KK

KK
52. RANDI VS NANDI



Tak lama kemudian, Ibu Nita kembali ke teras rumah, bergabung bersama kami. Tangan Bu Nita memegang sesuatu, seperti kain kecil yang dilipat. Ibu Nita duduk di sebelah Pak Daud, tangan mereka saling berpegangan. Aku dan Randi tentu sedikit mengerutkan kening melihat sikap Bu Nita dan Pak Daud yang sedikit aneh. Sementara nenek masih terus memperhatikan setiap gerakan Bapak Nana. Dian hanya duduk, tapi sesekali dia juga tertawa melihat serunya Bapak Nana bermain.


Tiba-tiba, tanpa diduga Ibu Nita bukan hanya bersikap aneh, tapi juga mengatakan sesuatu yang aneh.


"Assalamu'alaikum semua, khususnya Randi, anak semata wayang ibu. Sore ini ibu mau menunjukkan sesuatu. Sesuatu yang akan ibu tunjukkan Insyaa Allah bertujuan baik. Semua untuk kebaikan kita semua, khususnya untuk kesembuhan Bapak Nana." Randi hanya menatapku, di wajahnya tampak kebingungan yang sama dengan yang aku rasakan. Kami betul-betul tak mengerti, kenapa sikap Bu Nita dan Pak Daud jadi seperti itu.


" Kenapa sih, Bu? Ibu pasti sedang bercanda yaaa." Randi menggoda ibunya, yang digoda malah tampak menahan genangan air di matanya. Aku jadi merasa tak enak hati, ini mesti ada sesuatu yang serius.


"Kali ini ibu sedang tidak bercanda, Nak." Tangan Ibu Nita mengusap-usap kepala Randi.


"Coba kamu duduk sini dekat ibu." Ibu Nita meminta Randi pindah tempat duduk. dari tadi Randi memang duduk di sebelahku. Dian yang duduk di sebelah Bu Nita.


"Ada apa sih, Bu? Aku jadi dag dig dug. Hehehe." Randi masih saja main-main. Ibu Nita memaksakan senyum.


"Ini, untuk Randi. Coba dibuka, bismillah ya, Nak." Randi menerima kain yang dilipat yang tadi dipegang Bu Nita. Sesaat raut wajah Randi menegang. Tapi hanya sebentar, Randi kembali bercanda,


"Asyiiik, Kira-kira ini apa ya, Wil?" Lipatan kain itu Randi bolak balik, mata Randi membulat, mencoba menerawang dan menebak-nebak isi di dalam lipatan kain tersebut. Randi lalu meraba-raba lipatan kain itu, diusap-usapnya perlahan.


"Isinya seperti kertas agak tebal dikit gitu, Wil. Coba kamu tebak, ini apa ya?" Aku menatap Randi. Memberi kode untuk berhenti bermain-main. Aku tak tega melihat Bu Nita yang dari tadi begitu gelisah. Air matanya hampir jatuh.


"Dibuka aja, Ran. Tapi ingat kata ibu tadi, bismillah dulu." Kali ini Randi menurut, dia mulai membuka lipatan kain itu, perlahan.


Semua fokus pada gerakan tangan Randi yang sedang membuka lipatan kain. Kecuali Bapak Nana tentunya, Bapak masih saja asyik bermain pesawat favoritnya.


Detak jantungku berpacu lebih cepat, saat kertas tebal yang ada di dalam lipatan kain itu mulai kelihatan sedikit. Aku sudah bisa menduga itu kertas apa. Tangan Randi juga berhenti bergerak. Dia melihat ke arahku, bola matanya menunjukkan rasa heran bercampur ragu. Sinyal di kepala Randi bahkan tak sanggup untuk menyuruh tangannya melanjutkan pekerjaan. Dia hanya menatapku, terpaku, diam.


"Ayo, Ran. Lanjutkan. Biar jelas." Aku mencoba memberi Randi kekuatan. Kulihat tangan Ibu Nita melingkar ke belakang tubuh Randi.


Randi memaksakan diri untuk melanjutkan tugasnya. Tangannya bergerak lagi, tapi tak seapik tadi. Tangan Randi kali ini bergetar, gerakannya lebih perlahan dari sebelumnya.


Lipatan kain sudah terbuka semua. Benda yang ada di dalam lipatan kain sudah terlihat jelas. Randi membentuk benda itu menjadi sebuah kotak. Betul, sesuai dugaanku, benda itu adalah kotak tusuk gigi. Bentuk, model dan warna persis seperti kotak tusuk gigi punyaku.


"Bu." Randi terbata, dia memandang ibu dengan rasa khawatir yang sangat. Wajah Randi pucat.


