
Happy reading♡
Rafael memijat pelipisnya. Rasa pening menyerang kepalanya lagi. Sudah lima hari berlalu ia berada di Jepang. Bukan tanpa alasan dia tiba tiba berada disini, ini disebab kan karena perusahaan miliknya sedang mengalami masalah yang harus ditangani langsung olehnya. Untuk itu, ia langsung terbang dari Boston menuju ke Jepang.
Untuk beberapa hari terakhir, ia tidak terlalu memikirkan keadaan gadis itu. Ia percaya keluarga gadis itu pasti akan melindunginya. Namun tidak dapat dipungkiri jika ia sangat merindukannya.
Ia menjauh bukan karena ingin melupakan gadis itu. Ia menjauh hanya untuk menebus beberapa kesalahannya yang sangat fatal. Ia jadi teringat bagaimana jika gadis itu dekat atau didekati pria lain yang mampu membuatnya jatuh hati?
Rafael menggelengkan kepalanya. Itu tidak boleh terjadi.
"Bagaimana pekerjaan ku Griss?" Tanya Rafael. Kebetulan mereka berdua tengah berada di ruang kerja Rafael.
"Semuanya sudah selesai tuan. Anda sudah mengerjakan semuanya" ucap Griss.
"Apa jadwal ku setelah ini?" Tanya Rafael.
"Tidak ada tuan, mungkin lusa anda harus segera pulang ke Boston" ucap Griss
"Memangnya ada apa?" Tanya Rafael.
"Mungkin anda lupa, lusa Meinhard Company akan mengadakan pesta ulang tahun perusahaan" ucap Griss.
"Baiklah, kita ke Boston sekarang saja. Aku akan beristirahat disana nanti" ucap Rafael. Griss mengangguk dan pamit dari ruangan Rafael untuk menyiapkan segala keperluan Rafael untuk pulang ke Boston.
***
El menatap kesal orang orang yang sedang berada di ruangannya. Sedari pagi ia belum juga makan. Sudah banyak makanan favoritenya yang ditawarkan namun ia menolak semuanya. Sebenarnya ia sangat tergiur saat ditawarkan nasi goreng lengkap dengan telor mata sapi yang agak gosong.
Sebenarnya, baik mommy atau daddy nya tidak terlalu menyukai nasi goreng. Dari pihak keluarga pun tidak ada yang terlalu suka. Apalagi ditambah dengan telor mata sapi yang agak gosong. Aneh sekali.
"Ayo lah, kau harus makan dan minum obat" bujuk Billie.
"Itu benar, cepatlah makan" ucap Arthur.
"Iya sayang, kau harus makan" ucap Liana.
"Makanlah dulu, nanti opa akan menuruti semua keinginan kamu" ucap Hans lembut.
"Janji?" Tanya El.
"Opa janji sayang" ucap Hans tersenyum.
"Baiklah, aku akan makan dan meminum obat. Tapi aku mau pulang sekarang ke rumah. Tidak ada protes apapun" ucap El.
"Kau masih harus dirawat astaga" ucap Arthur.
"Aku tidak selemah itu" ucap El ketus.
"Baiklah baiklah, opa akan mengurusnya tapi kamu makan dulu ya" ucap Hans. Ia tidak tega untuk menolak keinginan cucunya. Apalagi sudah dari dua hari yang lalau ia memintanya untuk dibawa pulang.
"Terimakasih, sayang opa" ucap El memeluk Hans. Hans hanya tersenyum dan memberikan satu piring nasi goreng yang sudah ia siapkan.
El menerima piring itu. Sebelum memakan nasinya, El terlebih dahulu meminum air putih baru setelahnya ia memakan nasi itu.
Dilain sisi, Arthur dan Billie bergidik melihat El yang memakan telur yang gosong. Sebenarnya bukan gosong, tapi hanya sedikit gosong.
"Memangnya enak?" Tanya Billie yang diabaikan El.
"Billie bertanya sayang" ucap Liana.
"Iya oma, kenapa?" Tanya El.
"Billie bertanya" ucap Liana.
"Siapa Billie oma, El tidak mengenalnya" ucap El membuat Billie melongo.
"Ada ada saja" ucap Liana. Sedangkan Arthur sudah terbahak sejak tadi.
"Oma, ini suara tertawa siapa? Apa rumah sakit ini angker? El jadi takut" ucap El membuat tawa Arthur berhenti.
