L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 32 : Pengakuan



Happy reading♡


Setelah menikmati sunset, Rafael membawa El kembali ke apartement. Awalnya El memintanya untuk membeli es krim namun dengan tegas Rafael menolaknya. Alhasil sekarang, El merajuk padanya.


"Makanlah, kau harus segera minum obat dan istirahat" titah Rafael. Namun El tidak menjawabnya. Ia memilih membalikan badannya, memunggungi Rafael. Ia sungguh sangat kesal.


"Jangan seperti Galaksi, El. Makanlah" ucap Rafael.


"Aku akan membawa mu ke kedai es krim setelah kau benar benar sehat. Kau bebas makan sepuasnya" bujuk Rafael namun El masih diam. Rafael berdiri dan berjalan ke arah El menghadap. Namun lagi El membalikan badannya menghindari Rafael.


Rafael menghela nafasnya.


"Ya sudah, aku ada pekerjaan sedikit. Kau makanlah" ucap Rafael kemudian keluar dari dalam kamar menuju ke ruang kerja miliknya.


Rafael tahu, El pasti kesal karena ia menolak keinginannya. Namun apa boleh buat, Rafael mau El cepat sembuh.


Rafael duduk di kursi kerjanya. Ia memakai kaca mata dan mulai membaca beberapa berkas yang sudah ada di mejanya. Perlahan, tangannya mulai mengetik huruf di komputer.


***


Sejujurnya El masih belum bisa tertidur. Ia membolak balikan badannya mencari kenyamanan untuk tidur namun nihil. Ia tidur terlentang, menatap langit langit kamar.


"Kenapa susah tidur sih, gak kayak biasanya" ucap El.


Ia bangun dari tidurnya kemudian menuju ke dapur. Nasi goreng yang dimasak oleh Rafael diabaikan. Lagi pula ia tidak berselera makan saat ini.


Ia membuka lemari es besar yang ada di dapur apartement Rafael. Ia mengambil satu kotak susu berukuran besar dan langsung membukanya kemudian meminumnya. Udara sejuk dari lemari es membuat El nyaman beberapa saat.


"Kau sedang apa?".


Uhukk.. uhuk..


El terbatuk karena terkejut. Ia memukul mukul dadanya. Rafael yang melihat itu pun sontak menahan tangan El yang memukul mukul dadanya. Matanya mengeluarkan air. Sepertinya sesakit itu karena tersedak.


"Kau jahat" ucap El.


"Maaf" ucap Rafael. Ia menarik El untuk maju kemudian menutup lemari Es itu. Rafael menuntuk El membawanya duduk di kursi depan tv.


"Apa masih sakit?" Tanya Rafael.


"Sedikit" ucap El.


"Kau belum memakan nasi goreng yang sudah aku siapkan?" Tanya Rafael, El menggelengkan kepalanya. Rafael hanya pasrah saja. Semoga keadaan El tidak memburuk mengingat ia belum makan sama sekali.


El menyandarkan kepalanya di dada Rafael. Ia mulai menyadari satu hal, Rafael shirtless? Dan kaca mata?


"Aku memang sudah terbiasa tanpa baju jika di rumah. Kaca mata ini, aku gunakan karena tadi aku mengerjakan beberapa berkas" ucap Rafael menjawab kebingungan El. Pandangan El jatuh ke perut Rafael. Roti sobek milik Rafael seakan menggoda El untuk menyentuhnya. El menelan ludahnya kasar. Itu bukan lagi enam kotak, tapi sudah delapan kotak!!


Rafael terkekeh melihat ekspresi El. Ia jadi gemas sendiri.


"Kau ingin merabanya?" Tanya Rafael.


"H-hah tidak. Tidak mau" ucap El.


"Kau yakin?" Tanya Rafael.


"Tentu saja" ucap El.


"Kenapa kau tidak makan?" Tanya Rafael.


"Malas".


"Ya sudah, ini sudah larut. Lebih baik kita tidur" ucap Rafael.


"Aku tidak mau tidur dengan mu" ucap El.


"Aku ingin tidur dengan mu" ucap Rafael kemudian menarik tangan El masuk ke dalam kamar. Ia merebahkan tubuhnya kemudian menarik El untuk masuk ke dalam dekapannya. Ia menarik selimut kemudian mematikan lampu kamar menjadi lampu yang temaram.


***


Rafael terbangun karena kegaduhan yang berasal dari ruang tengah. Ia melihat jam di ponselnya. Sudah pukul sembilan pagi.


