
Dari kejauhan seorang anak laki-laki berusia delapan tahun memandang sejenak sebuah kastik megah, sebelum kemudian ia berjalan mendekat sambil membawa keranjang rotan. Salah seorang penjaga gerbang melempar tatapan nyalang kepadanya, membuat keraguan semakin memuncak. Tetapi, anak itu ingat tujuan utamanya datang kemari.
"Permisi, Tuan," katanya dengan suara khas anak kecil yang menggemaskan. "A-aku Vasco, ingin bertemu ayahku di penjara."
Kemudian, dua penjaga sekaligus memandangnya dengan saksama dari ujung kaki sampai ujung rambut cokelat bergelombangnya. Setelah itu, ia dipersilakan masuk. Akan tetapi, anak laki-laki tersebut tidak merasa lega sama sekali setelah telapak kakinya dapat berpijak di halaman kastil. Ia justru merasa risih, karena satu penjaga harus mengantarnya sampai ke tempat tujuan.
Entah mengapa, padahal dirinya sudah tiga tahun ini mengunjungi sang ayah setiap seminggu sekali dan jelas bahwa denah menuju ruang jeruji bawah tanah sudah melekat di otaknya. Tetapi, prajurit kerajaan bertindak teramat ketat terhadal tamu yang datang dari golongan kelas bawah.
Pintu besi berderik. Menandakan bahwa telah dipersilakan bocah delapan tahun itu memasuki lorong gelap tanpa penerangan kecuali celah kecil di setiap sel yang sengaja dibuat sebagai pengganti lentera.
Petak-petak sempit berjeruji berjajar rapi dan sebagian besar telah terisi oleh orang-orang bejat. Ada pula yang terperosok dalam penjara akibat menentang undang-undang negara. Termasuk Jean Devisser, ayah Vasco. Meski demikian, dia tak pernah mau mengakui bahwa ayahnya tergolong ke dalam orang-orang itu.
"Ayah..." panggil Vasco dengan suara bergetar ketika mata birunya menangkap sosok laki-laki berkaus kelabu duduk terpojok hingga sebagian wajahnya tidak terkena cahaya.
"Ayah sudah berapa kali mengatakan padamu?"
Vasco terdiam. Dia melihat kembali keranjang yang dibawa di kedua tangannya.
"Tapi, ibu yang menyuruhku."
"Ayah lebih baik mati kelaparan daripada selamanya terkurung dalam penyiksaan ini."
Mendengar hal itu, benih air nan jernih mendadak keluar dari kelenjar mata Vasco. Turun perlahan tanpa bisa ditahan lagi. Ia terisak dalam kesunyian lorong.
Vasco meraba permukaan tanah di bawahnya dengan telapak kakinya yang tak beralas. Teksturnya kasar berpasir dan lembab. Ia tahu betapa tersiksanya sang ayah yang setiap malam terpaksa berbaring di tempat ini tanpa ranjang atau sekadar tikar.
"Ayah sudah menerima kenyataan ini, Nak. Ayah tidak apa-apa."
Bukannya membaik, Vasco justru semakin menumpahkan air matanya. Tangis terdengar begitu keras dan mengusik nara pidana lain.
"Siapa yang menangis?!"
Jean sang ayah langsung mendekat ke jeruji besi dan menenangkan Vasco yang tak mau berhenti menangis. Dengan berbagai cara ia lakukan: membujuk, mengelus, menyeka air mata, sampai membekap mulut ketika volume suara tangisannya meningkat.
"Diamlah, Vasco!" bisik Jean, tapi bernada seolah ia menyentak.
Caranya berhasil. Isakan Vasco berangsur pulih. Sementara itu, mata mereka saling bertukar pandang yang mengartikan makna berbeda di kedua pasangnya. Jean Devisser pun melepaskan tangannya dari bibir Vasco.
Ia tertunduk. "Maaf kalau Ayah terlalu keras padamu."
Vasco menggeleng. Sampai detik ini, bahkan sampai Jean membentak dan memperlakukannya seperti itu, dia tetap pada pendiriannya. Ayah bukanlah orang jahat.
"Vasco ingin memeluk Ayah."