"Oma, tolong obatnya" ucap El. Dengan telaten, Liana memberikan obat itu dan membereskan bekas makan El. Tak lama dari itu, Hans pun datang. Ia menyuruh Billie mengambil kursi roda, Arthur mengambil mobil, dan dia sendiri yang mengambil baju baju El selama di rumah sakit. Sedangkan Liana membantu El bangun dan duduk di kursi roda saat Billie sudah datang.
El akhirnya menghirup udara segar diluar sana. Ia tersenyum. Rambutnya berterbangan ke samping karena tertiup angin.
"Ayo masuk princess" ucap Arthur. El pun mengaitkan tangannya saat Arthur menggendongnya. Ia duduk dengan pelan karena kakinya masih sakit.
Setelah semuanya masuk, Arthur langsung melajukan mobilnya.
"Astaga, dasar wanita" gumam Arthur yang mendapat kekehan Hans disebelahnya.
***
Mobil yang ditumpangi El dan yang lainnya sampai di depan pintu utama mansion Meinhard. Semua keluarga sudah menyambutnya di depan pintu.
El keluar dari dalam mobil dan langsung di gendong oleh Arthur untuk masuk ke dalam rumah.
Saat El duduk, ia langsung ditawari berbagai macam makanan oleh tante tantenya.
"Kakak kakak ku, anak ku baru sampai. Nanti saja ya kalian tawarkan makananya" ucap Clau.
"Oh, baiklah" ucap Soraya.
"Aku akan makan semuanya nanti tante, tenanglah makanan yang kalian buat akan masuk ke dalam perutku" ucap El.
"Aw, terimakasih sayang" ucap Clarissa.
El pun menyandarkan kepalanya ke kursi. Ia menatap ke arah tv yang sedang menayangkan drama korea. Sejujurnya ia tidak terlalu menyukai drama korea, hanya saja kedua tantenya itu sangatlah menyukainya.
Rasa kantuk tiba tiba menyerangnya. Saat ia akan memejamkan matanya, tiba tiba Hans bertanya.
"Sayang, apa benar kau merubah jadwal mu di rumah sakit?" Tanya Hans. El mengerjapkan matanya beberapa kali dan melihat ke arah Hans.
"Iya opa" ucap El.
"Kenapa?" Tanya Hans.
"Tidak apa opa, hanya ingin saja" ucap El. Hans hanya mengangguk angguk saja.
"Oh ya, bagaimana untuk acara besok?" Tanya El.
"Semuanya hampir selesai El. Undangan sudah disebar, setting tempat sudah sesuai keinginan kita semua. Tinggal besok kita berangkat ke sana" ucap Billie.
"Apa tidak apa apa aku memakai kursi roda kesana?" Tanya El.
"Memangnya kenapa sayang?" Tanya Liana.
"Apa kalian tidak malu?" Tanya El.
"Sayang, kaki kamu itu bukan lumpuh total, tapi hanya tidak bisa berjalan karena pergelangan kaki kamu terluka cukup parah" jelas Hans.
"Takutnya, nanti ini akan menjadi cemoohan rekan rekan kerja opa dan yang lainnya" ucap El.
"Alah, kaka tenang saja, yang memiliki saham tertinggi di setiap kerja sama antar perusahaan adalah perusahaan opa. Jika mereka membicarakan kakak, opa tinggal batalkan saja kerja sama itu" ucap Evan kelewat santai.
"Hush, ngomongnya" peringat Liana. Evan hanya cengengesan.
"Sudah ya sayang, kamu tidak perlu memikirkan masalah besok. Sekarang lebih baik kamu istirahat ya" ucap Liana.
"Yu, Arthur gendong ke kamar" tawar Arthur.
"Maunya Billie" ucap El, Arthur hanya mendengkus.
Billie pun berdiri dan langsung menggendong El menuju ke kamarnya.
Dengan perlahan, Billie mendudukan El di kasur saat mereka sudah sampai di dalam kamar El.
"Boleh aku bertanya?" Tanya El.
"Apa?".
"Bagaimana kabarnya?" Tanya El.
"Siapa?".
"Rafael" ucap El berbisik.
Billie hanya terkekeh kemudian mencium puncak kepala El.
"Kalau kau menyukainya, maafkanlah kesalahan dia El. Pandang dari sisi lain, dia pria normal juga El" ucap Billie. El hanya diam di dalam gendongan sang kakak.
OHAOOOOO..
spam komen dong, butuh amunisi!!!