KK

KK
23. KOTAK TUSUK GIGI



"Dimana, Wil?" Randi berbisik, menanyakan lokasi paling aman untuk bersembunyi. Aku memperhatikan sekeliling. Kulihat, area yang dilalui orang gila untuk bermain hanya sekitar halaman depan teras, sampai gerbang, sampai saung. Bolak balik sekitar itu terus. Tidak sampai menyelusuri pinggiran kolam yang berbatasan dengan jendela kamar depan.


"Di sana aja yuk, Ran." Aku menunjuk pot besar dekat kolam. Pot yang ditanami pohon agak besar juga. Nama pohonnya aku tidak tahu, Daunnya ada warna-warna merah di pucuknya. Menurutku di balik pohon itu kami bisa bersembunyi. Pot besar itu ada 4 buah diletakkan hampir berdekatan. Jadi rimbun daunnya cukup untuk menutupi badan kami bila berdiri di belakang pohon. Tidak akan terlihat bila dari posisi orang gila.


"Ayo." Randi setuju. Langsung bergerak menuju pot besar.


Orang gila itu bergerak lagi menuju area depan teras. Kali ini kotak kecil ada di kedua tangannya. Dia berputar-putar meliuk-liukkan kedua tangan naik dan turun. Mulutnya sekarang bersuara. Seperti menyuarakan suara mobil, sementara kotak dikedua tangannya meliuk-liuk bagai sebuah pesawat. Ah dasar orang gila. Gak nyambung. Pesawat ko suaranya sama dengan mobil.


Aku dan Randi fokus mengintip. Mataku berusaha tak berkedip saat posisi orang gila itu mendekat ke tempat persembunyian kami. Betul kata Randi tadi. Kini aku dapat melihat jelas. Kotak kecil yang dipegang orang gila itu sama dengan kotak tusuk gigi pemberian Ibu Aisyah. Ada debar hebat di hati ini. Berbagai kemungkinan muncul di kepalaku.


"Benar kan, Wil?" Randi memastikan dugaannya.


"Iya, Ran. Besar dan bentuknya sih mirip sekali. Warnanya juga mirip. Tapi kalau gambar dan tulisannya aku tidak tau. Tidak terlalu jelas."


Sedang asyik-asyiknya kami berperan sebagai detektif, ada suara teriakkan dari arah gerbang,


"Hei... Ujang, Kadieu... Hayu geus beurang. Geura balik." (Pen: Hai... Ujang(panggilan pada anak laki-laki). kesini... Ayo sudah siang. Pulang dulu). Seorang nenek datang dari arah gerbang. Mendekati orang gila yang sedang seru-serunya memainkan pesawat sambil tertawa-tawa. Orang gila itu tak memperhatikan si nenek. Dia tetap asyik dengan mainannya. Si nenek mendekat, memegang tangan orang gila itu.


"Wil, Wil..." Randi berbisik sambil memegang tanganku. Ada rasa khawatir dan takut dalam nada suara Randi. Aku cuma diam, hampir menahan nafas. Nenek itu lalu mengusap-usap kepala orang gila itu. Nenek itu pendek dan kurus, sementara orang gila tinggi dan kurus. Jadi kaki nenek harus berjingkat saat mengusap kepala orang gila itu.


Diperlakukan begitu oleh si nenek, orang gila itu jadi diam. Menunduk. Si nenek lalu menuntun orang gila itu ke arah pintu gerbang.


"Wil, ikuti yuk." Ide aneh Randi muncul seketika. Aku tak bisa berpikir banyak. Randi memaksa.


"Ayo." Randi menuntun tanganku, menuju arah gerbang, lalu belok kiri mengikuti arah langkah si nenek dan orang gila.


"Ran, kita pergi ga bilang sama Mak. Nanti Mak nyari."


"Ah. Ga apa-apa. Gampang itu." Mata Randi terus fokus pada langkah si nenek. Kami sudah berjalan melewati SMAN Leuwi Goong.


"Kamu tuh ya. Penakutnya kadang lebih dari aku."


"Iya, Ran. Tapi memang bener kan ini bukan wilayah kita, kalau sekitaran Cirebon aku masih berani." Mata Randi tetap lurus memperhatikan langkah si nenek di depan. Dia tak ingin kehilangan jejak. Si nenek terus menuntun orang gila. Orang gila itu tampak begitu penurut. Berbeda dengan ketika diusir oleh Mang Jana. Ada penolakan dulu. Ke nenek tidak, langsung menurut.


