L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 49 : Kesal



Happy reading♡


El hanya terdiam mendengar ucapan Rafael dengan Valena. Ia kemudian memperhatikan interaksi Rafael dan Valena. Ternyata pria seperti Rafael juga memiliki sifat ke-bapak-an.


"Aku pamit dulu ya, nanti suster nyariin. Udah waktunya aku tidur siang" ucap Valen sopan.


"Iya Valen. Memang sudah seharusnya kamu cukup istirahat" ucap El. Valen hanya mengangguk dan berjalan menuju ke dalam rumah sakit.


"Sekarang giliran mu" ucap Rafael.


"Apa?" Tanya El.


"Pulang lalu istirahat".


"Ya, aku ingin pulang ke mansion ku" ucap El namun tidak ada jawaban dari Rafael. Ia memilih mendorong kursi roda milik El menuju ke mobilnya.


Di dalam mobil hanya ada keheningan. El diam menikmati perjalan sedangkan Rafael tengah memikirkan sesuatu.


Ini sudah cukup lama, namun semuanya masih sulit untuk dipecahkan. Jika tidak sekarang ia bertindak, bisa jadi kesempatan emasnya akan hilang. Dan ia sangat tidak ingin hal itu terjadi.


Setelah menghela nafasnya. Rafael bertekad dalam hatinya jika ia akan menyelesaikan semuanya.


"Kenapa kita kembali ke mansion mu? Aku sudah bilang bukan jika aku ingin kembali ke mansion ku saja?" Ucap El.


"Aku masih diamanahkan orang tua mu" ucap Rafael.


"Kau bisa untuk tidak menuruti keinginan mereka. Lagi pula mereka tidak akan tahu jika kau tidak memberitahunya" ucap El.


"Sama saja aku melalaikan kepercayaan mereka kepadaku. Aku bukan orang seperti itu" ucap Rafael.


"Ya ya ya, tapi aku malas untuk kembali ke rumah mu. Aku sudah muak melihat wajah sepupu mu itu" ucap El.


"Aku tahu kau kesal, tapi mau bagaimana lagi. Clarry memang seperti itu" ucap Rafael.


"Setidaknya jaga ucapannya. Aku sangat tidak suka dengan orang seperti itu" ucap El.


"Tentu saja, karena kau harusnya suka kepadaku saja" ucap Rafael.


"Apa maksud mu?" Tanya El keheranan mendengar ucapan Rafael


"Tidak ada" ucap Rafael.


"Aku ingin kembali ke mansionku saja Raf. Aku mohon" ucap El memohon.


"Kita sudah sampai di mansion miliku nona. Lihat mama sudah menunggu bersama papa" ucap Rafael. Memang sejak tiga puluh menit yang lalu mereka sudah sampai di depan pintu utama mansion Levent.


"Lihat, bahkan aku sudah tidak mood untuk keluar" ucap El saat ia melihat Clarry sedang berdiri di sebelah Aura.


"Tenanglah, ada aku disini. Clarry tidak akan berani berbicara seperti itu lagi" ucap Rafael.


"Kau berjanji?" Tanya El.


"Tentu nona" ucap Rafael.


Rafael pun keluar dari dalam mobil dan membuka pintu mobil sebelahnya kemudian ia menggendong El.


"Kau tidak perlu menggendong ku astaga" ucap El yang sudah lelah dengan sikap semaunya Rafael.


"Biar saja" ucap Rafael enteng.


Rafael berjalan perlahan menuju ke dalam mansion. El hanya diam.


"Akhirnya kamu kembali sayang" ucap Aura.


"Bawa dia istirahat Raf" ucap Michelle.


"Baik dad" ucap Rafael.


Sedangkan Clarry hanya diam menatap kesal ke arah El. El sendiri hanya diam dan memasang wajah datar. Malas sekali ia harus bertemu kembali dengan orang seperti Clarry.


Pintu kamar Rafael dibuka oleh maid. Rafael hendak mendudukan El di kasur namun tidak jadi karena El memintanya untuk membawanya ke balkon kamar Rafael.


"Apa kau yakin ingin disini?" Tanya Rafael.


"Memangnya kenapa?".


"Aku ada sedikit perkerjaan dan tidak bisa menemani mu disini" ucap Rafael.


"Ya sudah tinggal pergi saja. Ada tidaknya kau disini tidak berpengaruh apa apa" ucap El santai.


