KK

KK
45. MIMBO KEMBALI



Tabuhan rebana dan lantunan sholawat berhenti. Diakhiri dengan ucapan salam dari semua yang datang,


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum Salam." Kami semua menjawab salam. Bapak-bapak dari Dinas Sosial dan Kakak-kakak pembimbing aku persilahkan masuk dan duduk di ruang tamu. Sementara anak-anak matahari aku suruh duduk di atas karpet yang sudah digelar di teras. Opik aku tugaskan menemani anak-anak.


"Wow, Pik. Imahna siga istana euy. Meni gede pisan." (Pen: Wow, Pik. Rumahnya seperti istana. Sangat besar sekali).


"Iya ya. Hebatan Kakak Wil. Kaya raya."


"Eh eh, kita juga sekarang kaya raya. Kan kita mau tinggal di sini juga."


"Heueuh, bener pisan. Alhamdulillah, urang jadi beunghar ayeuna." (Pen: Iya, betul sekali. Alhamdulillah kita jadi kaya sekarang).


Aku bahagia mendengar komentar anak-anak yang terus bersahut-sahutan memuji apa yang mereka lihat. Juga mensyukuri keberadaan mereka di sini sekarang.


"Ayo, silahkan, silahkan." Pak Samsudin mempersilahkan para tamu duduk. Mak Asih, Mak Ucih dan Uwa Ane datang, masing-masing membawa nampan berisi beberapa gelas minuman teh manis hangat. Setelah minuman tersaji untuk para tamu yang duduk di ruang tamu, Mereka kedepan rumah, memberi minuman teh manis hangat untuk semua anak-anak di teras. Mak Asih dan Mak Ucih balik lagi ke dapur. kembali mengambil minuman, untuk anak-anak yang belum kebagian minum. Sisa minuman di nampan di simpan di teras.


"Anak-anak, ini kalau mau nambah minumannya, ada di sini ya." Mak memberitahu anak-anak.


Mak Asih, Mak Ucih dan Uwa Ane kembali lagi ke dapur, lalu datang lagi membawa kue-kue cemilan untuk semua yang hadir.


"Silahkan diminum dan dicicipi kuenya, Pak."


"Iya, Bu. Terimakasih." Kak Agung yang mewakili menjawab.


Sambil mencicipi sajian di atas meja, Pak Samsudin dan Mang Jana mengobrol dengan Bapak-bapak dan Kakak-kakak pembimbing. Sementara aku dan Randi, ke teras rumah dulu menemani anak-anak. Tak lama kemudian Kak Agung ikut keluar, duduk bergabung di sebelah aku dan Randi.


"Hebat kamu, Wil. Kakak tidak menyangka kamu sekaya ini. Rumah besar, halaman luas. ck ck ck." Kak Agung berdecak kagum.


"Bukan punya aku, Kak. Punya bapakku."


"Ya sama saja, Punya bapak kamu ya punya kamu juga. Hebat pokoknya. Kakak salut."


"Kakak belum tau sih. kebun dan sawahnya juga tak terhitung, saking banyaknya." Randi melirikku, aku sikut lengannya.


"Wow. Luar biasa banget. Alhamdulillah. Pantas saja kamu mengundang anak-anak matahari untuk tinggal di sini. Mau kamu sekolahkan juga semuanya, sip lah."


"Alhamdulillah, mohon do'anya ya, Kak."


"Iya, pasti kakak do'ain."


"Kak, anak-anak matahari kan baru bisa masuk sekolah nanti, pas penerimaan siswa baru. Selama menunggu waktu sekolah dimulai, kakak-kakak mau kan tetap nembimbing belajar mereka seperti yang selama ini kakak lakukan?"


"Insyaa Allah kami selalu siap. Nanti seminggu sekali kami datang ke sini." Kak Agung dan kawan-kawan memang hebat. Membimbing anak-anak dari Bandung ke Garut pun mereka sanggup.


"Kalau memungkinkan, Kakak-kakak menginap semalam di sini aja tiap sabtu. Hari minggu baru kembali ke Bandung, supaya tidak terlalu cape."


"Boleh gitu, Wil?"


"Ya boleh dong, Kak. Kami sangat bersyukur dan berterimakasih kalau Kakak-kakak berkenan datang, apalagi sampai mau bermalam di sini." Aku bisa membayangkan, betapa serunya anak-anak nanti saat belajar dengan Kak Agung dan kawan-kawan di rumah ini. Dulu saat mereka belajar di bawah pohon saja, semua menjalani proses pembelajaran dengan begitu bahagia, begitu semangat. Padahal fasilitas yang tersedia sangat terbatas. Sekarang, mereka akan aku fasilitasi dengan alat-alat belajar yang pantas, minimal ada papan tulis, ada buku-buku sumber, ada alat-alat tulis yang lengkap untuk anak-anak. Semoga saja mereka akan belajar dengan lebih semangat lagi.


