
Happy reading♡
Hari sudah sore, namun Rafael enggan untuk bangun dari tidurnya. Ia masih setia memeluk gadis yang tengah terlelap dalam dekapannya. Sejujurnya, ia ingin melakukan lebih dari sekedar bibir El. Namun ia sadar, ia mencintai El dengan tulus. Tidak mungkin untuknya merusak El.
Rafael mengelus pelan rambut El. Rambut yang berbeda dari kebanyakan perempuan. Panjang dan berwarna coklat. Dulu, Rafael pernah melihat film barbie dengan kakaknya saat ia berumur sekitar tujuh tahun dan kakaknya sekitar sembilan tahun. Saat itu, Eliza meminta Rafael menemaninya.
Saat itu, ia melihat karakter barbie di film itu berambut sebahu berwarna coklat. Terlihat sangat indah sekali. Ia sempat berbicara pada Eliza jika ia ingin memiliki seorang anak perempuan berambut seperti barbie itu. Tentu saja hal itu membuat Eliza tertawa.
Rafael terkekeh mengingat kenangan masa lalunya. Bisa bisanya ia memiliki keinginan seperti itu. Ia mencium lama kening El. Membuat El bergerak kecil dalam tidurnya. Perlahan, ia membuka matanya. Rafael lagi lagi dibuat terpesona oleh mata biru itu.
"Jam berapa?" Tanya El.
"Jam empat sore" ucap Rafael.
"Aku tidur terlalu lama ya?" Tanya El.
"Tidak apa kau sedang tidak sehat" ucap Rafael.
"Raf" panggil El.
"Iya?".
"Apa kau yakin dengan ucapan mu?" Tanya El.
"Kau masih meragukan perasaan ku?".
"Bukan begitu, aku hanya takut Raf" ucap El.
"Apa yang kau takutkan?" Tanya Rafael.
"Aku hanya takut jika nanti aku sudah menyukai mu, kau malah pergi meninggalkan ku" ucap El.
"Hei, dengarkan aku. Aku tidak akan pernah main main dengan ucapan ku. Aku benar benar memiliki perasaan yang tulus untuk mu" jelas Rafael.
"Tapi, aku belum tahu apakah aku mencintaimu atau tidak" ucap El ragu.
"Cinta akan hadir seiring berjalannya waktu" ucap Rafael.
Benar bukan, ada yang berhasil dalam menjalaninya. Cinta akan hadir karna selalu bersama. Namun tidak sedikit juga yang gagal dan memilih untuk kembali berjalan masing masing.
"Aku bosan" ucap El.
"Memangnya kau ingin kemana?" Tanya Rafael.
"Aku ingin melihat sunset" ucap El.
"Kau masih belum sehat betul, kau harus banyak istirahat" ucap Rafael.
"Oh, ayo lah. Aku tidak selemah itu" paksa El.
"Baiklah, kita akan pergi. Bersiaplah" ucap Rafael.
"Bagaimana aku bersiap, aku tidak membawa baju" ucap El.
"Pergilah ke walk in closet ku. Kau akan menemukan baju mu disana. Ingat, jangan mandi dulu" peringat Rafael.
El pun menurut. Ia berjalan menuju ke walk in closet milik Rafael. Ia membuka beberapa lemari. Disana ia melihat beberapa baju lengkap dengan baju **********.
Pipi El bersemu merah saat ukurannya pas ditubuhnya. Bagaimana mungkin Rafael tahu ukurannya?
Cepat cepat El memakai hoodie milik Rafael. Bawahannya ia mengambil celana bahan yang sudah disiapkan Rafael. Tak lupa ia mencuci wajah dulu kemudian keluar dari dalam kamar mandi.
Rafael sedang duduk di ranjang. Ia sedang memanikan ponselnya. El berdehem untuk mengalihkan perhatian Rafael.
Rafael tersenyum melihat El yang sedang berdiri di dekatnya. Wajah El masij terlihat pucat namun tidak mengurangi kadar kecantikannya.
"Hanya ingin" jawab El.
"Ya sudah, ayo kita berangkat" ajak Rafael. El pun mengangguk dan menerima uluran tangan Rafael. Mereka berdua pun keluar dari dalam apartement milik Rafael.
Rafael membuka pintu mobil untuk El. Setelahnya, ia pun masuk ke dalam mobil. Tak ada percakapan diantara mereka berdua. Rafael fokus ke jalanan sedangkan El sibuk menikmati udara sore melalui jendela mobil.
