
Wow! Anak-anak matahari. Kakak-kakak itu memanggil Opik dan kawan-kawan dengan sebutan anak-anak matahari. Keren sekali. Aku dan Randi makin penasaran. Kulihat kakak-kakak itu begitu bersemangat, memberi motivasi.
"Hari ini kita belajar tentang sholat ya, anak-anak. khususnya tentang gerakan sholat. Kalian simak dengan baik petunjuk yang Kak Agung sampaikan ya."Opik dan kawan-kawan fokus menyimak apa yang disampaikan Kakak yang namanya Kak Agung.
"Coba perhatikan, Kak Yanto akan memperagakan sholat dzuhur. Mulai dari awal sampai akhir." Seseorang yang dipanggil Kak Yanto, menggelar karpet plastik, lalu menghamparkan sajadah. sebelumnya Kak Agung memastikan arah kiblat dengan bantuan Handphone.
"Coba simak apa yang diperagakan Kak Yanto." Kak Agung menginstruksi. Kak Yanto berdiri tegak, menghadap kiblat. Lalu memperagakan awal sholat, takbiratul ihram. Tak seorangpun dari anak-anak itu yang bersuara. Semua memperhatikan dengan penuh konsentrasi.
"Nah anak-anak, itu awal sholat. Namanya takbiratul ihram."
"Sekarang ayo semuanya berdiri, ikuti gerakan Kak Yanto ya." Opik dan kawan-kawan berdiri, bersiap mengikuti gerakan yang dicontohkan Kak Yanto. Dua orang kakak perempuan, menggelar karpet plastik tambahan. Lalu memberikan empat mukena kecil untuk empat orang kawan Opik yang perempuan, dan membantu memakaikan mukena tersebut. Semua sudah siap. Kak Agung memberi petunjuk-petunjuk. Kakak yang perempuan membantu membetulkan gerakan sholat anak-anak yang masih belum tepat. Kak Yanto memandu gerakan demi gerakan dengan perlahan-lahan. Anak-anak antusias mengikuti arahan dan contoh yang diberikan.
"Wil. Hebat sekali ya kakak-kakak itu." Randi berdecak kagum, tatapan matanya masih lurus ke depan, melihat serunya anak-anak menirukan gerakan-gerakan sholat.
"Iya, Ran. Super hebat." Tatapanku pun tetap lurus ke depan, meski mulutku menanggapi komentar Randi. Aku dan Randi tak ingin melewatkan sedetikpun tontonan dahsyat yang disajikan anak-anak matahari. Mereka sangat luar biasa. Kegiatan belajar mengajar yang kami saksikan ini, betul-betul hebat. Sungguh jauh berbeda dengan kegiatan belajar mengajar yang aku alami di sekolahku. Aku dan teman-temanku seringkali tidak konsentrasi penuh saat belajar. Padahal di sekolahku, kami belajar di ruangan yang nyaman, tidak seperti di sini, mereka belajar di bawah pohon, angin berhembus, dingin, menusuk. Di sekolahku yang mengajar adalah guru-guru yang sudah sarjana, sementara di sini guru anak-anak matahari adalah kakak-kakak, yang usianya masih belia, belum bertitel apa-apa. Guru di sekolah kami sebagian digaji oleh pemerintah, sebagian yang lain digaji oleh penyelenggara sekolah. Sementara kakak-kakak di sini, jangankan digaji. Mereka bahkan harus mengeluarkan uang, untuk transfort, untuk membelikan mukena, karpet plastik atau alat-alat lain yang dibutuhkan dalam pembelajaran. Tapi di atas segala sesuatu yang serba darurat, anak-anak itu belajar dengan begitu semangat, antusias, penuh konsentrasi. Angin sore yang sudah mulai dingin, tak menyurutkan semangat mereka. Setiap contoh yang di berikan Kak Yanto, mereka ikuti dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati.
"Anak-anak, sementara cukup dulu belajar sholatnya ya. Sekarang kita lanjut belajar baca."
"Kak, Opik ijin tidak ikut ga apa-apa?" kudengar Opik mengajukan permintaan.
"Kak Wildan, Kak Randi menunggu. Kasihan." Opik beralasan. Dia menunjuk ke arah kami. Kak Agung menengok, memperhatikan kami, lalu melambaikan tangan. Memanggil kami. Aku dan Randi saling berpandangan, kami memenuhi panggilan Kak Agung.
"Siapa tadi namanya, Opik?" Kak Agung bertanya pada Opik. Aku tak menunggu Opik menjawab. Kami memperkenalkan diri.
"O ya, Kak Wildan, Kak Randi. perkenalkan, ini anak-anak matahari. Ada Opik, Mimbo, Heru, Jim, Kiki, Meida, dan yang lain. Ayo anak-anak, ucapkan salam pada Kak Randi dan Kak Wildan."
"Assalamu'alaikum Kakak." Serempak anak-anak itu mengucapkan salam. Kami menjawab salam mereka.
"Kak Wildan dan Kak Randi, mau kan ikut mengajari anak-anak baca?"Kak Agung meminta kami ikut membantu mengajari anak-anak. Kami setuju.