Pada kalimat tersebut, Jean mengangkat kepala. Memperlihatkan wajah berminyak bercampur debu yang dibingkai rambut dan janggut hitam. Ia berusaha keras menyelami pikiran putra kecilnya. Pria itu tahu betapa merindukannya seorang anak terhadap ayahnya yang selama enam tahun tak pernah menggendongnya atau sekedar memeluknya lagi.
"Vasco ingin berlayar bersama ayah. Vasco ingin mencari ikan bersama ayah. Vasco ingin makan malam bersama ayah."
Merasakan bulir air itu kembali merangsek keluar, Vasco cepat-cepat menyeka air matanya.
"Teman-temanku pergi berlayar bersama ayahnya, sedangkan Vasco-" ujarnya berdengap. "Vasco berlayar bersama Paman Bill."
"Paman Bill juga orang tuamu, Vasco."
"Tapi Paman Bill bukan ayahku! Paman tidak punya anak!"
"Vasco! Kau tidak boleh berkata demikian. Paman Bill akan marah kepadamu."
"Kembalilah, Vasco. Bajumu sudah kotor terkena tanah," pinta Jean, "Ayah berjanji akan baik-baik saja di sini setelah kau pulang."
Vasco mendongak dan menyaksikan betapa teduhnya sang ayah ketika senyuman tergaris di wajahnya.
"Hapus air matamu. Bukan anak laki-laki kalau kau masih saja cengeng. Jangan sampai ibumu tahu kau baru menangis. Cuci mukamu di sungai belakang istana."
***
Usai mencuci muka, Vasco memandang gedung yang tersusun atas batu-batu dan dikelilingi benteng serta menara di setiap sudutnya. Ia mengerjap saat matanya mulai perih terus menerus terpapar sinar matahari.
Vasco menyambar keranjang rotan yang sudah kosong. Dilihatnya satu anak laki-laki yang lebih tua darinya dan anak perempuan seusianya di tanah lapang dekat sungai. Mereka tidak sendiri. Di bawah pohon, seorang pria berbaju besi tertidur dengan helm menutupi wajahnya. Vasco yakin bahwa mereka adalah anak raja. Dari pakaian saja ia sudah bisa menilai.
Sungguh bahagianya mereka dapat bermain di waktu seperti ini, sedangkan Vasco harus memikul beban keluarga dengan pergi berlayar sebagai nelayan.
Setibanya di pesisir, Bill mengebatkan tali perahunya pada patok kayu yang terpancang di bibir pantai. Ia menghampiri Vasco yang baru datang usai mengembalikan keranjangnya.
"Paman sudah berlayar lebih dulu?"
"Tidak. Tadi Paman Bill hanya membantu nelayan lain. Jaringnya tersangkut di karang."
"Oh, begitu."
"Sudah menemui ayahmu?"
Vasco mengangguk sebagai jawaban.
"Bersabarlah, Nak. Tuhan memberi kesedihan pasti satu paket dengan kebahagiaan."
"Benarkah?"
"Yap. Sekarang saatnya nakhoda memimpin lautan." Bill memasang baretnya ke kepala Vasco, membuat anak itu melebarkan senyum manisnya.
Dia akan sangat tampan ketika tumbuh besar, batin Bill sambil merangkul bahu Vasco dan membawanya ke kapal.
***
"Aku kembali!"
"Selamat sore, Kapten Kecil!" balas seorang wanita berpakaian khas pemerah susu sapi, tetapi bukan itu profesi sebenarnya.
Saat Vasco hendak menghambur ke dalam pelukan, Bellena sang ibu menahannya.
"Pergilah mandi, Vasco. Badanmu berkeringat. Ibu sudah rebuskan air untukmu."
"Ibu merebus air lagi? Vasco sudah besar, Bu. Aku tak perlu mandi pakai air hangat lagi. Lagi pula kayu bakar semakin mahal saja."
Bellena tertawa kecil mendengar pernyataan putranya itu. Ia mengacak-acak rambut Vasco.
"Tidak lagi, jika usiamu sudah menginjak 12 tahun."
"Haruskah 12 tahun?"
Wanita itu berpikir sejenak, lalu mengiyakan. Ia menggiring Vasco ke kamar mandi dan kembali untuk merapikan hasil tangkapan hari itu di gudang.
***