KK

KK
43. MIMBO



Agak lama aku menunggu jawaban Kak Agung.


Aku tak sabar menunggu.


"Ada apa, Kak? Kak Agung dan semua sehat-sehat kan?" Salah satu hal yang tidak bisa diduga adalah masalah kesehatan. Kadang beberapa menit lalu kita merasa sehat-sehat, sekian menit kemudian tiba-tiba kita merasakan sakit. Bila sudah sakit, aktifitas yang bisa kita lakukan tentu saja jadi terbatas. Kak Agung dan kawan-kawan total ada empat orang, anak-anak matahari 19 orang. Bila salah satu dari mereka sakit, apalagi bila sakitnya agak berat, tentu harus ditangani dulu. Semua harus diusahakan sehat, karena kesehatan itu utama.


"Sehat, Wil. Semua sehat." Ada jawaban beberapa menit kemudian.


"Aku pulang yaa." Terdengar suara Opik masuk rumah.


"Kakak, kenapa ko keliatan kayak bingung?" Opik langsung peka melihat ekspresiku. Memang tak bisa kupungkiri, aku penasaran, aku gelisah, aku khawatir.


"Ini kakak lagi nunggu kabar dari Kak Agung." Aku menunjukkan HP yang masih menyala.


"Mereka sudah mau sampai ya?" Opik penasaran juga.


"Belum, kan baru mau jam sepuluh. Kakak-kakak dan semua berangkatnya jam sepuluhan dari Bandung."


"Oh. Dikira sudah mau nyampe."


"Opik ke belakang dulu ya, Kak. Bantuin Mak beres-beres di dapur."


"Mak Asih lagi ke pasar bareng Kak Randi. Di dapur ada Mak Ucih sama Uwa Ane." Aku memberitahu Opik selintas. Opik mengangguk, lalu berlalu menuju dapur.


Chat di HP kembali ku cek lagi. Terlihat Kak Agung sedang mengetik.


"Salah satu anak matahari hilang, Wil." Debar jantungku langsung berpacu lebih cepat. Tanganku sampai bergetar.


"Hilang? Maksudnya gimana, Kak?


"Tadi kami semua sudah siap, sedang beres- beres mengangkut tas anak matahari. Kemarin ada yang menyumbang tas ransel untuk sekolah, masing-masing anak matahari kebagian satu. Setelah semua beres, tiba-tiba baru terpantau, Mimbo tidak ada, tasnya juga tidak ada."


"Ya Allah, Mimbo? Usia berapa kira-kira, Kak?" Aku memang masih belum hafal masing-masing anak matahari.


"Di bawah Opik sedikit. Anaknya kurus, tingginya di bawah Opik juga." Aku berusaha mengingat-ingat. Wajahnya masih samar untuk aku bayangkan. Tapi kalau soal kurus, dan tinggi di bawah Opik, aku ingat. Ada dua anak kalau tidak salah, yang tingginya di bawah Opik.


"Terus gimana, Kak? Sampai sekarang belum ada info apa-apa?"


"Belum. Ini kami masih berusaha mencari di sekitaran sini."


"Petugas dari Dinas Sosial semuanya sudah hadir dan sudah tau?" Aku berusaha mencari tahu lebih lanjut. Aku di sini saja panik dan bingung memikirkan masalah ini, apalagi Kak Agung dan kawan-kawan di sana. Pasti mereka gelisah dan bingung sekali.


"Sudah. Kami semua sudah siap berangkat, termasuk petugas dari Dinas Sosial yang akan mengantar."


"Prediksi dari kakak-kakak di sini sih, kayaknya Mimbo kembali ke Leuwi Panjang. Ke tempat asalnya. Walaupun kami tidak tau bagaimana caranya Mimbo pergi ke sana."


"Kakak ada rencana memantau ke Leuwi Panjang?" Aku bertanya, sekaligus menyampaikan ide.


"Ga tau, Wil. Belum ada rencana apa-apa. Menurut kamu gimana?" Aku berpikir sejenak. Duh, mana Randi tidak ada. Biasanya kalau lagi ada masalah begini, aku berdiskusi dengan Randi. Berpikir dua orang dengan berpikir satu orang tentu saja beda. Bila aku berpikir bareng Randi, biasanya akan muncul ide-ide jitu yang tak terduga. Ide-ide yang bisa diterapkan untuk menyelesaikan masalah. Oh iya, Randi memang tidak ada, tapi Opik ada. Meski Opik hanya anak kecil usia delapan tahunan, tapi kepolosan cara berpikirnya kadang bisa juga dijadikan dasar untuk menemukan ide-ide yang bagus.


Aku bergerak mencari Opik. Tadi dia bilang mau membantu beres-beres di dapur.


