KK

KK
25. RENCANA RAHASIA



Dari ruang tv, Randi masih menatap Pak Samsudin. Randi penasaran dengan label miliarderku. Pak Samsudin tersenyum, dua jempol tangan diacungkan.


"Pokoknya top top top." Kalimat Pak Samsudin makin membuat mata Randi melotot. Randi berdecak kagum.


Sekarang aku sudah merasa agak terbiasa dengan pujian Randi, rasa malu terkikis sedikit demi sedikit. Meski aku sendiri tak berani melihat seberapa banyak uangku, minimal aku tak kikuk lagi ketika Randi menyebutku orang kaya. Pak Samsudin sudah bilang akan menunjukkan buku rekening yang berisi uangku. Tapi sampai saat ini, aku masih menolak. Nanti saja melihatnya, besok atau lusa, bila waktunya sudah tepat.


"Tentang rincian hasil panen jagung nanti saja laporannya ya, "


"Iya, Pak. Siap." Aku setuju.


Pak Samsudin kemudian berlalu, melanjutkan aktifitasnya. Katanya beliau mau memantau hasil panen jagung. Pak Samsudin bilang, semua hasil panen jagung ditampung di rumahnya.


Pak Samsudin pernah menjelaskan, bahwa rumahnya hanya beberapa puluh meter jaraknya dari rumah ini. Aku sendiri belum sempat mengunjungi rumah Pak Samsudin. Kata Pak Samsudin, sejak Ibu Aisyah meninggalkan rumah ini, Pak Samsudin dan Mak Asih lebih sering tinggal di rumah ini daripada di rumahnya. Jadi rumah Pak Samsudin lebih sering kosong daripada berpenghuni. Pak Samsudin lebih merasa khawatir bila rumah ini ditinggalkan tanpa penghuni. Di sini banyak barang berharga, bila rumah sering kosong, nanti mengundang perhatian orang-orang yang tidak bertanggung jawab.


"Wil, bocoran dong, ada ide ga?" tiba-tiba Randi bertanya saat aku bergabung menonton tv.


"Bocoran apa... ya?" Aku pura-pura tak mengerti. Sebenarnya aku memang belum paham arah pembicaraan Randi.


"Itu loh. Uang kamu mau buat apa gitu?" Rupanya itu maksud Randi. Aku menggeleng. Randi terus mendesak aku untuk memikirkan penggunaan uangku. Aku tetap menggeleng. Untuk saat ini, biar saja Randi hanya tahu bahwa aku belum punya rencana apa-apa. Walau sebenarnya aku sudah punya rencana rahasia. Rencana rahasia yang sampai saat ini baru Pak Samsudin yang tahu.


***


Pagi yang cerah, jam delapan lebih sedikit di halaman rumah kami sudah banyak orang yang berkumpul. Para panyawah akan gajian pagi ini.


Semua amplop berisi uang sudah disiapkan Pak Samsudin. Di tiap amplop sudah tertera nama panyawah dan besar uang gajinya.


Aku dan Randi yang membagikan amplop. Aku menyebutkan nama, Randi memberikan amplop. Aku diperkenalkan oleh Pak Samsudin pada semua yang hadir. Semua menyambut aku dengan anggukkan dan senyum. Ada juga yang bertanya lucu,


"Bos kita masih kecil begini, Pak?" Pak Samsudin mengangguk pasti. Semua yang hadir jadi sedikit ramai membicarakan topik aku, si Bos kecil. Mereka masih asyik mengobrol sana sini, padahal tangan mereka masing-masing sudah memegang amplop bagiannya.


Di sela keramaian obrolan para panyawah, di ujung gerbang yang terbuka, aku melihat dia. Siapa lagi kalau bukan orang gila itu. Randi juga fokus memperhatikan.


"Harusnya kita ke rumah nenek sekarang." Randi berbisik di telingaku.


"Iya Ran. Ayo." Aku mengajak Randi, berdiri.


"Pak, Kami jalan-jalan seputar kampung ini sebentar ya. Ga lama ko." Tak lupa aku pamit pada Pak Samsudin. Aku tak mendengar lagi dengan jelas pesan Pak Samsudin, Randi sudah menarikku, keluar dari kerumunan, menuju gerbang. Saat kami melalui gerbang, orang gila sedang duduk di saung. Dia sedang asyik merenung.


Keluar gerbang, kami langsung berjalan ke arah rumah nenek. SMAN Leuwi Goong sudah kami lewati. Kali ini aku dan Randi berjalan dengan sedikit santai, berbeda dengan kemarin saat mengikuti nenek dan orang gila. Rute yang kami lewati sama dengan kemarin, aku sudah sedikit hafal, Randi apalagi.


Sampai di akar pohon besar dekat rumah nenek, kami berhenti. Kami tidak melihat nenek. Pintu rumah nenek tertutup.


"Gimana nih, Wil?"


"Tanya coba, Ran. Itu tuh ke bapak itu." Kebetulan ada seorang bapak lewat.


"Permisi Pak, maaf. Mau tanya, nenek yang di rumah itu ada ga ya, Pak?" Si bapak melihat ke arah rumah nenek.


"Oh, Nek Ibut. Biasanya kalau jam segini suka bantu-bantu nyuci di rumah Ibu Salamah, sampai siang."


