
Happy reading♡
Hampir satu minggu berlalu, El terus terusan mencari nama panti yang ada di map itu.
Setelah menemukan map itu, ia merasa ada yang janggal. Ia tidak berani bertanya pada orng tuanya karena takut menyinggung perasaan mereka.
El terdiam di kursi taman. Ia sudah lelah mencarinya. Terlebih ia terus berjalan mencari alamat itu. Ia sengaja tidak menyewa mobil disini. Apalagi naik ke angkutan umum, El masih cukup takut.
El menghela nafasnya. Ia bingung sendiri. Disini ia tidak memiliki orang yang ia kenal. Apalagi ia cukup asing dengan daerah daerah disini.
Ditengah keputus asaannya itu, tiba tiba ia terpikirkan dengan temannya yang tinggal disini. Yap, Deandra. Setahu dia, Dean menetap di Indonesia karena pekerjaannya.
"Bodoh. Nomor Dean ada di ponsel yang aku tinggalkan di rumah," gumamnya.
Putus sudah harapan El. Kini ia tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa.
El pun memilih pergi dari taman itu. Sekarang ia sudah menyewa satu apartement untuknya tinggal.
Jarak dari taman menuju apartement nya tidak jauh. Jadi El bisa cepat sampai disana.
El tersenyum pada receptionist saat ia melewatinya. El tersenyum saat ia ingat banyak yang menyebutnya bule. Aneh saja menurutnya.
El pun masuk ke dalam apartementnya. Hari ini cukup melelahkan juga. Apalagi ia mencari tanpa tujuannya tak tentu arah.
Ia membuka laptop miliknya. Ia mencari nama panti itu di google.
Muncul beberapa pilihan yang namanya sama. El mencarinya satu per satu. Namun ia tidak menemukan apapun. Apa mungkin letak pantinya bukan di Indonesia? Tapi jelas dari nama panti itu saja seperti nama nama panti yang ada di Indonesia.
"Oke. Aku akan bertahan beberapa hari lagi. Jika aku tidak menemukan apapun disini, mungkin aku harus kembali lagi ke Boston," ucap El.
Tiba tiba ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Jacob.
"Ada apa?" Tanya El.
"Tidak ada apa apa. Aku hanya ingin mendengar kabar mu saja," ucap Jacob melalui telepon.
"Aku baik," ucap El.
"Syukurlah. Sudah satu minggu berlalu kamu tidak mengabari ku," ucap Jacob.
"Ya, aku terlalu sibuk dengan urusan ku sampai sampai aku tidak punya waktu untuk menghubungi mu," ucap El.
"Apa urusan mu masih lama? Aku kasihan melihat Rafael akhir akhir ini," ucap Jacob. Sebenarnya El memang ingin pulang karena ia khawatir terhadap kedua orang tuanya. Namun ia masih belum bisa kembali jika urusannya belum selesai.
"Memangnya dia kenapa?" Tanya El.
"Dia menjadi sangat sensitif dan mudah sekali marah. Dalam seminggu ini mungkin sudah lebih dari sepuluh karyawan yang ia pecat," jelas Jacob.
"Iya itu kenyataannya. Dan kau tahu, Anita semakin gencar mencekati Rafael. Namun anehnya Rafael selalu marah dan bersikap kasar padanya."
"Oh ya? Kenapa ketika aku berada di sana, Rafael seperti sangat senang di dekati oleh Anita. Bahkan ia tidak pernah marah ataupun bersikap kasar padanya," ucap El. Ia jadi ingat bagaimana sikap Rafael terhadap Anita ketika Rafael sedang bersamanya.
"Mungkin ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan sekarang oleh Rafael. Apa kau pernah coba menanyakannya?" Tanya Jacob.
"Sudah. Bahkan aku pernah bertanya apa dia pernah berhubungan serius dengan Anita. Namun jawabannya selalu sama. Jika ia tidak pernah memiliki hubungan apapun. Aku jadi bingung sendiri harus mempercayai siapa," jelas El.
"Memangnya kau punya bukti jika Rafael memiliki hubungan lebih bersama Anita?" Tanya Jacob.
"Aku tidak akan bertanya jika tidak ada buktinya. Jelas jelas aku mendapatkan foto ketika Rafael akan memasangkan cincin pada Anita," ucap El.
"Damn it! Dari mana kau mendapatkannya?" Tanya Jacob.
"Entah, ada nomor asing yang mengirimkannya padaku."
"Lalu kau percaya begitu saja?" Tanya Jacob.
"Awalnya aku tidak percaya dan menganggapnya mungkin itu hanya orang iseng yang ingin membuat hubungan ku dengan Rafael merenggang. Tapi aku menjadi percaya karena sikap Rafael terhadap Anita. Itu yang sering membuat ku ragu terhadap hubungan ku dengan Rafael," jelas El.
"Ya aku jadi bingung harus menjawab apa."
"Sudahlah. Aku ingin mandi dan istirahat. Oh ya, apa boleh aku meminta bantuan mu?" Tanya El.
"Apa?"
"Bisa kau cari tahu tentang panti muara kasih?" Tanya El.
"Kenapa tiba tiba kau mencari panti? Apa jangan jangan urusan mu itu..."
El langsung memotong ucapan Jacob. "Tidak usah berpikiran aneh aneh. Cepat jawab kau bisa atau tidak."
"Baiklah baiklah, aku akan mencoba mencarinya. Ada lagi?" Tanya Jacob.
"Itu saja dulu."
"Ya sudah. Aku tutup teleponnya," ucap Jacob. Telepon pun tertutup.
El berharap semoga Jacob bisa membantunya. Supaya ia bisa cepat kembali.
tbc.
gtau knp bkn crta ini itu kek kdng bener kdng prik gtu. kl g nyambung y maap y