Kak Agung lalu mengatur formasi, agar setiap anak terlayani dengan maksimal. Mulailah aku dan Randi menjadi pengajar dadakan. Seru juga. Ternyata harus punya kesabaran ekstra mengajari anak-anak ini. Tadinya dikira mudah, tapi ternyata lumayan susah.
Proses belajar anak-anak matahari selesai, kurang lebih 30 menitan sebelum magrib. Kami kembali pulang ke warung abang. Sementara kakak-kakak pengajar kembali pulang ke tempat mereka masing-masing. Info dari Opik sih, dua orang dari kakak-kakak itu mondok di pesantren. Satu orang adalah anak kost, sekolah di Bandung tapi bukan orang Bandung. Satu lagi asli orang Bandung.
Menjelang magrib, warung abang tutup. Abang bilang, sengaja tidak buka sampai malam. Waktu malam digunakan untuk istirahat sambil mempersiapkan segala sesuatunya untuk jualan besok.
"Nanti setelah isya, kalian abang tinggal ya. Abang mau ke pasar dulu belanja keperluan besok." Abang memberitahu rutinitas malamnya.
"Oke, Bang. Nanti biar Wil yang cuci piring. Randi yang mengelap meja kursi."
"Kamu duduk-duduk saja, sambil cerita-cerita. Tugas Opik besok membantu abang melayani pembeli." Opik senang. Kamipun bersiap mandi, di toilet umum terminal Leuwi Panjang.
***
Waktu perpisahan tiba. Kami harus melanjutkan perjalanan. Kami harus meninggalkan Opik dan abang.
"Nanti Kakak ke sini lagi ya, Opik nunggu di sini."
"Iya, nanti kakak ke sini lagi nengok Opik." Buat Opik itu adalah janji kami. Tapi buat kami sendiri, itu sekedar kata-kata penghibur untuk Opik. Agar Opik tenang, tak nangis lagi. Kami pamit. Sengaja berangkat pagi-pagi. Sebagai antisipasi saja menghadapi berbagai kemungkinan di perjalanan nanti.
Karena kami termasuk penumpang pertama di bis, kami bebas memilih lokasi duduk, sesuai yang kami inginkan. Randi yang menentukan pilihan. Kami duduk di posisi tengah. Seperti biasa, Randi ingin duduk dekat jendela kaca bis.
Kami tidak menunggu lama, sebentar saja semua kursi di bis sudah di duduki penumpang. Bispun melaju. Randi sudah siap-siap akan melipat matanya.
Bis terus melaju, meninggalkan kota Bandung menuju Garut. Jalan yang kami lalui mulus, hampir tanpa hambatan. Arus kendaraanpun lancar.
Randi sudah terlelap dari tadi. Aku sendiri berusaha untuk tidak tidur. Aku ingin memikirkan rencana ke depan berikutnya. Sampai saat ini aku belum tahu apa yang akan aku lakukan di alamat KK yang ketiga.
Pemandangan di luar jalan tol ini demikian indah. Banyak pohon-pohon di kiri kanan jalan. Andai saja tidak ada bunyi chat masuk di hpku, aku akan tetap membiarkan mataku menikmati hijau daun-daun.
"Assalamu'alaikum, Wil. Gimana, sudah ada keputusan?" Chat dari ibu wali kelasku.
"Wa'alaikum Salam. Sebenarnya belum sih, Bu. Wil masih di perjalanan, untuk memastikan."
"Tapi, ga apa-apa, Bu. Di ijasah Wil nanti, tetap nama Pak Muji Setiyo saja yang ditulis. Sama dengan ijasah SD. KK yang ada nama Pak Muji nanti Wil serahkan ke ibu fotocopinya." Aku sudah memutuskan. Biarlah nama Pak Muji yang tertera di ijasahku nanti.
"Oh gitu. Ya sudah, itu lebih baik. Jadi kamu tidak repot lagi mengubah nama orang tua di ijasah sebelumnya. Tapi resiko kedepannya, kamu yang bertanggung jawab ya. Soalnya nama ortu di ijasah tetap tidak sama dengan yang ada di akte kelahiran."
"Iya, Bu. Wil siap bertanggung jawab." Biarlah nama Pak Muji aku abadikan di ijasah. Dan nama Pak Sugianto di abadikan di akte kelahiran. Aku tak akan menyesali nama keduanya tertera di lembaran-lembaran penting dalam kehidupanku. Keduanya orang-orang yang baik ko. Orang-orang yang pernah hadir dalam kehidupan masa kecilku dulu. Hp masih belum kututup ketika kudengar,
"Aduh, gimana ini."
"Sepertinya rusak mesin."
"Wah, terus gimana dong?" Suasana hening berganti dengan riuh komentar-komentar para penumpang. Laju bis tiba-tiba tersendat, Suara mesin bis demikian kasar dan berisik. Pak supir mengurangi kecepatan. Perlahan-lahan posisi bis di pindahkan ke lajur paling kiri. Feeling pak supir memang bisa diandalkan. 30 detik kemudian, mobil berhenti. Mesin mati. Mogok. Penumpang gaduh. Ada yang marah-marah, ada yang protes, ada yang berusaha berdzikir, ada juga suara anak kecil menjerit-jerit. Penumpang yang anteng hanya satu, Randi. Dia masih saja tidur. Mendengkur pula.