KK

KK
3



Laut laksana kaca di bawah teriknya sang surya. Berkilauan terpapar cahaya. Memperjelas pemandangan yang terhampar di bawah kapal. Sementara Bill beristirahat di atas geladak, Vasco menyandarkan dadanya di pinggiran kapal dan menopangkan kedua tangannya di sana. Matanya mengikuti gelombang yang bergerak seiring angin membawanya ke bibir pantai. Menyapu butiran pasir dan mengembalikannya dalam keadaan basah.


Rambut cokelatnya melambai-lambai kepada para ikan yang sedang penasaran dengan terpasangnya jaring di dalam air. Sedetik kemudian, Bill mengintip dari balik kelopak mata dan memejamkannya lagi.


"Jangan terlalu dipikir."


"Apakah ayah sekejam itu? Apakah ayah sejahat itu? Apakah ayah semenyeramkan itu?"


"Kau terlalu banyak pertanyaan, Nak."


"Aku tidak yakin ayah baik-baik saja."


"Kau menghampirinya lagi?" Kali ini Bill membuka mata untuk sekadar melirik punggung Vasco.


"Tidak. Katanya, ayah akan baik-baik saja kalau aku pulang dari sana."


"Nah, kau baru saja mengatakan itu."


"Mengatakan apa?" tanya Vasco, memutar tubuh sampai mereka berhadapan.


"Ayahmu akan baik-baik saja."


"Entahlah."


Vasco kembali melihat lusinan ikan yang mulai masuk ke dalam perangkap. Sembari tangannya melempar serpihan kayu dari pinggiran kapal yang telah uzur.


"Paman Bill?"


"Hm?"


"Apa yang akan paman lakukan kalau seandainya Paman memiliki putra sepertiku dan anak itu tidak yakin bahwa Paman baik-baik saja?"


Bill bergidik. Ia sedikit merasa geli saat mendengar pertanyaan itu. Agak jengkel, karena sampai kini ia masih membujang. Sama seperti mendiang Cornelis I dahulu.


"Bagaimana aku harus menjawabnya?"


"Aku bertanya, Paman Bill."


"Baiklah," jawabnya sambil berpikir. "Mungkin Paman akan berkata bahwa aku akan membelikanmu gulali dan selama kau memakannya, aku akan baik-baik saja."


"Ngomong-ngomong aku jadi ingin gulali."


Lagi-lagi Bill bergidik disertai gelak tawa.


"Kalau pendapatan kita hari ini lumayan banyak, Paman akan membelikanmu gulali."


Bocah delapan tahun itu menoleh seraya tersenyum gembira. Pipi gembilnya menjadi semerah apel.


***


"Terima kasih, Paman Bill!"


Terwujud pula keinginannya untuk membeli gulali. Tanpa mengindahkan sekelilingnya, ia menghisap gulali dengan ceria.


"Sekarang bawalah kantong ini. Bantu ibumu menjual ikan-ikan tersebut dan kau akan menjadi kapten sungguhan."


Vasco memberi hormat menggunakan tangan kirinya, sedangkan sebelah tangan lainnya masih menggenggam gagang permen. Belum Vasco sempat menarik kantong berisi ikan itu, Bill menahannya.


"Berjanjilah padaku bahwa kau akan baik-baik saja ketika ayahmu mengatakan bahwa ia baik-baik saja."


"Kalimatmu panjang sekali, Paman," sahut Vasco yang terdengar seperti mengecap benda di dalam mulutnya.


Bill mengacak-acak rambut anak itu sambil sedikit membungkuk untuk menyetarakan wajahnya.


"Asalkan kau paham dengan apa yang kukatakan barusan."


"Siap, laksanakan!" seru Vasco kembali memberi hormat dan kemudian pergi meninggalkan pria berjanggut itu bersama nelayan-nelayan lainnya.


Namun belum lama Vasco berjalan pulang, ia melihat satu objek yang membuatnya teringat pada satu kisah semalam. Sang putri sepertinya. Karena jika dilihat, gadis itu sama seperti yang ia temukan kemarin. Hanya saja kini tuan putri tengah menyendiri. Di tengah tanah lapang dia berjongkok sambil mengelus gundukan tanah dimana sebuah karangan bunga diletakkan begitu saja.


Seketika Rosalina mendongak kala kaki Vasco berpijak di dekatnya.


"Siapa kau?" tanya Rosalina yang akhirnya berdiri menghadap anak laki-laki yang berpakaian kumal itu.


"Apa maksudmu?"


"Kau Lady Rosalina?"


