
Gado-gado yang kumakan ini luar biasa enaknya. Randi juga kelihatan begitu menikmati. Dia sampai lupa menoleh kanan kiri. Matanya fokus ke piring, menikmati lezatnya setiap suapan nasi dan gado-gado. Sebentar saja, piring di hadapan kami sudah kosong. Air teh panas menyempurnakan nikmat yang kami peroleh saat ini.
"Enak, Bu. Gado-gadonya enak sekali." Spontan Randi memuji ibu warung. Ibu warung tersenyum.
"Itu karena ujang memang sedang lapar pisan."
"Iya kali ya, tapi beneran, Bu. Enak pisan." Aku jadi tertawa, mendengar Randi meniru kata-kata dan dialek ibu warung. Ibu warung ikut tertawa.
"Lalu tentang ibu Aisyah, Bagaimana, Bu?" Aku mencoba mengingatkan ibu warung bahwa penjelasannya belum selesai.
"Oh, iya. Ibu Aisyah ya. Beberapa tahun lalu betul Aisyah pernah tinggal di sini. Suaminya Pak Muji. Betul Pak Muji." Kami diam. Berusaha tidak menyela penjelasan ibu warung.
"Sayang Aisyah tidak lama di sini, hanya berapa tahun gitu. Dia ga mau dimadu, jadi memutuskan untuk bercerai dengan suaminya. Aisyah lalu meninggalkan rumahnya. Ibu tak tahu Aisyah pindahnya kemana."
"Setelah bercerai, Pak Muji menikah lagi, Bu?"
"Ya jelas. Kan makanya Aisyah bercerai juga, gara-gara Pak Muji mau menikah lagi, itu tuh, tergoda sama perempuan yang tinggalnya di ujung jalan ini. Siapa ya namanya, Ani kalau ga salah."
"Lalu, dimana dulu ibu Aisyah tinggal, Bu?"
"Rumah Aisyah waktu sama Pak Muji di sana tuh, 5 rumah dari sini, masih pinggir jalanan ini juga sih."
"Sekarang Pak Muji masih tinggal di sana, Bu?" Agak berdebar hati ini menanyakan itu. Bukan soal pertanyaannya. Tapi jawaban dari pertanyaanku. Aku sedikit khawatir dengan jawaban ibu warung atas pertanyaanku. Kalau ibu warung menjawab ya, Pak Muji ada di rumah itu misal, aku tak tahu harus bersikap bagaimana. Aku tidak yakin masih bisa menemui Pak Muji dengan hati netral. Karena kenyataannya aku membenci Pak Muji. Aku benci karena dia orang yang sudah berulangkali menyakiti hati ibuku. Daripada aku nanti meluapkan emosiku, mungkin lebih baik bila aku hanya melihat Pak Muji dari kejauhan saja. Yang penting aku sudah tahu, kenapa di KK kedua ada nama aku, ibu dan Pak Muji.
"Satu tahun lalu Pak Muji dan istrinya pindah sementara."
"Pindah sementara, maksudnya?" Randi yang dari tadi tak terlalu fokus menyimak, membetulkan posisi duduknya, menengok ke arahku. Jangankan Randi. Aku juga tidak mengerti apa maksud penjelasan ibu warung.
"Iya, sementara. Sambil menunggu bantuan dari desa dan masyarakat untuk membangun kembali rumahnya."
"Memangnya rumahnya kenapa, Bu?" Aku dan Randi makin tak mengerti.
"Rumahnya habis dilalap api, kebakaran, setahun lalu." Hampir bersamaan aku dan Randi menutup mulut, meredam teriakan kami sendiri. Kami betul-betul kaget dengan apa yang kami dengar.
"Kenapa, Bu. Kebakaran kenapa?" Aku sudah tak bisa lagi menyusun pertanyaan yang benar. Sudah jelas kebakaran, masih kutanya kenapa. Untung ibu warung mengerti maksud pertanyaanku.
"Kalau tidak salah, karena korsleting listrik"
"Kalau kalian mau melihat bekas kebakarannya boleh ko. deket ke sebelah sana. Rumah yang dibangun kembali juga sudah mulai." Ibu warung menunjukkan arah.
"Iya bu, kami nanti mau melihat."
"Lalu sekarang Pak Muji dan istrinya tinggal di mana, Bu?"
"Sementara mereka tinggal di rumah kontrakan , sambil menunggu proses pembangunan rumah mereka kembali dengan bantuan dana desa dan partisipasi masyarakat sekitar."
