
Happy reading♡
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, El akhirnya sampai di tempat tujuannya.
El bersyukur ia bisa menapakan lagi kakinya di atas tanah setelah tadi berada di udara cukup lama.
Sebelum mengambil barangnya, El sempat diam dahulu untuk beristirahat sejenak. Sepertinya ia harus cepat cepat pergi ke hotel. Tubuhnya sudah lelah apalagi tadi di pesawat tadi ia sempat mengalami jet lag.
Setelah mengambil barangnya, ia pun keluar dari bandara. Beruntung ia cukup fasih berbahasa Indonesia. Jadi ia tidak perlu takut. Ya, tempat yang di datangi oleh El adalah Indonesia.
Ia menunggu mobil jemputannya yang sudah ia pesan. Cukup lama memang, namun ia tetap harus bersabar.
Tiba tiba ada seorang pria paruh baya yang mengampirinya.
"Dengan Nona Arbie?" Tanyanya.
"Iya," jawab El. El sengaja menyamarkan namanya menjadi Arbie supaya tidak mudah ditemukan. El sengaja menghilangkan huruf B di depan namanya. Sekarang ia dikenal dengan Arbie El.
Supir itu pun memasukan barang El ke dalam bagasi sedangkan El masuk ke dalam mobil.
Mobil pun melaju dengan lancar. Beruntung saat ini Jakarta tidak macet. Setahu El, terkadang di Jakarta akan terjadi kemacetan. Ia sering mengikuti berita yang ada di Indonesia melalui sosial medianya.
"Maaf, non dari luar negri ya?" Tanyanya.
"Iya."
"Saya kira non gak bisa bahasa Indonesia karena wajah non sangat bule sekali," jelasnya.
"Bule?" Tanya El.
"Iya non. Orang Indonesia menyebut warna luar seperti itu," ucapnya. El hanya mengangguk.
El banyak bertanya tentang Indonesia pada supir ini. Tidak salah memang tujuannya kesini. Ternyata Indonesia seindah itu, mendengar dari cerita supir ini.
Tak berselang lama, El pun sampai di hotel. Ia keluar dari dalam mobil. Semoga saja tidak ada yang mengenalinya.
"Non, saya ini kopernya," ucapnya. El pun menerima kopernya dan memberikan uang pada supir tadi.
El masuk ke dalam hotel kemudian reservasi atas namanya. Setelah mendapatkan kunci, ia pun masuk ke dalam lift untuk sampai di kamarnya.
Kamar El berada di lantai tiga. Setelah sampai ia pun keluar dari dalam lift kemudian langsung menyusuri lorong hotel. Setelah menemukan kamarnya, ia pun langsung masuk kesana.
Ruangannya cukup nyaman meskipun tidak seluas kamar miliknya di Boston.
***
Lima hari berlalu, namun Rafael belum juga menemukan El. Ia tidak tahu harus mencarinya kemana lagi. Semua usahanya sudah ia lakukan namun belum juga membuahkan hasil.
Sejak kepergian El, emosi Rafael menjadi tidak stabil. Ia sering marah marah bahkan membentak siapa saja. Banyak karyawan di kantornya yang menjadi korban dari kemarahan Rafael. Tak sedikit juga dari mereka yang dipecat begitu saja.
Teman teman Rafael sudah angkat tangan menghadapi sikap Rafael. Sedangkan Anita, ia merasa menang karena pada akhirnya orang yang sangat ia singkirkan pergi dengan sendirinya. Ia tidak perlu repot repot untuk membuatnya pergi.
Semakin hari, Anita semakin gencar mendekati Rafael. Antonio, kakak dari Anita pun sering melarang Anita jika ia tidak boleh terus terusan mendekati Rafael. Namun Anita menganggapnya hanya angin lalu.
Setiap hari Anita sering terkena amukan Rafael. Tak jarang Rafael mengeluarkan kata kata menyakitkan untuk Anita. Namun Anita menghiraukannya.
"Raf, sudah waktunya makan siang. Kita keluar yuk," ajak Anita. Namun Rafael diam saja.
"Raf aku berbicara dengan mu," ucapnya.
"Ish, Rafael ayok kita pergi. Jangan bekerja terus. Tubuh mu perlu di isi dulu," ucapnya lagi namun Rafael tetap diam.
Lama lama Anita kesal sendiri. Ia pun berinisiatip menarik tangan Rafael.
Rafael dengan sengaja menepis tangan Anita. Ia berdri dari duduk.
"Pergi. Jangan mengganggu ku Anita!" Ucap Rafael.
"Aku hanya mengajak mu makan. Kenapa kau semarah ini?" Tanya Anita.
"Wanita tidak tahu diri! Aku sudah memiliki tunangan. Jangan mendekati ku lagi!" Peringat Rafael.
Anita tertawa hambar. "Tunangan mu pergi. Dia tidak menginginkan mu. Sadarlah Rafael, ada aku disini. Lebih baik kau bersama ku dan lupakan wanita sialan itu," ucap Anita. Rafael naik pitam mendengar Anita mengumpati El.
Ia pun menarik tangan Anita. Mencengkramnya dengan kuat sampai Anita mengaduh kesakitan.
"Jaga mulut mu jika tidak mau aku robek disini!" Ucap Rafael. Ia pun menghempaskan tangan Anita kemudian pergi dari sana.
Tbc.
Kemarin kaga up, lg males. Yg baca cuma dikit😔
Oh ya, kl ada typo maapin. Y smg ceritanya nyambung aja sih. Smg jg yg bcanya nyaman. Kan ceritanya gak nyambung hmm.