
"Ayo bapak-bapak kita mulai pekerjaan kita. Hari ini yang dipanen dari sini ke sini, dan dari sini ke sini ya." Pak Samsudin memberi komando. Semua langsung bergerak sesuai instruksi Pak Samsudin. Pak Samsudin sendiri berdialog dulu dengan Bos Garut. Kemudian kulihat mereka bersalaman, mungkin kesepakatannya sudah deal. Aku dan Randi berdiri menunggu, sambil melihat kesigapan para bapak bekerja.
"Tadi kok kamu malah duluan sampai sini sih Ran, padahal di jalan tadi kamu ga kelihatan mendahului aku."
"Iya ya, ga tahu aku juga. Tiba-tiba dah nyampe aja."
"Mungkin rute menuju kesini banyak pilihan kali ya."
"Nah, bisa jadi tuh."
Pak Samsudin mendekati kami.
"Ayo, Bos. Kita pulang. Lama kalau menunggu sampai selesai."
"O gitu ya, Pak?"
"Boleh Wil tanya sesuatu Pak?"
"Boleh, ayo mau tanya apa?"
"Kuburan Bapak Sugianto dimana ya, Pak? Aku dan Randi ingin berziarah."
"Oh, Ayo diantar. Di sana, di sebelah kebun yang lokasinya pinggir jalan."
"Mang Jana, Mang Ijar, antar dulu bos ke kuburan Bos Sugi ya." Pak Samsudin memanggil Mang Jana dan Mang Ijar.
"Iya, Pak." Mang Jana dan Mang Ijar langsung menyiapkan motor mereka.
"Nanti kita ketemu di sana ya, Bos." Aku dan Randi dibonceng kembali oleh Mang Jana dan Mang Ijar. Kami berangkat duluan. Pak Samsudin katanya nanti menyusul.
Kali ini laju motor Mang Jana dan Motor Mang Ijar beriringan. Perlahan-lahan seperti waktu aku berangkat tadi. Hanya saja jalan yang kami lalui berbeda lagi dengan jalan yang aku lalui sebelumnya. Sampai di jalan raya, Mang Jana agak ngebut. Mang Ijar juga sama. Tak lama kemudian kami sudah sampai. Mang Jana dan Mang Ijar menghentikan motornya, lalu memarkir motor mereka di area kebun.
"Itu Bos, area kuburan keluarga. Kuburan Bos Sugi di sana. Ayo ke sana" Kami mengikuti Mang Jana dan Mang Ijar menuju lokasi kuburan yang hanya beberapa puluh meter di depan kami.
Baru saja kami sampai kuburan, ketika kulihat motor Pak Samsudin datang. Beliau memarkir motornya di dekat motor Mang Jana dan motor Mang Ijar. Pak Samsudin berjalan mendekati kami.
"Hanya kuburan Bos Sugi saja yang ada di sini. Ini tadinya dipersiapkan untuk kuburan keluarga." Jelas Pak Samsudin. Kuburan ini begitu terawat, bersih. Padahal ada di lahan yang sekitarnya begitu rimbun ditanami pohon jagung. Buah jagungnya sudah besar-besar. Mungkin ini yang kata Pak Samsudin kemarin sudah siap panen.
"Ayo kita berdo'a dulu yuk." Kami berjongkok mengelilingi kuburan. Pak Samsudin memimpin do'a.
Selesai berdo'a, kami bersiap untuk pulang. Formasi seperti biasa. Aku dengan Mang Jana. Randi dengan Mang Ijar, Pak Samsudin sendiri. Pak Samsudin katanya mau ada urusan dulu, jadi tidak langsung pulang.
"Aduh bentar, Bos. Sekarang jam berapa ya?" Mang Jana tiba-tiba seperti kaget, seolah teringat sesuatu. Randi mengeluarkan HPnya, memastikan jam berapa.
"09.30, Mang."
" Oh, alhamdulillah."
"Kenapa, Mang?" Aku jadi penasaran dengan ekspresi Mang Jana.
"Itu, Tadi pagi Pak Samsudin pesan, jam sepuluh harus mengambil makanan dari rumah. Tapi sempet ko. Dari sini ke rumah paling cuma lima belas menit." Ya ampun. Aku sendiri malah lupa pesan Mak pada Pak Samsudin tadi pagi.
"Ayo atuh." Mang Ijar siap berangkat.
Alhamdulillah aku dan Mang Jana sudah sampai pintu gerbang rumah, Randi malah sudah sampai halaman rumah. Ketika motor Mang Jana memasuki gerbang, tanpa sengaja aku melihat saung tempat aku waktu bayi ditemukan. Aku melihat ada orang yang duduk di situ. Pakaiannya lusuh. Wajahnya murung. Matanya tidak fokus, melihat ke kiri, kanan, depan, belakang. Orang itu berulangkali melakukan aksi yang sama. Kelihatannya seperti mencari sesuatu.