"Ya, Nak." Air mata Ibu Nita sudah mengalir membasahi pipinya. Bu Nita menangis. Pak Daud masih berusaha menahan linangan air matanya.


"In-iii maksud-nya apa, Bu?" Randi masih terbata, tapi berhasil mengungkapkan kalimat yang ada di benaknya.


Kotak tusuk gigi kuamati baik-baik, aku mencari dua huruf di sana. Dua huruf yang bisa memastikan bahwa kotak tusuk gigi itu dengan kotak tusuk gigi punyaku betul-betul sama.


Ada, dua huruf itu tertulis di sana. Huruf MN. Ditulis tangan. Aku memandang Randi dan Bu Nita bergantian. Aku juga memandang nenek.


Nenek kemudian berdiri, mendekati Bapak Nana, mengajaknya duduk. Nenek merayu Bapak Nana untuk memberikan pesawat kotaknya pada nenek. Berhasil, Bapak Nana memberikan pesawat kotaknya. Aku mengerti tujuan nenek, akupun memberikan kotak tusuk gigi milik Randi pada nenek.


Nenek mengangkat kedua kotak tusuk gigi, lalu memperlihatkan pada Ibu Nita, tulisan yang sama dikedua kotak tusuk gigi. Mata nenek mulai basah,


"Ieu teh..."(Pen: "Ini tuh...") Nenek tak bisa melanjutkan kalimatnya, Air mata mengalir deras.


"Bet-ttul." Bu Nita menatap nenek, lalu memeluk Randi, menciumi Randi.


Randi mulai mengerti, matanya mulai berkaca-kaca.


"Jadi Aku adalah Nandi, Aku kakak kandung Wil. Iya kan, Bu?" Bu Nita mengangguk, Pak Daud mengusap-usap bahu Bu Nita.


Suasana haru berlangsung beberapa menit. Dian yang tak tahu apa-apapun ikut-ikutan menangis.


"Kenapa ibu baru bilang sekarang, Bu? Kenapa tidak dari awal, saat pertama Wil membuka amplop warisan dari Ibu Aisyah?"


Ibu Nita menghela nafas panjang. Mengumpulkan kekuatan untuk dapat menjelaskan segala sesuatunya.


"Dua minggu lalu, ibu masih belum yakin. Makanya ibu dan bapak menyuruhmu ikut dalam petualangan Wil. Dengan harapan, segala sesuatunya jadi lebih jelas." Randi diam, mencoba memahami alasan ibunya.


Randi kemudian memandangku. Bibirnya tersenyum, tapi air matanya jatuh.


"Kamu ternyata adikku, Wil. Adik kandungku. Sorry ya, selama ini aku agak sombong. Aku menganggap kamu kurang beruntung, karena hanya berstatus sebagai adik angkatku. Sekarang kita sama, Wil. Sama-sama piatu, yang tak tau bapaknya siapa dan ada dimana." Tangis Randi pecah, dadanya berguncang. Randi berdiri, mendekatiku, lalu memelukku erat, sangat erat. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang berdebar hebat.


"Kalian bukan anak-anak piatu, kalian tetap anak-anak ibu, sampai kapanpun." Kudengar ucapan tulus Ibu Nita, disela-sela isak tangis kami. Ibu mengusap kepala Randi, juga mengusap kepalaku.


"Sudah, ayo duduk lagi. ini minum dulu." Pak Daud memberi dua minuman gelas kemasan. Satu diberikan pada Randi, satu padaku. Tapi tanpa kami duga, Bapak Nana mendahului menerima minuman yang akan diberikan Pak Daud untukku. Bapak Nana lalu mencoba menusukkan sedotan kedalam minuman kemasan, tapi beberapa kali mencoba, tidak berhasil. Dian berdiri, membantu Bapak Nana. Saat sedotan sudah berhasil ditusukkan, Dian memberikan kembali minuman itu pada Bapak Nana. Bapak Nana lalu minum dengan tergesa-gesa. Setelah itu Bapak Nana mengambil dua pesawat kotak yang masih dipegang nenek. Dalam posisi duduk, tangannya mulai meliuk-liuk... ke atas ke bawah. mulutnya komat kamit, menyuarakan suara pesawat favoritnya. Bapak lalu berdiri, matanya tetap fokus pada gerakan pesawat ditangannya.


Aku dan Randi hanya bisa saling memandang. Andai kami bisa, kami ingin katakan,


"Kami di sini, Pak. Kami ada di dekat bapak." Tapi Bapak Nana hanya fokus melihat pesawat favoritnya.