"Kau harus memanggilku dengan Yang Mulia Tuan Putri Lady Rosalina."


Vasco berdecak. "Apa bedanya?"


"Itu sebutan untuk kaum bangsawan."


"Haruskah?"


"Tentu saja," jawab sang putri sedikit angkuh. "Itu kewajiban, kata ayahku."


"Siapa ayahmu?"


"Yang Mulia Raja Cornelis d'Carruso."


"Oh, dia seorang raja?"


"Kau tidak boleh berkata seperti itu!" sergah Rosalina semakin mendekatkan wajah berangnya, sehingga helai-helai rambut pirang itu berjatuhan ke kulit wajah Vasco.


"Kenapa? Dia juga manusia. Sama sepertiku."


Gadis yang sebaya dengannya itu menggeram penuh amarah. Air mukanya merah padam, tetapi elok parasnya tak hilang.


"Oh... kau mulai berani rupanya." Sejenak Rosalina melihat ke arah kantong uang yang menggantung di pinggang Vasco. "Berikan uangmu untukku!"


"Tidak!!!"


"Arghh..."


Sang putri mengerang begitu mata pisau mengenai pergelangan tangannya. Tak selamanya seorang manusia berdarah biru akan selalu mengeluarkan warna birunya. Saat terluka pun cairan itu menjadi semerah api.


Vasco terkesiap dengan menyadari apa yang baru dilakukannya. Ini benar-benar spontanitas. Kebetulan saja pisau itu menggantung di dalam sarungnya dan berdampingan dengan kantong koinnya.


Selain tangan Rosalina menumpahkan darah, matanya juga menumpahkan air mata yang memilukan. Persis ketika ia melihat kulit tangannya yang robek. Gadis itu segera berlari ke kastil untuk mencari pertolongan dan pengaduan.


Di titik semula, Vasco menatap belati miliknya. Percikan darah mengenai sebagian tangannya. Seolah tahu siapa yang bersemayam di dalam tanah, dia mendadak gemetaran. Mengingat kisah itu seakan nyaris terulang dan menimpa dirinya.


***


Benar saja. Vasco sekarang harus terkurung dalam ruang jeruji tepat di sebelah milik sang ayah. Penjara keji yang tak pernah mengenal usia penghuninya.


"Sekarang ayah tidak merasa baik-baik saja," kata Jean Devisser sambil satu bahunya bersandar di dinding pembatas dimana Vasco juga melakukan hal yang sama.


"Maafkan Vasco, Ayah. Itu adalah sebuah kecelakaan."


"Jadi, kau masih menyebutnya kecelakaan setelah seorang prajurit menunjukkan bukti berupa belati di depan mata ayah?"


"Tapi Vasco tidak sengaja. Gadis itu hendak mengambil uangku dan aku-"


Bocah laki-laki tersebut tak mampu lagi berkata jujur. Toh, nantinya hanya akan menyalahkan dirinya sendiri. Tetapi, itulah bagaimana seharusnya ia berkaca pada tindakan buruknya.


"Ayah kecewa denganmu, Vasco. Kau semakin membebani ayah jika penjara ini terisi oleh anak sepertimu," kata Jean dilanjutkan dengan menghela nafas. "Kau anak baik-baik. Kenapa anak sepertimu harus ternodai dosa yang nantinya dipikul oleh kedua orang tuamu? Cukup ayah yang terlanjur melukai orang lain. Jangan ada lagi korban jiwa di tangan keluarga kita. Vasco hanya satu-satunya harta berharga yang sekarang ibumu miliki. Kau mau mengkhawatirkannya?"


"Ayah juga melakukan pembunuhan itu!" ujarnya kesal. "Vasco melakukan ini juga karena ayah! Vasco merasa ini tidak adil!"


"CUKUP, VASCO! Kau anak kecil, tidak tahu apa-apa tentang semua ini! Tak seharusnya kau ikut campur urusan kami!"


"Siapa yang berisik?!" protes nara pidana lainnya.


"DIAM!!!" bantah Jean yang seolah telah hilang kesadaran. Suara beratnya menggelegar dan menggetarkan.


Vasco yang mendengar sang ayah berbicara dengan penuh amarah di setiap intonasinya, meringkuk ketakutan sembari tak henti ia menangis. Bagitu juga Jean Devisser yang tak sanggup mengartikan benih air mata ini. Tak ada lagi kalimat untuk dapat berucap kasar kepada putranya setelah dia sendiri menyadari perkataannya yang mungkin telah menyayat hati si Vasco kecil.


"Maafkan ayah, Nak. Tidak seharusnya ayah kasar padamu."


***