"Astaga" ucap Rafael tidak habis pikir.


"Ya sudah, aku hanya akan bekerja sebentar. Tunggu saja disini. Panggil maid jika memerlukan sesuatu. Jangan mengambilnya sendiri. Kaki mu masih belum sembuh" ucap Rafael.


"Iya iya".


Sepeninggal Rafael. El menatap hamparan pemandangan di depannya. Semilir angin menerpa wajahnya membuat beberapa helai rambutnya berantakan.


Lama kelamaan El merasa bosan. Ia pun mengambil ponsel miliknya yang tadi ditinggalkan oleh Rafael.


Ia bingung harus menghubungi siapa. Jam jam seperti ini pasti semua orang sedang sibuk. Termasuk kedua sahabatnya.


El memilih menekan icon galeri di handphone nya. Ia menggulir beberapa foto yang ada didalamnya.


Sampai jarinya berhenti bergulir di satu foto. Disana ada foto dirinya dengan kedua orang tuanya. Saat itu ia masih berusia satu tahun. El berada dalam gendongan daddy nya.


Alisnya tiba tiba mengerut kala ia melihat sesuatu yang cukup familiar. Ia pun memperbesar fotonya. Saat ia masih kecil, ia memakai kalung liontin berwarna biru.


Seketika ia teringat akan kalung biru yang pernah ia temukan di gudang. Kalungnya sama persis dengan yang ia temukan. Beruntung ia sudah mengambil kalung itu. Namun yang masih menjadi pertanyaannya dibelakang liontin biru itu terdapat pahatan nama. Barbie El. Jelas itu namanya. Ia masih ingat nama itu.


"Astaga" ucap El terkejut saat tiba tiba ada tangan melingkar di kedua bahunya.


"Apa harus sampai seterkejut seperti itu?" Tanya Rafael.


"Kau memang sudah terbiasa ya selalu mengejutkan ku? Beruntung aku tidak memiliki penyakit jantung" ucap El kesal.


"Haha, iya maaf nona. Aku memang sengaja" ucap Rafael.


"Dasar" ucap El.


"Lagipula, kau sedang melihat apa? Tumben sekali kau sangat fokus pada benda pipih itu" ucap Rafael.


"Tidak ada" ucap El kemudian menekan icon kembali.


"Tiga hari yang akan datang, apa kau memiliki acara?" Tanya Rafael.


"Tidak ada" ucap El.


"Bagus. Aku akan mengajak mu ke pesta bisnis" ucap Rafael.


"Tidak mau. Aku belum bisa berjalan normal" ucap El.


"Alasan. Kau pikir aku akan membawa mu sambil berlari?" Ucap Rafael.


"Tetap aku tidak mau. Pesta itu sangat membosankan" ucap El.


"Aku tidak menerima penolakan. Kau tahu itu kan?" Ucap Rafael.


"Pemaksa" ucap El.


"Im".


"Oh ya, aku ingin bertanya" ucap Rafael.


"Apa?".


"Apa kau merasa nyaman berada di dekat ku?" Tanya Rafael.


"Nyaman" ucap El jujur.


"Hanya nyaman? Atau sangat nyaman?" Tanya Rafael.


"Sangat. Maybe" ucap El.


"Apa kau cemburu ketika aku berdekatan dengan wanita lain?" Tanya Rafael.


"Tidak" ucap El.


"Pembohong amatir. Aku masih sangat ingat bagaimana sikap mu berubah drastis saat ada yang mengirimkan foto ku dan Anita ketika berdansa" ucap Rafael.


"Kau tahu dari mana tentang nomor itu?" Tanya El heran.


"Apapun aku pasti mengetahuinya. Semua yang berkaitan dengan mu aku pasti mengetahuinya" ucap Rafael jujur.


"Kau menguntit ku ya?" Tuduh El sembari mengacungkan jari telunjuknya. Namun Rafael sama sekali tidak tersinggung. Justru ia malah menurunkan tingginya kemudian mengigit pelan jari itu.


El terkejut dengan tindakan Rafael. Tidak sakit memang. Namun rasanya berbeda.


Rafael menarik El untuk mendekat ke arahnya dengan jari El yang masih ia gigit.


"Sepertinya kau merindukan hukuman dariku nona" ucap Rafael pelan membuat tubuh El meremang seketika.


tbc.


hai imbekkkk!!!


kalo ada tipo ya maapin ya. diusahain ko up terus. vote yaaa makasih