
"Nyonya..."
Hanya sedikit tepukan pelan di bahu Bellena, ia pun membuka mata. Letupan api terdengar menenangkan batin yang berasal dari rentetan obor di setiap dinding depan rumah-rumah penduduk. Di sampingnya telah berdiri si bapak tua yang berbaik hati mengantarnya pulang tanpa dipungut biaya sepeser pun. Meski tak sampai dirinya tiba tepat di alamat rumahnya.
"Maaf, Nyonya. Aku tidak tahu dimana rumahmu, jadi kuberhentikan kereta di rumahku."
Bellena tersenyum dan menjawab bahwa tidak ada masalah kalau dirinya harus kembali ke rumah dengan berjalan kaki. Sepertinya tidak terlalu jauh pula.
"Atau kau mau kuantar pulang? Hari sudah gelap. Aku tidak yakin jalanan desa aman untuk dilalui wanita di malam hari. Konon banyak bandit berkeliaran di gang-gang yang suka..."
"Tidak, aku sudah biasa lewat sana."
"Baiklah. Kalau kau mau, aku ada troli. Barangkali barang bawaanmu terlalu berat."
"Oh, aku sangat berterima kasih."
"Sebentar. Aku ambilkan."
Pria tua itu lantas masuk ke dalam rumah kayunya. Tinggalah Bellena sendiri di luar. Di tepi jalan yang sepi. Hanya ada katak yang berkecipak mengarungi selokan atau jangkrik yang berusaha mengorek tanah. Wanita itu merekatkan tangannya di depan dada seiring angin malam menerpa tubuhnya sampai nyaris menggigil.
Bagaimana keadaan Vasco sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Sudahkah dia makan? Terlalu banyak pertanyaan yang berputar di kepala. Terlebih kekhawatiran karena Bellena belum pernah menghukum Vasco sebelumnya. Seharusnya Bellena tidak melakukan semua itu. Dia menyesali perbuatannya dan semoga Vasco demikian menyesalnya atas kelakuan nakalnya yang telah melampaui batas.
Duk... duk...
Mendadak kesunyian terbalaskan keganjilan. Suara itu mengalihkan perhatian Bellena yang semula hanya memikirkan keadaan rumah, rumah, dan rumah.
Duk...
Ia makin menajamkan pendengarannya. Tetapi, tak lama setelah itu sunyi senyap.
"..."
Bellena sedikit lega kalau itu bukan apa-apa. Namun, suara lain memecah kecurigaannya barusan. Roda-roda troli bergetar saat bergulir di atas tanah yang tidak rata. Dia sontak memutar tubuh dan mendapati si bapak tua sedang bersusah payah mendorong trolinya.
"Biar kubantu."
"Ini untukmu, Nyonya."
"Oh, tidak... tidak... Anda pasti akan membutuhkannya lagi di kemudian hari. Besok aku akan segera mengembalikannya."
"Tidak, Nyonya. Aku bisa membeli troli yang baru. Lagi pula troli milikku ini sudah jarang sekali digunakan."
"Baik, terima kasih," ucapnya gugup sambil mengangkat satu kotak ikan miliknya dari kereta kuda.
"Tidak masalah. Berhati-hatilah di jalan, Nyonya."
Bellena menganggukkan kepala, lalu mendorong trolinya ke sebuah gang dimana jalan itu yang paling dihafal. Dengan bergegas ia melangkah. Bellena tahu dirinya amat pemberani saat malam kemarin sebab tak sedikit pun dirinya memperhatikan sekitar saking gusarnya menghadapi si Vasco kecil. Berbeda dengan malam ini yang agaknya mencekam. Padahal sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Obor meletup-letup hangat di pagar atau dinding rumah. Sementara itu, suara ketukan kembali meresahkannya. Membuat Bellena terpaksa berhenti.
Duk...
Ia mengerti sekarang. Asal suara tersebut tidak lain dari kotak ikan yang dibawanya. Sebetulnya Bellena ragu untuk membuka, tetapi gangguannya membuat jengkel karena seringnya. Terlebih selain ketukan itu, muncul pula rengekan kecil yang berlangsung singkat. Bellena pun memantapkan kehendaknya. Tangannya menjulur ke tuas pembuka kotak.
"Bellena?"
Pria itu mengusap belakang kepala yang rambutnya berangsur meranggas akibat usia. Rautnya tampak bahwa ia merasa bersalah atas kehadirannya yang membuat Bellena terkejut seperti baru saja bertemu sosok hantu.
"K-kau belum juga pulang?"
Bellena menggeleng cepat dan berkata, "Aku lupa memberi tahu kusirnya dimana rumahku, sedangkan aku sendiri keburu tertidur di atas kendaraannya sampai tiba di sini." Matanya lantas menyelidiki Bill dari mata sampai kaki dan seterusnya ia menambahkan, "Dan kau?"
