
Happy reading♡
El pun cepat cepat keluar dari dalam gudang. Ia menyembunyikan map yang ia bawa ke dalam bajunya. Meskipun semua orang di mansionnya sudah tertidur, ia harus tetap berjaga jaga tentang map itu.
El pun menghembuskam nafas leganya saat ia sudah berada di dalam kamarnya. Ia mengatur nafasnya kemudian duduk di atas kasurnya.
Ia masih memikirkan isi dari map itu. Sepertinya itu nama sebuah tempat. Tapi dimana?
El pun berdiri kemudian ia menyimpan map itu di dalam brankas miliknya. Setelah semuanya aman, ia pun hendak tertidur. Namun tiba tiba ponselnya berbunyi.
"Ya?" Jawab El setelah ia mengangkat telponnya.
"Maaf nona saya harus menghubungi anda malam malam begini" ucapnya di telepon itu.
"Tidak apa apa, lagian aku belum tertidur. Katakan ada apa?" Tanya El.
"Gaun yang nona pesan tiba tiba rusak di jalan" ucapnya.
"Kenapa bisa?" Tanya El.
"Itu kelalaian butik kami nona, sebagai permintaan maaf, saya akan mengganti rugi" ucapnya.
"Tidak perlu seserius itu, tidak apa apa mungkin memang gaun itu tidak seharusnya dipakai oleh ku. Besok aku akan ke butik mu lagi untuk memilih gaun" ucap El.
"Terimakasih banyak nona, kami akan menunggu anda" ucapnya.
"Baiklah, besok sekitar pukul sembilan pagi aku akan kesana" ucap El. Telepon pun terputus. El pun menyimpan ponselnya di nakas sebelah ranjang kemudian mematikan lampu dan tidur.
***
Sinar matahari pagi mulai muncul. El bergerak dalam tidurnya karena cahaya yang masuk ke dalam kamarnya. Tumben sekali para pelayan sudah membuka kan tirai dikamarnya.
"Bangun sayang" ucap Rafael. El mengerjapkan matanya berkali kali. Mana mungkin Rafael ada di kamarnya, ini pasti mimpi.
"Hei sayang, bangun. Bukannya pagi ini kamu akan ke butik lagi?" Tanya Rafael saat El kembali menutup matanya.
El pun membuka matanya. Seketika ia terkejut ternyata itu bukan mimpi.
"Kenapa kamu disini" tanya El agak teriak.
Rafael terkekeh, "sengaja aku ingin membangunkan mu. Aku sudah ijin kepada orang tua mu" ucap Rafael.
"Begitu rupanya" ucap El. Ia pun mengucek matanya kemudian hendak bangun namun ditahan Rafael.
"Kenapa?" Tanya El.
"Morning kiss" ucap Rafael.
"Gak, aku belum gosok gigi. Aku gak mau ya" ucap El menutup mulutnya. Kemudian ia bangun dari tempat tidur dan berlari menuju ke kamar mandi. Rafael hanya menggelengkan kepalanya kemudian ia pun keluar dari kamar El menuju ke ruang tamu.
El memegang pipinya dan menatap pantulan dirinya di depan cermin. Ia menggelengkan kepalanya. Kenapa pacarnya itu sangatlah mesum.
Ia pun melepas pakaiannya dan mulai mandi.
Setelah selesai mandi dan bersiap, ia pun keluar dari dalam kamarnya. Waktu sudah menunjukan pukul delapan.
"Selamat pagi" sapa El kepada semuanya.
"Pagi sayang" ucap kedua orang tua El.
"Ayo kita sarapan bersama" ajak Clau pada El dan Rafael.
Mereka berempat pun sudah duduk di kursi meja makan. Makanan pun dihidangkan oleh lara pelayan di mansion El.
Clau mengambilkan makanan untuk suaminya begitu pun El mengambil piring Rafael dan mengisinya dengan beberapa makanan yang tersaji.
Clau menatap ke arah Cliff suaminya. Sedangkan suaminya itu hanya tersenyum dan mengangguk.
Mereka semua makan dalam keadaan hening. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu.
Setelah makanan mereka habis. Clifford pun memulai percakapan.
