
Aku jadi ingin tertawa, kulayani pertanyaan-pertanyaan Randi bak seorang guru menjawab pertanyaan muridnya. Randi belum bisa membayangkan, seperti apa rasanya tidur di mesjid. Dia juga tidak bisa membayangkan, serunya berjuang membersihkan mesjid. Selama ini Randi adalah anak tunggal kesayangan ibunya. Dia bukan anak manja sebenarnya. Tapi untuk terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan rumah, Randi tidak terlalu tekun. Ibunya Randi juga tidak pernah memaksa Randi untuk terlibat dalam pekerjaan rumah. Selain karena ada ibuku dan aku. Juga karena Randi memang dituntut untuk lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar.
"Cape dong, Wil. Masa kita mengepel dari ujung sana ke ujung sini. Belum yang lantai dua. Aduh Wil. Ga sanggup aku." Randi memukul-mukul keningnya sendiri.
"Ah kamu. Belum apa-apa sudah bilang cape."
"Ya iyalah pasti cape Wil."
"Ya sudah, sekarang sholat asar dulu yuk." Adzan berkumandang. Kami bergegas berwudhu dan masuk shaf. Siap melaksanakan sholat asar.
Selesai sholat asar, sesuai rencana, aku dan Randi mencari bapak marbot. Kebetulan bapak marbot sedang duduk, masih di area dekat tempat wudhu laki-laki.
"Mohon maaf, Pak. Bisa kami ganggu sebentar, Pak?" Bapak marbot sedikit kaget.
"Ya, Nak. Ada apa?"
"Ini, Pak. Kami mau tanya, bisa ga kami ikut tidur di mesjid ini. Semalam saja." Aku lalu menceritakan sekilas, bahwa aku dan Randi sedang mencari saudara di daerah sekitar ini. "Khawatir kemalaman, Pak. Kami berencana menginap semalam di mesjid ini. Apakah boleh?" Aku mengulang pertanyaanku. Pak marbot masih diam, seperti bingung.
"Besok pagi setelah sholat subuh, Insyaa Allah kami akan bantu-bantu bapak mengepel mesjid ini." Randi menyenggol tanganku. Dia belum begitu yakin. Bapak marbot berpikir sejenak, lalu,
"Sebaiknya tanya DKM mesjid ini saja ya, Nak. Bapak tidak berani memutuskan."
"Mari, bapak antar menemui DKM mesjid ini." Kami mengikuti bapak marbot, menuju suatu ruangan yang letaknya masih di area sekitar mesjid. Ruangannya agak terpisah dengan bangunan mesjid, kami harus naik tangga sedikit untuk sampai di pintu ruangan tersebut. Bapak marbot mengetuk pintu, dan mengucapkan salam. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Seseorang muncul dari balik pintu. Orangnya masih muda, sepertinya seorang mahasiswa. Bapak marbot lalu memperkenalkan kami.
"Ini, Nak Ahmad. Dua anak ini ingin bertanya sesuatu."
"Oh, Iya iya, silahkan, ayo masuk." Kami masuk, orang yang dipanggil Ahmad oleh Bapak marbot, mempersilahkan kami duduk. Bapak marbot pamit meninggalkan kami.
"Ayo tak perlu ragu, panggil saya Kang Ahmad saja. Ada apa ya nak, mau tanya apa?"
Aku tak menunda waktu, kuajukan pertanyaan yang sama pada Kang Ahmad. Seperti pertanyaanku pada bapak marbot. Kang Ahmad mengangguk-angguk. Menyimak dengan serius.
"Kalian cuma berdua saja nih, hebat sekali, anak pemberani kalian ini." Kami jadi malu dipuji begitu. Bisa saja Kang Ahmad ini menyenangkan hati kami.
"Menurut akang sih, kalau memang kalian mau bermalam, di sini saja. Di ruangan ini tidurnya."
"Tapi seadanya ya, tidurnya di karpet. Tidak ada kasur di sini. Tidak apa-apa kan?" Aku hampir bersorak. Senang sekali rasanya. Uang untuk bayar penginapan, bisa digunakan untuk keperluan lain. Randi juga terlihat senang.
"Kalau besok setelah sholat subuh, kalian mau bantu-bantu bersih-bersih mesjid silahkan. Tapi niatnya bukan untuk membayar karena menginap di sini ya. Niatnya semata-mata karena Allah, untuk menjaga kebersihan mesjid." Kami mengangguk. Mencoba memahami apa yang dijelaskan Kang Ahmad.
