
Dua malam aku dan Randi menginap di Puskesmas. Kasur yang dibawa Mang Jana kugelar di koridor Puskesmas. Nenek yang aku suruh tidur di kasur. Aku dan Randi gantian. Duduk di sebelah Bapak Nana dan duduk di lantai. Kalau badan sudah lelah, tidur sambil duduk menelungkup ke tempat tidur pasien pun ternyata bisa. Tapi memang tidak selelap kalau tidur di tempat normal seperti biasa. Bila pasien bergerak, apalagi kalau berkeluh kesah, kita mudah terbangun. Untuk memeriksa apa yang terjadi.
Selama di rawat, kondisi Bapak Nana terus membaik. Hari ini kata dokter, Bapak Nana sudah bisa pulang. Selanjutnya tinggal meneruskan meminum obat sampai habis. Juga beristirahat yang cukup. Aku sudah meminta Mang Jana untuk menjemput dengan membawa Si Putih. Jam sepuluh nanti Mang Jana menjemput.
"Usahakan makannya nasi yang agak lembek dulu ya, bubur atau nasi tim juga boleh. selama satu bulan dijaga dulu makannya seperti itu." Itu pesan dokter.
Kami berkemas. Siap-siap pulang. Mang Jana sudah datang. Opik ikut juga.
"Pik. Seperti biasa, bantu kakak terjemahkan obrolan Kakak dengan nenek." Mumpung ada Opik. Aku bisa mudah berkomunikasi dengan nenek.
"Siap, Kak." Opik antusias. Dia mendekati aku dan nenek.
"Nek, Gimana kalau nenek dan Bapak Jana pulangnya ke rumah Wil aja?" Aku mengusulkan.
"Ga usah, Cu. Nenek pulang ke rumah Nenek aja. Itu rumah kebanggaan Nenek dan anak Nenek. Di sana ada semua kenangan. Bersama Kakek. Bersama Ibu Minah." Aku hanya bisa diam. Tak ada yang salah dengan keputusan nenek. Aku bisa memahami.
Kami sudah siap pulang.
"Ayo, Nek. Hati-hati." Aku memapah nenek. Randi memapah Bapak Nana.
Seperti permintaan nenek, kami mengantar nenek pulang ke rumahnya.
"Untuk makan, sementara nenek tidak usah masak sendiri ya, Nek. Biar nanti tiap pagi dan sore dikirim. Nenek khusus menjaga Bapak Nana aja." Mang Jana yang menerjemahkan kali ini. Nenek mengangguk. Menyetujui usulanku.
Kami semua pamit, untuk kembali ke rumah kami. Saat masuk pintu gerbang, mataku tetap saja melirik dulu ke saung. Sudah jadi kebiasaan, tiap melewati gerbang, mata pasti melirik ke saung.
"Aduh, Wil."
"Kenapa, Ran?"
"Gimana nih kita, rasanya ko jadi banyak urusan ya." Benar kata Randi. Kami jadi dihadapkan pada beberapa urusan penting. pertama, besok harus menjemput anak-anak matahari. Kedua, antar makanan ke rumah nenek, pagi dan sore. Ketiga, Aku harus ke panti asuhan, menelusuri keberadaan kakakku. Keempat, aku dan Randi masih harus mencari keterangan lebih lanjut pada nenek. Siapa tahu masih ada harapan untuk menemukan siapa bapak kandungku. Kelima, Aku dan Randi harus kembali ke Cirebon dua hari lagi, karena liburan sekolah sudah berakhir.
Turun dari mobil, Aku dan Randi duduk-duduk di teras. Melanjutkan diskusi kami.
"Sepertinya kita harus bagi tugas nih, Wil. Gimana menurut kamu?"
"Iya, Ran. Betul. Ga akan selesai semua urusan kalau kita kesana kemari barengan terus."
"Gimana kalau untuk kirim makanan ke nenek, kita minta bantuan Opik dan Mang Jana?"
"Aku setuju, Ran."
"Lalu menjemput anak-anak matahari?"
"Sebentar. Aku chat Kak Agung dulu ya. Minta info perkembangan terkini." Randi setuju. Aku segera chat Kak Agung. Kebetulan Kak Agung sedang online.
Chatku langsung di balas Kak Agung. Kak Agung bilang, Anak-anak matahari sudah bisa dijemput besok pukul sepuluh pagi. bila memang aku dan Randi tidak memungkinkan untuk menjemput, Kak Agung dan kakak-kakak yang lain yang akan mengantar anak-anak menuju alamat rumahku.
