
Kami menunggu dengan sangat berdebar. Ibu itu masih belum menjawab.
"Sebentar ya, Nak. O iya, anak laki-laki itu ada kaitan saudara dengan kalian?"
"Iya, Bu. dia kakak saya." Aku yang menjawab. Ibu itu berdiri, lalu masuk ke dalam rumah. Sebentar kemudian keluar lagi membawa setumpuk buku berukuran besar.
"Ibu mau melihat-lihat dulu catatan yang ada ya. Biasanya segala sesuatunya ada di catatan."
"Baik, Bu." Kami kembali diam, sabar menunggu. Ibu itu mulai membuka-buka catatan. Kasihan sebenarnya, buku catatan yang harus dibuka dan di cek ada lima buku. Satu buku saja tebalnya sudah lumayan.
"Nah, ini sepertinya." Hanya sebentar, ibu itu sudah menemukan catatannya. Aku dan Randi saling berpandangan. Aneh, secepat itu data ditemukan. Padahal mencarinya tidak menggunakan komputer atau alat sejenis. Randi melirikku, lalu melirik halaman depan salah satu buku. Aku ikut memperhatikan yang dilirik Randi. Oh pantas saja. Aku mengerti sekarang kenapa ibu itu begitu cepat menemukan data yang kuminta. Di halaman depan masing-masing buku tertera tahun sekian sampai sekian. Mungkin langkah pertama, ibu itu memperkirakan usiaku. Lalu mencari data di buku yang sesuai dengan perkiraan usiaku. Yang jelas, ibu itu pintar di bidangnya. Jadi tidak membuat kami yang memerlukan bantuannya lama menunggu.
"Ini, ada di catatan. Anak laki-laki, usia 17 bulan. Namanya Nandi. Kondisi Nandi sehat dan normal. Nandi Diserahkan oleh nenek Sumi. Nenek menyerahkan sepenuhnya pengasuhan Nandi pada panti. Hanya saja nenek mengamanatkan untuk menyertakan satu kotak tusuk gigi, kemanapun Nandi dibawa pergi, bila suatu saat ada keluarga yang mengadopsinya." Aku menatap Randi. Nama kakakku Nandi, beda satu huruf dengan Randi. Randi kulihat menahan tawa. Dasar Randi, sedang serius beginipun masih sempat bercanda.
"Namanya ko mirip nama aku ya, Wil. Nenek nyontek ke ibu aku kayaknya. Cuma ngeganti satu huruf aja coba. Hehe." Randi mengulum senyum.
"Hush." Aku mencubit tangan Randi. Ibu itu jadi ikut tersenyum melihat kami yang sedang bercanda.
"Maaf ya, Bu. Saudara saya ini memang suka bercanda."
"Ga apa-apa, Nak. Ibu juga senang bercanda ko."
"Lalu bagaimana, Bu. Kakakku masih ada di sini?" Ada rasa khawatir di hati ini. Semoga saja kakakku masih ada di sini.
"Di catatan tertera, kakakmu di adopsi oleh sebuah keluarga saat berusia dua tahun."
"Boleh kami tau alamat keluarga tersebut, Bu?" Ibu itu menatapku, lekat.
"Nenek sudah bilang bahwa nenek menyerahkan sepenuhnya pengasuhan Nandi pada panti. Kemudian nenek juga bilang bahwa bila suatu saat ada yang akan mengadopsi Nandi, tak perlu minta ijin nenek lagi."
"Jadi nenek sudah betul-betul ikhlas menyerahkan Nandi pada panti atau keluarga terbaik yang akan mengadopsi Nandi. Keluarga itu keluarga yang luar biasa baik ko. Keluarga itu meminta kepada pihak panti untuk merahasiakan selama-lamanya alamat mereka, untuk menjaga segala sesuatunya. Biar Nandi tak perlu tau sampai kapanpun bahwa dia anak adopsi." Ada rasa sakit di hati ini mendengar penjelasan ibu itu. Jadi selama-lamanya aku tak akan bisa bertemu dengan kakakku?
"Mohon untuk bisa memaklumi ya, Nak." Kami mengangguk. Berusaha mengerti dan memaklumi.
"Kami pamit ya, Bu. Terimakasih untuk semuanya."
"Coba ibu simpan nomor kalian. Siapa tau nanti ada perkembangan terbaru dari keluarga baru Nandi. Nanti ibu kabari pada kalian." Bisa saja ibu ini membuat mata kami sedikit berbinar lagi. Kami memberikan nomor HP kami.
Kami.
Kami pulang, sampai pasar sengaja berhenti dulu.
"Sebentar aku telepon Pak Samsudin dulu Ran."
Satu panggilan, dua, tiga, empat. Panggilan keempat Pak Samsudin menjawab,
"Assalamu'alaikum, Pak."
