
Happy reading♡
Sudah satu bulan berlalu El seperti orang yang hilang tujuan. Sudah hampir seluruh wilayah di Indonesia ia jelajahi namun ia tidak menemukan petunjuk apapun.
"Aku cape tuhan. Tolong aku, jika memang aku bukan keturunan keluarga Meinhard, tolong beri aku petunjuk," gumam El.
Semalam ia sudah memutuskan untuk pulang kembali ke keluarganya. Sudah cukup lama ia meninggalkan mereka. Apalagi ia mendapat kabar jika ibunya, Claudia sudah sakit selama beberapa hari ini.
El mengemas barangnya dan bersiap meninggalkan hotel yang ia tinggali selama satu bulan ini. Rasanya sangat sia sia sekali. Selama satu bulan ini ia tidak menemuka titik terang apapun.
El sudah berada di dalam mobil. Jacob sendiri yang menjemputnya ke hotel tempat ia tinggal.
"Sudahlah El, aku yakin cepat atau lambat kau akan menemukan kebenarannya. Mungkin bukan sekarang," ucap Jacob mencoba menenangkan El, namun El tetap tidak tenang. Rasanya ia masih penasaran.
Tapi kondisi mommynya sedang sakit. Mau tidak mau ia harus pulang hari ini juga.
Jack menghentikan mobilnya saat mereka sudah sampai di bandara. Ia membantu El membawa kopernya.
Di bawah pesawat, sudah berdiri Alex. El heran kenapa ada dia disini? Apa mungkin disini juga ada Rafael?
"Disini tidak ada Rafael dan aku yakin dia tidak tahu kamu akan terbang hari ini. Setahu ku dia juga akan menuju Indonesia dengan Janshen, Antonio, dan Anita," ucap Alex.
"Anita? Really?" Tanya El.
Alex menganggukan kepalanya.
"Jangan terlalu dipikirkan, lebih baik kita berangkat sekarang. Bukannya kau bilang jika kau khawatir dengan kondisi mommy mu?" Tanya Jacob.
"Iya kau benar, Mom lebih penting," ucap El. Ia pun naik ke dalam pesawat diikuti oleh Alex dan Jacob.
***
Sebenarnya Rafael ingin berangkat sendiri mencari keberadaan kekasihnya. Sudah satu bulan berlalu, ia masih mencoba mencari El di sekitaran Boston, namun ternyata ia tidak menemukannya.
Akhirnya ia menerima saran Janshen untuk mencoba mencari El di Indonesia. Mengingat wanita itu sangat menyukai nasi goreng.
Kepergian El satu bulan lalu tidak mengubah sedikit pun perasaan Rafael untuknya. Semakin hari Rafael semakin gila. Gila karena ditinggal oleh pujaan hatinya.
Namun selama satu bulan ini juga ia tidak menyerah. Ia terus berusaha mencari keberadaan El. Karena bagaimana pun, El pasti akan ia temukan. Cepat atau lambat.
Rafael kesal dengan Janshen karena mulutnya terlalu ember, sehingga Anita ikut dengan mereka bertiga. Antonio sudah melarangnya namun Anita keras kepala. Alhasil dia mengalah dan membiarkan adiknya ikut.
Selama El pergi, ia tahu jika adiknya ini berusaha dekat dengan Rafael. Ia sudah memberitahu Anita untuk tidak terus terusan berdekatan dengan Rafael, namun lagi lagi sifat batunya keluar. Antonio saja sudah menyerah.
"Apa kata detektif mu? Apa dia tahu lokasi El dimana?" Tanya Janshen. Ia memang sering julid pada Rafael, namun dia juga sangat peduli padanya. Karena bagaimana pun Rafael tetap temannya.
"Mereka belum kasih info lagi. Kayaknya setelah kita sampai di Indo, baru mereka kasih tahu," ucap Rafael.
"Raf, gue cuma mau ngasih saran aja. Selama satu bulan ini berita lagi heboh hebohnya soal kedekatan lo sama Anita. Mau lo sangkal kayak gimana juga berita tetap ngincar kalian, gue harap lo bisa atasin semua ini. Karena bagaimana pun lo udah punya El" ucap Janshen.