"Nih, Wil. Dengar. Orang gila itu aja hafal rumah kita. Masa kita yang normal, pemilik rumah pula, sampai ga hafal?" Randi hampir sambil terbahak mengatakan itu. Tawanya dia tahan sekuatnya. Tangannya sampai menutup mulutnya segala, tapi bahunya bergerak naik turun. Aku yang mendengar ucapan Randi jadi ingin tertawa juga. Randi, Randi... Bisa saja dia.


"Kamu tuh ya. Ada-ada saja." Randi menoleh ke arahku sebentar.


"Lah. Iya kan? Orang gila itu kan langganan bolak-balik ke rumah kita. Seolah rumah kita adalah rumahnya. Eh eh bentar, jangan-jangan pemilik rumah itu ada dua, Bos Acep sama Bos Gila. Hahaha." Akhirnya Randi tertawa juga, tapi mulutnya spontan dia tutup dengan tangannya. Aku ikut tertawa, tanganku ingin gelitiki pinggang Randi, tapi kutahan. Kami kembali fokus memperhatikan langkah si nenek.


Kali ini si nenek berbelok ke kiri, menyusuri sebuah gang kecil. Kami terus ikuti.


Sampai di ujung gang, si nenek belok kanan. Melalui rumah-rumah, lalu melalui kebun jagung, si nenek terus berjalan menuntun orang gila itu.


Tepat di sebuah rumah, sebenarnya tidak layak disebut rumah, itu gubuk. Gubuk yang dindingnya terbuat dari bilik kayu. Bilik kayunya sudah banyak yang berlubang. Gubuk itu kecil, paling berukuran 3 meter x 4 meter. Di depan gubuk ada halaman, tapi tidak luas. Di depan gubuk ada juga tempat duduk, bukan kursi. Sejenis dipan, terbuat dari kayu juga. Nenek itu duduk di situ, di dipan itu. Orang gila itu juga sama, duduk di sebelah nenek.


Aku dan Randi berhenti, menjaga jarak. Jarak kami dengan nenek mungkin sekitar sepuluh meteran. Kami duduk di akar pohon. Kebetulan di sana ada pohon agak besar.


"Yeuh Ujang. Geus ulah diinget-inget wae. Ikhlaskeun." (Pen: Nih Ujang. Sudah jangan diingat-ingat terus. Ikhlaskan). Si nenek bicara pada orang gila itu, cukup nyaring suara nenek ketika bicara, bisa jadi karena si nenek pendengarannya sudah sedikit terganggu. Sehingga nenek harus bersuara nyaring kalau berbicara. Orang gila itu diam sesaat, tapi kemudian menangis tersedu-sedu. Dari tangisnya, aku menduga bahwa orang gila itu merasakan penderitaan yang sangat dalam, di waktu yang lama.


Mendengar isak tangisnya yang cukup lama, aku dan Randi jadi ikut sedih. Apalagi melihat belaian si neneng pada orang gila itu, sepertinya si nenek paham betul akan penderitaan orang gila itu.


"Geus tong ceurik wae. Ayeuna tungguan heula sakeudeung nya, Mak rek nyokot dahar heula. engke dihuapan." (Pen: Sudah jangan nangis aja. Sekarang tunggu dulu sebentar ya, Mak mau ngambil makan dulu. Nanti disuapi). Si nenek masuk ke dalam gubuk, agak lama sebenarnya, tapi orang gila itu duduk saja. Tidak kemana-mana.


Beberapa saat kemudian, si nenek keluar, duduk lagi di dekat orang gila. Si nenek membawa piring berisi makanan. Si nenek kemudian menyuapi orang gila. Orang gila itu makan dengan begitu lahap dan semangat. Dia lalu berdiri. Si nenek kemudian masuk lagi ke dalam gubuk, lalu keluar lagi membawa sebuah kotak agak besar, mirip kotak sepatu. Orang gila kelihatan begitu senangnya melihat kotak yang dibawa nenek. Dia merebut kotak itu, lalu mengeluarkan isi kotak satu persatu.


"Wil, Lihat, Wil." Mata Randi terbelalak. Mataku juga. Orang gila itu mengeluarkan pesawat mainan dari dalam kotak besar. Satu, dua, tiga, empat, masih banyak sekali pesawat mainan yang dikeluarkan. Aku sudah dapat memastikan sekarang, pesawat mainan itu kotak tusuk gigi. Betul, kotak tusuk gigi. Kotak tusuk gigi warisan Ibu Aisyah.