
Aku memanggil Dian. Aku ingin memastikan kondisi matanya. Dian mendekatiku.
"Coba ini lihat, baca sebaris ini ya." Aku menunjukkan salah satu halaman buku iqro 1. Dian hanya menatap dengan diam.
"Ok Dian, Gak apa-apa kok. Kakak hanya ingin memastikan saja. Coba sekarang kamu sebutkan hafalan surat-surat pendek yang sudah kamu hafal ya." Wajah Dian cerah lagi. Dia mulai membacakan surat-surat pendek. Surat Al-Fàtihah, An-Nàs, Al-Falaq, Al-Ikhlàs, Al-Lahab, Dian sudah hafal. Berarti saat tadi aku suruh menghafalkan surat An-Nàs, Dian fokus mendengarkan bukan untuk menghafalkan, bisa jadi Dian memperhatikan dengan seksama lafaz bacannya, panjang pendeknya, dan lain-lainnya.
Aku penasaran, kata Deri tadi, Dian adalah penghafal yang hebat. Aku lalu mengambil HPku dan membuka aplikasi Al Quran. Aku membuka surat Al-Fil, dan meminta Dian untuk menyimak audio surat Al-Fil. Tadinya aku mau mengulang Audio sampai dua atau tiga kali. Tapi saat aku akan memijit audio pengulangan, Dian bilang,
"Boleh Dian mencoba dulu, Kak?" Aku sedikit ragu, tapi aku beri Dian kesempatan untuk mencoba. Dian bersiap, dia memejamkan mata, lalu mulai melantunkan hafalan surat Al-Fil. Aku mendengarkan dengan seksama. Tepat, betul-betul tidak ada kesalahan. Aku sampai tak percaya. Sekali menyimak, Dian langsung hafal, ck ck ck. Betul-betul luar biasa. Akan aku ingat-ingat, Dian punya kelebihan yang luar biasa. Walaupun Dian juga punya kekurangan di matanya, yang merupakan PRku untuk berusaha menyembuhkannya.
"Oke, Dian. Kamu hebat. Mulai sekarang kamu coba begini, satu hari kamu dengar dan hafalkan satu surat pendek, Besoknya kamu ulang-ulang surat-surat pendek yang sudah kamu hafal. Besoknya lagi dengar dan hafalkan surat pendek yang baru lagi, begitu terus diulang-ulang ya " Dian mengangguk pasti. Aku nanti akan tugaskan Opik untuk mendownload aplikasi Al Quran. Agar Dian bisa mendengarkan hafalan dari HP Opik.
Semua anak matahari sudah selesai mengaji. Kecuali Opik dan Adit, yang memang belum pulang dari rumah nenek.
"Adik-adik, coba kumpul sebentar, Kakak mau bicara." Semua anak matahari duduk, mengelilingi aku dan Randi.
"Coba dengarkan sebentar. Kakak dan Kak Randi besok akan ke Cirebon dulu. Kami akan bawa Bapak Nana dan nenek, juga Dian." Anak-anak saling berpandangan. Aku mengerti, mereka tentu saja tak mengerti siapa itu Bapak Nana, siapa nenek, dan kenapa Dian kami bawa.
Anak-anak masih diam, mereka menunggu penjelasanku.
"Bapak Nana adalah orang yang menyayangi dan mengasuh kakak waktu bayi. Kebetulan saat ini Bapak Nana sedikit sakit. Jiwanya yang sakit dan perlu pengobatan. Nenek adalah ibunya Bapak Nana, sekaligus juga nenek yang begitu menyayangiku waktu aku bayi. Nenek harus selalu mendampingi Bapak Nana kemanapun Bapak Nana di bawa."
"Lalu Dian. Dian kami bawa, agar bisa kami antar ke rumah sakit yang dapat mengobati matanya." Semua anak menatap Dian, mereka mendo'akan Dian.
"Kakak dan Kak Randi sendiri, harus ke Cirebon karena kami harus kembali masuk sekolah. Tapi tenang, Tiap hari jumat sore kami datang ke sini menemani kalian. Lalu hari minggu kami pulang lagi ke Cirebon. Sementara begitu dulu."
"Selama kami di Cirebon, Kalian ditemani Bapak Samsudin, Mak Asih, Mak Ucih, Uwa Ane, Mang Jana, juga Mang Ijar. Jadi tidak usah khawatir, di sini banyak orang yang menemani kalian."
"Ini jadwal kegiatan kalian setiap hari ya, Coba Kak Randi tolong bacakan." Randi sudah memegang kertas, berisi jadwal kegiatan yang sudah kami susun bersama. Randi kemudian membacakan jadwal, perlahan-lahan agar semua mengerti.
"Oke adik-adik, ada yang mau bertanya?" Idan mengacungkan tangan.
"Ya, Idan. Silahkan."
"Jadi nanti tiap sore setelah asar sampai magrib, kami mengaji seperti ini di ruang ini. Kalau kebetulan Pak Ustadz ada, kami dibimbing Pak Ustadz. Kalau Pak Ustadz berhalangan hadir, Kami seperti tadi belajarnya begitu kan, Kak?"
