KK

KK
26. KEJUTAN BUAT OPIK



Aku menyempatkan masuk ke rumah Pak Samsudin. Aku ingin melihat mesin yang tadi disebutkan Pak Samsudin. Mesin yang kerjanya untuk memisahkan antara biji jagung dan bonggolnya.


Rumah Pak Samsudin besar dan luas juga ternyata. Hanya sayang, karena rumah ini dijadikan sejenis gudang oleh Pak Samsudin, area dalamnya jadi penuh dengan karung-karung berisi jagung, juga mesin-mesin.


Di ruang tamu ada satu mesin. Bentuk mesinnya cukup besar juga. Sekitar mesin ada jagung-jagung kering yang masih ada kulitnya, ada kulit jagung, juga ada jagung pipil. Mesin kedua ada di ruang tengah. Mesin yang ketiga aku tak melihat.


Pak Samsudin mendekati mesin yang disimpan di ruang tamu.


"Nah ini, namanya mesin pemipil dan perontok jagung. Fungsinya untuk mengupas kulit jagung dan memisahkan pipil dan bonggol jagung." Pak Samsudin menjelaskan.


"Cara kerjanya gimana, Pak?" Randi antusias sekali memperhatikan body mesin.


"Mula-mula jagung kering yang masih ada kulitnya dimasukkan ke sini, lalu nanti kulit jagung akan keluar dari sini. Sementara jagung yang sudah tanpa kulit akan keluar dari sini. Setelah itu masuk lagi ke sini. hasil akhir, bonggol akan keluar dari sini, jagung pipilnya keluar dari sini." Pak Samsudin menjelaskan panjang lebar cara kerja mesin.


"Mesin ini cukup mahal harganya, tapi manfaatnya luar biasa. Kerja mesin bisa menghasilkan jagung pipil sampai 2 ton sehari." Wow, benar-benar luar biasa. Tak terbayang bila harus dikerjakan secara tradisional oleh manusia, menghasilkan dua ton jagung pipil mungkin harus berhari-hari, mungkin seminggu bahkan lebih. Itulah kecanggihan dari suatu alat yang diciptakan manusia. Kemampuan kerjanya betul-betul sangat luar biasa. Melebihi kemampuan tenaga manusia. Alat sejenis mesin pemipil ini hebat dimataku, tapi yang lebih hebat lagi justru orang yang menciptakan alat ini. Pastinya orang itu orang yang pandai, juga kreatif, kepandaiannya telah melahirkan alat yang begitu bermanfaat, khususnya untuk para petani jagung.


"Wil, tadi apa sih kamu bisik-bisik sama Pak Samsudin?" Pertanyaan Randi mengingatkanku pada rencana yang harus aku kerjakan sekarang.


"Ayo, Ran. Kita siap-siap, ke Bandung sekarang."


"Apa? Ke Bandung? Sekarang?" Beruntun pertanyaan Randi.


"Ayo. Nanti aku jelasin di jalan aja." Aku menarik tangan Randi.


"Pak, Wil siap-siap dulu ya." Pak Samsudin mengangguk.


"Iya Bos. Nanti Bapak menyusul, sebentar."


Aku dan Randi bergegas menuju rumah. Rencanaku, hari ini setelah dzuhur kami akan ke Bandung. Untuk ketemu Opik.


"Wil. Kenapa mendadak sekali?" Randi masih penasaran rupanya.


"Dah, nanti aja ceritanya. Sekarang kamu siap-siap ya. Setelah sholat dzuhur, kita berangkat." Randi menurut.


Sampai di rumah, aku dan Randi langsung mandi. Lalu ganti baju. Ransel masing-masing tetap dibawa. Semua baju yang bersih juga kami bawa. Randi masih belum paham kenapa rencanaku mendadak begini. Biar sajalah Randi masih kebingungan, nanti setelah aku jelaskan juga dia akan mengerti.


"Wil, Kita nanti kesini lagi kan?" Ada kekhawatiran dalam nada suara Randi.


"Ya Iya lah, kesini lagi. Ini ke Bandung nengok Opik aja." Aku sedikit menjelaskan. Randi agak tenang.


"Sudah siap, Bos?" Pak Samsudin mengecek kesiapan kami.


"Sudah, Pak. Mau sholat dulu." Adzan dzuhur berkumandang. Aku, Randi, dan Pak Samsudin bersiap sholat dzuhur berjamaah.


Selesai sholat, Aku mengambil tas ranselku. Kami siap berangkat.


"Jangan lama-lama di Bandungnya ya, Aden. Terus kalau di jalan lapar, sudah ada cemilan di sini." Mak Asih memberikan kantong plastik berisi makanan.


"Ayo, tuh Mang Jana sudah siap dimobil." Pak Samsudin menunjuk Mang Jana yang sudah siap di belakang stir.


