L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 33 : Keputusan El



Happy reading♡


El merebahkan tubuh lagi di kasur. Perutnya sangatlah sakit. Hari pertama menstruasi memang sangatlah menyiksa untuknya. Beruntung, El selalu membawa roti jepang di dalam tasnya kemana mana. Jadi ia tidak perlu khawatit jika sewaktu waktu mendapat menstruasi.


"Apa sesakit itu?" Tanya Rafael ngilu saat El meremas kuat perutnya.


"Tentu saja".


"Apa kau ingin makan?" Tanya Rafael.


"Kau bodoh atau apa, yang aku butuhkan bukan makan Raf. Tapi aku ingin sakit di perut ku mereda" ucap El dengan nada naik satu oktaf.


Rafael kicep. Baru kali ini ada orang yang mengatainya bodoh.


"Lalu kau ingin apa?" Tanya Rafael.


"Tidur" ucap El, ia mulai memejamkan matanya.


Sedangkan Rafael bergerak mendekat ke arah El. Ia tidur di sebelah El dengan posisi miring. Tanga kirinya bertumpu untuk menahan kepalanya.


Kerutan di kening El mulai hilang. Artinya, rasa sakit di perutnya perlahan juga menghilang. Rafael tersenyum hangat saat mendengar deru nafas teratur El. Tangan Rafael terulur untuk menyelipkan beberapa helaian rambut El.


"Aku menyayangimu lebih dari diriku sendiri. Aku berhasil El, lima belas tahun berlalu akhirnya aku menemukannya" ucap Rafael kemudian ia memeluk El erat.


"Siapa dia?" Tanya El tiba tiba membuat Rafael terkejut.


"Bukan siapa siapa" ucap Rafael.


"Apa maksud kau menemukan lagi kekasih mu yang pernah kau bilang? Jika iya kenapa kau malah menyatakan cinta kepada ku?" Tanya El.


"El, aku benar benar mencintaimu" ucap Rafael.


"Bullshit" ucap El kemudian ia melepas kalung yang pernah diberikan oleh Rafael. Awalnya El terkejut mengetahui jika kalung ini adalah kalung turun temurun keluarga Levent. Ia sempat memberikannya lagi pada Rafael namun Rafael menolaknya.


El mengambil telapak tangan milik Rafael dan menyimpan kalung itu disana.


"Aku bukan kekasih mu" ucap El kemudian bangun dari tidurnya. Ia bergegas mengambil hoodie yang berada di kursi kemudian hendak memakainya. Namun terhenti karena Rafael mengambil paksa hoodie itu.


"Oh, aku lupa. Itu hoodie milik mu. Baiklah aku akan keluar begini saja" ucap El membuat Rafael melotot. Pasalnya El hanya mengenakan tanktop dan celana bahan yang mencetak jelas kaki jenjangnya.


El melangkahkan kakinya menuju ke luar kamar sembari membuka ikatan rambutnya. Sejujurnya ia juga risih dengan pakaian seperti ini.


"Berhenti disana atau kau akan menyesal" ancam Rafael. Namun El menghiraukannya. Dengan gerakan cepat Rafael menarik kasar tangan El sehingga dia menubruk dada bidangnya. El yang masih belum sembuh total harus kembali merasa pusing karena kepalanya menubruk dada keras itu.


Tanpa aba aba, Rafael mendorong El. Menghimpitnya di dinding. Rafael menekan tubuh bagian depan El dengan tubuhnya.


"Menjauh" ucap El. Pasalnya ia merasa sesak sekaligus risih.


"Kau berniat menggoda orang orang diluar sana?" Tanya Rafael.


"Tentu saja. Aku akan menggoda mereka. Aku memiliki tubuh yang indah, mereka pasti akan tergoda oleh ku" ucap El, air matanya keluar tanpa sadar.


"Kau bukan wanita seperti itu" ucap Rafael menahan amarahnya.


"Memangnya kenapa? Semua orang bisa berubah bukan?" Tanya El.


"Menyingkirlah, aku ingin menemui Kevin" ucap El. Amarah Rafael semakin memuncak tatkala gadisnya menyebut nama pria lain. Dengan mata memerah karena menahan emosi, Rafael mencium bibir El secara brutal. Tentu saja hal itu membuat El terkejut.


