucap El.
"Tidak perlu, aku akan memasak untuk mu. Ayo" ucap Rafael menuntun El menuju ke ruang makan.
"Raf, aku lelah" ucap El saat mereka akan duduk. Rafael membalikan tubuh El untuk menghadap ke arahnya. Tanganya menangkup pipi El.
"Aku belum membuat mu selelah ini sayang" ucap Rafael ambigu membuat El mengerutkan keningnya.
"Apa maksud mu? Berhenti memanggiku sayang, aku bukan kekasih mu" ucap El.
"Siapa bilang? Kau kekasih ku sejak dulu dan sekarang. Aku sudah bilang bukan, aku tidak menerima penolakan" ucap Rafael.
"Dasar tuan pemaksa. Aku tidak ingin menjadi kekasih mu" ucap El.
"Aku tidak meminta pendapat mu untuk ini. Kau kekasihku" ucap Rafael kemudian menurunkan wajahnya menuju ke leher jenjang El. El menahan bahu Rafael, namun Rafael tetap memajukan wajahnnya. Disana, ia mulai melancarkan aksinya. Membuat tanda kepemilikan disana.
"Akhh, sakit Raf, kenapa kau mengigit ku?" Tanya El. Rafael mengangkat wajahnya dan tersenyum melihat hasil karyanya di leher El. Merah keunguan.
"Duduklah, kau lapar bukan" ucap Rafael, El pun duduk sedangkan Rafael berjalan menuju ke arah dapur. Ia mengambil beberapa bahan disana dan mulai memotong sayur dan yang lainnya.
Sekitar lima belas menit berlalu, Rafael menghidangkan sepiring nasi goreng. El berbinar melihat nasi itu.
"Makanlah" titah Rafael. Sebelum menyuapkan nasi, El meminum air terlebih dahulu. Ia makan dengan lahap. Ternyata Rafael handal dalam memasak. El senang, sekarang ia adalah kekasihnya, jadi bisa kan jika ia meminta Rafael selalu memasakan nasi goreng ini?
Eh.
Apa apaan ini? Kenapa ia berpikiran seperti ini?
El menggelengkan kepalanya. Tidak, ia tidak boleh menyukai Rafael.
"Sayang, kenapa?" Tanya Rafael aneh melihat El yang sedang menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku sudah selesai makan. Dan aku ingin bicara" ucap El.
"Apa?".
"Aku tidak mau menjadi kekasih mu" ucap El. Rafael menjatuhkan sendok yang berada di tangannya. Ia meminum segelas air. Tangannya mengepal.
"Apa maksud mu? Sudah aku bilang bukan" ucap Rafael. Ia menarik El untum bangun dan menggendongnya masuk lagi ke dalam kamar. El sudah meronta ronta meminta dilepaskan namun gagal.
Rafael mendorong El untuk tidur di ranjang. Karena mendadak di dorong, El pun tidur terlentang. Rafael menindihnya.
Dan kejadian selanjutnya, hanya Rafael dan El yang tahu.
...TBC....
...**trmksh untk klian yg sdh brsedia membaca certa absurd saya. jka tdk brknn, tdk prlu d bca lg, sy tdk memaksa. di awl part, sy sdh blng kl sy msh pemula. maaf atas ketidaknyamanan nya. ...
...mungkin kalian tdk membaca sebagian omngn saya di part sblmnya. sy hrp kalian bca ulng lg saja....
...cerita ini msh panjang, bukn krna rafael jd letoy atau apapun itu, krna memang ada bbrp part yg blm di pub, jd msh mnjd tanda tanya buat kalian....
...so, buat kalian yg msh stay, makasih banget. makasih atas support nya....
...Aycha**...