
"Ayo, silahkan masuk." Pa Daud mempersilahkan kami masuk. Kami duduk di ruang tamu. Di meja tamu sudah tersedia minuman kemasan dan beberapa keler kue.
"Ayo, ayo. minum dulu. Ini kuenya."Ibu Nita sibuk membuka keler-keler kue. Ada yang mau dibikinkan kopi atau teh manis hangat?"
"Tidak usah repot-repot, Bu." Mang Ijar menjawab.
"Ih, gak repot kok. Ibu malah senang. Mang jana mau? Mang siapa ini satu lagi?"
"Boleh, Bu." Mang Jana menjawab.
"Saya Ijar, Bu." Ujar Mang Ijar.
"Nenek mau kopi atau teh? Bapak?" Nenek menggeleng. Bapak Nana tidak menjawab, matanya memperhatikan guci yang ada di ruang tamu. Guci itu dipergunakan Bu Nita untuk menyimpan beberapa payung besar.
Bu Nita pergi ke dapur, dan balik lagi membawa tiga cangkir kopi dan tiga cangkir teh manis. Kopi disimpan di depan Pak Daud, Mang Jana dan Mang Ijar. Teh manis di simpan di depan Bapak Nana, aku dan Randi.
"Gimana, Wil, Ran, petualangannya seru?" Bu Nita memancing curhat aku dan Randi. Ditanya begitu, Randi tak menunda lagi laporannya. Kalimat-kalimatnya langsung mengalir tanpa jeda. Aku dan semua tinggal menyimak, sambil menikmati cemilan-cemilan.
"Udah dong, Ran. Kamu mulu yang ngomong. Aku kapan kebagian?" Digoda begitu, Randi malah tertawa. Tapi cerita dari mulutnya masih terus mengalir tanpa stop. Ah dasar Randi, ketemu ibu tercintanya jadi lupa segalanya.
"Jadi gimana ya, Bu. Besok kan baru sabtu, masih ada waktu buat Wil membantu membawa Dian dan Bapak ke rumah sakit." Bu Nita melihat pada Dian dan Bapak Nana bergantian.
"Untuk besok, Dian dulu aja. Ibu udah buat perjanjian dengan dokter mata. Dekat sini kok lokasi kliniknya. Dan untuk Pak Nana, harus senin. Rumah sakit buat Pak Nana buka lagi hari senin."
"Dua-duanya non BPJS loh, Wil. Harus biaya mandiri. Karena baik Dian maupun Pak Nana kan memang belum terdaftar di BPJS." Ibu mengingatkan.
"Ist tenang, Bu. Wil duitnya banyak sekali, Bu. Gak soal kalau masalah biaya sih." Randi menggodaku. Mang Jana dan Mang Ijar mengangguk-angguk dengan antusias. Aku menyikut lengan Randi.
"Bukan begitu, Ran. Ini masalahnya, kalau daftar dulu BPJS kita harus menunggu proses dulu. Pengobatannya tidak bisa sesegera mungkin. Kita kan maunya sekarang, jadi ya, non BPJS aja." Aku menjelaskan dengan serius.
"Tapi kan bener uang kamu banyak sekali, ya kan?" Mata Randi melirikku. Bibirnya dirapatkan menahan tawa.
"Ah, kamu. bisa aja." Aku jadi tertawa duluan melihat ekspresi wajah Randi yang lucu.
"Besok jadwal Dian jam berapa, Bu?" Aku memastikan. Dian yang jadi topik pembicaraan, masih asyik memakan kripik pisang. Keler kripiknya sampai ia peluk.
"Jam delapan pas." Kata Bu Nita.
"Nenek barangkali mau istirahat? Itu kamarnya sudah kami sediakan. Pa Daud menunjukkan kamar kedua. Aku diminta mengantar nenek. Tas nenek aku bawakan. Bapak Nana mengikuti aku dan nenek.
"Dian nanti tidurnya dengan Kak Wildan ya. Itu kamarnya." Dian mengangguk.
"Ayo, tasnya mau disimpan di kamar?: Randi menawarkan. Dian membawa tasnya menuju kamar yang ditunjukkan Randi.
"Mang Jana dan Mang Ijar mau menginap juga kan? Masih ada satu kamar kosong kok." Kudengar Pak Daud bertahya pada Mang Jana dan Mang Ijar. Aku bergabung kembali ke ruang tamu, nenek dan Bapak aku suruh istirahat dulu.
