
"Ibu, Bapak, Teteh, Aa. Mohon maaf saya jadi merepotkan semua. Terimakasih ya." Tampak di sekelilingku wajah-wajah yang tersenyum. Aku menatap barang-barang yang aku beli ditambah pemberian mereka, semuanya ada empat kantong plastik besar.
"Gimana bawanya ini, Ran?" Randi juga sama bingungnya. Tapi dia punya ide.
"Kita pesan gojek aja ya?"
"Oke. Ide yang bagus tuh."
"Emangnya rumah kalian dimana?" Seorang penjual bertanya.
"Depan SMAN Leuwi Goong, Pa."
"Oh, deket atuh itu mah. Ayo bapak bantuin anter barangnya. Pake motor. Ayo, Ceng, ikut. Nanti kamu yang pegang barangnya." Bapak itu mengajak temannya.
"Ga usah, Pa. Kami malu merepotkan terus."
"Udah, ga apa-apa. Ayo, Ceng." Bapak itu membawa satu kantong. Temannya satu kantong. Randi dan aku menenteng masing-masing satu kantong. Kami pamit pada semuanya.
Motor kami dan motor bapak itu melaju beriringan. Tak lama kemudian kami sudah sampai. Pak Samsudin menunggu kami di teras.
"Loh, Pak Sam. Ini memangnya siapa?" Rupanya bapak tadi mengenal Pak Samsudin. Mereka bersalaman.
"Ini Bos Acep. Anaknya Bos Sugi."
"Wah pantas saja. Baiknya nya sama persis dengan Bos Sugi." Alhamdulillah. Mereka memuji kebaikan Bapak Sugianto.
"Ayo masuk dulu. Kita ngopi." bapak itu menolak. Alasannya karena kios mereka di pasar tidak ada yang jaga. Mereka harus segera kembali ke pasar. Aku dan Randi tidak lupa mengucapkan terimakasih.
"Kapan-kapan mampir kemari lagi ya, Pak."
"Iya, Bos. Besok lusa kami kemari lagi, sekalian ingin melihat serunya kegiatan anak-anak matahari." Masih ada rasa risi saat mendengar orang-orang memanggilku bos. Telinga ini masih saja agak merasa asing dengan panggilan itu.
Setelah bapak itu pamit, kami semua membawa belanjaan ke dalam. Opik berjingkrak-jingkrak kegirangan melihat belanjaanku yang banyak sekali.
"Ini semua untuk teman-teman Opik, Kak?"
"Iya dong."
"Banyak sekali, sampai pusing liatnya." Bisa saja Opik ini. Tangannya ia tempelkan di kening.
"Sebenarnya sih ga banyak. Kalau sudah dibagikan, setiap orang paling kebagian dua atau tiga. Orang yang harus dibagi kan banyak juga. Dua puluh orang kalau dengan Opik."
"Asyiiik. Opik kebagian juga, Kak?"
"Pasti dong, Opik paling utama. Opik malah boleh memilih sekarang. Ayo."
"Serius, Kak?"
"Iya lah. Masa ga serius. Ayo Opik pilih, kaos tiga, baju koko dua, celana dua, sarung satu, sejadah satu, peci satu, kaos kaki dua, sandal sepasang." Opik sibuk memilih warna dan corak yang dia suka. Aku dan Randi membagi-bagi untuk bagian 19 orang anak-anak matahari.
Tanpa terasa, adzan dzuhur berkumandang. Kami menghentikan dulu kegiatan kami. Semua berwudhu, untuk melaksanakan sholat dzuhur berjamaah di mushola rumah kami. Randi yang jadi imam. Karena Pak Samsudin tadi berangkat lagi ke Garut bersama Mang Jana, untuk menemui bos Garut terkait pembayaran hasil panen jagung.
"Iya, Mak. Mak sendiri belum makan juga kan? Ayo, Mak sekalian sekarang aja makan bareng, biar rame dan tambah nikmat." Aku memaksa Mak duduk di kursi makan. Kami kini duduk mengelilingi meja makan.
"Ga usah, Den. Mak nanti saja makannya kalau Aden semua sudah selesai makan. Mak sekarang mau beres-beres di dapur dulu."
Opik memegang tangan Mak agar tidak pergi.
"Tenang, Mak. nanti beres-beres di dapur dan cuci piring Opik yang kerjakan. Sekarang Mak makan ya. Suapin Opik juga. Hehe."
"Hmm... manjanya dateng dah. Kolokan ih dah gede juga." Randi mengolok-olok Opik. Opik tertawa.
"Kak Randi iri yaaa." Opik mendelik.
"Opik kan sayang sama Mak. Mak juga sayang sama Opik kan?" Opik mendekati Mak, lalu memeluk Mak. Mak tersenyum.
"Ayo duduk, sini Mak suapi." Mak lalu mengambil nasi dan lauk pauk. Mak makan dan menyuapi Opik juga. Bagiku, pemandangan di hadapanku ini begitu luar biasa. Opik begitu bahagia. Dia seolah menemukan kasih sayang seorang ibu pada diri Mak.
"O ya, Mak. Nanti setelah asar aku dan Randi mau mengantarkan makanan buat nenek. Bubur atau nasi tim. Makanannya nanti kami beli aja ya, Mak. Besok pagi baru minta tolong Mak masak."