"Wa'alaikum Salam, Bos. Gimana, ada apa?"
"Ini, Pak. Besok anak-anak matahari datang. 19 orang. Di rumah kasurnya bakal cukup ga ya, Pak?"
"Itu hasil dari panti gimana?" Pak Samsudin malah menanyakan tentang kakakku.
"Sudah diadopsi, Pak."
"Alamat keluarga adopsi?"
"Dirahasiakan. Semua sudah sepakat seperti itu."
"Sama sekali tidak mendapat bocoran?"
"O gitu."
"Tentang kasur gimana, Pa."
"Udah itu sih gampang. Tinggal telepon. Nanti juga dikirim oleh toko."
"O gitu, Pa?"
"Iya."
"Ya sudah. Iya, Pa."
"Hati-hati pulangnya."
"Iya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum Salam."
"Ran, mumpung lagi di pasar, kita belanja beberapa baju yuk. Untuk anak-anak."
"Setuju, Wil. Ayo. Aku tuh seneng kalau belanja untuk dikasihin kayak gitu. Kayak waktu buat Opik, rasanya bahagia banget. Apalagi pas liat Opik gembira terima bajunya. Rasanya gimana gitu." Randi antusias.
"Iya, Ran. Kita harus bersyukur, Allah menggerakkan hati kita untuk mudah berbagi. Dan kita merasakan bahagia luar biasa saat berbagi. Ada loh, yang sebenarnya sudah dikasih kecukupan oleh Allah, tapi hatinya tertutup untuk berbagi. Naudzubillah." Randi manggut-manggut. Kami segera masuk pasar. Memilih-milih baju dan celana untuk anak-anak. Karena mereka besarnya hampir sama dengan Opik, kami jadi mudah memilihkan ukuran baju untuk mereka. Harga jadi lebih murah, karena belinya per lusin.
"Itu kamu ko masih banyak duitnya, Wil?"
"Ini kan uang yang dikasih Pak Samsudin waktu kita ke Bandung itu. Masih banyak sisanya. Terus, kalau masih kurang juga, kan ada ATM." Aku mendelik ke arah Randi. Randi mendorongku sambil tertawa.
"Iya-iya... hebat kamu, Wil. Orang kaya. Bos Acep yang kaya raya, hahaha."
"Hush. Pelan-pelan tau. Malu ih." Randi menutup mulutnya. Beberapa orang di sekeliling melihat ke arah kami. Ah dasar Randi. Mengundang perhatian orang saja.
Lumayan banyak yang kami beli. Kaos 3 lusin. Dengan tiga pilihan ukuran, seukuran Opik selusin, di atas Opik selusin, di bawah Opik sedikit selusin. Baju koko 2 lusin. Celana 2 lusin. Sarung selusin. baju anak perempuan selusin. sajadah 2 lusin. mukena anak selusin. Bapak pemilik toko senang bukan main. Mungkin bapak itu tak menyangka akan ada yang memborong dagangannya sebanyak ini.
"Untuk apa belanja sebanyak ini, De? Jualan?" Bapak itu menggoda kami. Bibirnya tersenyum.
"Bukan, Pak."
"Loh. Ini kan baju anak-anak. Yang jelas bukan buat dipakai ade-ade ini kan? Hehe. Bapak jadi penasaran nih."
"Hehe. Buat anak-anak matahari, Pak." Randi yang menjawab. Kening bapak itu berkerut. Randi menyadari, bapak itu belum tahu tentang anak-anak matahari.
"Itu, Pak. Anak-anak jalanan. Kami Insyaa Allah akan mengasuh anak-anak jalanan."
"Subhanallah... Allahu Akbar. Anak jalanan de?"
"Iya, Pak. Mohon do'anya ya, Pak."
"Ya Allah... De. Masih muda begini sudah mampu mengurus anak jalanan?" Tangan bapak itu jadi sibuk menyeka air matanya. Beliau menangis. Beberapa orang di sekeliling kami jadi ikut menyeka air mata mereka masing-masing.
"Ini, De. Bapak titip ini untuk anak-anak matahari ya. Jangan ditolak." Bapak itu menambahkan peci anak ke dalam belanjaan kami.
"Ya Allah, Pak. Maaf jadi merepotkan."
"Ga merepotkan, De. Bapak bangga pada kalian. Yang sehat terus ya, Nak."
"Aamiin. Makasih, Pak."
"Saya juga titip ini ya, De. Saya juga. Saya juga. Ini titip, de. Aku juga. Ini dari bapak ya. Ibu juga titip ini, teteh juga ya, de. Ini titip ya..." Allahu Akbar. Aku dan Randi jadi terpana, beberapa orang penjual datang mendekati kami, memberikan barang-barang untuk diberikan pada anak-anak matahari. Wajah mereka terlihat begitu bahagia.