L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 19 : First kiss



Happy reading♡


Sepeninggal El, Rafael kembali berbincang dengan sahabat sahabatnya. Jujur, ia sangat merindukan saat saat seperti ini dengan para sahabatnya. Karena kesibukan masing masing, sekarang mereka semua jadi jarang sekali untuk berkumpul.


"Aku ke atas dulu" pamit Rafael.


"Aku ikut" ucap Anita.


"Tidak, kau diam disini saja. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan El" ucap Rafael. Anita pun kembali duduk dengan kesal.


Rafael pun berjalan menuju ke tempat El. Ia membuka kamar namun tidak menemukan keberadaan gadisnya. Matanya menjelajahi isi kamar, sampai ia menangkap bayangan seseorang. Rafael pun masuk ke dalam kamar, lebih tepatnya ke tempat dimana El berdiri sekarang.


Rafael sangat paham, El sepertinya cemburu dengannya. Terbukti dari sikap El yang tiba tiba menjadi pendiam. Namun Rafael bersyukur, setidaknya ia bisa mengetahui sedikit sedikit perasaan El.


Rafael memeluk El dari belakang. Tentu saja yang dipeluk olehnya terkejut dan hendak membalikan badannya. Namun Rafael dengan cepat menaruh dagunya di bahu El.


"Kau cemburu?" Tanya Rafael.


"Tidak" jawab El.


"Aku tidak percaya" ucap Rafael.


"Aku pun tidak memaksa kau untuk percaya" ucap El ketus. Rafael diam diam tersenyum.


"Jika memang kau tidak cemburu, kenapa malah memilih berdiam sendirian disini?" Tanya Rafael.


"Aku tidak mengerti bahasan kalian" jawab El.


"Kau itu pintar, aku tidak yakin kau pergi begitu saja hanya karena tidak mengerti topik" ucap Rafael tepat sasaran. El hanya diam saja. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Lagi lagi ucapan Rafael benar.


El hanya saja malu untuk mengakui jika ia memang tidak suka melihat kedekatan Rafael dengan Anita. Ia hanya merasa tidak suka melihatnya. Dan Rafael hanya diam saja saat Anita menempel padanya. Sungguh membuat kekesalan El bertambah tambah saja.


"Kita dimana Raf?" Tanya El.


"Masih dekat dengan daerah rumah mu, hanya saja aku belum mengizinkan mu untuk pulang" ucap Rafael, El melepaskan pelukan Rafael dan beralih menatap Rafael.


"Kenapa? Kau tidak punya hak melarangku pulang" ucap El.


"Aku berhak, sangat berhak" ucap Rafael membuat El bingung.


"Tidak, kau tidak berhak Rafael. Kita hanya orang lain bukan?" Tanya El.


"Itu menurut mu, tapi tidak menurutku" ucap Rafael.


"Maksud mu itu sebenarnya apa sih Raf, aku benar benar tidak paham" ucap El meminta penjelasan.


"Sepertinya kau sudah lelah, lebih baik kita tidur saja. Aku pun sudah sangat lelah" ucap Rafael kemudian menggendong El tiba tiba. Tentu saja El berontak namun bukan Rafael namanya jika ia tidak bisa menghalal kan segala cara.


El ditidurkan Rafael kemudian menindihnya. Rafael menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik gadisnya. Perlahan ia menurunkan wajahnya. Tangan El tentu saja sudah menahan dada Rafael sejak tadi.


Rafael pun melakukannya. Ia mendekatkan bibirnya pada bibir El. Ia tidak tahu apa yang ia lakukan sekarang. Hanya saja, sejak beberapa hari yang lalu, bibir mungil gadisnya ini sangat mengganggu pikirannya. Seolah olah memintanya untuk menjenguknya.


Rafael perlahan mulai bergerak dalam ciumannya. Sedangkan El otaknya menjadi blank. Ia hanya diam saja seperti robot yang tiba tiba tidak bisa berfungsi. Rafael tersenyum dalam ciumannya. Saat ini, hanya ia yang mendominasi permainannya.


"Bernafaslah" ucap Rafael saat ia melepaskan bibirnya dari bibir El. El langsung saja menghirup udara sebanyak banyaknya. Ia seperti sudah berjalan berkilo kilo meter. Saat nafasnya sudah teratur. Ia memberanikan diri untuk melihat wajah laki laki yang ada di depannya.