"Iya betul. Semua paham kan?"
"Paham, Kak." Semua kompak menjawab.
"Kami belajar bacanya dibimbing Kakak-kakak pembimbing tiap sabtu malam dan minggu pagi aja, Kak?" Melan bertanya. Aku tersenyum.
"Iya betul, di hari-hari lain kalian belajar baca sendiri, saling bantu satu dengan lainnya ya."
"Nanti Kakak lengkapi buku-buku latihan baca kalian. Juga buku dan alat tulis untuk belajar menulis." Tampak tatapan mata anak-anak di hadapanku ini begitu penuh harapan.
"Belajar menulis juga, Kak?" Ami, salah seorang anak perempuan sebaya Opik bertanya.
"Iya betul. Kalian harus pandai membaca, juga pandai menulis. Enam bulan lagi kalian sekolah. Daftar sekolahnya tidak bisa sekarang karena sekolah belum buka pendaftaran."
"Asyiiikkk, Horeee, Alhamdulillah, kita mau sekolah." Serempak suara mereka. Satu dengan yang lain saling memandang penuh kebahagiaan.
"Maka dari itu, belajar baca, menulis dan mengajinya yang rajin dan tekun ya. Biar nanti kalian pintar semua." Randi menasehati. Aku bahagia melihat mereka begitu bersemangat.
"Oke Kakak.... kami akan belajar dengan rajin." Suara anak-anak menggema, mengalirkan semangat juga untuk aku dan Randi. Alhamdulillah, Terimakasih Bapak Sugi, Kebaikanmu telah mengantarkan kami pada kebahagiaan hingga hari ini. Semoga engkau juga bahagia di tempat mulia yang Allah sediakan untukmu.
Opik dan Adit pulang. Masih ada waktu tiga puluh menit menjelang adzan magrib. Anak-anak kubolehkan nonton tv sambil menunggu adzan magrib.
"Ran, coba foto mereka. nanti fotonya kita kirim ke ibu, ke abang dan ke Kak Agung." Aku jadi tak tahan ingin berbagi kebahagiaan ini ke ibu Nita, abang dan Kak Agung. Bahagia sekali rasanya melihat mereka duduk santai sambil menonton tv. Anak laki semua memakai baju koko baru. Anak perempuan masih pakai mukena baru, semua terlihat segar dan ceria. Randi mengambil HP, lalu jeprat jepret mengambil beberapa foto anak-anak.
"Aku ingin difoto lagi, Kak." Seorang anak usul.
"Aku juga, Kak. Aku foto berdua sama Melan ya." Dito ikutan usul. Randi jadi sibuk melayani anak-anak yang ingin difoto. Pose anak-anak ketika difoto juga lucu-lucu. Ada yang serius, ada juga yang sedikit main-main. Yang sedang tertawa menampakkan gigi-gigi gingsul mereka juga ada. Randi lalu mengirim foto hasil jepretannya ke ibu, abang dan Kak Agung. Tak lama kemudian datang chat komentar dari ibu, abang dan Kak Agung. Chat mereka belum Randi balas semua, karena kami harus segera ambil air wudhu. Adzan magrib sudah berkumandang.
***
Malam ini anak-anak matahari tidur dengan begitu lelap. Aku sengaja mengintip ke semua kamar, mereka semua sudah tidur. Terlihat wajah-wajah mereka begitu tenang, mungkin karena kali ini perut mereka sudah kenyang. Dan pikiran mereka juga tenang karena besok tak perlu lagi mengemis atau mengamen untuk membeli makan dan setor pada Pak Preman.
Aku dan Randi belum bisa tidur cepat. Kami menuliskan dulu daftar barang-barang yang harus dibeli besok pagi, mumpung kami masih disini. Papan tulis dan alat-alat tulis untuk anak-anak harus kami beli besok, agar anak-anak bisa memanfaatkan dengan baik saat kami tinggalkan. Kami juga harus beli beberapa baju untuk Bapak Nana dan nenek. Agar di Cirebon nanti kami tinggal fokus pada upaya menyembuhkan Bapak.
"Wil, besok kita kembali ke Cirebon, Tapi tujuan awal kita belum berhasil. Bapak kandung kamu belum ketemu sampai saat ini." Aku mendengar ucapan Randi dengan hati netral. Tak ada lagi kesedihan. Aku bahkan bahagia, karena kini aku punya Bapak Nana, aku juga punya Bapak Samsudin, Mang Jana, Mang Ijar, abang, Ua Amir, Bapak Marbot. Aku punya banyak bapak. Aku yakin bapak kandungku juga akan ikut bahagia bila tahu keadaanku sekarang. Aku kini dikelilingi oleh orang-orang yang sangat baik. Meski banyak PR yang harus aku selesaikan, tak apa.
'Halo para pembaca, cerita masih berlanjut. Tujuan Wil selanjutnya, berusaha mengobati sakit jiwa Bapak Nana. Juga mengobati matanya Dian. Mohon do'anya agar Wil berhasil. Juga minta dukungannya terus ya. Makasih.'
Jangan lupa juga untuk menyimak karya hebat ini ya. Ini novel karya sesama Authorku.