
"Eh, ada tamu rupanya. Mari silahkan, Pak. Masuk ke rumah dulu, duduk-duduk." Tiba-tiba Mak Asih sudah ada di dekatku, Mak datang bersama Opik. Rupanya Opik yang lapor pada Mak tentang kedatangan Pak Preman. Selain Opik, di sebelah Mak juga ada Mimbo. Mimbo cium tangan pada Pak Preman.
"Mimbo belajar dulu ya, Pak." Mimbo kembali bergabung dengan anak-anak lain yang masih belajar menulis dan membaca. Dipikir-pikir, aku ternyata kalah oleh Mimbo. Aku yang belum lama mengenal Pak Preman, begitu kukuh memelihara kebencianku untuknya. Sementara Mimbo, sudah mampu meluluhkan kesombongan di hatinya. Secara logika, harusnya Mimbo yang paling besar bencinya untuk Pak Preman. Karena Mimbo sudah bertahun-tahun disakiti oleh Pak Preman. Ini malah tidak. Dengan ringannya Mimbo cium tangan pada orang yang sudah berbuat jahat padanya selama ini. Aneh. Bagiku ini aneh, Ini salah, harusnya tidak begitu.
"Ayo, Aden, Tamunya ajak masuk dulu, pamali tamu dibiarkan berdiri di luar begini. Kasihan juga kan, datang jauh-jauh masa tidak disuruh duduk?" Mak mengingatkan. Andai Mak tidak bilang, mungkin aku tidak akan pernah ingat bahwa Pak Preman kali ini adalah tamuku. Sebagai tuan rumah, aku memang harus memuliakan tamuku, itu yang diajarkan oleh agamaku. Ternyata betul nasehat yang pernah aku dengar, bahwa 'jangan pernah engkau berlebihan terhadap apapun, karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.' Aku terlalu berlebihan menyimpan kebencian di hati pada Pak Preman, sehingga aku lupa pada tugasku untuk memuliakan tamuku.
"Mari, Pa. Silahkan masuk." Nada suaraku tidak lagi tinggi.
Pak Preman mengikuti langkahku. Saat sampai teras rumah, Pak Preman bilang ingin duduk di teras rumah saja. Pak Preman ingin melihat anak-anak matahari belajar. Lebih khususnya, ingin melihat Mimbo belajar.
Akhirnya aku yang menurut, aku dan Randi menemani Pak Preman duduk di teras.
Mak Asih dan Mak Ucih keluar, membawa minuman dan kue-kue cemilan. Mak juga membawa segelas kopi panas dan sebotol minuman kemasan untuk Pak Preman. Sepiring kue juga Mak sajikan di depan Pak Preman.
"Ayo, Pak. Silahkan dicicipi dulu kuenya." Kata Mak.
"Iya, Bu. Terimakasih." Jawab Pak Preman, sambil menganggukkan kepala pada Mak Asih. Dalam hati, aku masih merutuk. Bisa-bisanya Pak Preman berlaku sopan, pasti itu cuma action saja. Kan biasanya juga Pak Preman tuh garang, bicaranya kasar, menyebalkan pokoknya.
Tiba-tiba aku jadi ingat pesan Bu Yanti. Ada PR dari Bu Yanti yang harus aku selesaikan, yaitu menyelidiki asal usul Mimbo. Pak Preman adalah satu-satunya kunci, yang tahu tentang asal usul Mimbo. Aku mulai berpikir, ini kesempatannya. Aku harus mengemas sikapku pada Pak Preman. Aku harus meredam dulu kebencianku, agar misiku berhasil.
"Ayo, Pak. Silahkan diminum. Nanti kopinya keburu dingin loh, nggak enak kan kalau minum kopi dingin." Aku berbasa basi. Pak Preman menurut, dia menyeruput kopinya.
"Kuenya juga, Pa. Ayo dimakan. Kue bikinan Mak rasanya enak loh." Randi ikut-ikutan berbasa basi. Eh, salah sepertinya. Randi tidak berbasa basi. Saat kulirik dia, bibirnya tersenyum, raut wajahnya juga memancarkan ketulusan. Kalau yang hanya sekedar basa basi, biasanya cerah wajahnya tidak seperti itu. Tetap akan ada bedanya, raut orang yang bicara dengan hati yang tulus, dan orang yang bicara hanya di mulut tapi hati terpaksa.
Pak Preman mencicipi kue yang dihidangkan Mak. Randi menemani, ikut makan kue buatan Mak. Aku sendiri, hanya bisa meneguk minumanku, itupun terasa tak senikmat biasanya.