"Kenapa kau menciumku?" Tanya El.


"Itu ciuman pertamaku dan kau seenaknya mengambilnya?" Tanya El lagi.


"Memangnya kenapa?" Tanya Rafael.


"Kau masih bilang kenapa?! Tentu saja aku marah Rafael. Kau tiba tiba saja mengambilnya. Ciuman pertama ku hanya untuk suami ku nanti" ucap El menggebu gebu.


"Kau-" ucap El terpotong karena Rafael lagi lagi menciumnya. Kali ini El berontak. Ia terus memukul mukul lengan Rafael berharap laki laki itu melepaskan ciumannya. Namun nihil. Tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Rafael. Rafael yang merasa tidak nyaman karena pukulan gadisnya pun memilih menahan tangan El diatas kepalanya.


Perlahan namun pasti, Rafael melakukannya dengan sangat pelan. Ia tidak ingin membuat gadisnya tidak nyaman. Lama kelamaan, E terbuai dengan ciuman Rafael. Tanpa disangka, El membalas ciuman Rafael. Ia mengalungkan tanganya ke leher Rafael. Ini gila, benar benar gila.


Rafael melepaskan ciuman mereka. Ia tidak ingin melakuannya terlalu jauh. Ia menyayangi El jadi ia harus menjaganya.


"Kau mencintaiku?" Tanya Rafael.


"A-aku tidak t-tahu" ucap El. Sungguh saat ini ia ingin tenggelam saja. Ia sangat sangat malu jika harus berbicara dengan Rafael atas kejadian tadi.


"Ya, kau mencintaiku El" ucap Rafael.


"A-aku" ucap El tertahan.


"Tidak perlu menjawabnya sekarang, lebih baik kita tidur" ucap Rafael.


"Aku tidak ingin tidur denganmu" ucap Rafael.


"Aku tidak bertanya kau ingin tidur dengan ku atau tidak. Cepat tidur atau aku akan mengambil ciuman ketiga mu" ancam Rafael. El pun diam.


Rafael menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka dan mematikan lampu terang menjadi lampu temaram. Ia pun memeluk El kemudian tertidur.


Sedangkan El, ia masih membuka matanya. Ia masih belum bisa mencerna kejadian tadi. Dimana ia melakukannya dengan Rafael. Dan bisa bisa nya ia terbuai dan membalasnya.


Ia tidak tahu ada apa dengan dirinya. Kenapa ia dengn begitu mudahnya terbuai dengan ciuman Rafael?.


El menggelengkan kepalanya. Tidak ia harus pergi sekarang. Ia tidak tahu apa ia masih memiliki muka untuk bertemu dengan Rafael? Terlebih Rafael adalah kepala di rumah sakit tempatnya bekerja.


Perlahan El ingin keluar dari pelukan Rafael. Namun sepertinya Rafael belum tertidur, buktinya ia sekarang memeluk El sangat erat.


"Raf, aku tidak bisa bernafas" ucap El.


"Bohong, aku tidak sekencang itu memeluk mu" ucap Rafael.


"Tapi ini tidak nyaman Rafael, lepaskan aku" ucap El.


"Aku tidak akan pernah melepaskan mu sampai kapan pun" ucap Rafael tak mau kalah.


"Kau ini, aku bukan barang milik mu ataupun apapun itu, aku ini manusia Raf. Kau tidak bisa sembarang melarangku untuk ini itu" ucap El.


"Sekarang iya, kau memang bukan siapa siapa ku. Tapi sejak awal kau sudah menjadi milik ku" ucap Rafael.


"Aku bukan milik siapapun" kekeuh El.


"Tidurlah, kau perlu istirahat sepertinya" ucap Rafael.


"Tidak, aku ingin pulang" ucap El.


"Iya, kita akan pulang. Tapi tidak sekarang" ucap Rafael.


"Tidur atau aku akan mendurimu? Aku tidak main main El" ancam Rafael. Mau tidak mau El pun kembali diam di dalam pelukan Rafael. Bisa bisanya ia menjadi lemah karena ancaman Rafael.


...TBC...


...Demi apazih aku keringetan nulisnya. Woilah semoga feel nya dapet. Maapin aku gada pengalaman:((...


...Kalo ada typo maapin. Oh ya, kalo tbtb aku gak updt maapin ya. Doain aja semoga semuanya lancar ya. Mksh udh stay di cerita aku dan udah support aku....


...Aycha...