"Lalu, Kak. Masalah Mimbo, bagaimana ceritanya ko Mimbo berhasil ditemukan?" Kak Agung tersenyum.


"Maaf ya, Wil. Kakak dan semuanya tadi sepakat tidak memberitahu dari awal bahwa Mimbo sudah ditemukan. Ceritanya sih supaya jadi kejutan." Kak Agung menahan tawa. Aku sendiri jadi tertawa.


"Pantesaaan, Kakak betul-betul berhasil membuat aku, Randi dan Opik terkejut sekaligus keheranan. Haha. Kakak ini, awas ya nanti aku balas." Kami jadi tertawa, Kak Agung kalau sedang tertawa lepas lucu juga. Matanya merem sementara mulutnya terbuka lebar, menampakkan gigi-giginya yang putih juga rapi.


"Abang yang berjasa dalam hal ini."


"Abang? Abang warung maksudnya, Kak?"


"Iya.


"Ko bisa?"


"Tadi waktu kami akan otw Garut, kakak penasaran, lalu ada ide untuk minta bantaun abang. Kakak kan punya no HP abang, maka kakak telepon abang."


"Lalu?"


"Abang katanya sedang menuju tempat Pak Preman biasa mangkal, kata kamu abang diminta memantau ada Mimbo atau tidak."


"Tidak lama kemudian, abang menelepon. telepon terputus, lalu ketika kakak telepon lagi abang, abang bilang Mimbo sudah bersama abang, dan minta dijemput agar bisa ikut ke Garut."


Jawaban belum jelas sebenarnya, kakak baru menceritakan bahwa tiba-tiba Mimbo sudah bersama abang. Proses Mimbo jadi ada didekat abang aku belum tahu. Kak Agung pun tidak tahu. Kata Kak Agung, Kak Agung belum sempat menanyakan secara detail. Abang hanya pesan, salam buat kami semua, kemudian abang berjanji akan menceritakan detailnya nanti lewat telepon.


"Opik, coba dilihat ke belakang. Tanya ke Mak, makanan sudah siap atau belum ya." Terdengar Pak Samsudin menyuruh Opik. Opik segera ke belakang, tak lama kemudian Opik datang kembali.


"Kata Mak, semua sudah siap, Pak." Opik melaporkan.


"Ayo bapak-bapak, adik-adik, kita makan dulu."


"Anak-anak tunggu sebentar ya, makannya setelah bapak-bapak selesai." Pak Samsudin berteriak pada anak--anak.


"Ini kami sudah mau makan, Pak." Anak-anak hampir kompak menjawab. Mak Asih, Mak Ucih, dan Uwa Ane sudah membagikan nasi kotak untuk anak-anak. Para Mak muncul dari samping rumah. Dari dapur menuju teras rumah memang bisa melewati samping rumah.


Saat semua tamu makan, aku berjalan menuju saung. Aku ingin menelepon abang. Aku tak bisa menahan rasa penasaranku.


Nada telepon tersambung. HP abang sedang aktif.


"Halo." Terdengar suara abang dari kejauhan.


"Halo, Bang. Assalamu'alaikum. Ini Wil."


"Wa'alaikum salam. Maafin ya, abang belum sempat telepon. tadi tak ada pulsa maupun kuota. Belum sempat beli."


"Iya, Bang tidak apa-apa. Terus itu gimana ceritanya tentang Mimbo?" Aku tak menunda lagi. Langsung menanyakan tentang Mimbo.


"Iya, pas abang ke tempat mangkalnya Pak Preman, betul Mimbo ada di sana."


"Lalu abang dekati, langsung bilang ke Pak Preman bahwa Mimbo mau diajak ke Garut, mau diurus dengan baik dan disekolahkan."


"Awalnya Pak Preman marah, bentak-bentak. Tapi abang kasih pengertian berulang-ulang. Akhirnya Pak Preman membolehkan, asal Mimbo ditebus tiga ratus ribu, dan abang harus memberi setoran ke Pak Preman dua puluh ribu sehari, sebagai pengganti setoran Mimbo." Tangan aku sampai mengepal, menahan emosi. Pak Preman betul-betul orang yang tak tahu diuntung. Kalau memang betul Mimbo adalah anaknya, harusnya dia senang, bersyukur, anaknya mau disekolahkan. Dia jadi punya harapan kelak nasib anaknya bisa lebih baik dari dia. Ini malah aneh. Dia marah-marah, bentak-bentak segala. Belum tentang uang tebusan dan uang setoran tiap hari, parah! Betul-betul parah!


'Halo Para pembaca, Pak Preman harus dikasih pelajaran apa nih biar kapok?🤔.


Jangan lupa like dan komennya ya, Makasih.'


Kali ini aku kembali rekomendasikan karya hebat dari Author hebat. Simak yuk!