KK

KK
64. TAMU TAK DIUNDANG



Matahari makin tinggi, sebentar lagi adzan dzuhur berkumandang. Anak-anak sudah selesai bermain, mereka duduk-duduk sebentar di teras.


"Ayo, semua masuk. Kita siap-siap sholat dzuhur." Pak Samsudin menginstruksi.


Opik yang masih bermain dengan Bapak Nana, menghentikan kegiatannya. Opik lalu cium tangan pada Bapak Nana, pamit untuk masuk ke dalam rumah. Anak-anak yang lain mengikuti, semua cium tangan pada Bapak Nana. Mereka semua lalu melambaikan tangan, dan masuk ke dalam rumah. Meski tangan Bapak Nana masih melambai-lambai, Mak mendekat, menuntun Bapak Nana, mengajak pulang.


"Nek, Ulah hilap nya, kin bada asar urang ka Cirebon deui." (Pen: Nek, Jangan lupa ya, nanti setelah asar kita ke Cirebon lagi) Mang Jana mengingatkan nenek. Nenek mengangguk. Sebelum keluar dari pintu gerbang, Bapak Nana kembali melambaikan tangan ke arah pintu rumah. Mungkin dalam bayangannya Opik ada di sana.


Setelah nenek dan Bapak Nana pulang, Mak Asih dan Mak Ucih keluar dari rumah, menemui Bu Yanti. Si Kecil digendong oleh Mak Ucih.


"Nanti main ke sini lagi ya, anak manis." Mak Asih masih sempat mencubit pipi tembem Si Kecil, sebelum Mak Ucih menyerahkan Si Kecil pada Bu Yanti dan suaminya.


"Terimakasih ya, Bu. Terimakasih untuk semuanya." Aku betul-betul berhutang budi pada Bu Yanti dan suaminya.


"Iya, Wil. Sama-sama. Jangan lupa kabari perkembangan terbaru tentang Mimbo ya." Suami Bu Yanti mengusap bahu istrinya. Mungkin beliau sudah paham. Hati Bu Yanti agak sensitif bila sudah membahas tentang anaknya yang hilang.


Di halaman rumah, kini hanya ada aku, Randi dan para guru.


"Selamat ya, Wil. Semoga Pak Nana cepet sembuh. Paling tidak sekarang Pak Nana jadi tahu bahwa anaknya yang hilang bukan lagi seorang bayi." Bu Min mengucapkan selamat, guru-guru yang lain juga. Aku kagum pada guru-guruku ini, mereka bersedia menunda waktu pulangnya demi untuk menyaksikan usaha kami memulihkan ingatan Bapak Nana. Mereka betul-betul para guru yang hebat.


"Iya, Bu. Alhamdulillah. Minggu depan Insyaa Allah rencana aksinya dilanjutkan lagi. Semoga semua berjalan sesuai dengan yang kita harapkan."


"Ayo, Bu. Kita siap-siap sholat dzuhur." Kami semua masuk ke dalam rumah. Kulihat anak-anak matahari sudah siap untuk melaksanakan sholat dzuhur berjamaah di ruang tengah. Kak Agung yang memimpin.


***


Setelah beres sholat dan makan siang, anak-anak bersiap untuk belajar di halaman rumah, bersama kakak-kakak pembimbing. Aku dan Randi juga ikut membantu membimbing anak-anak.


Kali ini, dua papan tulis whiteboard di hamparkan di atas tanah. Kak Agung lalu memberi contoh menulis huruf A, di papan tulis yang ditempel di dinding rumah.


"Ayo, sekarang ikuti kakak menulis huruf A dulu, coba perhatikan. Seperti ini ya." Kak Agung memperagakan dengan perlahan-lahan cara menulis huruf A. Anak-anak yang masing-masing sudah memegang spidol whiteboard menirukan contoh peragaan Kak Agung, di papan tulis whiteboard yang terhampar di tanah. Satu papan tulis dipakai sepuluh anak.


Lucu dan seru, sebagian dari mereka menulis sambil berjongkok, sebagian yang lain menulis sambil duduk. Anak-anak yang masih kurang percaya diri bolak-balik menyontek pada teman di dekatnya. Membanding-bandingkan tulisannya dengan tulisan temannya. Sementara anak-anak yang percaya diri langsung fokus menulis hanya dengan melihat contoh dari Kak Agung.


