L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 21 : Danau



Happy reading♡


Setelah acara makan pagi selesai. El, Rafael dan semuanya berkumpul di ruang tengah. Mereka semua membahas hal yang random. Mulai dari bisnis mereka masing masing sampai masa lalu pertemanan mereka.


"Ngomong ngomong El, kau tidak memiliki kakak atau adik?" Tanya Edward.


"Tidak, aku anak tunggal" jawab El.


"Tapi, ini cuma aku yang ngerasa atau kalian juga ngerasa, kalo El beda banget sama orang tuanya" ucap Anita, Rafael langsung melayangkan tatapan tak suka.


"Ya gimana ya, secara fisik, El memiliki rambut coklat dan iris mata biru. Sedangkan orang tuanya tidak memiliki ciri ciri seperti itu" jelas Anita.


"Bisa saja genetik El menurun dari kakek atau neneknya" ucap Alessa.


"Apa iya? Aku tidak yakin. Bisa jadi, kau anak haram" ucap Anita.


"Cukup" ucap Rafael.


"Anita, jaga ucapan mu" peringat Antonio, kakaknya.


"Aku hanya mengutarakan apa yang ada di pikiran ku" ucap Anita kemudian meminum jus didepannya.


"Biarlah Raf, orang bebas berkata sesuai opini mereka. Aku tidak masalah jika dia berkata aku berbeda dengan kedua orang tua ku. Tapi, untuk sebutan anak haram, sepertinya dia keliru. Aku bukan anak seperti itu" jawab El santai.


"Hahaha, lucu sekali kau. Jika memang iya kau anak seperti itu, akui saja" ucap Anita tidak mau kalah.


"Jaga ucapan mu! Jika fakta berbicara, kau akan tertampar sendiri, Anita" ucap Alexander.


"Kenapa kalian jadi membela dia, yang teman kalian aku kan?" Tanya Anita dengan nada cukup tinggi.


"Mereka memang teman mu, bukan teman ku. Tapi, pikiran mereka lebih terbuka tidak seperti dirimu. Berpikiran sempit sekali" jelas El.


"Aku ke atas dulu" ucap El kemudian beranjak dari sana. Jujur saja ia tidak terima jika dikatakan anak seperti itu. Dia terlahir dari keluarga baik baik. Mana mungkin dia anak seperti itu.


El berdiri di balkon lantai dua. Ia sengaja pergi dari sana untuk meredam emosinya. Jujur saja, ia pun ingin membalas perkataan Anita tadi. Namun ia berpikir kembali. Jika ia membalas Anita, bedanya dia dengan Anita apa. El memilih mengalah saja.


Ia mengahapus air matanya kemudian kembali menyemangati dirinya. Bahwa dia adalah anak Clifford dan Claudia.


Tanpa disadari, Rafael sudah berdiri dibelakangnya sejak tadi. Ia jelas mendengar ucapan El walau pelan.


El terkejut saat ia membalikan badannya. Tiba tiba Rafael memeluknya. Seolah ia memberikan kekuatan untuk El. Padahal, El merasa biasa saja.


"Ada apa?" Tanya El.


"Aku hanya tidak suka dia berkata yang tidak tidak tentang mu" ucap Rafael.


"Sudahlah, jangan pikirkan itu. Aku tidak apa apa Raf" ucap El.


"Tapi aku tidak terima El" ucap Rafael.


"Raf, biarkan saja. Semua orang punya opininya masing masing. Kau harus meredam emosi mu. Bagaimana pun dia adalah adik dari sahabat mu. Terlebih, dia mengata ngataiku bukan dirimu" jelas El.


"Tetap saja aku tidak terima" ucap Rafael. Ia semakin mengeratkan pelukannya.


"Kau nyaman berada di dekatku?" Tanya Rafael.


"Iya, aku sangat nyaman" ucap El menghirup aroma dari baju yang dikenakan Rafael.


"Aku lebih lebih nyaman. Aku sangat berterimakasih pada tuhan karena telah mempertemukan aku dengan mu" ucap Rafael.


"Ada ada saja" ucap El terkekeh. Ia pun melepaskan pelukannya dan masuk ke dalam kamarnya. Tentu dengan Rafael yang membuntutinya.


"Raf, aku ingin pulang" ucap El saat ia sudah duduk di sisi ranjang.


"Kau ingin pulang kapan?" Tanya Rafael.


"Sekarang, aku sangat mengkhawatirkan orang tua ku. Aku lupa memberitahu mereka" ucap El.


"Kau tidak usah khawatir, aku sudah meminta ijin pada ayah mu" ucap Rafael.