"O gitu ya, Pak. Iya, Pak. Makasih." Si bapak berlalu.


"Duduk di sana yuk, Wil." Randi mengajakku duduk di dipan. Aku mengikuti langkah Randi.


Sebelum duduk aku dan Randi sama-sama menatap dipan. Dipan yang sudah rusak. Banyak lubang di sana sini. Orang gila kemarin sampai tertawa bahagia bermain di sini, bersama nenek. Padahal dipan ini sebegini adanya. Aku mencoba memahami, bahwa untuk bahagia itu tidak selalu harus dengan sesuatu yang bagus, atau mahal. Sesuatu yang sederhana pun, bisa membuat seseorang bahagia.


Angin berhembus, menerpa badan kami, lumayan dingin. Kami duduk, menunggu. Entah menunggu apa. Menunggu nenek tentu saja bukan, karena nenek baru pulang nanti siang. Menunggu orang gila, juga bukan. Jadwal pulang orang gila tidak dapat dipastikan. Kami hanya diam, sedikit melamun. Ada ketenangan yang kami rasakan. Kami seolah merasakan indahnya jadi nek Ibut, yang memiliki orang gila, dan bisa tertawa terpingkal-pingkal bersama.


"Ran, menurut kamu, mana yang lebih penting. Memecahkan misteri kotak tusuk gigi atau menolong Opik?"


"Jawab aja dulu. Mana yang lebih penting?"


"Mana ya?"


"Antara dua itu aja, mana yang lebih penting?"


"Kalau menurut aku sih, menurut aku loh ya, lebih penting memolong Opik."


"Alasannya?"


"Ya karena Opik itu benda hidup, orang hidup. Kotak tusuk gigi kan cuma benda mati. Ya mending tolong dulu orang hidup kan? misteri benda mati sih bisa kapan-kapan ditelusurinya."


"Oke, Ran. Kita pulang sekarang."


"Pulang ke rumah Pak Samsudin? Eh, rumah kamu maksudnya? Hehe." Mulai deh Randi, dia langsung kabur, setengah berlari menyusuri jalan pulang. Aku cuma tertawa, Randi kubiarkan berlalu tanpa aku kejar.


Berjalan sendirian membuat aku sedikit berpikir. Opik. Aku harus segera ketemu Opik. Aku harus menolong dia. Rencana kubuat, nanti akan aku bicarakan dulu dengan Pak Samsudin.


Sampai rumah, Mak Asih memaksa kami untuk makan dulu. Mak khawatir karena belum melihat kami sarapan, padahal dari tadi pagi kami sudah memakan kue-kue, bersama para panyawah saat pembagian gaji.


"Bapak kemana, Mak?" Aku belum melihat Pak Samsudin lagi.


"Barusan kerumah Mak dulu, mau mengecek jagung pipil."


"Apa, Mak? Jagung pipil?" Randi langsung komentar.


"Iya, jagung pipil itu biji jagung yang sudah dipisahkan dari bonggolnya."


"Ooh." Tambah lagi pembendaharaan kata yang kupunya. Jagung pipil.


"Rumahnya jauh ga sih, Mak? Wil jadi ingin liat."


"Habiskan dulu makannya, nanti Mak antar, dekat ko."


Beres makan, aku dan Randi ke rumah Mak Asih, diantar Mak. Pak Samsudin ada di depan rumah, sedang menjemur jagung pipil bersama beberapa panyawah.


"Masuk ke dalam, Bos. Kalau di sini lumayan panas." Pak Samsudin membukakan pintu rumah.


"Di sini juga ga apa-apa, Pak. Sengaja ingin liat ko." Banyak sekali tempat-tempat terbuat dari bambu, berbentuk lingkaran, di simpan berjajar di halaman rumah Pak Samsudin. Di dalamnya ada jagung pipil. Sepertinya sengaja dijemur.


"Ini namanya apa, Pak?" Randi cukup penasaran juga dengan nama benda dari bambu itu.


"Kalau di daerah sini, namanya giribig. tampah yang besar, terbuat dari bambu. Giribig digunakan untuk menjemur jagung pipil." Pak Samsudin menjelaskan, sambil tangannya terus bekerja, mengisi giribig-giribig yang masih kosong, dengan jagung pipil.


"Coba liat di dalam, Bos. Ada mesin buat memisahkan biji jagung dan bonggolnya. Kita sudah punya 3 mesin yang seperti itu." Oh pantas, ada suara bising di dalam rumah Pak Samsudin.


"Iya, Pak. Sebentar Wil liat. Tapi Wil mau bilang sesuatu dulu, Pak." Pak Samsudin paham. Beliau mendekat ke arahku, lalu mendekatkan telinganya. Aku membisikkan sesuatu di telinga Pak Samsudin.


"Sekarang, Bos?" Pak Samsudin memastikan


"Iya, Pak. Setelah sholat dzuhur rencananya."


"Ya sudah. Nanti Mang Jana yang mengantar."


"Ga usah, Pak. Biar Wil dan Randi pakai bis saja."


"Bos, Bos... Itu mobil kasihan di garasi terus. Sekali-kali bawa jalan kek." Pak Samsudin tertawa, lalu menyuruh seseorang mencari Mang Jana.