"Mang, itu di saung siapa?" Kutanya Mang Jana saat aku sudah turun dari motornya. Aku penasaran. Siapa tahu Mang Jana tahu. Mang Jana mencoba memperhatikan saung dari halaman rumah, tapi memang kurang jelas. Mang Jana akhirnya berjalan ke arah gerbang rumah. Aku mengikuti.
"Hei, ayo keluar. Jangan di situ. Dasar kebiasaan. Ayo sini." Mang Jana mendekati orang itu. Yang didekati tetap asyik dengan dirinya sendiri. Matanya masih tetap mencari-cari. Mang Jana menepuk pundak orang itu, lalu menuntunnya keluar gerbang. Orang itu berlalu, tanpa sepatah katapun. Wajahnya menunduk. Kudengar ada isak tangis. Orang itu berlalu sambil menangis.
Mang Jana segera menutup gerbang.
"Biasa, Bos. Orang gila. Kalau pintu gerbang tidak ditutup, orang gila itu selalu masuk."
"Orang gilanya suka ngamuk ga Mang? Galak ga?"
"Ga sih. Selama ini ga pernah ngamuk. Tapi ya begitu, kalau tidak diusir, bisa sampai malam dia di situ. Padahal cuma gitu aja, duduk, mencari-cari sesuatu. Entah apa yang dia cari di situ." Aku mendengarkan dengan sedikit takut. Pikirku kalau orang gila itu suka ngamuk, suka melempar-lempar sesuatu, suka berprilaku aneh, suka merusak.
Aku dan Mang Jana kembali ke rumah, Mang Jana segera ke belakang rumah, membantu Mang Ijar yang sudah mengambil makanan dari Mak Asih.
Hanya selang beberapa menit saja, Mang Jana dan Mang Ijar sudah siap berangkat kembali. Mereka mau mengantarkan makanan untuk para panyawah yang sedang panen porang di kebun. Aku melihat pintu gerbang terbuka lagi. Tadi Mang Jana dan Mang Ijar sepertinya lupa menutupnya kembali.
"Ran, ke depan rumah yuk." Aku mengajak Randi.
"Mau apa emang?" Randi malah bertanya.
"Menutup gerbang, nanti kalau Pak Samsudin datang, kita bukakan lagi gerbangnya."
"Nanti sajalah ditutupnya setelah Pak Samsudin masuk." Randi berargumen.
"Ih kamu ga tahu ya. Kalau gerbang terbuka, suka ada orang gila masuk."
"Hah! Orang gila? Dimana?" Mata Randi terbelalak.
"Yuk. Tutup gerbang dulu." Randi akhirnya menurut, dia mengikutiku.
Selesai menutup gerbang, aku mengajak Randi duduk di saung. Sambil menunggu Pak Samsudin datang.
"Wil. Dipikir-pikir, ko ada ya yang tega membuang bayi. Di buang gitu aja. Masih untung segera ditemukan oleh Pak Samsudin. Ini kalau ga da yang tahu sampai berhari-hari gimana coba. Tega ya tuh orang. Dasar, ga tahu dosa kali ya?" Randi ngomel-ngomel.
"Ah namanya juga manusia, Ran. Ada yang baik ada yang jahat. Yang membuang bayi begitu, sudah pasti orang jahat. Orang yang tidak bertanggung jawab." Aku ikut menimpali hujatan Randi.
"Eh, Wil. Itu Pak Samsudin datang." Aku bergegas menuju gerbang, membukakan pintu gerbang untuk Pak Samsudin.
"Aduh, Bos. Kenapa jadi Bos yang membukakan gerbang?"
"Ga apa-apa, Pak. Kami sengaja nunggu Bapak ko. Tadi gerbangnya sengaja ditutup dulu, khawatir orang gila datang lagi. Tadi ada orang gila, Pak. Masuk dan duduk di saung." Pak Samsudin terlihat tenang-tenang saja menerima laporanku.
"Oh, orang gila yang kurus itu ya? Sudah biasa itu mah. Orang gilanya baik ko. Ga aneh-aneh. Paling cuma duduk, cari sesuatu, nangis-nangis, terus keluar lagi, pergi." Pak Samsudin seperti sudah tak asing lagi dengan kejadian orang gila masuk gerbang.
"Itu orang gila sudah sering kesini ya, Pak?" Randi menyela.
"Sudah dari dulu, Cep. Waktu Bos Acep masih kecil juga, orang gila itu sudah sering ke sini. Jadi Bapak memang sudah hafal, orang gila itu ga aneh-aneh."
"Ayo, kita ke rumah. Bapak bawa sesuatu untuk Bos Acep. Untuk Cep Randi juga." Mata Randi berbinar. Dia melangkah dengan ceria.