"Ayo, tidak usah takut salah. Semua tulisan kalian bagus kok." Kak Yanto berusaha memotivasi semua.


"Oke, sudah bisa semua ya?" Kata Kak Agung.


"Sudah, Kak. Alhamdulillah, kami bisa menulis." Mereka senang sekali.


"Sekarang coba lihat contoh berikutnya. Ini huruf B. Lihat cara menulisnya." Kak Agung kembali memperagakan cara menulis huruf B. Anak-anak kembali menirukan, aku, Randi dan kakak-kakak yang lain bertugas memantau dan membantu mereka yang masih kesulitan.


"Ayo, menulisnya di ulang-ulang. dirangkaikan saja menulisnya BA, sambil kalian baca BA, setiap kalian tulis, mulut kalian bilang BA. Gitu ya." Kak Agung begitu bersemangat memotivasi anak-anak.


"Kamu masih bisa mengikuti, Dian?" Randi mencoba menyelidiki, kami semua memang cukup khawatir.


"Bisa, Kak. Lumayanlah agak terlihat sedikit. Tapi aku bisa kok." Semangat Dian memang luar biasa.


Kak Agung melanjutkan pelajaran. Kata Kak Agung target belajar menulis sekaligus membaca untuk hari ini adalah BA, CA dan BA, BI, BU, BE, BO serta CA, CI, CU, CE, CO. Untungnya anak-anak matahari terbilang cepat pahamnya. Mungkin semangat mereka yang begitu tinggi membuat konsentrasi mereka jadi berlipat-lipat, sehingga kualitas pemahaman mereka jadi luar biasa.


"Ran. Ada tamu." Sedang asyik-asyiknya membimbing anak-anak membaca dan menulis, Randi memberitahu bahwa ada tamu datang.


Aku menoleh, melihat siapa yang datang.


Ternyata yang datang adalah orang yang tidak aku harapkan, yaitu Pak Preman.


"Assalamu'alaikum." Rasanya baru kali ini mendengar Pak Preman mengucapkan salam. Andai bukan salam yang diucapkan, pasti akan aku abaikan. Tapi karena salam yang kudengar, maka aku wajib menjawab.


"Wa'alaikum Salam." Serempak kami semua menjawab salam. Pak Preman menghela nafas panjang, ada keharuan di raut wajahnya. Aku tak perduli. Apapun ekspresi Pak Preman, aku tak percaya. Di hati ini, ada rasa benci yang belum hilang untuknya.


"Ada keperluan apa bapak datang kesini? Kalau urusan tebusan buat Mimbo, kan sudah aku titipkan ke Abang warung. Uang pengganti bulanan juga akan selalu aku transferkan ke abang, bapak tinggal ke warung abang aja untuk minta uangnya." Nada suaraku masih ketus, aku tak bisa memperhalus nada suaraku. masih untung itu juga aku tidak berbahasa kasar.


"Bukan soal uang, De." Alah, pake manggil de segala lagi. ini pasti ada maunya.


"Lalu, soal apalagi? bukannya beberapa hari lalu bapak juga sudah ke sini, nggak perlu sering-sering lah, mau ngapain juga?" Aku masih tetap agak bernada tinggi.


"Bapak ingin melihat Mimbo. Hanya melihat saja, tidak akan mengganggu kok." Pak Preman beralasan, matanya sebentar-sebentar melihat Mimbo.


"Maksudnya bapak kangen Mimbo?" Aku mencoba menebak.


"Bukan hanya kangen, De. Bapak rindu sekali, di Bandung sepi tanpa ada Mimbo dan anak-anak."


"Ah, alasan. coba dari dulu bapak berbaik-baik pada mereka, mungkin mereka tidak akan meninggalkan bapak." Aku masih tetap tidak percaya pada alasan apapun yang keluar dari mulut Pak Preman.


__________


Terimakasih untuk semua pembaca yang selalu hadir di sini...


Cerita masih bersambung Insyaa Allah.


Ayo baca juga yuk, novel hebat karya teman sesama Authorku: