KK

KK
10. PEMILIK SUARA EMAS



Kami sampai di mesjid UPI. Kebetulan sudah masuk waktu sholat magrib. Adzan berkumandang. Merdu sekali lantunan adzan saat ini. Berbeda dengan adzan saat asar tadi.


"Bagus banget suara adzannya ya, Wil." Kiranya Randi juga merasakan hal yang sama.


"Mirip suara Kang Ahmad ya Ran?"


"Iya betul. Aku juga mikirnya gitu, suara Kang Ahmad."


"Pemilik suara ini kalau ngaji pasti bagus. Mungkin kalau ikut lomba MTQ tingkat nasionalpun, pasti menang." Randi sok tahu. Dia betul-betul kagum pada pemilik suara yang mengumandangkan adzan saat ini.


"Kalau kamu sih, ikut lomba ngaji bakal menang ga?" Randi hanya cengengesan. Dia tahu betul bahwa aku cuma meledek dia. Karena seisi rumah sudah tahu semua bahwa ngaji Randi Iqropun belum tamat.


Orang-orang yang datang untuk ikut sholat berjamaah makin banyak. Aku dan Randi segera ke tempat wudhu. Lalu bergabung dengan jamaah lainnya, masuk ke dalam barisan sholat. Kulihat di shaf paling depan, ada Kang Ahmad. Kami kebagian di shaf ke-4. Shaf depan sudah penuh. Saat kami sedang merapatkan barisan, kulihat Pak marbot masuk dari pintu samping. Pak marbot sholat satu shaf dengan aku dan Randi.


Selesai sholat magrib berjamaah, aku dan Randi diam di mesjid. Sengaja menunggu sholat isya. Biar tidak usah wudhu lagi. Tadi selesai sholat, Kang Ahmad juga sudah melihat kami, jadi kami tidak usah laporan dulu ke Kang Ahmad, bahwa kami sudah di mesjid. Aku duduk bersila, berdzikir sebisaku. Randi merebahkan badan di sebelahku. Kasian Randi. Sepertinya dia kecapean.


"Awas jangan ketiduran loh. Nanti harus wudhu lagi." Aku mengingatkan Randi, biar menjaga wudhunya agar tidak batal.


"Tenang, tenang. Cuma rebahan aja ko. Lumayan cape badanku." Aku memaklumi. Perjalanan ini memang cukup membuat kami lelah. Semoga saja, di akhir perjalanan nanti tujuan kami tercapai. Aku jadi tahu siapa bapak kandung aku sebenarnya.


Dari pintu samping, kulihat Kang Ahmad memberi isyarat. Kami disuruh makan, di ruang DKM. Itu yang aku pahami dari isyarat Kang Ahmad. Dengan isyarat juga aku menjawab, bahwa kami sudah makan. Kang Ahmad mengangguk.


Aku melanjutkan dzikirku. Sesekali kugoyang-goyang kaki Randi. Memastikan bahwa Randi tidak tidur. Kulihat sekeliling, ada juga beberapa jamaah yang sengaja tidak pulang. Duduk berdzikir atau membaca Al Quran sambil menunggu waktu sholat isya. Pak marbot juga ada. Beliau membaca Al Quran di pojok dekat pintu belakang mesjid.


Udara dingin mulai membuat badanku sedikit menggigil. Aku perlu jaket, atau apalah untuk sedikit membuat badanku hangat. Sayangnya jaket ada di tas ransel yang aku simpan di ruang DKM. Jadi untuk sementara terpaksa aku harus menahan rasa dingin yang menusuk ini.


"Kamu ga kedinginan Ran?" Aku mencoba mengecek kondisi badan Randi. Kelihatannya Randi aman-aman saja, Harusnya dia yang lebih merasa dingin, karena dari tadi tiduran di atas karpet mesjid.


"Ga. Aku sih ngantuk Wil. Bukan dingin. Nanti kalau sudah sholat isya, kita cepet tidur ya." Randi malah membahas topik ngantuk.


"Iya, iya." Aku memberi harapan. Semoga saja situasi memungkinkan untuk kami segera tidur.


Adzan isya berkumandang. Suara yang mengumandangkan adzannya masih sama seperti adzan magrib tadi. Suara yang begitu merdu.