"Itu udah ada. Mak tadi masak bubur juga. Kan Mang Jana tadi dah bilang. Gampang ko tinggal bikin pakai magic com aja. sayur sopnya juga sudah dipisahkan. Untuk yang sakit sayuran sopnya sengaja agak lama dimasaknya, biar wortel dan sayuran lainnya matang dan empuk. Tapi kalau untuk nenek nasi biasa dan lauk pauk ya, kasihan kalau harus ikut makan bubur." Mak ini baiknya luar biasa. Aku akan selalu do'akan Mak sehat juga bahagia. Kami semua betul-betul membutuhkan Mak.
***
Sesuai rencana. Setelah sholat asar kami bersiap mengantar makanan untuk nenek dan Bapak Nana. Opik ribut ingin ikut juga. Opik bahkan sengaja bantuin Mak beres-beres dapur dan cuci piringnya tadi setelah makan. Kata Opik, biar sore tinggal jalan-jalan sambil menengok nenek.
Nenek dan Bapak Nana sedang duduk-duduk di dipan ketika kami sampai. Kulihat Bapak Nana sedang sibuk menata pesawat kotaknya di dipan. Nenek duduk di tengah dipan, sementara Bapak Nana bergerak ke kiri dan ke kanan menyimpan pesawat kotak mengelilingi badan nenek. Setelah semua pesawat kotak memenuhi semua area dipan, Bapak Nana berdiri. Memandang nenek, kemudian bertepuk tangan sambil tertawa begitu renyah. Badan Bapak Nanak bergoyang ke kiri dan ke kanan. Lalu meloncat-loncat bagai anak kecil yang kegirangan melihat sesuatu yang diinginkannya. Bapak Nana lalu mendekati nenek, memegang tangan nenek dan menyuruh nenek menirukan gerakannya. Menggoyangkan badan ke kiri dan ke kanan. Nenek menurut. Dalam posisi duduk, badan nenek bergoyang ke kiri dan ke kanan. Terus bergoyang ke kiri dan ke kanan. Seolah nenek sedang naik pesawat. Di pikiran Bapak Nana, mungkin naik pesawat itu gerakannya seperti yang diperagakan nenek. Bapak Nana kembali meloncat-loncat sambil bertepuk tangan. Sesekali Bapak Nana tertawa riang. Badannya bergoyang dan meloncat, bergantian.
"Assalamu'alaikum, Nek." Nenek menengok ke arah kami.
"Wa'alaikum salam, Cu. Hayu kadieu. Ieu Si Ujang ngajak ulin. Sono meureunan sababaraha poe teu ulinan eta." (Pen: Wa'alaikum salam, Cu. Ayo ke sini. Ini Si Ujang ngajak main. Rindu sepertinya beberapa hari tidak mainan itu) Nenek menunjuk pesawat kotak yang berjajar mengelilinginya. Aku betul-betul kagum pada nenek. Ia begitu sabar mengasuh dan melayani Bapak Nana.
"Ini, Nek makanan buat Nenek dan Bapak." Badan Bapak Nana berhenti bergoyang. Ia melihat makanan yang kami bawa.
"Uh... uh. Am am am." Bapak Nana memandang nenek, tangannya memperagakan gerakan makan. Nenek mengerti. Makanan yang kami bawa dibuka. Bubur untuk Bapak Nana dicampur sop.
"Kadieu. Diuk di dieu."(Pen: Kemari. Duduk di sini) Bapak Nana mendekati nenek. Suapan demi suapan masuk ke mulut Bapak Nana. Aku senang melihat Bapak Nana sudah semangat lagi untuk makan. Wajahnya juga sudah kelihatan segar.
"Pik, biasa ya, terjemahkan." Aku berbisik di telinga Opik. Opik mengacungkan jempol.
"Nek, Kalau aku bertanya tentang ibu sekarang, Bapak Nana akan sedih ga ya, Nek?" Nenek menoleh ke arahku. Lalu menggeleng.
"Si Ujang kalau lagi asyik makan, biasanya tidak terlalu perduli sekeliling, Cu." Berarti ada kesempatan untuk aku bertanya soal ibu.
"Dulu ibu suka duduk-duduk di dipan ini, Nek?"
"Suka, Cu. Bahkan hampir tiap sore Si Ujang dan Ibu Minah duduk di dipan ini. Mengobrol, bercerita ini itu."
"Waktu Ibu sakit, lalu meninggal, di rumah ini juga kan ya?" Aku menghela nafas panjang. Harus kuakui, butuh kekuatan ekstra untuk menahan air mata agar tidak jatuh. Membicarakan tentang ibu, bagiku adalah sesuatu yang menyayat hati.
"Iya, Cu. Ibu Minah sakit di sini, meninggal juga di sini. Di rumah ini, di atas dipan ini." Aku harus berulang kali mengusap mataku. Air mata tak bisa diajak kompromi. Menetes membasahi pipi. Kulihat dipan yang penuh dengan pesawat kotak. Aku bisa membayangkan, sekian tahun lalu, tubuh seorang perempuan yang beberapa bulan sebelumnya berjuang melahirkanku, kemudian terbaring di sini. Sakit. Setelah beberapa lama berjuang melawan penyakitnya, beliau menghembuskan nafas terakhir diiringi tangis bayi dan jeritan pilu sosok tangguh yang teramat mencintainya.