"Ah, aku baru saja menonton pertandingan gulat dadakan."
'Gulat dadakan' menjadi titik perhatian Bellena. Ia berkerut dahi sebelum kemudian membalas, "Siapa yang berkelahi?"
"Oh... itu," kata Bill berusaha mengingat, "Edward. Pria itu bertengkar dengan tetangganya."
Sebenarnya Bellena tidak tahu siapa itu Edward. Tidak peduli juga dengan orang itu. Tetapi kemudian ia mencoba agar tidak membuat percakapannya berhenti begitu saja dengan kata 'oh' atau membuat si lawan bicara akhirnya kecewa dengan respon singkatnya.
"Apa sebabnya?"
"Aku kurang tahu perkara itu. Tahu-tahu sudah banyak orang yang mengerubungi keduanya. Dasar, ya? Mereka itu seperti anak kecil. Tapi sudah dilerai, tenang saja," jelas Bill dengan takut-takut kalau Bellena mengkhawatirkan hal itu.
"Bagus kalau begitu. Aku duluan," kata Bellena mengakhiri sambil tangannya melambai.
Bill mengangguk, lalu menyeret kakinya yang sudah terlalu letih untuk meninggalkan tempat semula ia berhenti. Begitu juga Bellena. Rautnya menjadi tenang lagi dan lupa akan tanda tanya yang mengetuk kotak kayu yang dibawa.
***
Tak ada yang lebih menyenangkan selain belayar. Baru sehari absen dari kegaiatannya, Vasco sudah jemu. Berada di rumah seharian tanpa melakukan apa pun rasanya hampa. Tanpa teman atau saudara, karena dia sendiri merupakan anak tunggal. Vasco sudah menjajal mengerjakan tugas-tugas rumah sebagaimana seorang ibu yang melakukannya. Membereskan rumah, mencuci baju kotornya sendiri dan juga piring-piring yang semula dibiarkan menumpuk.
Namun, setelah itu kosong. Waktunya terbuang tanpa sesuatu yang perlu dilakukan. Lagi pula Vasco dikurung di dalam rumah. Seandainya pintu terbuka lebar baginya, maka ia akan pergi bermain. Ya, lagi-lagi sendiri. Siapa juga yang mau berteman dengan anak pembunuh?
Tak terhitung seberapa banyak Vasco mendesah dan seberapa lama ia duduk membungkuk di tepi tempat tidurnya sembari memilin spreinya.
Namun tak berselang lama, punggungnya menegak saat derik pintu kayu terdengar. Vasco yakin bahwa Bellena sudah pulang. Tetapi ia tidak terlalu peduli, karena mungkin wanita itu akan segera mengomel panjang untuk kesekiankalinya.
"Vasco?" Panggilan itu yang sebetulnya Vasco khawatirnya kepergiannya seharian ini. Ia sangat takut pagi tadi kalau suara itu tidak dapat terdengar lagi di rumah ini.
Bellena menyisir seluruh ruangan sampai ia mendapatkan apa yang ia cari. Vasco duduk di lantai kamar dan memunggunginya.
"Vasco..."
Bocah delapan tahun itu menoleh sebentar. Dari air mukanya saja sudah membuat Bellena harus menyalahkan dirinya. Dia tidak terbiasa dengan perlakuan ini. Tidak pernah dalam benaknya untuk menghukum Vasco dalam rumah dan menguncinya. Tetapi, lebih tidak tega lagi kalau putranya mendekam di dalam sel.
"Ibu minta maaf, Vasco. Tetapi, begitulah." Bellena bersedekap dan membuang napas yang sempat tertahan. "Besok kau tetap tinggal di rumah. Ibu masih khawatir keberadaanmu di sekitar orang-orang. Setidaknya lima hari akan membuatmu sadar akan kesalahanmu."
Di depannya, Vasco masih merenung. Rona mukanya kian redup setelah mendengar pernyataan bahwa hukumannya akan berlangsung lima hari. Seharusnya ia bersyukur. Sayangnya, tak pernah diketahuinya bahwa orang tua lain sanggup mengurung anaknya hingga dua minggu atau lebih.
Akibat tak mendapat respon apa pun, Bellena lalu memutuskan untuk keluar dari kamar. Kemudian, melihat betapa Vasco tidak membiarkan rumah ini tak terurus saat ia keluar. Semua tampak beres.
Tiba-tiba ketukan kayu terdengar lagi dan lebih keras disertai rengekan panjang seperti tangisan bayi. Sontak Bellena teringat pada hal yang sempat membuatnya kacau sendiri. Ia berlari menuju kotak yang baru diangkut ke dalam. Vasco yang juga mendengar, turut beranjak. Akan tetapi, langkahnya terhenti di depan pintu kamarnya. Melihat bagaimana dan apa yang Bellena temukan di dalam kotak ikan tersebut.
***