
Aku menengok sekeliling. Jamaah sholat subuh ternyata hanya sedikit. Dua shafpun tidak penuh. Pantas bapaknya Randi pernah menasehati kami, agar bangun subuh. Lalu ikut sholat berjamaah subuh di mesjid sekitar rumah kami. Kata bapaknya Randi, supaya kami ikut memakmurkan mesjid. Sayang soalnya, mesjid besar, tapi jamaah sholatnya sedikit. Terutama jamaah sholat subuh. Padahal kata bapaknya Randi, ada keterangan yang menjelaskan bahwa sholat dua rakaat sebelum subuh itu lebih baik dari dunia dan seisinya. Bila kita sholat subuh di mesjid, kita akan bersemangat melaksanakan sholat sunat dua rakaat sebelum subuh. Karena para jamaah yang lainpun melakukan hal yang sama. Jadi seperti saling menyemangati begitu. Tapi ya, memang berat sekali untuk bangun subuh. Aku dan Randi saja, baru kali ini ikut berjamaah sholat subuh. Itupun karena kami malu sama Kang Ahmad. Masa kami menginap di sini, tapi kami ga ikut sholat berjamaah. Kan malu.
Selesai sholat berjamaah, seperti janji kami, kami membantu Pak marbot mengepel mesjid. Ada kenikmatan tersendiri yang aku rasakan, ketika badan ini lumayan berkeringat, gosok sana, gosok sini. Aku berusaha tidak mengeluh. Randi juga kulihat aman-aman saja, tidak terdengar keluhan. Kupikir, aku dan Randi baru sekali ini mengepel mesjid. Itupun hanya membantu sebisanya. Sebagian besar pekerjaan, Pak marbot yang mengerjakan. Jadi Pak marbot pasti lebih cape. Pak marbot yang lebih cape saja terlihat begitu bersemangat melaksanakan pekerjaannya. Masa kami harus mengeluh. Selain malu, tidak lucu juga. Kami yang menyepakati diri sendiri untuk siap membantu. Jadi kami harus laksanakan janji kami dengan penuh rasa tanggung jawab.
Tugas membantu membersihkan mesjid selesai. Kulihat hari sudah cukup terang. Aku dan Randi minta ijin pada Kang Ahmad untuk membersihkan diri di kamar mandi mesjid.
"Akang langsung ke kampus ya. Kapan-kapan, kalau kalian kemari lagi, mampir lagi ke sini. kalaupun DKMnya nanti sudah bukan akang lagi, ga apa-apa. Ceritakan saja bahwa kalian pernah di sini walau cuma semalam."
"Iya, Kang. Mohon do'anya ya, Kang. Kami nanti langsung pamit."
"Iya, semoga mudah dan lancar segala sesuatunya ya. O Ya, nanti pintunya ditutup saja ya. Pintu ruang ini tidak pernah dikunci, cukup ditutup saja."
"Iya, Kang. Terimakasih ya, Kang." Kang Ahmad pamit. Kami lalu bergegas ke kamar mandi.
Sekarang kami sudah siap. Badan sudah bersih, sudah segar. Tas ransel sudah siap pula kami gendong.
"Wil, sholat dhuha dulu ga?" Randi mengingatkan. Tinggal sementara di mesjid memang luar biasa. Aktifitas di dalam maupun di luar mesjid, selalu mengingatkan untuk hal-hal yang baik. Saat ini yang kami lihat, banyak sekali orang yang melaksanakan sholat dhuha. Bisa jadi mereka adalah para mahasiswa yang memang menjadikan mesjid sebagai tempat terbaik, untuk mengisi waktu jeda antar kuliah. Dengan pemandangan yang luar biasa ini, Seorang Randi saja, yang biasanya cuek masalah sholat sunat, kali ini malah dia yang mengingatkan aku.
"Iya dong, Ran. Sambil berdo'a ya, semoga urusan kita selanjutnya lancar." Kami melaksanakan dua rakaat sholat dhuha. Lalu memulai perjalanan hari ini. Menuju rumah kontrakan Pak Muji.
Kadang jadi merasa lucu sendiri. Dalam petualangan beberapa hari ini, kami berubah menjadi seorang petualang hebat. Hebat versi kami tentunya. Buktinya, seperti saat ini. Kemarin kami ke rumah Pak Muji dipandu Amang. Lumayan banyak belokan yang kami lalui. Sekarang, walau tidak dipandu Amang, kami tak perlu tanya-tanya lagi. Rute perjalanan kami hapal begitu saja.
Pintu rumah kontrakan Pak Muji kini sudah di depan kami. Aku menghela nafas sesaat, sebelum tangan bergerak mengetuk pintu.
Sebelum tanganku menyentuh daun pintu, pintu terbuka. Tentu saja aku dan Randi sedikit kaget.
"Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu. Pak, tamunya datang."Teh Ani berdiri di pintu. Tersenyum menyambut kami, lalu berteriak memanggil Pak Muji.
Aku panik. Rasanya belum siap untuk bertemu Pak Muji saat ini. Tadinya kukira, antara pintu kuketuk dan pintu dibuka akan ada waktu untuk aku meredakan dag dig dug di hati. Ini sama sekali diluar dugaan.
"Iya, Bu. Sebentar." Seseorang menjawab dari dalam. Aku memandang Randi. Randi mengisyaratkan sesuatu, yang sama seperti yang aku pikirkan. Rasanya kami mengenal suara ini, agak samar tapinya.
"Ayo masuk, Dik. Menunggunya di dalam saja." Teh Ani mempersilahkan kami masuk. Aku belum bisa meredakan debar hati ketika sampai di ruang tamu kecil rumah kontrakan Teh Ani. Belum juga kami duduk, seseorang datang dari arah dapur.
"Loh, loh. Kenapa jadi pada diam?" Teh Ani tak bisa menyembunyikan keheranannya.
"Ayo pada duduk semua, maaf ya, kursinya jelek." Bagai robot, kami menuruti perintah Teh Ani. Masih dengan diam.
"Saya Muji. Adik-adik ingin bertemu saya? Adik-adik ini siapa, dan ada keperluan apa?" Pak marbot terlihat penasaran. Aku belum bisa membuka suara. Ada keraguan di hati ini. Pikirku, cukup sudah Pak marbot mengenal kami seperti pertemuan di mesjid. Bila aku katakan yang sebenarnya, aku khawatir mengganggu kebaikan yang sampai saat ini sudah terjalin antara aku dan Pak marbot.
"Aku Randi, Pak. Dan ini Wildan, putranya ibu Aisyah." Tanpa kuduga Randi buka suara, langsung membuka identitasku. Aku menyesali ucapan Randi, tapi aku juga tak bisa menyalahkan Randi sepenuhnya. Lihat akibat ulah Randi. Mata Pak marbot terbelalak. bibirnya bergetar, Pak marbot mendekat ke arahku. Aku spontan berdiri. Pak marbot ada dihadapanku sekarang. Memegang bahuku, memelukku erat, sangat erat. Pak marbot menangis.
"Allahu Akbar, ini anak Aisyah, betul ini anak Aisyah?" Pak marbot melepaskan pelukannya, menatapku dengan mata basahnya. Memelukku kembali, begitu erat. Sampai kurasakan dadanya berguncang, nafasnya terengah, tangisnya masih belum reda.
"Maafkan bapak ya nak. Maafkan bapak." Pak marbot membisikkan itu di telingaku. Tanpa kusadari mataku juga basah. Aku jadi ingat ibu. 'Maafkan aku, Bu. Aku kini sedang dipeluk oleh orang yang selalu menyakiti ibu.'
"Sudah, sudah. Ayo duduk. Minum nak. Minum dulu. Ayo, Pak. Ini diminum dulu." Teh Ani berusaha menetralkan suasana, dengan sedikit terbata. Pak marbot melepaskan pelukannya, lalu duduk di sebelah Teh Ani.
"Lalu dimana ibumu sekarang? Sampaikan maafku ya, Nak."
"Ibu sudah meninggal, Pak." Kali ini aku yang menjawab langsung pertanyaan Pak marbot. Aku sudah yakin sekarang, kebencianku untuknya sudah hilang.
"Ya Allah. Innalillaahi wainna ilaihi rooji'uun.
Maafkan aku, Aisyah. Maafkan bapak ya, Nak. Kamu yang kuat ya."
"Insyaa Allah, Pak. Do'akan saya terus ya, Pak." Pak marbot menggangguk.
"Aku dulu jahat, menyakiti ibumu terus. Hanya karena ingin punya anak, aku menyia-nyiakan kebaikan ibumu." Aku dan Randi diam. Fokus mendengarkan ucapan Pak marbot.
"Padahal sampai sekarang, aku tetap tidak punya anak. Jadi bukan ibumu yang salah, karena tidak bisa memberiku keturunan. Aku yang salah. Aku yang mandul." Pak marbot menunduk. Menyeka sudut matanya. Teh Ani mengusap bahu Pak marbot. Sepertinya Teh Ani juga sudah tahu semuanya.
"Ibumu orang baik, Nak. Sangat baik. Aisyah bahkan rela mengurus dan membesarkan kamu, walaupun kamu tidak terlahir dari rahimnya." Gelegar petir seperti menyambarku. Aku dan Randi terkejut bukan main, mendengar ucapan Pak marbot. Randi menatapku. Aku kalut, tak tahu harus bicara apa.