"Oh ya tuan Levent, apa kesibukan mu sekarang?" Tanya Cliff pada Rafael.
"Tidak perlu seformal itu tuan Meinhard. Kesibukan saya saat ini paling hanya sedang mempersiapkan beberapa barang yang akan diluncurkan bulan bulan ini juga kerja sama dengan beberapa perusahaan luar negri" ucap Rafael.
"Oh iya, apa kalian memiliki hubungan?" Tanya Clau.
"Tentu saja" ucap Rafael membuat El menatapnya.
"Oh ya? Hubungan apa? Apa hanya sebatas atasan dan bawahan?" Tanya Clau.
"Mom, kami memang memiliki hubungan lain, kami.." ucap El terpotong oleh Rafael.
"Berpacaran" potong Rafael. Membuat El menatapnya dengan tatapan memelas.
"WHAT? ARE U SERIOUSLY?" Tanya Clau dengan nada cukup tinggi.
"Iya" jawab Rafael. Ia sengaja mendahului El berbicara, karena ia yakin jika kekasihnya itu tidak akan berkata dengan jujur.
"Benar begitu sayang?" Tanya Cliff pada El.
"I-iya dad" ucap El menunduk.
"Hei, kenapa menunduk sayang? Mom justru sanvat bahagia akhirnya kalian memiliki hubungan lebih dari seorang rekan kerja" ucap Clau.
"Jadi, anda menyetujui hubungan saya dengan anak anda?" Tanya Rafael.
"Tentu saja. Suamiku juga pasti menyetujuinya. Iya kan?" Tanya Clau pada suaminya.
Cliff hanya menganggukan kepalanya.
"Beneran?" Tanya El.
"Iya sayang, mommy happy for you" ucap Clau berdiri kemudian memeluk putrinya.
"Jaga putri kesayangan ku, jangan sampai membuatnya menangis. Jika sampai itu terjadi, jangan harap aku akan memberikan restu ku lagi untuk mu" peringat Cliff pada Rafael.
"Tentu saja tuan Meinhard. Aku akan menjaga dan menyayangi putri kalian seperti kalian menjaga dan menyayanginya. Aku tidak akan pernah membuatnya menangis. Anda bisa memegang janji saya" ucap Rafael yang diangguki oleh Cliff.
"Kalau begitu, aku sama Rafael keluar dulu ya mom, dad" ucap El.
"Kau akan kemana?" Tanya Clau.
"Baju yang aku pesan tidak bisa aku pakai mom karena alasan tertentu. Jadi ya aku harus kembali memilihnya untuk ke acara Alex" ucap El.
"Kenapa bisa? Waktunya udah mepet sayang" ucap Clau.
"Makanya itu aku akan menggunakan waktu sedikit ini untuk mencari gaun lagi" ucap El.
"Aku pergi" ucap El kemudian ia pun keluar bersama Rafael.
Rafael membuka kan pintu mobil untuk El. Kemudian ia berjalan ke arah kursi pengemudi setelah El masuk.
"Butik yang kemarin?" Tanya Rafael.
"Iya" jawab El.
"Oh iya, kenapa kamu bisa tahu kalau baju yang aku pesan tidak bisa diantar?" Tanya El.
"Aku diberitahu pihak butik" ucap Rafael, El hanya mengangguk.
Mobil pun melaju menuju ke butik kemarin. Tempat dimana El memesan gaun.
Tak butuh waktu lama, mobil yang mereka tumpangi sampai di depan gedung butik. El dan Rafael pun keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam butik.
"Selamat datang nyonya dan tuan, silahkan saya sudah menyiapkan beberapa gaun terbaik" ucap pemilik butik itu. El mengangguk dan mulai memilih gaun di depannya sedangkan Rafael duduk menunggunya.
Setelah cukup lama memilih, pilihan El jatuh pada gaun panjang berwarna soft blue.
El pun mencobanya dan menatap tampilannya di depan cermin. Ia tersenyum saat gaunnya pas di tubuhnya.
"Aku ingin gaun ini. Tolong di bungkus ya, aku akan membawanya sendiri" ucap El yang diangguki pelayan butik.
...tbc....
kalo ada typo maapin. thnks yang udh kasih vote sm support aku❤️