"Ngomong-ngomong aku boleh tanya sesuatu, Pak?" Aku mulai membuka percakapan terkait Mimbo. Pak Preman yang sedang menyeruput kopinya kembali, langsung merenggangkan jarak cangkir dengan bibirnya. Dia menatapku. Randi ikut-ikutan menatapku.
"Mau tanya apa, De?" Pak Preman membuka diri, siap aku tanya-tanya.
"Tanya tentang Mimbo, Pak."
"Oh. Boleh, boleh." Yang aku tangkap, Pak Preman sedikit grogi. Wajahnya juga berubah jadi agak pucat. Entah ini hanya pandanganku saja, karena memang aku dari awal tak suka dia. Atau mungkin memang begitu keadaannya.
" Ini, Pak. Mau tanya tentang ibunya Mimbo." Uhuk, uhuk. Pak Preman yang sedang minum, sedikit tersedak. Dia terbatuk-batuk. Aku jadi curiga, ini bisa jadi ada sesuatu yang tidak benar. Tapi tak benarnya tentang apa, aku belum bisa menebak sedikitpun.
"Kalau kami boleh tau, ibunya Mimbo dimana, Pak? Siapa tau nanti kami bisa mengantar Mimbo mengunjungi ibunya." Aku beralasan. Padahal maksudnya mendesak Pak Preman untuk menceritakan tentang ibunya Mimbo.
"Mmm, Anu. Maksud bapak, anu." Pak Preman mulai terbata-bata. Randi menyodorkan botol minuman pada Pak Preman.
"Minum lagi, Pak." Kata Randi.
Pak Preman kembali minum. Dia lalu menghela nafas panjang. Matanya menatap anak-anak matahari yang sedang belajar. Bibirnya tiba-tiba tersenyum. Aku penasaran, akupun jadi tertarik untuk memperhatikan anak-anak matahari. Kulihat Mimbo sedang berdiri, membaca tulisan Kak Agung di papan tulis. Mimbo dengan lantang membaca 'BABA' 'CACA' 'BACA' 'CABA'. Mimbo membaca berulang-ulang dengan begitu percaya diri. Rupanya itu yang membuat Pak Preman tersenyum.
"Baik. Bapak akan ceritakan semuanya ya, De. Bukan dengan maksud apapun. Semua semata-mata demi Mimbo. Karena bapak sayang dia." Aku tak mengerti kalimat-kalimat yang diucapkan Pak Preman, sepertinya Randi juga sama. Kening Randi berkerut, dia menatapku. Aku mengedipkan mata pada Randi, menyuruh dia untuk tidak berkomentar dulu.
Pak Preman mulai bercerita,
"Bapak aslinya orang Garut."
"Hah?" Tanpa dikomando aku dan Randi berteriak berbarengan. Tentu saja kami terkejut. Kami tak menyangka kalau Pak Preman orang Garut juga.
Pak Preman melanjutkan ceritanya,
"Suatu saat, beberapa tahun yang lalu, bapak sedang berjalan menuju Terminal Guntur Garut. Bapak akan kembali ke Bandung waktu itu. Dari tempat tinggal orang tua bapak ke terminal kurang lebih tiga puluh menit berjalan kaki. Sengaja bapak berjalan kaki, untuk mengirit-irit uang yang bapak punya. " Aku dan Randi diam, berusaha menahan diri untuk tidak berkomentar.
"Di perjalanan dari rumah menuju terminal itulah bapak menemukan Mimbo. Bapak sudah berusaha mencari orang tua Mimbo, tapi tak berhasil." Aku dan Randi saling berpandangan. Kecurigaan kami sepertinya sama. Kami curiga Pak Preman adalah orang yang menculik Mimbo dari rumah Bu Yanti.
"Jadi Mimbo bukan anak kandung bapak? Dan bapak tidak tau orang tua kandung Mimbo itu siapa?" Aku berusaha menyelidiki lebih lanjut. Pak Preman spontan menyimpan jari telunjuk di mulutnya.
"Sssttt jangan keras-keras bicaranya, De. Mimbo belum tau yang sebenarnya." Aku memperkecil volume suaraku. Pikirku, kasihan juga Mimbo kalau sampai dia tahu yang sebenarnya sekarang.
"Maaf, Pak. Bapak kan tau kami tidak terlalu percaya pada bapak. Kami tidak bisa mengerti, masa bapak tiba-tiba saja menemukan Mimbo, kan aneh!" Kalimatku sudah menjurus pada kemungkinan bahwa Pak Premanlah pelaku penculikan anak Bu Yanti.