"Tuh kan Wil, betul kan kata aku. itu suara Kang Ahmad" Randi kali ini cukup puas, bisa memastikan langsung, pemilik suara emas itu. Aku sendiri tak bisa berkomentar, hati ini begitu tenang, mendengarkan suara adzan. Aku dan Randi berusaha menjawab seruan adzan yang dikumandangkan Kang Ahmad dengan sepenuh hati.


"Assalamu'alaikum." Kang Ahmad baru masuk ke ruang ini beberapa menit kemudian.


"Ayo pada makan dulu. Tuh di meja, sudah akang belikan."


"Kami sudah makan gado-gado tadi sore Kang."


"Itu kan tadi sore. Sekarang beda lagi. Sekarang mah malam." Aku dan Randi saling berpandangan. Kami jadi tak enak hati.


"Ayo cepetan dimakan, ga usah ragu. Sayang tuh, nanti mubajir loh." Akhirnya aku dan Randi menurut.


"Akang mengerjakan tugas kampus dulu ya. Lumayan banyak tugas nih. Setelah makan, kalau kalian mau istirahat, istirahat saja. Tidurnya seperti yang akang bilang, di karpet. Akang juga tidur di karpet ko, sama. Ini sarung barangkali perlu buat selimut." Randi menerima dua sarung dari Kang Ahmad.


"Iya, Kang. Terimakasih."


Setelah beres makan, aku dan Randi tidak langsung tidur. Ibunya Randi pernah bilang bahwa setelah makan tidak boleh langsung tidur. Kata ibunya Randi, kalau bisa ada jeda dari makan ke tidur. Jedanya usahakan satu jam lebih. Alasannya tak tahu kenapa. Aku dan Randi menurut saja apa yang dikatakan orang tua. Nasehat orang tua, kami yakini baik. Walau tidak semua nasehat kami mengerti tujuannya. Sambil menunggu beberapa waktu, kami duduk-duduk di karpet. Aku mengingatkan Randi untuk mengabari ibu. Melaporkan perjalanan sampai saat ini. Randi menurut. Dia segera chat ibunya. Aku sendiri sibuk melamun. Membayangkan apa yang terjadi dalam pertemuan aku dengan Pak Muji besok. Kalau bisa aku ingin tahu, apa alasan Pak Muji, berulangkali menyakiti hati ibu.


Entah sudah berapa lama aku melamun. Ketika kulihat Randi, dia sudah tertidur pulas. Sarung menyelimuti badannya. tas ransel dia jadikan bantal. Nyenyak sekali tidur Randi. Udara yang sangat dingin tak mengganggu lelap tidurnya. Aku mencoba tidur juga. posisi tidur Randi kuikuti. Bantalnya tas ransel, selimutnya sarung. Lumayan nyaman juga ternyata.


Tidur kami betul-betul nyenyak. Tak sekalipun kami terbangun di tengah malam. Kami mulai terbangun saat mendengar suara tahrim di mesjid. Lagi-lagi suara emas Kang Ahmad. Masih serasa mimpi saat kami mendengar suara ngaji Kang Ahmad di speaker mesjid. Saat kami bangun, betul saja, Kang Ahmad sudah tak ada di ruangan. Randi masih tidur, dengan posisi yang sama seperti tadi malam saat aku akan tidur.


"Ran, ayo bangun. sudah mau subuh. Kita ikut sholat berjamaah subuh." Aku menggoyang-goyang badan Randi. Agak susah juga membangunkan dia.


Kami bergegas menuju kamar mandi mesjid. Sekedar gosok gigi, berwudhu, lalu bergabung dengan beberapa jamaah yang sudah ada di mesjid. Pak marbot juga sudah hadir.


"Wil, jadi nih kita bantu-bantu Pak marbot bersihin mesjid?" Aku mengangguk pasti.


"Harus lah Ran. Harus jadi. Ya, anggap olah raga saja. Supaya badan segar."


"Cape ih." Randi tetap cemberut bila membahas topik ngepel mesjid. Aku jadi ingin tertawa.


"Dasar kamu, anak mamih. Cuma ngepel saja ngeluh. Kolokan ih." Aku olok-olok Randi, sambil gelitiki pinggangnya. Randi tertawa,lari menghindar.