"Widih... keren juga kita ya, Wil. Pake mobil pribadi bro. Mobil bagus pula. Ck ck ck...ga sia-sia ni punya saudara angkat." Randi melangkah dengan bangga. Dia berjalan mendahuluiku. Menuju mobil Fortuner warna putih. Si Putih sudah hidup, siap mengantar kami.


"Wil boleh meminjam mobil ini berapa lama, Pak?" Aku minta ijin Pak Samsudin.


"Ini dompet punya Bos Acep. Sudah ada uang di dalamnya. Gunakan untuk keperluan apapun sesuai keinginan Bos Acep. Di dalamnya ada juga kartu ATM. Bila uang cash habis, ambil saja di ATM. Pin ATM nya..." Pak Samsudin membisikkan 6 digit pin ATM.


"Kalau lupa nanti chat bapak saja. no bapak sudah ada di HP Bos Acep."


"Iya, Pak. makasih."


"Kami pamit dulu ya, Pak. Mak. Mohon do'anya." Kami cium tangan pada kedua orang tua kami yang baik hati itu. Mereka melepas kami dengan do'a.


"Ayo, Mang."


"Iya, Bos. Langsung ke Bandung, Bos?"


"Iya, Mang. Terminal Leuwi Panjang." Mobil kami melaju, aku sudah tak sabar ingin ketemu Opik dan Abang warung.


Perjalanan kali ini begitu berbeda. Bila sebelumnya Randi selalu meminta duduk dekat jendela kaca mobil, kali ini Randi tidak memilih posisi duduk. Dia tadi membukakan dulu pintu depan mobil dan mempersilahkan aku dengan gaya kocaknya, untuk duduk di sebelah supir. Setelah itu, baru Randi masuk mobil dan duduk di belakang supir. Dia duduk dengan santainya, kadang di dekat kaca mobil sebelah kiri, kadang di sebelah kanan. Lucu juga kalau melihat tingkah Randi.


Mang Jana sendiri fokus menyetir. Gaya Mang Jana menyetir membuat kami tenang. Meski sesekali mobil melaju dengan kecepatan tinggi, keseimbangan mobil tetap stabil. Mang Jana piawai menaikkan atau menurunkan sedikit demi sedikit kecepatan tanpa terasa. Biasanya kalau laju mobil stabil begini, Randi akan mudah tertidur. Ini tidak. Sepertinya Randi sengaja menahan kantuk. Dia tidak ingin melewatkan sensasi naik mobil pribadi sambil diantar supir. Mobilnya bagus pula.


"Wil, ayo dong katanya mau cerita. Kenapa dan untuk apa kita mengunjungi Opik?" Randi seperti tak sabar menunggu penjelasanku.


"Pertama aku memang kangen ketemu Opik. Kedua, aku ingin berbagi dengan Opik. Masa kita sudah enak begini, Opik ga kita ajak senang juga? Padahal Opik adalah salah satu bagian dari perjuangan kita."


"Jadi maksud kamu?" Randi masih ingin penjelasan yang lebih rinci lagi.


"Maksud aku, aku mau ajak Opik untuk tinggal di Leuwi Goong."


"Hah! Apa Opik mau, Wil?"


"Aku yakin dia mau, Ran. Dari kemarin-kemarin kan Opik memang ingin ikut kita."


"O iya, ya."


Perjalanan terhitung lancar. Macet hanya sebentar di jalan sekitaran PT Tekstil, tadi kulihat para pekerja pabrik pulang, jadi banyak sekali orang. Lalu lintas terhambat beberapa menit.


Kami sampai warung abang sebelum masuk waktu asar. Kulihat Opik dan abang sedang sibuk melayani pembeli.


Aku dan Randi sengaja tidak langsung turun, kami ingin memberi kejutan untuk Opik.


'Tin... tiiinn...' Aku meminta Mang Jana membunyikan klakson mobil berulang-ulang. Ya. Berhasil. Opik Menengok ke arah mobil. Aku lalu menyuruh Mang Jana melambaikan tangan memanggil opik. Opik melihat, minta ijin abang, lalu menghampiri kami.


"Pesan kopi panas ya, De. Tiga. Ga pake lama." Mang Jana yang bilang itu, aku masih pura-pura melihat ke depan.


"Siap, Om." Opik sigap membalikkan badan, akan membuatkan pesanan. Aku lalu bilang,


"Eit eit nanti dulu, yang satu pake susu ya."


"Siap..." Opik diam sesaat. Tertegun. Dia mengenali suaraku, tapi kulihat dia ragu.


"Aku juga sama, kopi susu." Randi sekarang yang bersuara. Opik makin bingung. Diam-diam Opik melirik ke arahku, dengan sedikit berjingkat.


"Kakaaak.... Ini kakak kan? Kak Wildan. Abang... abang... ada kakak.... iya kakak. Itu naik mobil baguuss..." Opik berteriak-teriak. Dia berlari memberitahu abang, lalu berlari ke arah kami lagi. Opik berjingkrak-jingkrak. Matanya berbinar.