Kami mencoba melihat lokasi rumah Pak Muji. Betul saja. Masih sejajar dengan rumah ibu warung. Reruntuhan bekas kebakaran masih nampak berantakan. Tapi bangunan rumah baru sudah kelihatan. Ada 2 orang pekerja yang sedang membangun kembali rumah Pak Muji.
"Bagaimana sekarang kita, Wil?"
"Ga tahu Ran. Aku juga bingung. Waktu kita di sini hanya sampai besok siang. Bagaimana cara kita bertemu dengan Pak Muji?"
"Coba kita tanya orang yang kerja itu Wil, siapa tahu mereka hapal rumah kontrakan Pak Muji dimana." Betul juga apa yang dikatakan Randi. Kami bergegas mendekati dua orang yang sedang bekerja membangun rumah Pak Muji.
"Agak jauh dari sini, Jang. Kalau ujang mau menunggu, satu jam lagi amang selesai kerjanya. Nanti amang antar ke rumah kontrakan Pak Muji." Alhamdulillah, baik sekali amang ini. Kami tentu saja bersedia menunggu. Satu jam itu tak lama. Daripada kami harus mencari sendiri, belum tentu ketemu. Sambil menunggu Amang melanjutkan pekerjaan, Aku dan Randi membantu pekerjaan Amang sebisa kami. Walaupun amang tidak membolehkan, tapi kami memaksa. Kami membantu mengangkat ember kecil berisi adukan pasir semen. Kami bawa ke amang satu lagi, yang bertugas menembok.
Satu jam betul-betul cepat sekali. Saatnya Amang menghentikan pekerjaannya. Untuk diteruskan lagi besok.
"Ayo. Jalan kaki saja ya." Kami setuju. Berjalan beriringan dengan amang. Sepanjang perjalanan amang bercerita tentang kompaknya masyarakat di sini membantu Pak Muji. Bahkan bukan hanya Pak Muji. Siapapun anggota masyarakat di sini yang memerlukan bantuan. Masyarakat di sini pasti selalu siap membantu.
Kami sampai. Di depan kami berjajar rumah-rumah petak. Rumah Pak Muji ada di tengah-tengah. Nomor 15.
"Assalamu'alaikum, Teh. Ini ada yang cari Bapak." Amang mengetok pintu yang tertutup. Seseorang membukakan pintu.
"Wa'alaikum salam. Iya mang ada apa?"
"Ini teh. Ada yang mencari Pak Muji. Nah, Jang, ini Teh Ani istrinya Pak Muji." Amang memperkenalkan teteh yang membukakan pintu. Kami mengangguk. Teh Ani tersenyum.
"Bapaknya belum pulang, Dik. Masih di mesjid. Biasanya pulangnya nanti setelah isya." Aku dan Randi saling memandang. Tak percaya. Bagaimana mungkin, Pak Muji yang dimata kami jahat, sekarang sedang di mesjid. Pulangnyapun nanti setelah isya, hebat sekali. Padahal saat ini, adzan magribpun belum berkumandang.
"Saya permisi dulu ya teh." Amang pamit.
"Amang duluan tak apa-apa kan, Jang?" Amang pamit pada kami juga.
"Iya, Mang. tidak apa-apa. Kami hapal ko jalan pulangnya nanti." Amang pergi meninggalkan kami.
"Mau menunggu, Dik? atau bagaimana?"
"Kalau mau menunggu, silahkan duduk di dalam." Teh Ani menyuruh kami masuk. Kami berdiskusi sebentar. Randi mengingatkan aku, bahwa kami sudah berjanji untuk kembali ke mesjid sebelum magrib.
"Kalau pagi-pagi, Pak Muji ada, Teh?
"Bapak berangkat ke mesjid sebelum subuh. Lalu nanti sekitar jam 08.00 an pulang dulu, jam 11.00 an berangkat ke mesjid lagi." Wah, benar-benar kejutan. Sama sekali di luar dugaan kami. Pak Muji sekarang seorang hamba Allah yang sholeh.
"O kalau begitu kami besok saja ke sini lagi ya, Teh. Insyaa Allah jam 09.00 an."
"Ya sudah, nanti disampaikan ke bapak ya. Jam 09.00 an besok bapak menunggu kalian di sini."
Kami pamit, kembali menuju mesjid UPI. Sepanjang jalan aku dan Randi membicarakan tentang perubahan pada diri Pak Muji. Perlahan, kebencian di hatiku pada Pak Muji mulai berkurang. Bila seseorang yang kita hadapi adalah orang baik, maka tak ada alasan untuk membencinya. Semoga saja memang betul, seperti yang dikatakan Teh Ani. Pak Muji kini adalah orang yang rajin ke mesjid. Orang yang rajin ke mesjid, besar kemungkinan adalah orang baik.