
"Aamiin." Semua orang mengaminkan do'a Bu Min. Dalam hati aku bersyukur, sepagi ini sudah banyak orang yang mendo'akanku. Dulu ibu Aisyah pernah bilang 'Jangan pernah merasa bosan untuk meminta do'a pada siapapun, ke orang yang lebih tua dari kita, ke teman-teman kita, ke orang -orang yang lebih muda dari kita, siapapun itu. Karena kita tidak pernah tau, kapan saatnya Allah mengabulkan do'a-do'a hambaNya.' Sekarang, tanpa kuminta, semua orang mendo'akanku di sini. Alhamdulillah, sungguh karunia Allah yang sangat luar biasa.
Bu Min terus melanjutkan memotivasi kami terkait cita-cita. Hampir separuh waktu pelajaran terpakai untuk itu. Kami, para siswa tidak merasa rugi sedikitpun waktu belajar kami terpakai untuk hal-hal seperti ini. Kami malah senang. Kadang hati dan pikiran kami memang perlu di charge. Supaya full kembali , cling lagi. Setelah di charge seperti pagi ini, biasanya ada energi baru untuk kami menapaki langkah kami selanjutnya.
***
Dua mata pelajaran hari ini sudah terlalui. Bel tanda istirahat berbunyi. Ada waktu tiga puluh menit untuk para siswa rehat sebentar. Aku ingin mengecek kabar Ibu Nita, Bapak Nana dan nenek. Tapi aku harus ke ruang guru dulu sebentar. Sebelum keluar kelas, tadi Bu Min pesan, bahwa aku harus menghadap beliau saat istirahat.
Ada perbedaan suasana hati saat aku melalui lapang upacara yang dikelilingi taman-taman gantung, menuju ruang guru. Tidak seperti dua minggu lalu. Kali ini aku dapat merasakan sejuknya semilir angin. Aku dapat ikut tersenyum, melihat hijau daun-daun, bunga warna warni, juga melihat anak-anak perempuan yang berpose ini itu, meluapkan rasa rindu berfoto dengan teman-temannya. Aku juga dapat melambaikan tangan dengan ceria, saat kulihat KM kelasku mengacungkan jempol dari kejauhan, di depan pintu kantin sekolah. Hati dan pikiranku tenang saat ini. Padahal kenyataan yang kuhadapi hampir sama. Ibuku, Baik Ibu Aisyah, maupun Ibu Minah sudah meninggal. Kemudian tentang bapak kandungku, aku tetap belum tahu beliau siapa dan dimana. Juga tentang nama yang tertera di surat-surat pentingku, tetap tidak berubah.
Aku sampai di ruang guru, Bu Min sudah menunggu. Aku duduk di kursi yang sama, seperti dua minggu lalu.
"Ayo duduk, Wil." Bu Min meminta aku duduk. Raut wajah Bu Min begitu tenang, bibirnya tersenyum.
"Iya, Bu. Terimakasih."
"Ini, Wil. Ibu mau minta maaf ya." Tiba-tiba saja Bu Min mengatakan maaf. Aku jadi bingung, memangnya Bu Min salah apa?
"Memang salah ibu, waktu ibu terima info dari Pak Tri bahwa data kamu tidak sinkron, ibu langsung manggil kamu, tidak crosscheck dulu." Aku hanya diam menyimak.
"Baru beberapa hari ini ibu tau info dari walikelas kamu waktu kelas delapan, bahwa ibu kamu sudah meninggal. Ya Allah, Wil. Maafin ibu ya, Nak. Waktu itu kamu pasti ingin menjelaskan tentang ibumu, tapi ibu tidak memberi kamu kesempatan." Aku menatap Ibu Min. Aku tahu Ibu walikelasku ini sebenarnya orang baik. Jadi aku juga cukup memaklumi bila sesekali beliau tegas pada siswanya, termasuk aku. Terutama untuk urusan-urusan yang sekiranya dapat menghambat kepentingan bersama. Seperti urusan dataku yang tidak sinkron.
"Tidak apa-apa, Bu. Wil maklum kok. Justru Wil yang seharusnya minta maaf, gara-gara Wil, data kelas secara keseluruhan jadi belum beres."
"Sekarang udah beres kok, Alhamdulillah." Jelas Bu Min.
"Terus jadinya gimana kemarin, kamu kan nggak bisa lagi tanya ke ibu kamu. Jadinya kamu tanya ke siapa?" Bu Min penasaran rupanya. Aku diam. Bingung mau berkata apa. Bila kuceritakan semuanya, waktunya tidak mungkin cukup, sepuluh menit lagi waktu istirahat berakhir.
"Kok malah diam? Itu keputusan kamu sudah fix kan? resikonya lumayan berat loh, bila data kamu tidak sama di beberapa surat penting, besok lusa kamu akan menemui beberapa kendala terkait urusan yang memerlukan data. Misal untuk melanjutkan kuliah, untuk menikah, Atau kalau kamu besok lusa ada rizki ke luar negeri misal. pas bikin paspor, diperlukan data-data yang cocok antara satu surat dengan surat lainnya. " Bu Min menjelaskan sesuatu yang tidak aku tahu sebelumnya. Gimana ini, Baru saja tadi pagi motivasiku terbakar untuk meraih titel dokter, sekarang sudah dihadapkan lagi pada kemungkinan kendala yang akan aku temui nanti. Dataku yang tidak cocok satu sama lain bisa jadi penghambat, itu yang aku dengar dari Bu Min barusan. Kalau soal menikah dan bikin paspor untuk ke luar negeri sih, aku masih belum terpikir. Yang kukhawatirkan tentang melanjutkan kuliah, karena baru tadi pagi Bu Min mengingatkan aku dan teman-temanku tentang cita-cita.
