KK

KK
50. AMBLYOPIA



"Ayo, pada sarapan dulu semua. Di sini aja ya, gelar karpet, biar agak leluasa." Aku membantu Bu Nita menggelar karpet dan menata makanan di atasnya.


Setelah beres sarapan, aku dan Randi membawa Dian ke klinik pengobatan mata. Jarak klinik dengan rumah cukup dekat, kami naik gojek menuju klinik.


Karena masih pagi, Dian mendapat nomor antrian awal, nomer 3. Kami duduk menunggu.


Pemeriksaan pasien di klinik ini cukup detail sepertinya, meski Dian ada di antrian nomor 3, kami tetap harus menunggu agak lama. Sekitar satu jam.


"Dian." Terdengar panggilan untuk Dian. Aku dan Randi tadinya mau ikut mengantar, tapi kata petugas, yang mengantar cukup satu orang saja.


"Mau siapa nih yang masuk?" Randi bertanya.


"Terserah." Aku menyerahkan keputusan pada Randi. Akhirnya Randi memutuskan, dia saja yang mengantar. Aku duduk menunggu di kursi semula. Sekitar tiga puluh menitan Dian ada di ruang pemeriksaan. Lumayan khawatir juga sebenarnya hati ini, aku takut terjadi hal-hal yang berbahaya pada mata Dian.


Tampak Randi dan Dian keluar dari ruang pemeriksaan. Aku melihat wajah Randi, memastikan bahwa tidak terjadi hal yang serius. Randi mengerti, dia mengacungkan jempol, entah apa maksudnya. Aku tak menunda lagi. Setelah Randi mendekat, aku langsung bertanya.


"Apa kata dokter, Ran?" Randi menatapku.


"Amblyopia." Tentu saja aku tidak mengerti apa yang dibilang Randi. Tapi aku sabar menunggu Randi menjelaskan semuanya.


"Jadi kata dokter gini, terjadi penurunan penglihatan karena perkembangan visual yang abnormal pada mata Dian." Randi menjelaskan sambil nada suaranya menirukan seperti nada dokter saat menjelaskan.


"Terus, kenapa katanya, kok mata Dian bisa seperti itu?" Aku jadi penasaran, sekaligus heran.


"Amblyopia kata dokter memang sering terjadi pada anak usia dini. Ketika jalur saraf antara otak dan mata tidak terstimulasi dengan benar, otak lebih memilih mata yang lain." Waduh, sudah mulai bahasa kedokteran nih yang Randi katakan.


"Apa yang dokter bilang barusan, kamu ngerti nggak, Ran?" Randi terkekeh. Kepalanya menggeleng.


"Mmm... dasar ya! lagaknya... kayak yang iya ngerti." Randi lagi-lagi terkekeh.


"Terus, apa lagi kata dokter?" Aku bertanya pada Randi lagi. Meski tidak terlalu mengerti, tidak apa-apa lah mendengar ulang apa yang sudah Randi dengar dari dokter. Semoga saja jadi nambah ilmu.


"Gejala biasanya berupa mata juling, mata yang mungkin tidak terlihat bekerja sama, Kedua mata dapat terpengaruh. Itu yang aku dengar tadi."


"Lalu aku disuruh memperhatikan mata Dian. Coba kamu juga liat. Dian, coba sini." Dian mendekat.


"Coba Dian liat ke kakak." Dian menatapku. Betul saja, bila diperhatikan dengan lebih cermat, mata Dian sedikit juling. Hanya sedikit tapinya, sekilas tidak kelihatan.


Dalam hati aku jadi mengucap syukur. Bukan bersyukur karena mata Dian sakit, tapi bersyukur karena sakitnya mata Dian diketahui oleh aku dan Randi sekarang. Bila ditangani lebih awal, mungkin kesempatan untuk sembuhnya bisa lebih besar.


"Kata dokter bisa disembuhkan kan, Ran?"


" Insyaa Allah bisa, tapi kembali lagi, yang menyembuhkan itu Allah. Manusia hanya bisa berikhtiar. Begitu kata dokter." Untungnya Randi sedang serius sekarang. Jadi semua yang dokter katakan bisa direkam dengan baik oleh memori di kepalanya. Biasanya Randi gagal fokus. Dia agak cuek orangnya, tapi kali ini dia betul-betul sedang serius.


"Lalu ikhtiar medis untuk Dian apa dong?"


"Penanganan bisa berupa penggunaan penutup mata, tetes mata, kacamata atau lensa kontak, dan terkadang operasi. Itu beberapa alternatif ikhtiar yang bisa dilakukan."


"Operasi sih jangan dulu ya, Ran. Kasihan Dian, masih kecil soalnya. Kecuali kalau memang tidak ada pilihan lain selain operasi."


"Untuk Dian sih, masih bisa dilakukan upaya penyembuhan tanpa operasi."


"Alhamdulillah. Lalu?"


"Kata aku sih, kita coba pake kacamata aja kali ya. Kalau menurut kamu sih, Wil?"