Betul, Opik ada di dapur. Tapi tidak sedang beres-beres. Opik sedang duduk santai, mengobrol bersama Mak Ucih dan Uwa Ane yang masih sibuk memasak.


"Katanya tadi mau membantu beres-beres, ko malah duduk santai?" Opik tertawa aku goda, Mak Ucih yang membelanya,


"Ih tadi mah rajin pisan Opik teh. Udah bantuin cuci piring ya Opik ya?" (Pen: Ih tadi sih Opik rajin sekali, udah bantuin cuci piring ya Opik ya?) Makin lebar tawa Opik mendengar Mak Ucih membelanya.


"Pik, duduk di ruang tengah yuk. Kita ngobrol sambil nunggu Kak Randi."


"Ayo."


"Bentar lagi di rumah ini akan rame. Ada 20 orang anak yang hampir sebaya, kumpul di sini. Pasti seru."


"Iya, Kak. Opik juga ingin cepet-cepet ketemu mereka."


"Itu temen Opik yang namanya Mimbo, udah lama barengan sama Opik?"


"Udah, Kak. Malah lebih duluan Mimbo di Leuwi Panjangnya dibanding Opik. Kakak ko hebat tau yang namanya Mimbo?"


"Kak Agung yang cerita, O ya, memangnya Mimbo asalnya dari mana?"


"Ga tau. Yang Opik tau, Mimbo anaknya Pak Preman." Pak Preman? Aku hampir tak percaya. Mana mungkin Mimbo anaknya Pak Preman. Mimbo adalah salah satu anak yang tertindas. Dia harus menyetorkan hasil mengemisnya tiap hari ke Pak Preman. Jadi tidak mungkin Mimbo anaknya Pak Preman. Karena seorang ayah tidak mungkin berlaku sekejam itu.


"Opik yakin Mimbo anaknya Pak Preman?" Opik mengangguk.


"Semua temen bilang begitu. Terus, Mimbo juga panggil Pak Preman dengan sebutan bapak." Waduh, berarti dugaan Kakak-kakak pembimbing sepertinya betul. Mimbo kembali ke Leuwi Panjang. Kembali pada Pak Preman. Tapi bila Mimbo ingin tetap bersama Pak Preman, kenapa tidak dari awal Mimbo bilang. Kenapa Mimbo ikut beraksi dengan baik saat ditertibkan oleh petugas beberapa hari lalu. Pikiran ini mulai pusing, Aku jadi banyak menduga-duga.


Sambil mengobrol dengan Opik, aku cek HP lagi. Sudah ada empat chat dari Kak Agung.


"Gimana, Wil. Ada ide?"


"Ini kami dah otw. Tapi mau mampir ke Leuwi Panjang dulu."


"Sekedar lewat sih, siapa tau ada sesuatu."


"Dah ada ide, Wil?"


Kasihan, Kak Agung sudah menunggu jawabanku dari sepuluh menit lalu.


"Mbb Kak, dari tadi mencoba mikir." Aku lihat, Kak Agung juga sedang online.


"Ada info dari Opik, Mimbo katanya anaknya Pak Preman."


"Apa, Wil? Anaknya Pak Preman? Waduh! Bakal agak ribet ini urusannya."


"Sepertinya iya. Ga akan bisa sebentar ngurusinya. Jadi Kakak langsung ke Garut aja. Kasihan anak-anak matahari yang lain."


"O gitu, Lalu Mimbo?"


"Urusan tentang Mimbo nanti saja kita pikirkan lagi cara menyelesaikannya."


"Oke. Kita langsung otw Garut. sharelock jangan lupa.


"Oke, Kak."


HP kututup dulu. Perutku sudah bernyanyi tralala trilili. Opik masih asyik nonton tv. Dia tidak menyadari kalau aku dan kakak-kakak pembimbing sedang pusing memikirkan Mimbo yang hilang. Aku meninggalkan Opik sebentar, menuju meja makan. Siapa tahu kalau perut sudah di isi, otak jadi agak cling lagi.


Sepiring nasi dan lauk pauk sudah siap kusantap. Sengaja aku makan di ruang tengah, sambil nonton tayangan tv yang sedang ditonton Opik.


"Ayo, Pik. Makan dulu sana." Opik cuma menggeleng. Dia lebih memilih fokus menonton daripada harus makan. Opik memang begitu, makan seolah bukan urusan penting buat Opik. Mungkin Opik sudah biasa menahan lapar, secangkir teh manis hangat tadi pagi sudah cukup membuat perutnya tenang.


Halo pembaca setia. ❤❤❤


Makasih masih tetap hadir sampai saat ini. Jangan lupa like dan koment ya. Tambah seru rasanya kalau lihat like dan koment yang buanyakk😀🥰🥰🥰


O ya, saudara sesama Authorku makin banyak nih. Karya mereka bagus-bagus, ikut simak yuk,