L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 60 : Pemaksa



Happy reading♡


Cuaca pagi yang cerah ini membuat El mengembangkan senyumnya. Entahlah, ia merasa baru hidup lagi ketika merasakan udara dan cuaca pagi ini.


Sejuk dan menenangkan.


"Sayang, kamu serius mulai bekerja lagi di rumah sakit? Apa keadaan mu sudah membaik?" Tanya Clau.


"Yes mom, sudah terlalu lama aku meninggalkan rumah sakit" ucap El.


"Apa Rafael akan mengijinkan mu?" Tanya Clau.


"Aku tidak butuh ijin darinya. Aku sudah menandatangi kontrak pekerjaannya selama enam bulan. Jadi meskipun dia tidak mengijinkan ku, itu tidak masalah, aku akan tetap bekerja. Bukankah aku harus profesional?" Tanya El kemudian menghampiri mommynya yang berada di depan kamarnya. Ia pun merangkulnya dan membawanya berjalan menuju ke lantai bawah.


"Sayang, kamu baik baik saja kan?" Tanya Clau. Pasalnya sikap putrinya tiba tiba berubah.


"Im oke mom, aku berangkat dulu ya" ucap El mencium pipi mommynya itu.


"Makan dulu" ucapnya.


"Aku sudah hampir telat mom. Aku akan sarapan di rumah sakit" ucap El kemudian keluar dari dalam mansion milik keluarganya.


Ia mengambil kunci mobil miliknya dari Jonah. Awalnya Jonah menawarkan diri untuk mengantarnya namun El menolaknya dan masuk ke dalam mobil untuk segera sampai di rumah sakit.


Jarak dari mansionnya ke rumah sakit tidaklah jauh. Jadi ia bisa sampai lumayan cepat.


El keluar dari dalam mobil. Ia berjalan menuju lift untuk sampai ke ruangannya. Ia menekan tombol nomor lima untuk sampai ke ruangannya. Di dalam lift, ia hanya terdiam dengan memperhatikan nomor di lift yang terus berubah.


Sampailah ia di lantai lima. Pintu lift pun terbuka. El keluar dari sana dan langsung masuk ke dalam ruangannya.


Alangkah terkejutnya El ketika ia masuk ke ruangannya, Rafael tiba tiba ada disana.


"Kenapa kamu tidak menjawab telepon ku?" Tanya Rafael langsung. El pun menyimpan tasnya di meja dan berdiri di sebelah Rafael.


"Kemarin sama sekali aku tidak memegang handphone ku. Jadi aku tidak tahu kamu menelepon ku" ucap El.


"Lalu mengapa telpon rumah mu juga tidak bisa aku hubungi?" Tanya Rafael lagi.


"Untuk itu, aku tidak tahu apa penyebabnya. Jika pun ia kamu menelepon ku semalam, mungkin maid akan memberi tahu ku" ucap El jujur. Karena memang semalam tidak ada telepon sama sekali ke rumahnya.


"Apa kau masih marah karena hal semalam?" Tanya Rafael.


"Aku bahkan sudah melupakannya" ucap El. Ia pun mengambil jas putih kebanggaanya yang tergantung di sebelah meja kerjanya. Ia pun memakainya dan juga memakai name tagnya. Tak lupa dengan stetoskop yang ia kalungkan di lehernya.


"Sudah waktunya aku bekerja. Aku pamit duluan" ucap El hendak pergi dari sana.


"Aku tidak mengijinkan mu bekerja hari ini. Kau masih belum sembuh total" ucap Rafael.


"Dengan atau tanpa ijin dari mu, aku akan tetap bekerja. Aku sudah terikat kontrak, lagi pula waktu ijin ku sudah berakhir bukan?" Ucap El.


"Aku tidak peduli, intinya aku tidak mengijinkan mu bekerja. Ini rumah sakit milik keluarga ku dan kau kekasih ku. Dengan atau tidaknya kau masuk itu tidak menjadi hal yang besar. Kau harus istirahat, tidak ada bantahan" ucap Rafael panjang lebar.


"Sudahlah Raf, aku tidak ingin berdebat lagi" ucap El kemudian pergi dari sana. Namun lagi dan lagi Rafael menahannya.