"Sekarang kami pamit dulu ya, Kang. Kami mau mencoba mencari alamat dulu. Sebelum magrib kami usahakan sudah ada di sini lagi." Kang Ahmad mengangguk. Mengacungkan jempolnya, memberi kami semangat.
Ada waktu sekitar 2,5 jam untuk berkeliling. Mencoba mencari alamat. Aku dan Randi menyusuri jalan yang ditunjukkan Kang Ahmad. Tadi kami sempat menunjukkan alamat KK kedua pada Kang Ahmad.
Tidak lama ternyata. kurang dari sepuluh menit, kami sudah sampai di daerah Geger Kalong.
"Gimana nih, Wil. Kita tanya siapa?
"Siapa ya?" Aku, Randi mengamati sekeliling.
"Permisi, Kak. Mau tanya, Barangkali kakak tahu alamat ini?" Aku menunjukkan alamat yang ada di KK.
"Aduh maaf, Dik. Saya kurang tahu. Saya juga baru kost di sini."
"Oh Iya, Kak. Terimakasih."
Kami kembali berjalan. Sambil melihat-lihat, barangkali ada orang yang tepat yang bisa kami tanya.
"Ke warung nasi yang itu saja, Wil." Kembali pilihan kami, warung nasi. Di sini cukup banyak warung nasi. Mungkin karena daerah dekat kampus.
Kali ini Randi yang bertanya, ke ibu warung.
"Lurus ke depan sedikit, lalu belok kiri ya. Nanti kira-kirĂ 500 meteran, tanya lagi saja." Ibu warung memberi petunjuk. Kami berjalan mengikuti petunjuk ibu warung. Lurus, belok kiri. Kurang lebih 500 meteran ada warung kecil, menjual gado-gado. Kami berhenti di depan warung.
"Ujang mau beli gado-gado?" Ibu warung menawari.
"Ayo sini duduk. Mau bikin berapa, pedes atau engga?" Randi menyikut lenganku. Dia memukul perutnya. Aku mengerti, Randi sudah merasa lapar.
"Iya, Bu. Pesen dua ya. Jangan pedes. Pakai nasi, Bu. Dimakan di sini saja." Randi senyum. Kamipun duduk.
"Anggap sebagai makan malam ya." Randi mengacungkan jempol. Setuju bahwa ini adalah menu makan malam kami. Mata Randi memberi kode. Aku mengerti, siap-siap mengajukan pertanyaan.
"Ibu maaf, barangkali tahu nama yang ada di KK ini dan alamatnya?" Ibu warung menghentikan gerakan tangannya yang sedang membuat gado-gado. Beliau lalu melihat lembar KK yang aku tunjukkan. Matanya sampai menyipit, membaca huruf-huruf di KK yang agak kecil.
"Ini KK punya ujang?" Aku mengangguk.
"Punya ibu saya, Bu."
"Oh. Sudah lama ya."
"Iya lumayan, Bu. Beberapa tahun lalu.
"Sebentar. Ibu agak-agak lupa. Bapak Muji Setiyo ya. Ibunya tadi siapa namanya, Jang?"
"Ibu Aisyah."
"Aisyah. Aisyah." Ibu warung melihat ke atas. Mengernyitkan kening. Berusaha mengingat.
"Iya, Iya. Ibu ingat." Hatiku jadi berdebar, menunggu kalimat ibu warung selanjutnya.
"Aisyah yang baik pisan itu ya. Bageur neng Aisyah mah, sholehah pisan." Randi memandang aku, tersenyum sedikit. Mungkin Randi merasa lucu mendengar dialek ibu warung yang khas daerah sini. Aku mengangguk, mencoba memahami maksud ucapan ibu warung.
"Eh ibu jadi lupa ngulek. Sebentar ya, Jang. Gado-gadonya dibuatkan dulu." Ibu warung melanjutkan pekerjaannya. Aku, Randi, begitu penasaran sebenarnya, tapi tetap sabar menunggu.
"Ayo dimakan dulu. Ini minumnya." Gado-gado, lengkap dengan kerupuk. Juga sepiring nasi, sudah siap di hadapan kami. Kami disuruh makan dulu. Kata ibu warung, mengobrolnya nanti diteruskan setelah makan.