"Tidak usah khawatir soal kendaraan yang akan mengantar kami, ada donatur dari kantor Dinas Sosial yang akan mengantar anak-anak sampai rumah kamu." Chat dari Kak Agung menenangkan hati aku dan Randi. Kami sepakat. Biar aku dan Randi bertugas menyiapkan segala sesuatunya di sini.
"Ran, berarti urusan menjemput anak-anak matahari beres. Kak Agung dan kakak-kakak yang lain yang akan menangani." Randi senang, dua urusan sudah tertangani.
"Gimana kalau kita ke panti dulu, Wil?"
"Oke, Semoga aku bisa bertemu kakakku."
"Aamiin. Ayo, kita berangkat sekarang aja. Kita pinjam motor Mang Jana." Aku menyetujui usulan Randi. Kulihat tadi Mang Jana masuk ke dalam rumah. Mang Jana dan Pak Samsudin sedang minum kopi di ruang makan.
Kami ijin pada Mang Jana untuk meminjam motornya.
"Mau kemana, Bos?"
"Mencoba ke panti asuhan, Mang. Siapa tau kakakku masih ada di sana." Mang Jana mengerti tentang keinginanku untuk menemukan kakak kandungku.
"Panti yang di Leuwi Goong kan? Bukan yang di Garut?" Aku mengangguk.
"Kata Nenek, di Jalan Raya Leuwi Goong."
"Hehe. Jalan Raya Leuwi Goong tuh Jalan yang di depan gerbang rumah kita, Bos." Mang Jana tertawa. Aku memang baru tau kalau jalan raya di depan gerbang rumah ini tuh jalan raya Leuwi Goong. Biasanya kalau menyebutkan lokasi rumah ini ku bilang di depan SMAN Leuwi Goong, itu saja. Tidak menyebutkan nama jalannya.
"Oh iya, Mang. Lalu untuk menuju panti, keluar gerbang belok kiri atau belok kanan, Mang?"
"Belok kanan. Kemudian lurus saja. Lokasi panti ada di pinggir jalan ini ko. Ada di sisi kiri. Ini kunci motornya." Aku menerima kunci motor dari Mang Jana. Tak menunda lagi, kami berangkat menuju panti.
"Wil. Kamu belajar dong naik motor, biar aku yang ajarin." Randi bicara sambil melajukan motor.
"Nantilah. Gampang. Kapan-kapan aku belajar."
"Yee, Ya jangan kapan-kapan. Sekarang-sekarang lah. Kalau sudah bisa kan enak, kesana kemari kita bisa gantian pakai motornya. Jangan aku melulu. Aku kan juga pengen duduk dibonceng sambil melihat-lihat pemandangan." Betul kata Randi. Aku sekarang memang bisa dengan leluasa menikmati udara bersih daerah pegunungan sambil melihat pemandangan yang indah. Gunung di kejauhan, sawah-sawah menghampar. Kebun-kebun dengan hijau daun-daun yang segar. Keindahan alam membuat pikiran jadi tenang.
"Iya-iya nanti aku belajar bawa motor."
"Belajar mengendarai motor, Wil. Bawa doang sih nanti cuma didorong jadinya, hahaha." Aku jadi ikut tertawa. Randi ada-ada saja.
"Ran, stop. Itu deh kayaknya." Randi menghentikan motor, tepat di depan sebuah rumah yang ada plang 'Panti Asuhan Anak'.
Ada seorang ibu dan anak kecil yang sedang duduk-duduk di teras rumah itu.
"Assalamu'alaikum Ibu."
"Wa'alaikum Salam." Ibu itu melihat ke arah kami.
"Mohon maaf mengganggu, Bu. Saya Wildan dan ini Randi. Saya ingin bertanya sesuatu pada Ibu. Boleh?"
"Oh iya silahkan duduk dulu, Nak." Kami duduk, di kursi kosong yang terletak di depan Ibu itu. Di teras rumah ini ada dua set kursi tamu.
"Mohon maaf sebelumnya ya, Bu. Saya ingin menanyakan tentang seorang anak kecil usia satu tahun lebih yang pernah dititipkan oleh seorang nenek beberapa tahun lalu. Seorang anak laki-laki. Kata nenek, nenek menyertakan kotak tusuk gigi bersamanya."
"Anak laki-laki satu tahun lebih? Kota tusuk gigi? Nenek?" Ibu itu mengulang kalimat-kalimatku. Beliau tampak mengingat-ingat. Tangan ibu itu memijit-mijit keningnya sendiri.