"Apa lagi?" Ucap El yang mulai kesal.


"Ikuti ucapan ku atau aku akan menghukum mu!!" Ancam Rafael.


"Berhenti mengatur hidup ku Rafael. Kamu itu hanya pacar ku bukan suami ku. Hargai keputusan ku. Bagaimana pun aku harus profesional" ucap El kemudian pergi dari sana.


Sedangkan Rafael mengacak acak rambutnya kesal. Ada apa dengan kekasihnya itu? Kenapa tiba tiba ia menjadi berubah seperti ini? Aneh sekali.


Rafael pun keluar dari dalam ruangan El dan kembali menyusul gadisnya itu. Ternyata ia sudah tertinggal lift. Ia pun menunggu beberapa saat hingga lift kembali terbuka dan ia pun masuk untuk menyusul pacarnya itu.


Rafael bertanya kepada beberapa suster untuk menanyakan keberadaan El. Setelah cukup banyak orang yang ia tanyai, ternyata El berada di ruangan pasiennya. Rafael pun langsung menuju kesana.


Terlihat El sedang berbicara dengan salah satu orang tua pasiennya. Rafael pun hendak kesana namun tiba tiba kakinya terhenti saat ia melihat El menatapnya dan langsung membuang wajahnya begitu melihat Rafael.


Tiba tiba ponsel Rafael berbunyi. Ternyata itu telepon dari Griss. Ia meminta Rafael untuk segera menuju ke kantor karena ada rapat penting yang tidak boleh dilewatkan oleh Rafael.


Rafael pun berdecak kesal. Ia pun pergi dari rumah sakit menuju ke kantornya.


***


El terus memeriksa pasiennya dengan telaten. Hari ini cukup banyak pasien yang ia temui. Kebanyakan dari anak anak yang ia periksa memiliki riwayat yang sama. Yaitu maag.


Umur anak anak itu masih sekitaran sepuluh sampai lima belas tahun. Namun mereka sudah mengidap penyakit itu. Dan alasannya sama, mereka makan makanan yang tidak sehat dan sembarangan.


"Dok, boleh saya tanya sesuatu?" Ucap salah satu suster yang menjadi asisten El saat ini.


"Iya, apa?" Tanya El.


"Tadi tuan Rafael sepertinya mencari anda, namun setelah dia menemukan anda, tuan Rafael hanya diam dan tidak menjumpai anda. Apa ada masalah?" Tanyanya.


"Tidak ada" jawab El.


"Oh begitu. Maaf ya dok, saya terlalu lancang bertanya hal seperti itu pada anda" ucapnya, El hanya mengangguk.


Ponsel El berdering. Panggilan masuk dari daddynya.


"Ya dad?" Jawab El.


"..."


"Apa harus sekarang banget?" Tanya El.


"..."


"Iya iya, aku kesana sekarang" ucap El. Telepon pun terputus.


"Sus, jadwal saya hari ini setelah ini apa?" Tanya El.


"Anda sudah bisa beristirahat dok. Jadwal anda dilanjut jam tiga sore nanti untuk pemeriksaan satu pasien yang akan segera ditindak operasi" ucapnya.


"Baguslah kalau begitu, aku harus pergi dulu" ucap El.


"Oh iya dok, dokter Ruby meminta anda untuk membantunya operasi pasien yang nanti akan diperiksa oleh anda" ucapnya.


"Baiklah, aku akan sampai sebelum pukul tiga nanti. Dan katakan pada dokter Ruby, aku siap membantunya" ucap El kemudian pergi dari sana menuju ke ruangannya.


Setelah sampai ruangannya, El pun langsung melepas jas kerjanya kemudian kembali menggantungnya. Ia mengambil tas miliknya dan langsung keluar dari ruangannya menuju ke lobby. Ia sudah meminta satpam untuk membawa mobilnya kesana.


El pun memberikan tip pada satpam itu dan masuk ke dalam mobilnya. Ia pun langsung memacu mobilnya menuju ke lokasi yang sudah dikirimkan oleh daddynya.


tbc.


maapin kalo ada typo. vote komen ya