L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 43 : Panas



Happy readingā™”


Sekitar pukul satu sore, Aura sudah sibuk membangunkan keluarganya. Ia sangat bersemangat untuk bertemu dengan keluarga Meinhard.


Baik Michelle, Rafael, Eliza dan yang lainnya sudah dibuat kesal oleh tingkah nyonya Levent.


"Ayo cepat, kalian semua jangan terlambat" perintah Aura.


"Iya ma, sabar" ucap Michelle.


"Mama udah sabar ngadepin kalian yang leletnya minta digebuk" ucap Aura.


"Iya ma iya, ayo berangkat sekarang" ucap Rafael menengahi.


Semua langsung beranjak menuju ke arah pintu utama untuk menuju ke mansion Meinhard. Rafael sendiri memilih pisah mobil. Ia memilih membawa mobilnya sendiri daripada harus bergabung dengan keluarganya. Pasalnya, ia sudah jengah dengan pertanyaan mamanya tentang status hubungannya dengan El.


Rafael melajukan mobilnya mengikuti mobil keluarganya. Hanya ada keheningan di dalam mobilnya. Sesekali ia melirik kesana kemari namun masih tetap fokus pada jalan.


Berselang tiga puluh menit, akhirnya keluarga Levent sampai di mansion keluarga Meinhard. Mereka disambut dengan penuh hangat oleh pihak keluarga Meinhard.


"Hai, Au apa kabar?" Tanya Claudia.


"Aku baik Clau, kau sendiri apa kabar?" Tanya Aura.


"Sangat baik tentunya" ucap Claudia.


"Ayo mari, silahkan masuk" ucap Sorayan, kakak ipar Claudia.


Semua keluarga Levent masuk ke dalam amnsion besar keluarga Meinhard. Sesekali mereka berbincang sembari menuju kearah ruang khusus jamuan para tamu.


Diruang jamuan, semua keluarga Levent sudah berkumpul lengkap. Namun Rafael tidak menemukan keberadaan El. Ia memilih duduk disebelah Billie.


"Dia ada, namun tadi pergi" ucap Billie.


"Maksud lo?" Tanya Rafael.


"Gue tahu, lo pasti nyari keberadaan El kan?" Tanya Billie.


"Enggak" elak Rafael.


Billie terkekeh "ga usah bohong, keliatan banget kali. Oh ya, dia tadi keluar sama cowok. Gue gatau dia siapa tapi keliatan akrab banget" ucap Billie.


"Oh" ucap Rafael.


"So soan cuek lo. Gue tahu, lo pasti cemburu kan?" Tanya Billie.


"Hm" ucap Rafael.


***


"Lain kali kalo mau ngajakin keluar tuh kasih kabar dulu, jangan langsung datang gitu aja" gerutu El.


"Ya gimana ya, udah kebelet kangen ya gini" ucapnya.


"Eric, aku tahu aku ngangenin ko" ucap El.


Erico lim, atau akrab disapa Eric adalah teman El semasa dia kuliah. Kebetulan mereka masuk di satu universitas yang sama namun berbeda jurusan.


Kenapa mereka bisa sedekat ini? Ya karna waktu itu pernah beberapa kali Eric membantu El,seiring berjalannya waktu mereka pun menjadi teman baik.


"Makan dulu gak?" Tanya Eric.


"Enggak, diet aku" ucap El.


"Udah kurus kerempeng aja masih belagu buat diet" ucap Eric pedas.


"Omongannya" ucap El mendelik.


"Bercanda, baperan deh" ucap Eric.


"Aku cewek, wajar kalo aku baperan. Soalnya aku pake perasaan" ucap El


"Jangan selalu pake perasaan. Inget, ga semua orang bisa ngerasain apa yang kamu rasain. Contohnya omongan aku tadi, aku niatnya becanda, tapi aku gatau feedback kamu nganggap itu becanda apa enggak. Paham?" Tanya Eric.


"Iya Eric, ini masih siang udah ceramah aja" ucap El.


"Ya biar kamu pahamlah" ucap Eric.


"Anterin pulang yu" ucap El.


"Ya jelas aku bakal anterin kamu pulang lah, orang aku yang bawa kamu dari rumah kamu" ucap Eric.


"Yaudah ayo pulang" ucap El.


"Aku nelpon dulu supir, biar dijemput sama mobil" ucap Eric.


"Gak. Dorong kursi roda aku aja. Jarak dari sini ke rumah aku gak jauh loh" ucap El.


Eric dengan santai mendorong kursi roda milik El menuju kembali ke mansion Meinhard.