"Oh ya, bagaimana bisa? Setahu ku, daddy tipekal orang yang sangat sulit untuk dibujuk seperti itu" ucap El.


"Aku hanya bilang ingin mengajak kekasih ku berjalan jalan saja" ucap Rafael duduk di sebelah El.


"Apa?! Kekasih? Aku bukan kekasih mu" bantah El.


"Menurut mu, tapi tidak menurut ku" ucap Rafael.


"Kau" geram El.


"Apa yang nanti harus ku jelaskan pada mereka. Aku bahkan tidak pernah memiliki kekasih Raf. Kau membuat hidup ku dalam bahaya" keluh El.


"Bahaya apa?" Tanya Rafael.


"Kau pikir saja, daddy pasti akan menginterogasi ku. Apalagi mommy" ucap El.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu. Sekarang, lebih baik kau ikut aku" ucap Rafael.


"Kemana?" Tanya El.


"Kau akan tahu nanti" ucap Rafael kemudian menarik tangan El untuk keluar dari dalam kamar. Mereka berjalan bergandengan tangan menuruni tangga.


"Aku akan pergi dengan El, kalian terserah mau sampai kapan disini" ucap Rafael pada semua sahabatnya.


"Aku ikut" ucap Anita.


"Aku tidak bisa mengajak mu An, aku ada urusan pekerjaan dengan El. Kau tahu bukan, dia dokter di rumah sakit milik keluarga ku" jelas Rafael.


"Aku pergi" ucap Rafael kemudian pergi dari sana membawa El. El sendiri hanya diam dan mengikuti Rafael.


Sampai di depan, sudah ada Griss. Rafael membuka kan pintu untuk El kemudian dia masuk.


"Griss tidak ikut?" Tanya El.


"Kau yakin Griss akan ikut disaat kita akan berkencan?" Tanya Rafael.


"Berkencan?" Tanya El namun Rafael hanya tersenyum.


Mobil yang ditumpangi El dan Rafael melesat pergi dari pekarangan mansion milik Rafael. El tidak tahu ini di daerah mana, yang jelas sekarang ia dan Rafael berhenti di sekitaran danau yang sangat indah.


"Kita turun" ucap Rafael saat ia membuka pintu untuk El. El menerima uluran tangan Rafael dan mereka kembali berjalan bergandengan menuju ke kursi yang ada di pinggiran danau.


El duduk disana begitu juga Rafael. Mereka sama sama diam. El diam karena ia merasa ada sesuatu dengan tempat ini, sedangkan Rafael diam memikirkan sesuatu.


"Raf" panggil El.


"Ya?".


"Ini dimana?" Tanya El.


"Ini tempat yang sering aku kunjungi dulu" ucap Rafael.


"Dulu?" Beo El.


"Iya. Dulu aku sangat sering bermain kesini. Tentunya diantar oleh supir rumah. Dan dulu, selalu ada seseorang yang menemaniku disini" jelas Rafael.


"Siapa dia?" Tanya El.


"Kekasih ku" ucap Rafael.


"Jadi kau sudah memiliki kekasih? Siapa dia Raf? Kenapa kau tidak mengenalkannya pada ku?" Tanya El bertubi tubi.


"Aku harus menjawab pertanyaan mu yang mana dulu?" Tanya Rafael terkekeh.


"Apa jangan jangan Anita kekasih mu?" Tebak El mengabaikan pertanyaan Rafael. Sedangkan Rafael hanya tertawa. Kemudian ia berdiri.


"Berdirilah El" perintah Rafael.


"Untuk apa? Aku sedang duduk" ucap El.


"Berdiri saja" ucap Rafael. El pun berdiri.


Rafael memegang kedua bahu El. Mata tajamnya mengarah ke bola mata milik El. Tatapannya seolah sedang mengingat sesuatu. Kemudian ia menarik El ke dalam pelukannya. El sendiri yang tidak paham dengan kondisi hanya diam saja namun tetap membalas pelukan Rafael. Tanpa disadari El, Rafael menitikan air matanya.


"I miss you Elaine" gumam Rafael


...TBC...


...hai apa kabar semua? tiap aku nanya gada yg jawab(...


...hayoloh, saha Elaine tuh😭 Rafael ada ada bae emang. btw makasih ya yg udh vote sama komen. lop sejawa barat pokonya....


...oh ya, besok adha ya. SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA BUAT YANG MENJALANKAN)....


...kalo ada typo, maapin. sm maap aku gak bisa up sehari dua eps ya, aku ada kesibukan lain help, smg kalian paham ya)...


...Aycha...