
Happy reading
"Bangun atau aku akan membuat mu kehabisan nafas" ucap Rafael.
"Ish, iya iya aku bangun" ucap El kesal. Sedangkan Rafael tersenyum kemudian menyibakan selimut miliknya kemudian bangun dari sana untuk menuju ke kamar mandi.
El sendiri masih betah dengan duduknya. Namun karena sangat mengantuk, ia pun kembali tertidur. Tidak peduli dengan Rafael yang entah akan mengapakan dirinya nanti. Yang jelas saat ini ia butuh tidur.
Entah mengapa, akhir akhir ini ia sering merasa lelah dan cepat sekali mengantuk. Mungkin karena efek obat yang ia konsumsi.
Ia merebahkan tubuhnya dengan posisi tengkurap.
Sedangkan di ruangan lain, Rafael sudah selesai dengan ritual mandinya. Tak butuh waktu lama ia pun sudah selesai dengan pakaian casualnya.
Saat keluar dari kamar mandi rumah sakit, ia disuguhkan oleh pemandangan El yang tengah tidur terngkurap. Dua tanganya ia gunakan untuk bantalan. Rafael terkekeh kemudian mendekat ke arah El untuk membangunkan gadis itu lagi.
"Apa kau sangat ingin aku mencium mu sampai kamu kehabisan nafas hm?" Tanya Rafael.
"Bangunlah" ucap Rafael lembut.
"Aku benar benar mengantuk" ucap El.
"Wajar, di dalam obat yang kamu konsumsi ada beberapa persen obat tidur" ucap Rafael.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya El dengan mata terpejam namun sudah duduk.
"Aku pemilik rumah sakit ini, sangat memalukan jika aku tidak mengetahui beberapa jenis obat yang dikonsumsi oleh pasien ku" ucap Rafael.
"Ayo bangun dan cobalah untuk berjalan" titah Rafael.
"Tapi sakit loh" ucap El memelas.
"Aku yang akan membantu mu. Ayo coba" ucap Rafael.
El pun mulai menurunkan kakinya. Sebelah kakinya yang tidak sakit ia tapakan di ubin lantai rumah sakit. Sedangkan sebelahnya lagi angkat.
Ia melihat ke arah Rafael kemudian tersenyum manis. Sedangkan Rafael hanya mengusap lembut kepala El.
"Ayo mulai tapakan kakinya" ucap Rafael namun El menggelengkan kepalanya.
"Ayo, kau harus mulai belajar berjalan. Apa kau tidak merindukan pasien anak anak yang ada di rumah sakit ini? Mereka selalu menanyakan mu" ucap Rafael.
El seketika terdiam. Ia pun jadi ingat dengan anak anak yang ada di rumah sakit ini.
"Apa aku boleh bertemu mereka sekarang? Aku merindukan mereka"ucap El.
"Tentu boleh. Tapi kau harus ke kamar mandi dulu" ucap Rafael. El pun mengangguk.
Ia mulai berjalan meskipun tertatih. Sedikit ringisan keluar dari mulut El.
"Sakit ya?" Tanya Rafael.
"Lumayan. Tapi ternyata aku bisa berjalan meskipun tertatih" ucap El tersenyum. Rafael pun mengangguk.
"Eh, apa kau mandi?" Tanya El saat ia sadar jika Rafael sudah berganti baju.
"Iya tadi aku mandi lagi" ucap Rafael.
"Kenapa?" Tanya El.
"Gerah" ucap Rafael.
"Oh" ucap El.
Kemudian ia pun mulai berjalan kembali dengan bantuan Rafael.
Beberapa saat kemudian, El sudah selesai dengan acara cuci mukanya. Kemudian ia kembali dibantu oleh Rafael.
"Ganti baju mu" titah Rafael.
"Ini belum kotot Rafael. Nanti saja" ucap El.
"Itu sudah kusut El. Apa kau mau memakai baju kusut seperti itu?" Tanya Rafael kemudian El melihat dirinya di pantulan cermin yang ada di depannya. Ucapan Rafael benar, bajunya sudah kusut.
