L'Amour Vrai

L'Amour Vrai
Episode 46 : Clarry



Happy reading♡


Perlahan, El membuka matanya. Ia menatap langit langit kamar yang ia tempati. Ia tidak ingat apa yang terjadi semalam. Yang ia ingat hanya ia berbicara dengan Rafael.


El hendak membuka selimbut yang membungkus tubuhnya. Namun, sangat susah. Seolah ada yang menahan selimbut itu. El tetap berusaha untuk keluar dari dalam selimbut itu namun terhenti saat ada suara orang yang berbicara.


"Tidurlah kembali, ini masih pagi" ucap Rafael serak.


"Tidak, aku sudah tidak mngantuk. Kamu kenapa tidur disini?" Tanya El.


"Ini kamar ku jika kau lupa" ucap Rafael kemudian membuka matanya.


"Iya iya. Nanti aku akan tidur di kamar Galaksi" ucap El.


"Aku tidak memberi mu ijin untuk tidur di kamar Galaksi" ucap Rafael.


"Lalu aku tidur dimana?" Tanya El.


"Disini, bersama ku" ucap Rafael menarik El ke dalam dekapannya untuk kembali berbarin.


"Astaga, aku ingin bangun Rafael" ucap El berusaha melepaskan diri dari pelukan Rafael.


"Diamlah, cuaca di luar sedang hujan. Aku butuh kehangatan" ucap Rafael serak.


El bukan wanita bodoh. Ia paham saat suara Rafael tiba tiba berubah jadi serak. Ia harus tetap berjaga jaga jika sudah seperti ini.


"T-tapi lepaskan aku. Kau bisa menghangatkan tubuh mu dengan selimbut tebal ini" ucap El membuat Rafael tersenyum smirk.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu?" Tanya El.


"Sepertinya kucing kecil ku sedang merasa gugup" ucap Rafael menggoda El.


"Aku manusia! Bukan kucing" ucap El.


Cupp


Rafael mencium kening El kemudian menyibak selimbut yang menutupi keduanya. Rafael berjalan ke arah sisi kanan El untuk membawa gadisnya itu ke kamar mandi.


El baru menyadari jika Rafael tidur tanpa mengenakan baju. Dapat ia lihat lipatan kotak kotak yang berada di perut Rafael. Seketika pipinya memerah. Ia mengigit bibirnya. Berusaha menahan malu karena melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.


Rafael sendiri merasa aneh dengan wajah El yang tiba tiba memerah. Ia pun mengikuti arah pandang El. Seketika ia tersenyum penuh arti.


Rafael menggendong El menuju ke kamar mandi. Ia bertingkah seolah tidak terjadi apa apa. Padahal sebaliknya.


Rafael mendudukan El di wastafel. Kemudian menumpukan kedua tanganya di sisi kiri kanan tubuh El. Matanga menatap ke arah bola mata El. Yang di tatap tentu saja menunduk.


"Jangan menunduk" ucap Rafael pelan.


"Nanti mahkota mu jatuh" ucap Rafael. El pun menaikan pandangannya. Sejenak ia menatap mata berwarna abu itu.


"Kau mencintaiku?" Tanya Rafael tiba tiba.


"Apa?".


"Apa kau mencintaiku?" Tanya Rafael lagi.


"A-aku tidak tahu" ucap El.


"Masih jawaban yang sama ternyata" ucap Rafael tersenyum kemudian membalikan badannya hendak pergi.


"Kamu marah?" Tanya El setelah menahan tangan besar Rafael.


"Tidak, untuk apa aku marah" ucap Rafael.


"Ya sudah" ucap El.


"Apa kau ingin mandi bersama ku?" Tanya Rafael.


"Ih, enggak" ucap El.


"Lalu kenapa kau tidak melepaskan tangan ku?" Tanya Rafael.


"Aku akan melepaskannya setelah kau membantuku mendekat ke arah bathup" ucap El.


"Iya nona" ucap Rafael kemudian kembali menggendong El menuju ke araha bathup.


"Apa lagi hm?" Tanya Rafael.


"Baiklah, akan aku usahakan" ucap Rafael.


"Terimakasih" ucap El kemudian Rafael berdiri dan meninggalkan El untuk mandi. Sedangkan dirinya akan menggunakan kamar mandi lain.


