KK

KK
16. ORANG-ORANG BAIK



Kami terpana. Pak Samsudin ternyata bukan hanya mengenal Bapak Sugianto, beliau juga mengenal Ibu Aisyah.


"Betul, Pa. Wildan yang putranya Pak Sugianto dan Ibu Aisyah." Randi menegaskan. Pak Samsudin menatapku, lekat sekali.


"Sudah besar kau nak."


"Iya, Pak. Bapak kenal Pa Sugianto dan Ibu Aisyah?"


"Ya Allah, nak. bukan hanya kenal. Pak Sugi itu..." Pak Samsudin berkaca-kaca, tak bisa melanjutkan kalimatnya. Aku dan Randi berusaha sabar menunggu.


"Ayo nak. Kita ke rumah dulu yuk. Ngobrolnya di rumah saja." Kami menurut. Pak Samsudin memegang tangan aku di sebelah kiri, tangan Randi di sebelah kanan. Lalu menuntun kami menyeberang jalan. Kami serasa menjadi anak kecil kembali. Sikap Pak Samsudin menjadi lain. Beliau seolah memanjakan kami.


Setelah menyeberang jalan, Pak Samsudin menunjukkan sebuah rumah. Rumah itu ada di depan kami. Halamannya demikian luas. Aku berdecak kagum, tak menyangka kalau rumah Pak Samsudin demikian besar dan bagus. Dikira aku menuju rumah Pak Samsudin masih harus berjalan sekian waktu, tenyata tidak. Rumah Pak Samsudin tepat lurus dengan posisi kami mengobrol di seberang jalan tadi.


"Ayo sini, Acep."


"Mak, Ini ada Acep. buatkan minum ya, Teh manis panas saja, kasihan pada cape." Pak Samsudin sedikit berteriak.


"Iya, Pa." Terdengar jawaban dari dalam rumah.


Kami duduk di halaman rumah, Pak Samsudin menggelar karpet untuk kami. Randi dan aku masih belum puas memperhatikan halaman rumah ini. Selain luas, halaman ini tertata begitu apik. Ada tanaman-tanaman yang terawat baik mengelilingi sebuah kolam ikan yang cukup besar. Dari tempat kami duduk terlihat ikan-ikan koi besar di dalam kolam. Ikan-ikan koi dengan warna-warna yang demikian cantik bergerak kesana kemari. Air mancur ada di tengah kolam, airnya tak berhenti mengalir. Mengeluarkan suara gemericik yang menenangkan pikiran. Area di luar kolam, ditanami pohon rambutan, pohon mangga, dan pohon kelapa. Walaupun banyak pohon di halaman ini, halaman ini tetap bersih terawat. Dari bersihnya kami tahu bahwa pemiliknya orang yang sangat apik dan tekun.


"Jang, kadieu. Pangalakeun kalapa 5 siki mah, nu rada ngora nya ngarah ngeunah. Keur tamu." Pak Samsudin memanggil seseorang yang lewat di halaman. Orang itu langsung naik pohon kelapa, dan menjatuhkan 5 buah kelapa.


Seorang perempuan keluar dari pintu rumah, membawa teh manis panas 5 gelas, lengkap dengan sepiring pisang goreng hangat. Rupanya itu istrinya Pak Samsudin. Beliau mempersilahkan kami minum, lalu masuk lagi ke dalam rumah.


"Banyak sekali minumnya, Pak?" Randi berkomentar.


"Sengaja. Takutnya acep masih haus kalau hanya segelas." Randi senyum. Dia merasa bangga dilayani demikian luar biasa oleh Pak Samsudin. Aku sendiri merasa kagum tak henti-henti, Pak Samsudin ini, sudah kaya, baik pula.


"Kadieu Jang, sakalian pangmukakeun nya, bedogna di tukang, ka si Mak coba. Engke Make sedotan nya Jang." Walau kami tidak terlalu mengerti apa yang diucapkan Pak Samsudin, tapi kami bisa menebak-nebak artinya. Intinya Pak Samsudin menyuruh orang itu menyiapkan kelapa muda untuk kami.


Beberapa menit kemudian, kelapa muda sudah tersaji di hadapan kami. Randi tak tahan, langsung mengambil satu dan meminum airnya menggunakan sedotan.


"Hmm... seger Wil. Coba ayo. Seger banget aduh." Kepala Randi sampai bergoyang-goyang, menikmati segarnya air kelapa muda. Pak Samsudin tertawa.


"Ayo, Acep, dicoba."


"Iya, Pak. Makasih." Aku mengambil satu kelapa, menyeruput airnya. Pantas kepala Randi sampai bergoyang-goyang. Air kelapa ini memang luar biasa nikmat. Randi kulihat sedang asyik menikmati pisang goreng. Seperti biasa, Randi langsung anteng kalau di depannya tersaji banyak makanan.


Istri Pak Samsudin keluar lagi, kali ini membawa sepiring ubi rebus.


"Ayo dimakan, mumpung masih hangat."