"Sudah ku bilang bukan? Lekaslah berganti aku menunggu mu di luar. Oh, atau kau mau aku bantu mengganti baju mu?" Goda Rafael.
"Tidak, terimakasih" ucap El ketus membuat Rafael terkekeh.
***
Aura sedari tadi terus berjalan mondar mandir. Pasalnya, El dan Rafael belum juga kembali. Meskipun mereka baru pergi beberap jam yang lalu.
"Ma, berhenti berjalan dan duduklah" titah Michelle.
"Mama khawatir pa sama El" ucap Aura.
"Tenanglah, aku yakin anak laki laki mu akan membawa gadisnya kemari. Ia tidak akan mungkin membiarkan gadisnya itu pergi dari sisinya" ucap Michelle.
"Pah, kita jodohin mereka aja ya?" Pinta Aura.
"Ma, mereka sudah besar loh" ucap Michelle.
"Lalu, memang apa salahnya jika mereka kita jodoh kan. Toh Clau pasti akan menerimanya" ucap Aura.
"Rafael sudah mapan loh pa" tambah Aura.
"Mama, kita beri mereka berdua kebebasan dulu. Kasihan nanti kalo mereka dipaksa buat nikah" ucap Michelle.
"Ya sudah, tapi mama maunya menantu Levent tuh El Meinhard. Bukan yang lain titik" ucap Aura memaksa kemudian pergi meninggalkan suaminya di ruang tamu. Michelle hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya itu.
***
"Hai kakak dokter" sapa beberapa anak yang sedang ada di taman rumah sakit Levent.
"Hai anak anak manis, kalian sedang apa?" Tanya El.
"Kita semua lagi main kakak dokter. Soalnya kalo di dalam ruangan terus bosen" ucap salah satu dari anak itu.
"Udah ijin kan sama susternya?" Tanya El.
"Udah dong kak" ucapnya.
"Anak pintar. Ya sudah kalian lanjut main ya" ucap El yang diangguki semua anak itu.
Sedangkan Rafael tersenyum. Hatinya menghangat melihat interaksi antara El dan anak anak tadi. Sepertinya, El sangat sangat menyukai anak kecil.
"Raf, anterin aku ke bangku itu yu" titah El menunjuk salah satu kursi panjang yang ada di taman.
"Iya" ucap Rafael.
Kursi roda El di dorong oleh Rafael. Sebenarnya, El sudah memaksa untuk tidak memakai kursi roda lagi. Namun bukan Rafael jika ia tidak bisa memaksa El.
Di kursi taman, ada seorang anak yang sedang melamun. El berinisiatif untuk menemui anak itu.
Anak itu tengah melamun. Ia pun sama duduk di kursi roda seperti El. Satu tanganya dipasang infus.
"Hai" sapa El namun anak itu hanya diam dan meliriknya sekilas.
"Boleh aku tahu nama kamu?" Tanya El.
"Jangan dekat dekat aku, aku penyakitan" ucapnya.
"Hei, siapa yang bilang seperti itu?" Tanya El.
"Mama sama papa" ucapnya.
"Jangan menangis, nanti manisnya ilang loh" ucap El.
"Kakak jangan dekat dekat aku. Nanti kakak kena penyakit kayak aku" ucapnya.
"Memangnya kenapa sih? Kakak gak takut kok sama penyakit kamu. Oh ya, nama kamu siapa?" Tanya El.
"Valena" ucapnya.
"Nama yang manis untuk anak semanis kamu" ucap El. Sedangkan Rafael hanya diam memperhatikan interkasi keduanya.
"Nama kakak siapa?" Tanya Valena.
"Nama kakak El dan pria ini Rafael" ucap El.
"Kakaknya tampan ya, aku juga mau punya suami tampan seperti kakak El" ucapnya membuat El terkejut sedangkan Rafael tersenyum simpul.
"Suatu saat nanti, kamu pun akan memiliki suami tampan seperti saya" ucap Rafael.
"Benarkan istriku sayang?" Tanya Rafael membuat El membisu. Sedangkan Rafael tersenyum geli melihat rekasi El.
tbc.
maapin kl ada tipo. baru bisa up soalnya sibuk kerja, hiksss.
spam lah, maksa nii🙃