***


Semua keluarga Levent sudah berkumpul di meja makan. Keluarga mereka sangat lengkap ditambah lagi dengan kedatangan El.


Awalnya El merasa canggung, namun beruntungnya keluarga Rafael memperlakukan dia dengan baik. Tidak seperti tamu ataupun orang asing.


"El, kau sangat suka nasi goreng ya?" Tanya Robert, suami Eliza.


"Iya, aku sangat menyukainya" ucap El.


"Kau orang Boston, bagaimana bisa kau menyukai makanan khas Indonesia?" Tanya Michelle.


"Aku pernah mencobanya dulu, waktu aku pergi berlibur ke Indonesia" ucap El.


"Dan kau langsung menjadikannya makanan favorit?" Tanya Eliza.


"Iya. Rasanya sangat unik menurut ku" ucap El.


"Sepertinya bukan hanya nasi goreng saja yang kau suka, aku tebak kau juga menyukai makanan lain kan? Tentunya masih dari Indonesia" tanya Eliza.


"Kau benar, aku menyukai makanan lain selain nasi goreng yaitu mie goreng" ucap El.


"Kenapa kau tidak ikut orang tua mu saja jika kau menyukai makanan Indonesia. Bukannya mereka pergi ke Indonesia? Dari pada harus menumpang disini" ucap Clarry, adik sepupu Rafael.


"Clarry, jaga ucapan mu" peringat Rafael.


"Maafkan dia ya El" ucap Aura.


"Tidak apa apa" ucap El.


"Bukannya itu benar? Ia memiliki rumah ataupun apartement, lalu mengapa dia malah menumpang disini?" Tanya Clarry.


"Cukup Clar" ucap Aura.


"Awalnya aku memilih opsi pertama dari ucapan mu. Andai aku tahu aku pasti akan memilih untuk ikut dengan kedua orang tua ku ke Indonesia, tapi sayangnya, mereka memberitahu ku beberapa jam sebelum mereka berangkat" jelas El menjeda ucapannya.


"Yang kedua, aku juga sudah memilih untuk tinggal di ruamh ku sendiri. Namun aku tidak bisa menolak permintaan kedua orang tua ku. Jika saja aku tetap memaksa untuk tidak mengikuti keinginan mereka, sudah dipastikan mereka tidak akan jadi berangkat. Dan aku tahu, pekerjaan ini sangat penting untuk kemajuan Meinhard Comp" jelas El.


"Jika memang, kamu tidak suka aku berada disini, aku bisa pergi. Namun, gunakan kata kata yang sopan untuk berbicara pada orang yang lebih dewasa umurnya dari mu".


"Saya sudah tidak lapar, terimakasih atas jamuan dan tempat tinggalnya tuan dan nyonga Levent. Maaf jika ada kata kata saya yang menyinggung perasaan kalian. Saya permisi" ucap El kemudian beranjak dari sana mendorong kursi rodanya.


Rafael hendak mengejarnya namun tanganyan ditahan oleh Clarry.


"Sudahlah kak, dia memabg seharusnya tidak berada disini" ucap Clarry. Rafael menatap tajam mata Clarry kemudian menghempaskan tangan Clarry dari tanganya.


***


El menghela nafasnya saat ia sudah agak menjauh dari meja makan. Sebenarnya ia malu karena sudah menghancurkan acara makan pagi keluarga Rafael.


"Sabar" gumam El. Sejenak ia berhenti karena terlalu lelah untuk mendorong kursi rodanya.


Saat ia sudah cukup dengan istirahatnya, ia hendak kembali mendorong kursi rodanya namun terasa sangat berat.


"Ini kenapa jadi berat banget sih" gerutu El.


"Perasaan aku gak gendut gendut amat deh" ucap El.


"Aku yang menahannya" ucap seseorang di belakang El. El sendiri hanya menghela nafas dan memutar bola matanya. Bertambahlah kesalnya pagi ini.


"Kenapa kamu menahanya kursi rodanya. Kan jadi berat" ucap El.


Rafael tidak menjawab pertanyaan El. Ia lebih memilih untuk membawa El dari sana.


"Tunggu hukuman mu karena sudah memutar bola matamu padaku" bisik Rafael.


tbc.


makasih dh smptn baca. sorry kl ad tipo ya.