"Saya akan pulang ke Garut lagi, Bu. Banyak yang harus dikerjakan di sana." Jawab Mang Jana.
"Iya, Bu. Kan di Garut sejarang sudah ada anak-anak matahari. Kasihan Mak Asih kalau Mang Jana dan Mang Ijar gak ada. Nanti Mak kesulitan kalau mau nelanja ke pasar. Ya Mang ya?" Aku memperkuat alasan Mang Jana.
"O iya ya. Selain Dian, anak yang lain tidak ada yang harus ditangani masalahnya segera, Wil?"
"Sampai saat ini belum ada, Bu. Semoga sih tidak ada." Semua mengaminkan do'aku.
Tiga puluh menit kemudian, Mang Jana dan Mang Ijar pamit untuk kembali ke Garut.
Aku dan Randi mengamankan gelas-gelas kotor ke dapur.
"Sudah, Ran. Biar aku aja yang cuci gelasnya. Kamu sana cerita-cerita lagi sama ibu kamu."
"Eh, Wil. Kamu kan sekarang sudah jadi Bos. Masa Bos masih cuci gelas kotor?"
"Aah, udah sana, berisik tau." Randi terbahak, dia berlalu meninggalkanku.
Aku diam sesaat, memandang setiap sudut ruangan ini. Ada rindu yang menyusup. Hampir dua minggu aku meninggalkan ruangan ini. Biasanya sebagian waktu aku habiskan di sini. Mencuci piring, mencuci pakaian, membantu Ibu Nita memasak, menata stok keperluan dapur. Hatiku sudah begitu menyatu dengan ruangan ini. Hatiku damai di sini. Di ruangan ini pula aku bisa melepas kerinduanku pada Ibu Aisyah, karena dulu, di sini kami berjuang bersama.
Tanganku mulai bergerak kesana kemari. Gelas-gelas sudah bersih kembali. Semua area sudah aku lap, lantai juga sudah aku pel. Semua sudah cling.
"Aduh, Wil. Kamu bukannya istirahat, malah bersih-bersih dapur segala. Gak betah liatnya ya, ibu belum sempat membersihkan tadi." Ibu Nita tiba-tiba datang.
"Gak apa-apa, Bu. Wil senang kok mengerjakannya."
"Kamu tuh bener-bener anak yamg rajin. beda banget sama anak ibu yang semata wayang itu."
"Apa siiih, ibuku sayang?" Randi muncul, memeluk Ibu Nita dari belakang.
"Tuh kan, manjanyaaa minta ampun. Sudah gede juga ih." Randi cengengesan.
***
Sabtu pagi. Aku, Randi, dan Dian sudah mandi. Kami bersiap akan ke klinik pengobatan mata. Untuk mengecek kondisi mata Dian.
Aku memyempatkan menengok ke kamar nenek. Kulihat nenek dan Bapak Nana juga sudah segar. Mereka juga sudah mandi rupanya.
"Nek, Mau Wil buatkan minuman hangat?"
"Boleh, Cu."
Aku ke dapur membuat minuman hangat untuk nenek. Sekaligus juga membuatkan kopi untuk Pak Daud. Minuman yang aku berikan untuk bapak Nana langsung diminum, habis. Pagi ini Bapak Nana tampak begitu segar, nenek sudah menyisir rapi rambutnya.
"Ayo sini, ngobrol sebentar sebelum bapak kerja." Pak Daud memintaku duduk ketika aku keluar dari kamar nenek.
"Iya, Pak."
"Jadi gimana, sudah ada gambaran lagi tentang bapak kandung kamu?"
"Belum, Pak. Nenek tidak punya informasi apa-apa. Kata nenek, Ibu Minah tidak pernah cerita apapun soal bapakku."
"O gitu, tetangga-tetangga, atau Pak RT barangkali punya info?" Aku menggeleng.
"Satu-satunya harapan Wil, yaitu Bapak Nana. Semoga Bapak Nana tau sesuatu. Dan bisa menceritakan sesuatu itu saat sudah sembuh nanti." Pak Daud mengusap kepalaku.
"Ya sudah. Sabar ya." Pak Daud kemudian bersiap untuk berangkat kerja.
'Hai readers... semoga kalian selalu sehat dan bahagia ya. Kutunggu selalu do'a dan dukungan kalian. Makasih.🥰🥰🥰'
Kali ini rekomendasi novel asyik buat kalian yang ini, simak ya.