"Kadang gue bingun Shen, media terlalu melebih lebihkan berita itu. Tapi gue yakin El wanita yang smart. Gue percaya dia gak bakalan kemakan berita hoax itu," ucap Rafael.
"Jangan terlalu yakin, El juga wanita. Wanita lebih mengedepankan perasaan mereka, gue harap lo paham," ucap Janshen.
***
Pesawat yang ditumpangi El, Alex dan Jacob sudah berada di udara. Mereka harus menempuh waktu berjam jam untuk sampai di Boston.
Di berita itu, ia melihat wajah Rafael dan Anita. Dikatakan juga jika mereka sering tertangkap pergi bersama. Apa itu mungkin?
Apa perasaan Rafael untuknya sudah hilang karena El pergi tanpa pamit?
Berbagai pertanyaan terus muncul di otaknya. Saat ini perkataan hati dan pikirannya sedang kacau. Mereka tidak mau sejalan.
Tiba tiba Alex duduk di sampingnya. Sedangkan Jacob sedang bersama dengan seorang pramugari yang sejak ia masuk pesawat sudah ia lirik.
El hanya diam saja. Ia tidak bertegur sapa dengan Alex. Karena selama ia mengenal Alex, Alex tipekal orang yang irit bicara dan lebih banyak diam.
Tiba tiba pria tinggi bermata biru itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah liontin berbentuk lonjong. Di tengahnya juga terdapat batu berwarna biru sapphire.
El hanya diam memperhatikan gerak gerik Alex.
Setelah cukup lama mengamati liontin itu, Alex pun membukanya. Disana ada dua foto anak kecil. Satu laki laki dan satunya perempuan.
"Laki laki ini adalah aku dan perempuan kecil ini adalah adik ku," ucap Alex. Padahal El tidak ada niatan bertanya mereka siapa.
Namun El baru tahu jika keluarga Sapphire memiliki seorang anak lagi dan itu perempuan.
"Lalu dia dimana? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?" Tanya El.
"Dia pergi sejak umur delapan tahun. Entah dimana dia sekarang. Aku dan keluarga sudah lama mencarinya namun belum menemukan apapun," ucap Alex.
El mengernyit. Dia tidak paham ucapan Alex maksudnya apa.
"Dia hilang?" Tanya El.
"Bisa dibilang begitu. Dia hilang bukan karena pergi sendiri dari rumah, tapi dia hilang karena diculik oleh musuh bisnis papa," jelas Alex.
"Sepertinya ini sangat berat untuk mu Lex. Selain sabar kita harus apa lagi. Aku yakin jika dia masih hidup suatu saat nanti kamu atau pun dia akan saling bertemu dan berkumpul lagi dengan keluarga kalian secara utuh," ucap El. Ia menepuk pelan bahu Alex.
"Hanya satu yang bisa membuktikan jika dia adalah adik kandung ku," ucap Alex.
Lagi dan lagi El mengernyit. Perkataan Alex kadang tidak ia mengerti maksudnya apa. Entah El yang lambat berpikir atau Alex yang terlalu berbelit.
Alex menyerahkan liontin yang sedang ia pegang pada El.
"Coba kau perhatikan foto anak perempuan ini," ucap Alex.
El menerima liontin itu dan memperhatikan foto anak perempuan yang ada disana. Anak perempuan itu sangat cantik. Kulitnya putih seperti Alex. Rambutnya juga berwarna coklat seperti Alex. Namun lensa mata mereka berbeda. Milik Alex berwarna biru cerah sedangkan milik anak perempuan ini berwarna biru tua.
"Apa memangnya yang berbeda dengan anak ini?" Tanya El.
"Perhatikan kalung yang dipakainya."
Tbc.
Halo halo halo, im back di cerita ini🤣🤏
Sorry ya udah lama hiatus di cerita ini. Aku udah mentok banget waktu itu sama idenya. Maklum ya ini cerita pertama aku, kalo agak amuradul maafin.
Vote komen yyy.
Kangeun euy sama yg suka hujat rapael🤣🤣🤣