Satu jam berlalu, mobil yang mereka tumpangi sampai di salah satu pantai yang ada disana. Buru buru El membuka pintu mobil dan keluar. Ia memejamkan matanya dan menghirup udara yang disediakan alam. Senyum merekah terpatri di wajahnya, Rafael yang baru saja sampai di sebelah El pun ikut tersenyum.
"Aku ingin ke bibir pantai Raf" ucap El.
"Iya, ayo" ucap Rafael. Mereka berdua berjalan bersebelahan menuju ke bibir pantai. Menjelang sore, pantai tidak begitu banyak didatangi orang orang. Beruntunglah, karena Rafael tidak ingin ada yang melihat El.
Cemburu check!
Rafael akui ia memang sangat cemburu ketika tidak sengaja ia melihat ada yang sedang memperhatikan El. Entah itu secara diam atau secara langsung mendekati El.
Banyak dari mereka yang menatap kagum ke arah El. Dan Rafael tidak suka akan hal itu. Anggaplah ia adalah kekasih yang possesive. Rafael tidak mengapa jika mendapatkan gelar itu, asalkan tidak ada yang menatap gadisnya dengan tatapan memuja.
"Raf, sunsetnya indah ya" ucap El, Rafael tersentak dari pikirannya sampai ia tidak menyadari jika sunset sudah muncul. Ia memeluk El dari belakang. Tentu saja El langsung menyandarkan kepalanya di dada bidang Rafael.
"Kau suka?" Tanya Rafael.
"Sangat" ucap El.
"Syukurlah kalau kau suka" ucap Rafael.
"Ciptaan tuhan indah sekali ya" ucap El.
"Iya ciptakaan tuhan sangatlah indah. Sama seperti mahluk yang berada didalam dekapan ku saat ini. Tuhan menciptakan dia dalam bentuk pahatan yang sempurna. Sampai sampai, aku merasa sangat berterimakasih kepada tuhan karena telah menghadirkan dia di dalam hidup ku" ucap Rafael.
Blushhh
Tiba tiba El merasa pipinya memanas. Bagaimana bisa tuan Rafael Levent yang dikenal dingin dan irit berbicara ini mengucapkan kata kata semanis itu?
"Sebelum bertemu dengan mu, orang orang disekitar ku menganggap aku itu dingin dan irit dalam berbicara. Namun ketahuilah El, orang yang tadinya ceria dan suka sekali tersenyum akan menjadi pendiam ketika sesuatu sudah terjadi. Bisa saja sesuatu itu membuatnya menjadi berubah drastis" jelas Rafael.
"Jadi maksud mu, kau memiliki trauma?" Tanya El.
"Bukan El, ada sesuatu hal yang bisa membuat orang berubah. Trauma pun bisa menjadi pemicunya, namun bukan hanya itu saja El. Mungkin ada hal lain yang membuatnya berubah" ucap Rafael.
"Baiklah, apapun itu yang terjadi pada mu, semoga kamu tetap menjadi pribadi Rafael yang dikenal keluarga dan orang terdekat mu" ucap El.
"Terimakasih. Tapi sepertinya, tuhan sudah mengabulkan doa mama" ucap Rafael.
"Memangnya, apa yang mama mu minta pada tuhan" ucap El.
"Entahlah, namun aku sangat yakin dengan itu" ucap Rafael.
Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing masing sembari menikmati sunset yang sebentar lagi akan hilang digantikan malam. Udara di sekitar pun berubah menjadi dingin. Namun, kedua pasangan itu masih tetap dalam posisi yang sama.
Mereka berdua merasakan hal yang sama ketika sedang bersama seperti sekarang. Yaitu kenyamanan.
Rafael memejamkan matanya sembari berucap dalam hati. Memohon kepada sang pencipta akan kebaikan di hari esok dan seterusnya.
...TBC....
...Keuwwuan macam apa inih? Author aja gak pernah keles-_...
...Mhehe, gimana nih, dapet gak feel nya? Semoga sih iya dapet ya. Gak henti hentinya aku ucapin makasih buat kalian yang udah support aku sampe sekarang. Tanpa kalian aku mungkin gak bakalan se semangat ini buat ngetik....
...Makasih untuk vote dan komen nya. Jangan lupa ya, share di sosmed kalian juga. ajak yang lain jadi oembaca cerita ini....
...Aycha...