Ciuman yang ganas dan sangat menuntut itu membuat El takut. Takut karena bisa saja Rafael melakukan hal lebih. El sudah berontak dengan menggerakan tubuhnya agar Rafael melepaskan ciuman itu, karena ia sudah kehabisan oksigen namun Rafael masih belum melepaskannya. El hanya pasrah. Kepalanya semakin pening.


Rafael melepaskan ciuman itu dan menggeram. Tindakan El tadi mampu membangunkan nafsunya. Apalagi dia menggerakan dadanya yang bergesekan langsung dengan dada Rafael.


Air mata El meluruh tak dapat dibendung lagi. Ia mulai mengeluarkan isakannya. Rafael sadar, tindakannya tadi membuat gadisnya ini takut.


Ia merengkuh tubuh El yang bergetar. Tak ada perlawanan karena El memang sudah sangat lelah saat ini.


Rafael memangku El dari depan. El menyandarkan kepalanya di dada Rafael. Nafas mereka berdua masih belum teratur. Rafael duduk di single sofa yang berada di sudut kamar.


"Maafkan aku" ucap Rafael.


"Aku takut, kau mencintaiku tapi seperti ingin membunuh ku" ucap El masih terisak.


"Maafkan aku, aku hilang kendali tadi. Kau bayangkan saja, aku tidak rela laki laki manapun melihatmu dengan pakaian seperti ini" ucap Rafael.


"Kau bukan siapa siapa ku, jangan pernah mengatur ku" ucap El.


"Aku kekasih mu" ucap Rafael.


"Bukan, kau bukan kekasih ku" ucap El kekeuh.


"Lalu apa maksud mu tadi di depan sahabat sahabat ku?!" Tanya Rafael geram.


"Aku hanya ingin tahu tentang perasaan ku saja terhadap mu, ternyata memang aku tidak mencintai mu" ucap El.


Katakanlah jika El jahat beberapa menit tadi. Ia bertingkah seolah ia dan Rafael memiliki hubungan namun ternyata dia seperti itu hanya untuk mengetahui apakah dia mencintai Rafael atau tidak. Nyatanya, perasaanya masih abu abu.


"Kau gadis licik rupanya" ucap Rafael.


"Katakanlah sesuai yang ada di otak mu saat ini. Aku tidak mencintai seorang pria ba*ingan seperti mu" ucap El membuat Rafael menoleh ke arahnya.


"Iya, aku mengangap mu pria seperti itu. Kau ingat, saat kau menciumku untuk pertama kalinya. Disitu aku sudah tidak memiliki rasa apapun pada mu. Aku jadi berpikir bahwa memang kau bukanlah pria yang ku mau" ucap El.


"Aku tahu, kau pria normal. Tapi apakah pantas kau mencium ku saat itu? Yang dengan jelas aku tidak memiliki hubungan apapun dengan mu?" Ucap El.


"Kau bilang kau mencintai ku, tapi mengapa kau tidak bisa menahan hasrat mu itu? Itu cinta atau nafsu Raf?" Tanya El.


"Ketika berada di dekat ku, kau selalu berkata tentang wanita di masa lalu mu. Elaine, yah aku mengingat nama itu. Itu nama wanita mu bukan? Aku mendengar kau mengucapkan nama wanita itu ketika kau mengajak ku ke danau" ucap El namun Rafael masih diam.


"Keputusan ku sudah bulat, aku tidak mau menjadi kekasih mu" ucap El keluar dari kamar Rafael. Rafael tidak mengejarnya lagi. Ia tertampar dengan kata kata yang keluar dari mulut gadisnya. Ia tahu ia salah karena sudah berani mencium El. Bahkan bukan hanya satu kali. Namun apa boleh buat, semuanya sudah terjadi.


Rafael tidak akan menyesali itu. Ia tidak boleh lemah saat ini. Jika tidak, gadisnya akan hilang lagi.


...TBC....


...Satu kata buat El?...


...Satu kata buat Rafael?...


...Akhirnya, El menyuarakan apa yang dirasakannya. Tenang, part masih panjang. Jangan rurusushan, aku up terus ko. maapin belum bisa double up:(((...


...Kalo ada typo maapin....


...Aycha...