Ia melihat ke arah wanita yang berada di dalam dekapannya tengah tertidur dengan lelap. Rafael tersenyum lalu mengecup bibir El. Ia bangun dari tidur tanpa mau membangunkan El. Perlahan ia turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dua puluh menit berlalu, Rafael keluar dari dalam kamar mandi. Ia sudah terlihat rapi dengan pakaian rumahan. Ia melihat El yang masih tertidur dengan posisi yang sama. Rafael pun berlalu dan berjalan menuju ke ruang tengah. Firasatnya benar, sahabat sahabatnya yang sudah bergaduh.


"Gak usah formal lo, ini apart bukan kantor" ucap Edward.


"Pagi Raf" ucap Anita, namun Rafael hanya mengangguk.


"Alex mana?" Tanya Rafael.


"Dia ada meeting penting" ucap Antonio, Rafael hanya ber-oh ria.


"Tidur lo nyenyak?" Tanya Edward.


"Sangat" ucap Rafael kemudian duduk di kursi kosong.


Mereka semua pun kembali mengobrol hal hal tentang pekerjaan mereka. Sampai waktu sudah menunjukan pukul sepuluh siang.


Dilain tempat, El menggeliat dalam tidurnya. Ia menelusuri kasur sebelahnya namun kosong. Perutnya sangat sakit. Ia yakin jika ia akan datang bulan. Namun ia belum merasakan apapun. El berjalan keluar kamar untuk mencari Rafael.


"Afael" panggil El. Rafael tersenyum melihat El yang memanggilnya.


"Sini" titah Rafael. El berjalan ke arah Rafael kemudian duduk di sebelahnya. Kepalanya langsung menyandar di dada bidang Rafael. Anita yang melihat itu mengepalkam tangannya kuat kuat.


"Kenapa hm?" Tanya Rafael, El menaikan wajahnya melihat Rafael.


"Perut aku sakit banget, semuanya juga ikutan sakit" bisik El tanpa sadar. Ia kembali menyadar ke dada Rafael. Tempat paling nyaman menurutnya.


Rafael terkekeh melihatnya. Tangan besarnya mendarat di perut El kemudian ia mengelusnya. Tanpa disadari, adegan itu tak lepas dari tatapan orang orang yang ada disana.


"El, kau sedang isi?" Tanya Alessa tiba tiba.


"Isi apa?" Tanya El malas. Sungguh karena rasa sakit itu, El tidak terlalu menanggapi orang orang yang berada disana.


"Doakan saja" ucap Rafael.


"Demi Raf, lo udah investasi?" Tanya Antonio dengan raut terkejut.


"Sahabat kita sudah besar" ucap Edward terkekeh.


"Kenapa ada wanita itu disini?" Tanya Anita.


"Dia kekasih ku, sudah tentu dia harus ada disini"  jawab Rafael ketus.


"Apa dia tidak punya rumah sampai sampai dia harus menumpang di apartement mu?" Tanya Anita sinis.


"Diam. Terserah aku mau tinggal dimana. Dirumah daddy atau pun apartement kekasih ku. Kau orang lain tidak berhak mengatur" ucap El tak kalah sinis.


"Hahaha, dasar wanita tidak tahu diri. Kau menganggap bahwa kau kekasih Rafael? Jangan bermimpi" sarkas Anita.


"Sepertinya yang sedang bermimpi itu kau. Kau dengan jelas ingin sekali menjadi kekasih Rafael namun Rafael dengan terang terangan menolak mu. Apa kau tidak merasa jika Rafael sangat risih saat kau berada di dekatnya. Dan yah, aku tidak bermimpi, aku benar benar kekasih Rafael. Buktinya, Rafael memberikan kalung ini padaku. Kau mungkin tahu sejarah kalung ini" ucap El.


Iya memang, keluarga Levent memiliki suatu kebiasaan. Mereka akan menurun temurunkan barang dari orang sebelumnya.


Kalung yang dikenakan El adalah kalung milik keluarga Levent. Kalung ini dibuat khusus oleh keluarga Levent. Kalung berbentuk bulan sabit bertahtakan berlian mahal di tengahnya.


"Tidak mungkin, kau sedang bermimpi. Bisa saja kau menjiplak kalung keluarga Levent" ucap Anita.


"Jaga ucapan mu. Aku yang menerima kalung itu dari mama ku dan aku memberikannya pada orang yang aku cintai. Jadi berhentilah menganggu ku Anita" ucap Rafael.


"Antonio, maafkan aku" ucap El karena bagaimana pun, ia masih menghormati Antonio


"Tidak perlu, memang sudah seharusnya kau yang menjadi kekasih Rafael" ucap Antonio santai.


"Kakak!" Teriak Anita. Namun diabaikan Antonio.


"Afael, aku ingin berbicara" ucap El. Rafael mengangguk dan berpamitan pada sahabat sahabatnya untuk membawa El ke kamar.


...TBC....


...Hayoloh dibawa ngamar!...


...Makasih udh kasih vote komen ya. Kalo ada typo maapin....


...Aycha...