"Oke-oke ajalah aku sih. Yang penting ada yang kita lakukan sebagai upaya untuk memyembuhkan. Tapi kalau bisa upayanya sesuai petunjuk ahlinya." Aku dan Randi sepakat. ikhtiar awal untuk Dian yaitu memakai kacamata.


"Kapan kita harus kesini lagi, Ran?"


"Waduh. Lusa berarti hari senin dong ya? Gimana ngaturnya kita, Ran? Kita harus sekolah, harus mengantar Dian, juga harus mengantar Bapak Nana." Randi garuk-garuk kepala. Aku sendiri lumayan harus berpikir. Dian sabar menunggu sambil tetap duduk di sebelahku.


"Coba tanya, Ran. Jadwal kunjungan, kalau sore bisa nggak?"


"Oke." Randi berjalan menuju bagian pendaftaran, untuk meminta informasi. tak lama kemudian Randi kembali lagi.


"Bisa, Wil. Senin sore jam 16.00-19.00 dengan dokter yang sama."


"Sip. Tinggal mencari informasi jadwal kunjungan untuk Bapak Nana berarti." Kami sedikit tenang. Setidaknya masalah mengantar Dian sudah tertangani.


"Ya sudah. Ayo kita ke apotiknya." Kami berjalan menuju apotik klinik, yang letaknya masih di dalam gedung klinik. Kebetulan antrian di apotik tidak banyak, jadi hanya beberapa menit saja, kami sudah terima obatnya.


Obat yang diberikan dokter baru obat tetes mata saja. Diteteskan dua kali sehari.


Pulang dari klinik mata, Randi kembali memesan dua gojek. Satu untuk aku dan Dian, satu lagi untuk Randi. Hanya sepuluh menitan, kami sudah sampai rumah lagi. Kulihat ibu Nita sedang duduk santai di teras rumah. Kami mengucapkan salam,


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum Salam." Jawab Bu Nita.


"Sendiri, Bu?" Aku berbasa basi.


"Iya, bapak pulangnya nanti agak siangan. Nenek sedang di kamar, Pak Nana juga." Bu Nita menjelaskan alasan kesendiriannya.


"Gimana hasil diagnosa dokter untuk Dian?" Ibu Nita langsung bertanya tentang kondisi Dian. Randi menjelaskan secara rinci, tak ada yang terlewat sama sekali.


"Syukurlah kalau begitu. Tinggal jalani pengobatan sesuai petunjuk dokter."


"Iya, Bu."


"Ayo masuk, barangkali mau makan, makanan sudah siap di meja."


"Baik, Bu. Kami masuk dulu ya, Bu. Makannya nanti aja barengan lagi seperti tadi pagi." Aku dan Dian pamit. Randi masih duduk-duduk menemani ibu, sambil buka-buka HP.


Tak lupa aku menyuruh Dian cuci tangan dan cuci muka sebelum masuk kamar, minimal tangan jadi bersih.


"Ayo sini, kakak teteskan obat matanya. Kamu tiduran dulu." Dian menurut.


"Coba, matanya dibuka ya, nggak perih kok, malah nanti jadi enakan matanya, jadi bersih." Aku berlagak sok tahu. Padahal aku sendiri tidak tahu fungsi obat tetes itu untuk mata Dian. Aku hanya mengira-ngira saja.


***


Sore hari, Pak Daud sudah ada di rumah. Kami duduk-duduk santai di teras rumah. Ibu Nita, Pak Daud, aku, Randi, dan Dian. Nenek dan Bapak Nana tadi kembali ke kamar setelah beres makan siang. Kata nenek, nenek berusaha membuat Bapak Nana betah di dalam kamar. Karena kalau keluar, nenek khawatir Bapak Nana pergi dari rumah Ibu Nita. Di Garut sudah terbiasa Bapak Nana suka jalan-jalan sendiri. Tapi kalau di Garut, nenek sudah hafal kemana mencari Bapak Nana. Kalau di sini, nanti jadi merepotkan semua. Begitu kata nenek.


Sedang asyik-asyiknya kami membahas tentang kondisi mata Dian. Tiba-tiba kami mendengar suara gaduh di kamar nenek. Aku dan Randi mendekat, Kami dengar Bapak Nana berteriak-teriak minta pintu kamar dibuka. Pintu kamar memang sengaja ditutup dan dikunci oleh nenek dari dalam.


"Dor, dor, dor," Bapak Nana berteriak sambil menggedor-gedor pintu. Sepertinya nenek kewalahan mengendalikan Bapak Nana.


'Bersambung ya, para pembaca yang baik. Besok Insyaa Allah sambungannya. Jangan lupa like dan dukungannya selalu. Terimakasih.'


Kali ini novel asyik karya sesama Author yang aku rekomendasikan berjudul 'Kugoda lagi suamiku.' Simak yuk!



Ana seorang ibu rumah tangga dengan 2 anak yang tidak pernah memperhatikan penampilannya, hingga suaminya berpaling pada wanita lain. Ana berusaha menggoda lagi suaminya agar kembali ke pelukannya. Apakah godaan Ana berhasil? Akankah Prasetya, suami Ana, akan tergoda?


Let's check this out!!