"Iya, Bu. Terimakasih."


"Duduk di sini, Mak. Ikut ngobrol."


"Mak, tebak coba, Acep-Acep ini siapa?"


"Siapa gitu, Pak? Yang jelas orang kota kan?" Istri Pak Samsudin tentu saja tak bisa menebak siapa kami. Karena kami memang baru pertama kali ke sini.


"Betul, orang kota. Tapi mereka dulu orang sini. Mak ingat-ingat coba, Acep yang satu ini, dulu waktu bayi di sini, bahkan sampai usia 4 tahunan kalau tidak salah"


"Waktu bayi, Pak? Sampai usia 4 tahunan?" Istri Pak Samsudin berusaha mengingat-ngingat. Aku sendiri heran, Pak Samsudin tahu persis bahwa waktu bayi aku di sini.


"Iya, Mak. Sudah ingat? Mak juga suka gendong waktu dia kecil dulu."


"Ya Allah, Pa. Wildan anaknya Bos Sugi dan Ibu Aisyah Pa? Ya Allah nak..." Istrinya Pak Samsudin mendekati aku. Lalu memeluk aku. Beliau menangis. Sambil menciumi aku.


"Ya Allah Aden, sudah besar kamu nak. Ini Mak Asih Den, ingat ga? Mak Asih yang suka ngasuh Aden waktu kecil. Waktu Aden segede gini." Istri Pak Samsudin memperagakan dengan tangannya. Aku masih mematung, tak mengerti apa yang terjadi. Randi juga sama, kami sama sama bingung.


Mak Asih kemudian melepaskan pelukannya, tangannya masih memegang pundakku. Mak Asih lalu mengusap kepalaku, lembut. Aku merasakan seolah sedang diusap ibu.


"Mak pangling nak, Aden sudah besar sekali, kasep pisan." Aku mengerti, Mak Asih memuji aku terlalu berlebihan. Randi sampai menahan tawa mendengar pujian Mak Asih.


"Alhamdulillah, Pak. Akhirnya anaknya Bos Sugi datang juga. Tenang jadinya sekarang. Kalau kita dipanggil Allah juga sudah tenang, tidak punya beban, tidak punya hutang."


"Iya, Mak. Alhamdulillah. Semua sudah diatur oleh Allah." Percakapan kedua orang tua ini makin membuat kami bingung. Randi menatapku, mencoba meminta penjelasan. Aku hanya menggelengkan kepala.


"Sekarang ayo masak Mak, buat makan semua."


"Iya, Pak."


Mak Asih berlalu. Pak Samsudin mendekatkan piring berisi ubi rebus ke Randi. Randi kembali mengambil satu, memakannya dengan begitu nikmat, teh manis Randi sudah gelas yang kedua. Aku sendiri diam, menatap Pak Samsudin, menunggu siapa tahu Pak Samsudin menjelaskan sesuatu. Aku betul-betul tidak mengerti apa yang dibicarakan Pak Samsudin dan Mak Asih tadi.


"Bapak tahu Acep ke sini digerakkan oleh Allah. Untuk menelusuri asal usul Acep kan ya?" Kembali aku terpana, Pak Samsudin serba tahu. Selintas aku jadi curiga, jangan-jangan Pak Samsudin ini seorang dukun atau sejenis itulah. Seseorang yang punya ilmu kebatinan tinggi. Punya indera ke enam.


"Iya, Pak. betul. Kami ke sini karena ingin tahu, seluk beluk terkait KK yang kami tunjukkan tadi."


"Alhamdulillah. Bapak dan Mak sangat bahagia Acep datang ke sini. Beberapa tahun lalu bapak pernah mencoba mencari tahu keberadaan Acep dan Ibu Aisyah. Dulu kabarnya Bu Aisyah pindah ke Bandung, kami cari-cari kesana kemari, tetap tidak ketemu. Bapak tidak punya alamat yang jelas." Pak Samsudin terus bercerita, kami menyimak dengan serius.


"Sekarang Bu Aisyah tinggal dimana Cep, masih sama Pak Muji?" Aku dan Randi saling memandang. Kami tahu sekarang, bapak Samsudin betul-betul tahu persis tentang aku dan Ibu Aisyah.


"Ibu Aisyah sudah meninggal Pak. Tiga tahun lalu."


"Ya Allah, Innalillaahi Wainna Ilaihi Roji'uun. Bu Aisyah, Ya Allah..." Pak Samsudin menunduk, menyeka sudut matanya yang basah. Beliau menangis. Mak Asih yang tiba-tiba muncul sambil membawa baki berisi tiga gelas air putih, diam mematung. Mak Asih menyimpan baki yang dibawanya, lalu menghampiri Pak Samsudin.


"Pak, Ibu Aisyah..."


"Iya, Mak. Ibu Aisyah sudah tidak ada." Kedua orang tua itu saling berpelukan, menangis sejadi-jadinya. Mereka seolah tidak menyadari ada kami di sini.