"Jadi, menurut ibu sih, kalau memang masih memungkinkan untuk dicocokkan, ya sekarang saatnya. Mumpung masih ada waktu. Lumayan ada beberapa bulan ke depan untuk sampai pada terbit ijasah." Ujar Bu Min lagi. Aku berpikir sesaat. Mau nggak mau, aku harus bilang yang sebenarnya pada Bu Min. Agar Bu Min mengerti. Siapa tau ada masukan dari Bu Min untuk penyelesaian masalahku.
"Sebenarnya begini, Bu." Aku berhenti sebentar, hati ini sedikit berdebar. Bu Min menunggu kelanjutan kalimatku. Kulihat ada beberapa guru yang duduk sekitar Bu Min yang juga ikut menyimak percakapan aku dan Bu Min.
"Awal liburan kemarin, aku berusaha mencari tau tentang bapakku. Aku melakukan perjalanan ke Karawang, ke Bandung dan ke Garut. Sesuai petunjuk yang aku peroleh dari Ibu angkatku." Hening, semua menyimak ceritaku.
"Tapi sampai liburan selesai, aku masih belum tau informasi tentang siapa bapakku."
"Loh, jadi kamu chat tentang keputusanmu ke ibu waktu itu, karena kamu menyerah? Tak bisa lagi mencari tau tentang siapa bapakmu?" Bu Min menyela.
"Bukan begitu, Bu." Bel tanda masuk berbunyi, aku tak bisa melanjutkan penjelasanku pada Bu Min.
"Duh, keburu masuk, Wil. Nanti disambung ya. Ibu juga jadi penasaran nih."
"Iya, Bu. Wil ke kelas dulu ya, Bu." Aku cium tangan pada Bu Min dan beberapa guru yang ada di sekitar Bu Min. Aku pamit.
"Wil." Bu Min memanggilku, sesaat sebelum aku sampai pada pintu keluar ruang guru.
"Ya, Bu."
"Baik, Bu." Aku melanjutkan langkah menuju kelasku.
***
Pulang sekolah, aku menunggu Randi di area parkir sekolah. Aku dan Randi memang beda kelas, tapi sama-sama kelas 9. Kali ini aku dan Randi janjian pulang bareng. Sebelum-sebelumnya kami jarang pulang bareng. Karena kami seringkali beda kemauan. Aku maunya langsung pulang, sementara Randi maunya mampir-mampir dulu. Entah itu ke rumah temannya, atau ke tempat lain. Tadi pagi, Randi yang bilang bahwa kami harus pulang bareng.
"Kita sekarang adik kakak. Juga punya urusan yang sama, yaitu urusan Dian dan urusan Bapak Nana." Begitu alasan Randi. Aku sih oke oke saja.
"Hai, Wil. Tumben kelas kamu keluar duluan, biasanya suka paling telat diantara semua kelas." Randi langsung komentar saat sampai di depanku.
"Iya. Kebetulan gurunya ada keperluan tadi, jadi lima menit sebelum bel pulang sudah dibubarkan."
"Oh. Pantesan."
"Eh, Wil. dapat kabar nggak dari Ibu?"
"Aku belum sempat chat ibu. Tadi pas istirahat dipanggil Bu Min."
"O iya. Ngapain Bu Min manggil kamu lagi? Bukannya soal data udah kamu putuskan?"
"Justru itu. Kata Bu Min. data yang tidak sama dalam surat-surat penting kita, besar kemungkinan akan menjadi masalah besok lusa, saat kita daftar kuliah misal, atau saat kita mau menikah, atau saat kita membuat paspor."
"O gitu? Repot dong ya? Terus, gimana dong solusinya?"
"Nanti aku mau ngobrol lagi sama Bu Min."
"Oke deh. Eh tapi, Kalau yang Bu Min bilang itu benar, gimana jadinya dengan adik-adik matahari?"
"Lah! Ngapain jadi ngebahas adik-adik matahari?" Randi suka agak-agak aneh saja. Sedang membahas masalahku malah nyambung-nyambung ke anak-anak matahari.
"Loh. Kamu lupa ya, kan katanya adik-adik kita mau kamu sekolahkan sampai kuliah. Kamu yang punya KK, Akte, Ijasah aja bisa kena masalah gara-gara data satu dengan yang lain berbeda. Apalagi mereka, mana ada mereka surat-surat kayak gitu? Nama ibu mereka siapa aja mereka nggak tau." Waduh! Kepintaran Randi kali ini benar-benar membuat aku pusing tujuh keliling.
'Halo pembaca, terimakasih sudah membaca episode kali ini. Kelanjutannya besok Insyaa Allah ya.'
Ini ada novel asyik karya teman Authorku. Baca yuk!
“I Love You Alexander!” teriak Hanum pada pria tampan yang sedang menggiring bola basket saat pertandingan persahabatan di sekolahnya. Kejadian itu membuatnya jadi bahan tertawaan semua siswa di sekolah, karena ia yang kuno dan berpenampilan norak serta tidak menarik, berani menyatakan cinta pada Alexander, seorang pria tampan pewaris perusahaan property terbesar di daerahnya.
“Apa kelebihanmu selain produksi minyak di wajahmu dan tumpukan lemak yang berlebihan?”
“Alexander, aku pastikan semua bayi yang aku lahirkan nanti akan memanggilmu Papa,” tekad Hanum.
Bukan Hanum namanya, jika tidak bisa membuat Alexander Putra, CEO yang dingin bertekuk lutut di hadapannya.