Selama di perjalanan, tak henti hentinya mereka berbincang. Wajar saja karena mereka sudah cukup lama tidak bertemu. Setelah lulus kuliah, mereka berdua sibuk dengan urusan masing masing.


Pertemuan mereka kali ini bisa disebut seperti reuni. Namun reuni hanya untuk dua orang saja.


Dua puluh menit berlalu, mereka sampai di mansion. Bodyguard yang berjaga di depan pun langsung membukakan pintu utama. Eric masih tetap mendorong kursi roda El meskipun sudah dilarang olehnya.


Sepanjang perjalanan mereka menuju ke ruang tengah pun terus saja diliputi perbincangan yang kurang berguna.


"Eric, sudahlah, cari saja wanita lain" ucap El.


"Bagaimana bisa?" Ucap Eric.


"Ya bisalah. Memangnya wanita hanya dia saja" ucap El. Eric sejenak menghentikan dorongannya dan berjalan ke arah depan El kemudian berjongkok.


"Kalo gitu, gimana kalo kamu aja yang jadi ceweknya. Aku ikhlas lahir batin" ucap Eric tersenyum memperlihatkan gigi gigi putihnya.


Hingga...


Plakkk


Terdengar bunyi nyaring antara tangan El dan bahu Eric. Eric seketika mengaduh kesakitan karena geplakan tangan El bukan main sakitnya.


"Awshhh, kamu!!" Ucap Eric kesakitan. El sendiri hanya terkikik geli melihat ekspresi wajah milik Eric. Ternyata CEO muda ini bisa mengeluarkan ekpresi sekonyol itu ketika kesakitan.


Tanpa sepengetahuan mereka berdua, semua keluarga yang sedamg berkumpul terus memperhatikan interaksi mereka berdua sejak tadi.


"Udah gue bilang lo bakalan cemburu kan? Udah tangan lo gak usah ngepal kek gitu. Kek es kepal milo yang ada di indonesia aja" sindir Billie pedas.


"Diem lo" rutuk Rafael.


"Itu kakak cantik" ucap Galak.


"HOIII KAKAK CANTIKNYA GALAK" teriak Galaksi memekakan telinga semua orang yang ada disana.


"Galak, gak boleh gitu" peringat Eliza.


"Hehe, iya bunda maaf" ucap Gala kemudian ia berlari menuju ke arah El.


El dengan senang hati memeluk Galak saat anak itu sudah berada di depannya dan merentangkan tangannya.


"Kakak cantik, Galak kangen tau gak" ucap Galak.


"Iya kakak tahu, barusan Galak bilang" ucap El tersenyum.


"Eh iya juga" ucap Galak.


"Kalian semua kesini" ucap Clau yang diangguki oleh El.


Saat Eric akan mendorong kursi roda milik El. Galak terlebih dahulu menggeser posisi Eric. Jangan salah meski Galaksi terbilang masih bocah, tapi tenangannya boleh diadu.


Eric sendiri hanya menggaruk tekuknya karena ia bingung. Jika melawan Galak masih kecil. Jadi ia memilih untuk mengalah saja.


Sedangkan Rafael sudah tersenyum kemenangan karena keponakannya bisa diandalkan tanpa perlu ia bicarakan dulu. Yaitu memisahkan gadisnya dengan pria itu.


"Masa lo kalah sama keponakan lo sih, dia aja berani noh lawan si Eric Eric itu. Lah lo, malah anteng duduk disini. Padahal hati lo udah panas juga" ucap Billie memanas manasi


"Diem" ucap Rafael.


"Ck".


Galaksi sendiri sudah sampai di dekat semuanya. Ia mendorong kursi roda El dengan pelan dan hati hati.


"Kakak cantik, kok pake kursi gerak gini sih. Galak jadi pengen naik" ucap Galaksi.


"Kakak kamu kecelakaan" ucap Aura.


"KOK GAK KASIH TAHU GALAK SIH" ucap Galaksi ngegas.


"Heh cil, emang lo siapanya El?" Tanya Billie.


"Calon suami idaman kakak cantik lah" ucap Galaksi polos.


"Heh, kata siapa" ucap Billie.


"Om Fael yang bilang" jujur Galaksi. Sontak semua orang mengalihkan atensinya kepada Rafael.


**tbc.


akhirnya bisa up juga. sorry kmrn" sibuk dikejar deadline kantor😵. oh ya makasih udah baca loh sarannya juga. in shaa allah aku perbaikin pelan pelan.


spam dong**)))